the “me”

Posted: September 30, 2012 in Kisah cinta
Tag:

Don’t marry the person you think you can live with;

marry only the individual you think you can’t live without.

“Iya, aku akan menikah” kata seorang gadis bergaun rumbai panjang kepada sahabat cewenya.

“Kamu akan menikah? Orang yang anti komitmen dan berkata bahwa penikahan itu membosankan dan menjemukan akan menikah? Apakah aku mimpi ya? Pukul kepalaku” kata teman cewe gadis itu sambil menepuk kepalanya dengan tangan.

“Iya, apalagi yang aku tunggu? Aku telah menemukan dia dan aku jatuh cinta, menunggu apalagi?” kata gadis itu dengan berdecak-decak kagum kepada dirinya. “Aku juga tidak menyangka aku akan menikah. Aku hanya ingin menikah saat ini dan iya, menjadi diriku apa adanya dan diterima dengan apa adanya. Perasaan ini tidak…gimana ya. Kamu gak tau sih. Uda beberapa waktu aku memikirkan tentang pernikahan dan mengapa aku harus menikah? Mengapa aku harus menikah? Dan jawaban yang di otak yang muncul pertama adalah untuk berkembang biak, ahahahha, aku ingin ada seseorang berkata kepadaku dan astaga, aku hanya tidak bisa membayangkan jika aku dan dia akan menciptakan sebuah kita di kehidupan yang baru. Aku tidak tau, aku rasa ini saat yang tepat. Aku hanya jatuh cinta” kata gadis itu sekali lagi dengan helaan nafas panjang dan melemparkan topi pantainya ke udara. “Dia pria yang bisa membuat aku mengetahui siapa diriku ini sebenarnya dan entahlah, cinta yang membuat aku menjadi diriku sendiri. Bukankah cinta itu cinta yang indah?” kata gadis itu dengan girang dan sekali lagi melemparkan topi pantainya di udara dan menghirup udara pagi di pantai itu dengan panjang.

“Dia membuat aku mengetahui keindahan mimpiku seperti halnya aku juga memperlihatkan kepadanya keindahan mimpi-mimpinya. Aku tidak tau dan aku sebenarnya juga belum yakin apakah ini adalah keputusan yang benar, tetapi hatiku mengatakan aku hanya ingin menikah dengannya. Apakah hal itu salah? Doa selama setahun penuh itu aku rasa juga bukan main-main. Aku gunakan masa setahun penuh ini untuk mewujudkan impian-impian aku sambil bertanya kepada Tuhan apakanh kali ini hatiku berkata sesuatu yang benar? Apakah benar orang ini yang akan membuat hidupku asik dan berwarna setiap hari? Apakah orang ini yang bisa aku ajak berdoa membuat sebuah kisah cinta?” kata gadis itu tiba-tiba dengan helaan nafas yang agak berat sambil memandang lautan yang luas.

“Dibutuhkan satu mata tertutup untuk menerima cintamu, dan dibutuhkan dua mata menutup untuk menjaga dia tetap menjadi cintamu. Apakah kamu siap menutup matamu? Pikir baik-baik sayang, aku ingin kamu menikmati sebuah pernikahan yang bahagia. Apakah kata tunda dariku mampu menyakinkan kamu untuk memikirkan lagi keputusanmu?” kata teman gadis itu dengan hati-hati takut menyinggung temannya.

“Entahlah, aku juga tidak tahu. Aku tidak pernah menerima cinta seorang pria, dan sekarang ada seorang pria yang tiba-tiba bersemangat sekali menjadikan aku, ah entahlah. Apa aku tunda ya? Okelah aku tunda dulu, jika memang kita ditakdirkan bersama, kita akan bersama. Aku selalu percaya bahwa jika seorang pria mencintai kamu, maka cintanya akan selalu lebih berat daripada cintamu kepadanya.” kata gadis itu sambil menggerak-gerakkan jarinya kepada temannya dan menyentuh hidungnya.

“Atau begini saja. Aku tidak akan menunjukkan perasaan aku kepadanya walaupun aku sebenarnya mungkin mencintai dia. Aku ingin lihat apakah dia bisa tetap setia dengan kondisi seperti ini dan tetap setia menjadi seorang sahabat yang selalu ada. Menurut kamu ujian, ahaha, ujian calon suami yang setia ini masuk akal gak?” kata gadis itu sambil menggoyangkan kepalanya pura-pura berpikir.

“Aku tidak tau, memang ada pria yang seperti itu? Tetap menunggu walaupun sepertinya tidak ada harapan?” kata teman gadis itu sambil mencodongkan kepalanya juga pura-pura berpikir.

“Ah kamu ini, justru ini bagian terbaiknya. Aku ingin menikahi dia, bukan “topeng” dia. Persahabatan akan membuat aku bisa melihat “dia” bukan “topeng” yang mungkin akan kita kenakan karena kita ingin seseorang yang kita cinta tetap mencintai kita.” kata gadis itu dengan nada bersemangat seolah mendapatkan ilham.

“Okelah, aku akan bersahabat dengan dia dan biarlah waktu yang akan menguji apakah cinta kita semakin kuat. Aku akan bersama dia, satu, dua…30 tahun ke depan non. TIGAPULUH TAHUN ke depan, atau mungkin lebih. Itu masa yang gak main-main. Aku ingin memilih dengan hati dan otak untuk kali ini. Logika akan berjalan di masa persahabatan. Ya suamiku, calon suamiku, aku harap kamu tetap bertahan di tengah sifat cuekku ya, ahahahh” kata gadis itu tergelak-gelak sambil memandang seorang lelaki yang sedang bermain dengan teman-temannya di rumah pantai.

“Iya, terserah kamu. Ingat kata-kata kamu dan pertahankan ya. Semoga kalian berdua diberkati dan jika memang ditakdirkan bersama, aku yakin persahabatan itu akan berbuah manis. Cinta adalah emosi yang membawamu ke pernikahan. Aku berdoa untuk kamu ya” kata sahabat gadis itu pelan sambil beranjak pergi.

“Pernikahan adalah kehidupan sehari-hari, yang membedakan sekarang mungkin aku bisa memeluk seseorang dan mengetahui bahwa di dunia ini aku tidak sendiri. Yah, aku rasa aku perlu menikmati kehidupanku dulu sebelum menarik orang lain ke dalam kehidupan aku. Suamiku, aku sayang kamu. Biarpun berat, aku akan menikmati hari-hariku hingga saatnya keajaiban itu terjadi jika memang Tuhan menggariskan kita bersama” doa gadis itu pelan dalam hatinya.

“Kebebasan menjadi diri sendiri (me) seharusnya juga akan berlangsung ketika menikah. Dan aku berdoa Tuhan mengaruniakan seseorang yang mengetahui betapa bernilainya aku di detik pertama dia melihatku. Amin” doa gadis itu pelan dan kemudian menghampiri lelaki pujaan hatinya.

“Perjumpaan hatiku dan hatimu” kata gadis itu pelan sambil mendorong lelaki itu ke arah pantai. “Ayo, katanya mau maen kejar-kejaran ama aku, kejar aku” seru gadis itu sambil berlari ke arah pantai.

BIP…

“Btw, suamimu iku onok piro se? Perasaan bukan dia aja yang kamu ceritakan ke aku?” bunyi sms teman gadis itu.

“Hehe..hmmmm..sebenarnya cuma dia aja yang selama ini aku ceritakan ke kamu, tetapi memang dia lucu. Yah, tapi aku tak tau, mungkin ini saatnya membuka hati untuk pria-pria yang mencoba mendekat dan sepertinya hanya ingin bersahabat. Benarnya aku belum ingin menikah, belum ada cowok yang benar-benar mampu menyakinkan aku kalo pernikahan dengan dia bakal asik. Lagian aku ingin mencari cowok yang isa mendukung impianku penuh seperti aku juga mendukung impian dia penuh. Wanita itu harus pemalu, cowoklah yang harus berinisiatif. Biarlah kisah cintaku kali ini hanya aku dan Tuhan yang tau. Dah ah sayang. Kamu juga, aku doakan kamu mendapatkan yang terbaik ya” balas gadis itu singkat untuk sms temannya itu.

Lelaki sejati mengetahui betapa berharganya wanita yang merebut hatinya sehingga dia tidak ada waktu mengejar hati yang lain karena dia sendiri sibuk memenangkan hati wanita itu setiap hari.

tapi sebenarnya hatiku bingung…andai…

Jika kau bisa menjadi dan menerima dirimu baik dengan kelemahan dan kelebihanmu, maka kamu bisa membiarkan dia menjadi dirinya utuh tanpa sebuah bisikan-bisikan kecil yang membuat dia ingin menjadi seseorang yang mungkin kamu cintai, tetapi bukan dirinya sendiri.

Belajarlah mencintai dirimu sendiri sehingga engkau bisa mengetahui apakah yang sebenarnya benar-benar bisa membuatmu bahagia.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s