the key

Posted: Juli 15, 2012 in Kisah cinta

~ Once you know the key, this heart will be yours forever.

-_-

I’m seacrhing someone who can beat this heart everyday. That’s all.

-_-

 

Hatiku tersentak kecil mendapati nama kesayanganku menjadi judul sebuah buku. Aku dekati rak pink unik nyentrik yang sepertinya baru aku temui malam ini di toko buku Merah kesukaanku yang sering aku kunjungi ketika ingin mendapatkan inspirasi lebih untuk novelku berikutnya. Hentakan kecil yang seharusnya tidak boleh terjadi. Seharusnya hentakan kecil ini hanya menjadi hak istimewa seseorang. Seseorang yang aku beri hak untuk bisa mengejutkan aku dengan keunikan dia.

Craz.

Craz? Bagaimana mungkin nama kesayangan aku ini jadi judul sebuah buku? Siapa ni biang keladinya? Hahaha, andai saja dugaan aku tepat. Ah, biar aku lewatkan dulu kejutan ini. Aku ingin mencicipi kejutan ini di saat terakhir. Aku ingin berkeliling mencari inspirasi dulu. Efek peek a boo aku rasa bisa aku gunakan di saat ini, efek ketegangan untuk kejutan-kejutan kecil yang diakibatkan oleh rasa penasaran apakah mungkin aku akan mendapatkan hal yang aku ingin lihat saat ini. Ok. Kamu akan aku kunjungi setelah aku puas berkeliling ya Craz.

-_-

-_-

Hmm..akhirnya aku membuka kejutan aku. Buku yang menarik, PINK!

Cover buku berwana pink yang malah membuat aku menjadi lapar. “Buku ini unik juga, tetapi sebentar, apa indera penciumanku ini benar ya? Kok ada aroma permen dari buku ini, tapi masa sih?” kataku pelan dari hati sambil membawa buku itu mendekat untuk memastikan dugaan aku. “Bagaimana bisa? Bukankah ini ide aku? Buku yang memiliki aroma. Ada seseorang yang mencuri ideku!” Kataku marah di dalam hati

Drdtdtdtd.

Aku terkejut dengan HP ku yang tiba-tiba bergetar. Aku lihat dan muncul gambar manis senyum seseorang dengan jaket tebal hadiah ulang tahunku untuk dia ketika masa bujang dulu.

“Sayang, ayo pulang. Kare kamu udah hampir dingin lo kalo kamu gak pulang sekarang. Bukankah tadi bilang kalo mau nyobain masakan pertama aku? Ayo cepetan!!!” bunyi pesan singkat suamiku.

“Okelah, peek a boo, aku lewatkan kamu ya Craz, aku buka nanti bersama belahan jiwaku nanti. Mungkin scene terbaik adalah melihat kepulan masakan dia dulu. Aku gak sabar mendapati sensasi yang ditawarkan experience ini. Yah, benarnya sayang juga si gak melihat preparation dia, tapi gak papa. Aku ngeri aja membayangkan seorang pria dan peperangan dia dengan panci dan kompor, rasanya lucu aja. Aku datang suami.” seruku pelan dalam hati.

-_-

Dalam sebuah novel, hal terbaik adalah ketika pembaca tidak bisa menebak bagaimana endingnya, merasa tegelitik dengan gaya bahasanya sehingga ingin mengetahui setiap kisah si tokoh utama, tahu sedikit ternyata ada ya kejadian seromantis itu, dan akhirnya dia menemukan sesuatu yang rasanya gak mungkin kejadian di dunia nyata tapi mungkin isa diwujudin dengan someone special setelah baca nobel itu. Yah namanya juga novel.

Sebuah novel itu seperti masakan yang mempunyai penampilan menarik, jarang ditemui, dan membuat orang puas ketika memakan dia sehingga merekomendasikan masakan itu ke teman-teman dia.

Sayangnya sebuah novel terkadang menjadi membosankan jika dibaca di kali kedua. Maka sebenarnya rugi juga membeli sebuah novel, terkecuali kita merasakan novel itu berguna dan berharga untuk dipinjamkan, dikoleksi,  atau dihadiahkan kepada seseorang. Jika kurang dari itu, aku kira nasib si novel kemungkinan besar hanya duduk manis sampai kucel karena cuma dibaca di tempat, tapi gak dibeli, hehe.

-_-

-_-

Kemisteriusan wanita adalah nilai tambahmu. Jangan sampai pria yang kau cintai bisa mendiskripsikan dirimu.

Haiayaaaa….nasehat yang menohok juga. But I like those magical moment ketika dia mau melakukan apa yang aku minta. Dan aku rasa biarkan alasannya hanya dia yang tahu. Things left unsaid is the most beautiful one.

-_-

“Sayang, aku pulang.” Kataku keras sambil melepaskan sepatu hak tinggi yang membalut kakiku seharian. Ternyata capek juga ya walaupun cuma duduk-duduk di ruang baca. Yah, tetapi akhirnya sampai juga di my sanctuary. Gak nyangka besok aku uda gak di sini lagi. Sanctuary yang aku bangun bersama suamiku. Rumah yang aku desain ketika dulu masi sibuk jadi seorang penulis kecil hingga aku akhirnya bertemu dia dan mulai membuat sketsa sacntuary kita, apalagi ketika masuk ke sesi membuat sketsa kamar utama, yah, benar-benar ketahuan siapa aku dan siapa dia.

-_-

“Ni kasur seharusnya ditaruh tengah tau! Jadi gak ada yang namanya membangunkan pasangan kalau tiba-tiba pasangan uda tidur ketika kita baru pulang.” Kata suamiku singkat dan dengan ciri khas nada paksaan yang sering dia berikan kalau dia ingin sesuatu.

“Iya sayang, tapi aku inginnya kasur kita nanti berada di pojok ruang. Kadang aku ingin tidur mepek di dinding, dan lagi pula kan asik itu menangkat kaki ke atas bentar setelah seharian bepergian.” Seruku dengan nada rendah dan berharap dia mau mengabulkan permintaan aku.

“Iya, aku juga tahu. Aku juga suka sesi pijatan kamu waktu aku kecapekan seharian kerja. Aku juga suka pijatan kaki kamu di atas punggung aku waktu tangan kamu berpegangan di dinding. Tapi kasur di tengah itu sensasinya beda tau! Nih coba lihat ni kamar. Masa kamu gak mau kamar kaya gini? Keren kan?” Kata suamiku memulai sesi negosiasi. Yah, aku perlu berpikir keras lagi kali ini. Kadang aku menang, kadang dia yang menang. Dalam hal ini, bagaimana supaya aku dan dia bisa menang? Pernikahan tinggal hitungan hari. Masa pertikaian kecil masalah kasur aku perdebatkan.

Tapi terkadang benar juga judul sebuah buku. PERNIKAHAN ITU BUNUH DIRI. Yah, tapi harus dipilih dengan baik kepada siapa aku bisa menyerahkan “pembunuhan ego” aku. Tapi aku juga tahu kalau sebagai wanita, adalah kewajiban kita untuk menjadi 100% be ourself. Kalau gak ya bunuh diri aja! Bukankah paling enak kalo isa bersama orang yang tau baik buruk kita tapi 100% benar-benar gila hanya membayangkan kalau ada laki lain yang mungkin isa miliki kita kalau dia tidak cepat-cepat mendeklarasikan perasaan dia. Yah, cinta.

-_-

Btw, aku selalu suka toko buku tempat aku beli buku PINK itu. Entah mengapa hatiku selalu merasa hangat setiap kali memasuki atmosfir ketenangan dan keromantisan toko buku ini. Toko buku yang seolah memanjakan telinga, mata, dan indera penciumanku dengan kehangatan warna pencahayaan dinding, aroma kopi, dan bunyi-bunyian beberapa pengunjung yang sepertinya juga terhipnotis untuk selalu tidak melewatkan alat pembuat kopi bikinan sendiri setiap kali memasuki ruang baca khusus yang bisa diakses setiap pengunjung yang berhasil membeli 100 buku dalam setahun kunjungannya. Tantangan yang menarik!

Apalagi jika aku bisa memenangkan hati suamiku untuk kembali mengantar aku untuk kembali mengunjungi toko buku itu bersama dia. Bukan karena toko bukunya, tetapi sensasi yang ditawarkan ketika aku bisa memeluk erat tubuhnya dari belakang sambil mendengarkan lagu-lagu pelan yang merengkuh hati sambil berbincang kecil tenang hari-hari dia. Bukan tujuannya, tetapi proses ke tujuan itu yang membuat aku sayang sama suamiku ini. Segala hal menjadi asik kalau dikerjakan bersama-sama dengan dia. Bersama dia saja udah bikin aku bahagia, yah mungkin inilah namanya sanctuary, finally i find my pelabuhan hati setelah sekian lama mengembara.

Hahaha, tiba-tiba terbersit raut muka jengkel suamiku yang kejang-kejang karena banyaknya budget bulan ini yang tiba-tiba bocor karena pengeluaranku di toko buku Merah ini. Rekor yang aku pecahkan, 100 buku sehari hanya untuk mengetahui keekslusifan ruang baca toko buku ini yang konon selalu ramai didatangi penulis-penulis terkenal hanya untuk minum kopi dan menikmati suasana surgawi? Astaga, benar-benar tantangan yang perlu dicoba sebelum aku meninggalkan kota ini untuk selama-lamanya. Dan ternyata aku tidak menyesal!

-_-

Pernikahan adalah sekali seumur hidup, remember that. Kata yang perlu digarisbawahi setiap wanita yang mulai bermain-main dengan pikirannya tentang sesosok pria yang akan mengisi hari dia setiap hari, 24 jam, 7 minggu, 12 bulan, 365 hari setiap hari. Be careful before u really decide who is he. Ok?

Hatiku berkata sekali lagi membangunkan aku dari tidurku yang panjang semalam. Iya, benar sekali, sekali seumur hidup, banyak juga kata sekali, dan jangan sesekali menikah jika bukan untuk seumur hidup, ingat itu sekali saja ketika kamu ingin sesekali memikirkan seseorang untuk menghabiskan waktu yang hanya sekali ini saja. Hedeh,,,sesekali….

-_-

Kamu ini sudah melewati hampir setengah masa hidupmu. Bukannya aku cerewet, tapi mau sampai kapan kamu mau have fun aja? Aku si suka-suka aja, tapi apa gak kasihan di kamunya? Aku lo masi mau have fun, pernikahan itu masi panjang banget dari benak aku. Jangan sampai menyesal aja ya.” Kata seseorang di masa lalu aku pendek ketika aku lagi menikmati bakso kesayangan.

Yah, dia benar juga sebenarnya, tetapi aku juga punya pemikiran sendiri. Pernikahan itu seumur hidup, masi banyak hal yang ingin aku lakukan, dan aku ingin melakukan itu semua dengan orang asik yang mau mendukung keasikan yang aku anggap asik. Keras kepala? Mungkin.

Dan ternyata dia benar. Pernikahan itu asik. Akhirnya aku menemukan seseorang yang aku bisa ajak happy bersama. Dan memang benar, berdua itu lebih baik. Hanya Tuhan yang tau kenapa aku menikahinya. Aku sendiri juga kaget karena akhirnya aku berani mengambil komitmen. Yah, i just happy he choose me and i can choose him. Just as simpel like that ternyata cinta itu.

-_-

“Sayang, kamu beli buku karangan siapa ini? Buku ini asik lo ada aroma permennya. Dungaren aku juga suka dengan pilihan kamu. Judul yang menarik.” kata suamiku singkat.

“Aku juga enggak tau, memang karangan siapa? Warnanya PINK ya?” Jawabku pelan sambil membuka panci kare buatan dia.

“Iya, tertulis kalo pengarangnya RG.’ Kata suamiku keras-keras karena aku mulai memutar musik dengan kerasnya.

“Hah?” Seruku pelan dalam hati. “Rg?”

When I tell you I love you, I don’t say it out of habit. I say it to remind you that you are the best thing that has ever happend to me. ♥
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s