GaLove

Posted: September 22, 2013 in Kisah cinta
Tag:, , ,

love

Chapter 1: Buku aneh

Seorang gadis yang merasa bingung antara melepaskan atau tetap menunggu seseorang yang belum membuat dia merasa pasti bahwa pria ini akan menikahi dia menemukan sebuah buku aneh kecil ketika dia membereskan gudang rumahnya yang rencananya akan dibuatnya menjadi perpustakaan kecilnya. Sebuah kata yang dia ucapkan akhirnya membuat dia tersedot masuk ke buku itu dan benar-benar berada di dunia yang dia baca. Negeri di mana pernikahan itu wajib dan negeri itu benar-benar negeri di mana setiap orang menemukan cinta sejatinya karena peraturan itu. Dan ternyata peraturan itu membuatnya benar-benar menemukan cinta sejati di dunianya walaupun akhirnya dia harus berpisah dengan cinta sejatinya di dunia buku itu.

“Suatu saat aku akan menemukan cinta sejatiku. Cinta yang melihatku adalah ciptaan Tuhan terindah yang pernah dilihatnya. Ya, suatu saat aku akan menemukannya, walaupun mungkin kali ini bukan dia.” seru seorang gadis dalam hatinya sembari melihat handphone dia dan mendapati bahwa pria yang dia sms tidak membalas smsnya secepat dulu.

Sudah satu jam lebih dia bolak-balik dan mendapati tidak ada balasan sms dari pria yang dicintainya itu. “Ya, mungkin ini hanya bagian yang sulit di kisah cinta kami, ya, bagian klimaks yang akan menentukan apakah cerita ini akan berakhir bahagia dengan dia sebagai tokoh utamanya atau tidak di dunia impianku kelak.” seru gadis itu sembari menghela nafasnya dan menaruh kembali handphone kesayangan dia di laci mejanya dan melanjutkan rencananya untuk membersihkan gudang rumahnya. Dan sebelum beranjak keluar dari kamarnya, dia mengecek kembali handphone dia dan masih mendapati wallpaper manis yang dia pilih sebagai pengobat hatinya yang galau masih terpampang di sana. “Yah, mungkin ini benar-benar bagian yang sulit, “seru gadis itu sembari merasakan perih dalam hati dan menaruh handphone itu kembali ke laci dia.

Sudah satu jam lebih gadis itu berkutat dengan sapu dan tong sampah untuk membereskan gudang rumahnya. Ya, gudang rumah yang sejatinya dulu ingin dia jadikan perpustakaan, tapi berubah menjadi gudang karena ada family yang menjual rumahnya dan butuh tempat penyimpanan sementara untuk barang-barang mereka. Akhirnya terpaksa dia merelakan bagian yang dia khususkan itu menjadi gudang untuk perabotan mereka. Dan ternyata peminjaman lokasi itu berlangsung cukup lama hingga kemarin mereka memberi kabar bahwa akhirnya mereka telah membeli rumah yang baru dan ingin cepat-cepat mengambil barangnya.

“Sesuatu juga ya setahun itu. Begitu banyak debu dan kotoran di sana-sini.” Kata gadis itu pelan sembari melihat-lihat perabotan family dia yang mengendap setahun di tempat yang seharusnya menjadi tempat favorit dia.

“Raka berubah sangat banyak ketika cewek itu mengatakan bahwa dia juga menyukai Raka. Yah, mungkin aku yang terlalu keras kepala dan seharusnya jadi pihak yang tau diri dan mengeliminasi sendiri diriku dari kisah ini. Biarpun Raka dan aku pernah menjadi seperti kekasih, tetapi tidak ada kata jadian di antara kami. Jadi kenapa aku jadi wanita yang bodoh dan tetap mengharapkan dia? Dea yang bodoh!” seru gadis itu dalam hatinya ketika mengingat kisah cintanya setahun ini. Kisah cinta yang dia jalani tanpa status dan sebenarnya hanya sebagai pelampiasan saja pada mulanya. Namun entah kenapa perasaan dia jadi lebih rekat ke Raka daripada seseorang yang dulunya begitu mengacuhkan dia walaupun gadis itu sebenarnya akan jadi pasangan yang benar-benar luar biasa jika pria itu juga mencintai dia. Tapi cinta itu juga aneh, sekarang perasaan dia malah berubah 180 derajat. Memang tidak menggebu-gebu seperti yang dulu dia rasakan ke pria sebelum Raka, tapi kali ini perasaan ini lebih stabil dan mengijinkan dia menggunakan akal sehatnya untuk menimbang-nimbang apakah benar adalah Raka yang akan menjadi suami dia.

Tiba-tiba lamunan gadis itu terhenti karena suara hujan yang tiba-tiba turun. Cepat-cepat dia menuju pintu keluar dan berlari ke halaman untuk mengambil cucian dia yang seharusnya sudah kering. “Hmmm, hujan kali ini aneh. Kenapa terasa hangat ya?” seru gadis itu sembari menadahkan tangannya dan merasakan aliran air hujan itu turun membasahi tangannya. “Iya, terasa hangat. “Setelah tertegun sebentar dia kembali berlari dan mengambil cucian dia yang seharusnya benar-benar sudah kering. “Hmmm.apakah buku itu benar-benar dari dunia lain ya? Bukankah disebutkan jika hujan di negeri itu adalah hujan yang hangat? Apakah ada seorang peri dunia itu yang sedang mencari bunga-bunga di duniaku untuk acara besar tahunan mereka? Benarkah peri-peri itu ada?” kata gadis itu sembari bergegas membawa masuk cucian kering dia yang basah sedikit dan menuju kamar dia untuk melihat ulang buku aneh itu. Buku yang menceritakan sebuah dunia di mana setiap orang benar-benar bisa menemukan cinta sejati mereka jika mematuhi peraturan itu.

“Hmm..” seru gadis itu mengguman pelan sembari merenungkan isi buku itu. Sebuah dunia tanpa benda bernama uang dan setiap orang bisa mendapatkan apa yang dia inginkan dengan hanya meminta kepada orang yang tepat. Begitu juga dengan cinta, jika dia memintanya kepada orang yang tepat, dia pasti akan mendapatkannya. Tetapi dunia seperti apa ya yang penuh dengan cinta sejati yang dikisahkan buku ini sehingga tidak ada seorangpun yang dibiarkan hidup sendiri di dunia itu. “Setiap orang benar-benar bisa mendapatkan cinta sejatinya.” Kata gadis itu sambil berjalan kembali ke gudang rumahnya untuk membersihkan debu dari perabotan familinya sekali lagi sambil membawa buku itu. “Cinta, mungkinkah aku bisa mendapatkannya? kata gadis itu pelan dalam hatinya. Cinta,” seru gadis itu pelan sambil melihat sampul buku aneh itu.

Tiba-tiba gadis itu merasakan tubuhnya menjadi ringan dan kakinya seakan melayang dan tidak menyentuh lantai. Gadis itu terhenyak dan mendapati dirinya melayang di atas lantai gudangnya. Dan tiba-tiba sebuah kekuatan seperti menghempas dia ke lantai dan dia mendapati bahwa dia bukan terjatuh di atas keramik pilihan yang dia pilih dulu, dia terjatuh di atas sesuatu yang lembut. Hamparan rerumputan berwarna biru laut terhampar luas di hadapan dia dan semilir angin dingin menyadarkan dia bahwa dia tidak sedang bermimpi.

“Peraturan…” Gadis itu mengatakan pelan dalam hatinya ketika dia tersadar dari kagetnya dan melihat sekelilingnya. Entahkah itu mimpi atau kenyataan yang seperti dibacanya di buku Harry Potter dan Twilight, gadis itu benar-benar berada di dunia yang sangat berbeda dengan dunia yang dia jalani sehari-harinya. Dunia yang penuh dengan warna-warna cerah dan peri-peri yang berterbangan ke sana ke mari dan berlalu lalang di hadapannya seakan mereka tidak menyadari kehadirannya. Sebuah papan besar bertuliskan huruf aneh menarik perhatian buku itu. Sebuah papan yang dia pernah lihat di buku aneh itu. Papan yang berisi peraturan itu.

Gadis itu bukanlah gadis yang penakut, tetapi detik itu suatu ketakutan yang hebat menjalari pikirannya. Dia bukanlah siapa-siapa, tidak menguasai seni bela diri apapun dan tidak pernah berpetualang ke tempat-tempat asing sendirian tanpa seorang teman. Dan kali ini dia dihadapkan kepada suatu dunia yang benar-benar berbeda dengan dunianya. Sembari mengingat cuplikan-cuplikan buku aneh itu tentang dunia ini, dia menyadari bahwa peri-peri itu memang tidak menyadari kehadiran dia dan bahkan ada beberapa peri yang berlalu dari wajahnya dan tembus ke belakang kepalanya. Suatu keanehan yang benar-benar dia alami.

“Aku di dunia yang diimpikan banyak orang, dunia dongeng.” Pekik gadis itu sembari menepis pikiran-pikiran yang kurang baik dan kurang positif dari benaknya. “Setidaknya aku harus mencari cinta sejatiku di dunia ini supaya aku bisa pulang kembali dan bertemu dengan Raka aku.” Kata gadis itu pelan dalam hatinya.

Buku aneh itu mengisahkan bahwa untuk kembali ke dunia asal kita, kita perlu menemukan cinta sejati kita dengan mengetahui peraturan itu. Dan setelah bertemu cinta sejati kita di dunia itu, seberapa beratnya, kita harus cepat sadar dan memutuskan untuk kembali ke dunia asal kita karena peri tersebut akan mati jika dia akhirnya benar-benar. “Yah, aku tidak tahu jika benar-benar apa. Mungkin ada tikus yang memakan lembaran buku aneh ini hingga menyisakan sebuah pertanyaan untuk aku pecahkan sendiri. ”

Gadis itu membayangkan bahwa buku itu pastilah karangan seorang manusia yang berhasil kembali ke dunia asalnya kembali dan menuliskan pengalamannya. “Pastilah desain buku ini sangat aneh dan tidak biasa karena pengaruh hal-hal yang dia lihat di dunia lain ini.” Guman gadis itu dalam hatinya dan melihat rumah dengan desain yang tidak biasa. Benar-benar dunia peri yang tidak tercapai imajinasi manusia.

 

 

Chapter 2: Pertemuan

“Raka. “Suara gadis itu seperti terhenti di jantungnya ketika dia melihat sesosok pria seukuran jempol tangannya sedang terduduk diam sambil memandangi dirinya dari tempat dia duduk.

“Dia bisa melihatku.” Gadis itu berkata pelan sambil berdoa semoga peri itu tidak melihat dia.

Dengan keberaniannya gadis itu mendekati peri jempol itu dan melihat ke dalam pancaran matanya. Peri pria yang mirip Raka itu tetap menatapnya seperti sedang mengamati dirinya juga dengan tatap mata heran. Dengan tiba-tiba peri itu terbang menembus sorotan matanya dan melayang menembus tubuh gadis itu dan terbang menjauh. “Semoga peri itu tidak melihatku.” Doa gadis itu dalam hatinya dan berlari mengejar peri pria itu.

Peri pria itu berhenti di depan sebuah bangunan yang mungkin bisa dikatakan sebuah rumah dan tiba-tiba berubah menjadi sesosok pria tinggi besar dan benar-benar mirip dengan Raka.

“Raka, apakah dia juga membaca buku itu dan sama seperti diriku terdampar di dunia ini?” Gadis itu berkata pelan kepada dirinya. Dengan hati-hati dia melihat dari jendela sosok peri itu. “Oh, ternyata dia sudah memiliki pasangan.” kata gadis itu ketika melihat peri itu berlalu masuk dan memeluk seorang peri cantik dengan rambut berwarna-warni indah yang panjang. Tiba-tiba peri pria itu melihat ke arah gadis manusia itu dan menembus dinding dan mengejutkan gadis itu.

“Dea.” Kata peri pria itu pelan kepada gadis itu.

Gadis itu tertegun pelan dan bingung kenapa peri pria itu bisa mengetahui namanya.

“Akhirnya ramalan itu benar-benar terbukti. Aku harus merelakan cinta sejatiku untuk membantumu kembali ke duniamu,” tiba-tiba peri cowok itu berlalu pergi menembus dinding dan memeluk erat sekali lagi peri wanita berambut indah itu dan melayangkan tangannya menembus dada peri wanita itu. Berkas cahaya keluar dari dada wanita itu dan membuat wanita itu terhenyak dan menangis dengan tiba-tiba. Dengan hati-hati peri pria itu memasukkan benda bersinar itu ke sebuah kotak dan berlalu pergi menjauh dari peri wanita itu dan melayang mendekat ke arah gadis itu.

“Kenapa dia terdiam saja ketika kau berlalu peri meninggalkan dia dalam kondisi menangis?” Tanya gadis itu kepada peri pria itu dengan heran dan berkata dalam hatinya seandainya Raka juga melakukan hal itu ketika cewek itu mengatakan bahwa dia suka kepada Raka dan mengambil cinta cewek itu ke dia tanpa ragu, meninggalkan dia, dan menjelaskan dengan dewasa bahwa dia hanya jenuh padaku ketika dia mendekati cewek itu.

“Iya, jika saja kisahku bisa seperti itu,” seru gadis itu dalam hatinya seraya merasakan kembali perih yang dirasanya sore tadi ketika melihat layar handphonenya menunggu sms balasan dari Raka.

“Tadi kamu mengatakan apa?” Gadis itu kembali bertanya kepada peri pria itu karena sebagai gadis pelupa, dia memang agak parah jika sedang patah hati.

Dengan lembut peri pria itu berkata kepada gadis itu sembari belajar memberikan tatapan yang hangat kepada gadis yang ditakdirkan ramalan untuk menjadi cinta sejatinya yang sesungguhnya. “Sudahlah, cinta itu kata kerja. Ketika perasaan cinta sudah tidak terasa, itulah tanda bahwa Tuhan mempercayakan kamu untuk melakukan pekerjaan paling mulia di dunia. Pekerjaan untuk mencintai ciptaan dia yang tidak sempurna dengan cinta yang sempurna. Aku pria yang beruntung. Dari sekian banyak peri, akulah yang ditunjuk untuk menjadi peri yang merasakan patah hati dan merasakan bagaimana cinta yang sesungguhnya itu seharusnya.” seru peri pria itu dengan suara pelan. Tampak bahwa dia seakan tidak terima dengan kondisi yang dia hadapi barusan. Berpisah dengan wanita pilihannya untuk bersatu dengan wanita yang dipilihkan oleh ramalan untuknya.

Gadis itu merasa aneh dengan ucapan peri pria itu dan berangan-angan dalam hatinya jika saja Raka yang mengatakan hal itu, tapi apakah cinta seperti itu akan menjadi cinta yang indah? Bukankah gadis itu sendiri menentang pria yang hatinya mampu berpaling. Dan sekarang dia dihadapkan kepada seorang peri yang wajah dan perawakan dia sangat mirip dengan Raka, tetapi memiliki karakter yang jauh berbeda, tetapi dengan mudahnya bisa memutuskan mengakhiri cinta kepada peri wanita itu walaupun peri pria ini terlihat lebih lembut dan perasa daripada Raka.

Peri pria itu membawa gadis itu terbang dengan sayapnya tanpa menyentuh gadis itu. Tiba-tiba saja gadis itu terbang di sisi peri itu seakan dia bisa terbang sendiri dengan kekuatannya tapi gadis itu tidak bisa menentukan seenak dia sendiri arah terbang dia. Dengan suara lembut yang lebih lembut dari nada bicaranya tadi peri pria itu mengatakan kepada gadis itu untuk menyimpan namanya sebagai sebuah rahasia. Hanya cinta sejati yang diperbolehkan mengetahui nama seorang peri pasangan dia. Sebuah nama mengandung semua rahasia tentang masa depan, keberuntungan, dan semua kisah dan tempat yang akan dijalani peri tersebut. Dan dengan mendapatkan nama selain nama kelahiran dia, seorang peri diberi kesempatan untuk menciptakan nama lain di dunia itu dengan cara bersatu dengan peri itu dan memberikan nama baru kepada anak mereka.

“Pernikahan adalah sangat wajar dan mutlak di dunia ini. Aku tahu kamu pasti sudah membacanya di buku itu. Hal pertama yang perlu aku lakukan untukmu adalah membuatmu mencintaiku sehingga kita bisa menghasilkan sebuah nama baru.” Seru pria itu kepada gadis itu dan membuat gadis itu tercekat hatinya.

“Sebuah nama baru, cinta, penyatuan, kelahiran, hal-hal yang rasanya masih di awang-awang antara dia dan Raka tiba-tiba menjadi nyata hanya dalam waktu satu hari juga. Apakah mungkin ini mimpi dan imajinasi aku yang keterlaluan ya?” seru gadis itu sembari mencubit tangannya seperti yang dia lihat di film-film ketika seseorang ingin mengetahui apakah dia sedang bermimpi.

“Sakit,” gadis itu merasakan cubitan itu sakit. Ini bukan mimpinya, ini kehidupannya yang dia jalani di dunia yang beberapa jam lalu masih dibaca olehnya dari sebuah buku aneh. Ya, dunia yang beberapa jam lalu masih di imajinasinya saja dan sekarang menjadi kenyataan.

“Hal pertama yang perlu kau lakukan adalah menuliskan semua yang kau alami di dunia ini. Kau akan bisa menulisnya setiap hari di buku ini.” Peri pria itu menunjukkan gadis itu sebuah buku yang memiliki kertas berwarna keemasan dan bersinar. Gadis itu tertegun dalam hatinya dan mereka-reka dalam hatinya apakah mungkin buku aneh yang dia baca itu adalah buku karangan dia yang diterbitkan di masa depan? Seperti sebuah rangkaian yang saling mempengaruhi dan tidak terjadi jika yang lainnya tidak terjadi.

“Aku tidak mempercayai semua ini,” seru gadis itu dalam hatinya ketika mendapati tiba-tiba dia memiliki seseorang yang mengatakan bahwa dia adalah cinta sejatinya dan semua hal bagus yang pernah dia impikan bersama Raka.

“Kita akan ke acara besar itu dan menikah,” seru peri pria itu kepada gadis itu.

Dengan jantung yang seakan berhenti gadis itu sekarang benar-benar tidak percaya bahwa dia akan menikah dengan seseorang yang mirip Raka. Tapi dikatakan bahwa manusia itu akhirnya meninggalkan cinta sejatinya di dunia peri dan bertemu dengan cinta sejatinya di dunia asalnya. “Bagaimana kita bisa menikah? Tidak mungkin.” Gadis itu berkata kepada peri pria itu. Dengan seulas senyum peri pria itu berkata dengan nada misterius kepada gadis itu, “Memang tidak semudah itu. Waktu tidak berlalu seperti waktu yang berlaku di dunia kamu. Waktu berkata bahwa kita akan tiba di waktu itu tapi perputaran jam akan kembali ke waktu yang kita lewatkan jika kisah yang seharusnya sudah dijalani.”

Gadis itu akhirnya sangat menyesal karena dia membaca sambil lalu saja buku aneh itu karena memang dia sedang tidak mood membaca sebuah cerita. “Jika saja…” gerutu gadis itu pelan dalam hatinya menyesali karena dia tidak serius membaca buku itu dari awal sampai akhir.

“Jadi apakah aku akan mengalami suatu petualangan seperti yang aku lihat di film-film Disney… “seru gadis itu dalam hatinya.

Peri pria itu tiba-tiba berhenti melaju dan berada di depan gadis itu sambil melayang dan berkata, “Maafkan aku, mungkin kamu belum mengetahui bahwa aku mulai bisa membaca pikiran kamu. Ya, itulah kekuatan sebuah cinta di dunia kami. Kamu akan selalu bisa membaca pikiran pasangan kamu dengan sempurna hingga benar-benar tidak ada yang ditutupi kecuali cinta itu sudah mencapai tahapan yang lebih dewasa dan kita mulai membaca apa yang dipikirkan pasangan kita dengan membaca raut wajah dan segalanya, tetapi bukan pikiran dia.”

“Dunia kamu aneh.” Gadis itu berkata dengan nada kesal karena peri pria ini tiba-tiba bisa membaca pikiran dia dan sekarang dia harus juga berpikir dalam pikiran dia. “Benar-benar menyusahkan.” Kata gadis itu pelan dalam hati.

“Iya, memang benar-benar menyusahkan, tapi ketika kau mulai bisa membaca pikiranku, di saat itulah kau mengetahui bahwa cinta yang bagus itu adalah ketika kau tidak berusaha membaca pikiran pasangan kamu, tapi hanya mempercayai dia saja dan bertanya langsung apa kemauan dia,” seru pria itu pelan kepada gadis itu sembari mengingat kisah yang lalu dengan peri wanitanya ketika peri wanita itulah yang pertama bisa membaca pikiran dia.

 

Chapter 3: Sehari-hari

“Kamu lapar ya?” seru peri pria itu dengan senyum kecil karena dia mendengar suara-suara kerucuk yang berasal dari perut gadis itu.

Gadis itu hanya terdiam saja dan memandang ke arah lain. Iya, gadis itu memang lapar, tetapi dia baru saja tiba di dunia yang asing. Dan tidak seperti cerita-cerita yang dia tau di dunia nyata dan di film-film, kali ini dialah yang mengalami sendiri dunia yang selama ini hanya dilihatnya di TV. Jadi dia benar-benar bingung dan tidak tau apa yang akan dia lakukan, bahkan dalam kondisi laparpun dia belum berani memutuskan untuk mencicipi makanan asing yang dimakan peri-peri itu di dunia mereka.

Peri pria itu seakan mengetahui isi hati gadis itu dan dengan sepintas dia menarik gadis itu dengan auranya tanpa menyentuhnya dan membawa gadis itu ke suatu tempat yang penuh dengan berbagai macam pohon yang penuh dengan buah-buah yang bergelantungan.

“Kamu bisa memilih buah apa saja yang bisa kau makan, kecuali buah yang ada di tengah taman ini. Jangan kau sentuh, atau kau makan. Karena sekali kamu menyentuh atau bahkan memakannya, hari itu juga perasaanmu akan mati dan kamu tidak akan pernah merasakan keindahan sejati sebuah kehidupan.” Peri pria itu menuturkan peraturannya kepada gadis itu.

Gadis itu malah merasa penasaran dan langsung berlari ke tengah taman itu untuk mengetahui seperti apakah bentuk buah dari pohon itu. Belum juga beberapa langkah dia lari, peri pria itu menghentikan gadis itu dengan belitan lasonya di sekeliling kaki gadis itu. Gadis itu terjerembab dengan keras di atas rerumputan biru tebal yang lembut itu. Menyadari kesalahannya, gadis itu beranjak berdiri dan meminta maaf kepada peri pria itu.

“Kamu tidak perlu meminta maaf kepadaku. Kamu harus meminta maaf kepada cinta sejatimu di dunia. Buah itu benar-benar akan membuatmu tidak menginginkan kemanisan sebuah cinta dan kau akan menghabiskan hidupmu hanya seorang diri di duniamu dan meninggalkan cinta sejatimu untuk orang lain yang sebenarnya lebih buruk dari kamu.” Peri pria itu berkata dengan seenaknya karena merasa tersinggung dengan tindakan gadis itu barusan.

Sembari menyodorkan sepenggal buah yang mirip apel, peri pria itu beranjak duduk di atas rumput dan memandang gadis itu lekat-lekat.

“Dia memang tidak cantik, benar-benar lebih cantik peri wanita pilihanku, tetapi kenapa harus aku yang harus menjalani kisah ini untuk menyelamatkan duniaku,” seru peri pria ini singkat dalam hatinya.

Peri pria itu mengetes apakah gadis itu bisa membaca pikiran dia dengan memanggil nama gadis itu di pikiran dia dan ternyata gadis itu tidak menoleh dan tetap asik memilih dan mencium setiap aroma buah yang berhasil dipetiknya. “Aku menyerah. Aku percaya cinta tidak akan semenyakitkan ini,” seru peri pria ini seraya membayangkan bahwa benar dia tidak akan pernah bisa bersatu dengan peri wanita pilihannya dulu karena kedatangan gadis ini.

“Hei,” gadis itu berseru dengan kaget ketika tiba-tiba suatu tangan tak terlihat seperti melilit pinggang dia dan membawa dirinya naik ke atas dan membuat kakinya melayang beberapa sentimeter dari atas tanah.

“Kamu harusnya bilang dulu ke aku,” seru gadis itu dengan nada keras dan tiba-tiba melembut karena dia sendiri belum tau apakah peri pria ini adalah peri yang baik atau mungkin peri yang jahat yang sengaja bermain-main sebentar dengan dia dan kemudian melakukan hal yang tidak baik kepada dia.

“Hidup ini lebih dari sekadar makan dan minum,” kata peri pria itu pendek seraya terbang di samping gadis itu. “Suatu saat kamu akan menyadarinya di duniamu,” kata peri pria itu bijak dan mendekatkan tangannya seperti ingin membelai rambut kepada gadis itu, tetapi ditangguhkannya.

“Kamu tau? Tidak diperbolehkan adanya sentuhan dalam bentuk apapun sebelum acara pernikahan. Aku tau kamu adalah gadis yang suka bertanya dan aku akan menjadikanmu gadis yang agak sedikit bijak di duniaku, pasanganku,” kata peri pria itu sembari memandang ke arah lain.

Gadis itu begitu terkesima dengan kata itu. Pasanganku. Seperti suatu sihir yang menyihir perasaan dia secara langsung. Belum pernah dia mendapat kata itu sedemikan diucapkan serius kepadanya. “Jadi sebijak apa aku seharusnya,” kata gadis itu kepada peri pria itu. “Pasangan?” seru gadis itu pelan melanjutkan kata-kata dia dalam hati.

Peri pria itu hanya terdiam dalam hatinya mendengar gadis itu menyebut dia pasangan dengan sebuah tanda tanya besar. “Cukuplah dimulai dengan sebuah kata cinta untuk menumbuhkan sebuah cinta,” kata peri pria itu dalam hatinya sembari pikirannya menerawang kepada peri wanita yang dipilihnya sebelum gadis ini datang.

“Duniamu begitu mengagumkan.” Gadis itu mengomentari kekaguman dia kepada dunia peri. Dunia di mana tidak ada kebutuhan untuk makanan, minuman, kehangatan, dan pakaian, semua hal yang diperlukan supaya mendapatkan sebuah kehidupan. Dunia di mana setiap peri bebas melakukan apapun dan bekerja setiap hari untuk panggilan hidupnya.

“Duniamu ini indah.” Gadis itu menambahkan sekali lagi komentar dia.

“Kamu belum mengetahui seujung kuku duniaku, pasanganku,” seru pria itu dengan sebuah senyuman tipis di bibirnya. Yah, sebuah senyuman yang terlihat dipaksakan, tetapi dimaksudkan ingin diberikan untuk menyenangkan hati.

Gadis itu hanya terdiam dan menyadari dalam hatinya bahwa peri pria ini berusaha untuk mencintai dia karena memang hal itulah yang seharusnya dia lakukan untuk gadis ini. Sebuah cinta untuk menyembuhkan hatinya yang kosong karena sebuah nama yang tidak menyambut balik cintanya dengan sikapnya. Raka.

“Sudahlah. Toh kamu adalah cinta sejatiku. Biarlah aku juga berlaku bahwa kamu adalah milikku dan bebas aku melakukan dan meminta apa saja kepadamu. Pelampiasanku?” seru gadis ini dalam hatinya.

“Iya, pelampiasanmu. Jika kata itu adalah kata yang populer di duniamu.” Kata peri pria itu kepada gadis itu.

Gadis itu terhenyak kaget dan baru menyadari bahwa peri pria ini bisa membaca isi hatinya. Dengan jengkel dia menggerutu dalam hatinya, tetapi tanpa daya dia harus menerima bahwa tidak akan ada rahasia selagi dia berkata-kata juga dalam hati. “Ahhhh,” seru gadis itu dalam hatinya jengkel.

Chapter 4: Petualangan

“Raka?” kata Dea dalam hatinya dengan nada canda.

“Iya?” jawab peri pria itu karena dia merasa dipanggil, tidak ada siapapun di sana selain mereka berdua.

“Hmmmm..kamu benar-benar bisa membaca pikiranku…..” kata Dea dalam hatinya lagi.

Peri pria itu hanya bisa tersenyum dalam hatinya, dia juga pernah mengalaminya ketika peri wanita yang dia pilih dulu juga tiba-tiba begitu saja bisa membaca pikiran dia dan membuat dia mati kutu ketika mereka menghabiskan waktu bersama.

“Yah, ahahahaahahah’ pekik peri pria itu tiba-tiba dalam hatinya karena menyadari bahwa bisa membaca pikiran pasangan kita itu sangat asik. Bisa menyelami apa yang ada di pikiran dia, tidak ada batas dan alasan bahwa kita akan dibohongi.

“Raka…” kata Dea pelan dengan bibirnya sembari menatap peri pria itu dan memegang wajahnya. Terlanjur basah pikirnya karena peri pria ini mengatakan bahwa mereka sedang dalam perjalanan menuju perkawinan mereka.

“Raka, kenapa kamu bisa tau bahwa aku ini bukan bangsa kamu?” kata Dea dengan bibirnya dan tiba-tiba menyadari kebodohannya. Pastilah peri pria ini tau bahwa dia bukan bangsa mereka, tidak ada sayap di punggungnya, tetapi kenapa hanya peri pria ini yang bisa melihat dia adalah suatu tanda tanya besar di benak Dea.

“Duniaku ini penuh dengan cerita. Dan ada suatu cerita tentang suatu pertemuan dua dunia yang akan mengubah dua dunia itu selamanya jika akhir ceritanya beda dari yang digariskan oleh para pencerita.” kata peri pria ini kepada Dea sembari menatap jauh ke hamparan langit biru dan rerumputan biru yang membentang di hadapan mereka.

“Jika kamu membaca buku itu sampai habis, kamu pasti mengetahui bahwa tidak ada kebutuhan akan pakaian, makanan, minuman, dan tempat berlindung di dunia kami. Kami hidup sehari ke sehari mencari sesuatu yang kami senangi sehingga perasaan itu seperti perasaan kaum kalian yang ingin cepat-cepat bangun di pagi hari untuk memulai hari luar biasanya. Aku rasa dunia kami adalah dunia yang kamu sering impikan itu Dea.” kata peri pria itu dengan lembut. Suatu perkataan lembut yang benar-benar mengingatkan Dea kepada Raka, lelaki yang membuat dia jatuh cinta, patah hati, dan jatuh cinta lagi, benar-benar suatu masa yang bisa menjadi cerita.

“Kamu tau Raka? Aku merindukan lagu-laguku. Bisakah kamu membantuku dengan kekuatan peri kamu atau apapun itu? Aku tiba-tiba ingin mendengarkan lagu Rama-Bertahan. Aku ingin tau apakah lagu itu masih bisa mengingatkan aku kepada cintaku kepada Raka. Cintaku ketika dia tidak pernah menghubungi aku lagi. Cintaku ketika dia mengatakan bahwa dia hanya menganggap aku hanya sebagai saudara saja.” Kata Dea dengan goresan perih dalam hatinya. Menyisakan pertanyaan besar kenapa Raka tidak menyambut cintanya ketika cinta itu serasa ada dalam hati mereka berdua.

“Pernahkah kau tiba-tiba menangis ketika orang yang kau cintai mengatakan bahwa dia ternyata hanya perhatian kepadamu sebagai seorang saudara?” kata Dea dengan cepat dan dengan nafas memburu. Mengingat kisahnya dulu dengan Raka, bagaimana perjuangan dia untuk mengatakan kepada Raka bahwa dia menyesal atas perlakukan jahat dan kecuekannya dulu. Penyesalan dan cinta yang baru disadari ketika kata bertemu itu adalah mustahil.

Peri pria itu hanya memandang heran akan kegalauan Dea. Belum pernah dia menjumpai seorang peri wanita bisa begitu galau karena cinta. Di dunia peri, percintaan hanya akan dimulai ketika peri pria sadar bahwa ada perasaan berbeda yang dia rasakan setelah proses persahabatan yang panjang dengan seorang peri wanita. Tidak ada kegalauan karena cinta hanya dirasakan pihak pria dan kemudian cinta barulah ditumbuhkan di pihak wanita jika peraturan itu membuktikan kepada peri pria bahwa peri wanita itu adalah pasangan dia. Tidak ada patah hati karena kisah cinta itu sudah digariskan dan sudah pasti kisah cinta itu akan bersatu kecuali peraturan itu dilanggar.

“Halo cantik, aku tau kamu sedang gundah kan? Tapi setidaknya cinta itu tidak seperti itu. Cinta yang sejati akan membuatmu bersatu dengan orang yang kamu cintai. Tuhan tidak tidur. Serahkankah cerita cintamu kepadaNya, dan seperti penulis yang handal, Dia akan membuat ceritamu itu menjadi keajaibanmu ketika kau bangun tidur setiap hari di samping orang yang kau cintai.” kata peri pria itu kepada Dea dengan lembut dan sedih karena dia belum bisa terima jika dia harus menerima Dea sebagai cinta sejatinya, bukan peri wanita yang dipilihnya dulu.

“Kenapa kamu tidak berjuang untuk peri wanita kamu? Aku sendiri juga tidak ingin merebut cinta yang bukan milik aku karena aku pernah tau rasanya bagaimana mencintai dan benar-benar berharap bisa menghabiskan waktu sekali lagi dengan yang dicintai.” Dea mengatakan pendapatnya tentang cinta kepada peri pria itu. Seperti halnya dia yang tidak percaya akan cinta bertepuk sebelah tangan sehingga dia tetap menghubungi Raka walau Raka cuek kepadanya. Dea tau dia cinta kepada Raka, pasti Raka juga cinta ke dia.

“Apakah cinta bertepuk sebelah tangan itu ada jika kita ini benar-benar cinta?” tanya Dea kepada peri pria itu.

“Itulah inti kisah kita. Ada bagian cerita yang hilang dari dunia kami, dan bagian itu ada padamu Dea. Kamulah jawaban dari pertanyaan itu. Perkawinan kita akan menjawab hal itu.” kata peri pria itu dengan bijak. Dia tau bahwa seberat apapun, dia harus menjadi lelaki yang bijak dan mengemban tanggung jawab yang memang seharusnya dia emban. Dari kecil dia selalu kagum dengan manusia yang akan datang ke dunianya untuk melengkapi cerita yang hilang, tetapi dia sendiri benar-benar tidak menyangka bahwa dialah peri pria terpilih yang harus mengorbankan cintanya untuk akhirnya bersatu dengan manusia itu sehingga cerita penting itu lengkap.

“Tetapi ada kisah yang lebih keren lagi selain cinta. Uang. Kamu tau tidak? Dengan 30 hari kerja, tantangan yang sebenarnya adalah bagaimana bisa mendapatkan 100 rb/hari bahkan lebih, jadi sebulan bisa mendapat berapapun yang kamu targetkan setiap harinya. Iya, itu sebenarnya pertanyaan besarku juga selain cinta. Apakah kau bisa membantuku Raka?” kata Dea dalam hatinya sembari menuliskan cerita hari itu di buku yang diberikan peri pria itu kepadanya.

Dea tiba-tiba terkesiap karena peri pria itu tiba-tiba mendekap Dea di bawah pelukannya seperti ingin melindungi dia dari sesuatu dan menempelkan telunjuknya di bibirnya seakan meminta Dea untuk diam. Mata Dea tiba-tiba terbelalak tidak percaya ketika melihat sepasukan tentara tengkorak yang berjalan dengan langkah berderap-derap dari balik rengkuhan peri pria itu.

“Tahan nafasmu sebentar hingga aku memindahkanmu ke tempat yang aman.” peri pria itu berkata pelan dan menempelkan tangannya di sekitar mulut Dea untuk memastikan nafas gadis itu benar-benar tertahan. Dalam sekejab mereka berpindah tempat ke suatu daerah lain yang benar-benar berbeda dengan daerah yang dilihatnya tadi. Langit berwarna hitam kelam dengan ribuan bintang-bintang yang membentuk tulisan-tulisan aneh terpampang di sekitarnya. Tetapi anehnya kelamnya langit itu seperti siang hari.

“Benar-benar dunia yang aneh” kata Dea dalam hati. “Sudahlah, kamu juga akan terbiasa dengan semua ini. Sebentar lagi kita akan bersatu selama-lamanya.” seru peri pria itu kepada Dea dengan nada sedih yang menyelimutinya di akhir.

Dea merasa benar-benar keki. Di satu sisi dia sangat senang karena ada sosok serupa dengan Raka yang sangat dekat dengan dia dan dia bisa bertingkah seakan adalah benar jika mereka adalah pasangan. Tetapi di sisi lain, Dea mengetahui bahwa peri pria itu tidak mencintai dia, hanyalah sebuah tugas agung yang sedang dia jalankan untuk menemani Dea dan menerima Dea sebagai pasangan dia untuk menggenapi cerita itu.

Di tengah kebisuan dan keheningan yang terjadi di antara mereka berdua, tiba-tiba seuntai bunga mawar merah menyala tergeletak manis di depan Dea, membuat dia bertanya-tanya apakah yang sedang dipikirkan peri pria itu ketika melakukannya. Jujur, semenjak berada di dunia peri ini, Dea benar-benar merasa sangat tergantung kepada peri pria ini, tidak tau apa yang akan bisa dia lakukan jika tiba-tiba peri pria ini tiba-tiba meninggalkan dia. Tidak seperti cerita-cerita film yang terdapat teman baru yang bisa dia kenal jika berada di dunia lain, di dunia peri ini, Dea hanya mengenal peri ini.

“Duniaku ini beda dengan duniamu. Seaneh apa kamu memandangnya, dunia ini adalah dunia sempurna yang aku yakin setiap manusia di duniamu menginginkan berada di tempatmu jika kau tau hal apa saja yang bisa kau dapatkan jika akhirnya kita menikah.” peri pria itu mengatakan sesuatu hal yang memang menjadi pemikiran Dea dari tadi, hal asik apa yang membuat setiap manusia sepertinya tidak puas dan mengimpikan suatu petualangan dunia lain yang membuat mereka jadi tokoh utamanya.

“Sebenarnya jika boleh memilih, duniamu adalah dunia terbaik. Kalian bisa menangis, tertawa, membenci, memaafkan, melukai, melupakan, berbohong, dan segalanya yang bisa kalian lakukan dan selalu akan ada pengampunan dari yang maha agung jika kalian mau menerima Dia sebagai penanggung kesalahan kalian. Dunia kami adalah dunia yang keras. Hukuman berlangsung detik itu juga jika kita berbuat salah.” peri pria itu menuturkan langsung kepada Dea tentang kebenaran dunia peri pria itu.

“Jika kau memperhatikan, ada beberapa peri yang tidak memiliki tangan, kadang hanya memiliki sebelah kaki, atau kadang memiliki wajah yang buruk dan tidak bersinar, semua hal jelek yang bisa kau bayangkan tentang kekejaman neraka. Iya, neraka yang disediakan oleh yang maha pengampun bagi kaum kalian yang suka untuk melakukan dosa dan tidak bertobat dan berbalik arah ke jalan yang benar.” seru peri pria itu sembari menyadarkan Dea bahwa benar ada beberapa peri yang tidak sesempurna gambaran yang dia tahu dari film-film.

“Dan tahukah kamu hukuman apa yang paling kejam di dunia kami?” peri pria itu bertanya kepada Dea dan memberikan waktu yang cukup panjang untuknya berpikir. Dengan ketenangan yang menyelimuti mereka berdua waktu itu, Dea sadar bahwa peri pria itu serius dengan pertanyaannya dan membuat Dea berpikir keras kira-kira jawaban terbaik apa yang bisa dia berikan.

Setelah perenungan yang panjang Dea menjawab bahwa hukuman terkejam adalah diperbolehkan hidup dari hari ke hari, tetapi merasa bahwa hidup itu sendiri tidak bermakna karena tidak ada mimpi yang ingin diwujudkan. Dengan tertawa keras peri pria itu membenarkan jawaban yang diberikan Dea. Keyakinan peri pria ini bahwa pasti bukan manusia yang biasa yang akan menjadi tokoh utama dalam ceritanya adalah suatu kebenaran.

“Kamu memang wanita yang berbeda. Sayang sekali Raka, atau siapakah nama manusia yang kau cintai itu tidak menyadari kecerdasanmu.” imbuh peri pria itu dengan nada serius setengah bercanda.

“Aku tidak tau. Mungkin saja aku terlalu cerdas sehingga membuat Raka takut kepadaku, tetapi setelah aku pikirkan matang-matang, sebenarnya aku juga belum siap untuk mengatakan iya jika seandainya dia melamar aku.” jawab Dea yakin. Akhirnya dia menyadari bahwa mungkin selama ini pandangannya sangat sempit akan arti pernikahan. Beruntung hari ini dia diberikan waktu untuk berpikir ulang akan keputusan dia dalam memperhatikan satu pria saja di antara berjuta-juta pria yang ada di dunia ini.

“Bunga itu bunga mawar kan? Kenapa kau menaruhnya di hadapan aku?” Dea tiba-tiba bertanya akan kejadian yang mengusiknya barusan.

“Bunga terakhir. Itu adalah bunga pertama dan bunga terakhir yang akan aku berikan kepadamu. Kematian pertama dan kematian terakhir dari setangkai bunga untuk menunjukkan kepadamu bahwa cinta itu seharusnya membawa kehidupan, bukan kematian. Cinta kadang tidak seromantis yang kamu baca di buku-buku atau kamu lihat di film. Pernikahan yang sederhana adalah lebih baik daripada kisah cinta yang hebat, tetapi tidak bisa bersatu.” peri pria itu sekali lagi mengeluarkan kata-kata bijaknya.

“Seringkali kamu menangisi orang yang salah dan membiarkan orang yang tepat terluka hatinya karena hatimu tidak belajar merelakan orang yang salah itu. Itulah kesalahanmu Dea.” peri pria itu mengatakan ucapan itu dengan biasa saja seakan dia seorang dosen yang sudah meneliti suatu persoalan dengan mendalam.

“Aku pernah berkata kepadamu bahwa sebuah nama itu penting. Dea, aku mengetahui semua ceritamu di detik kau melihatku dengan mata hatimu. Sayang sekali kau belum mencintaiku seperti komitmen yang sudah aku ambil untuk mencintaimu” peri pria itu menambahkan lagi perkataannya dengan ringan dan renyah seakan mengejek Dea karena sampai detik itu dia masi menganggap peri pria itu hanya seorang peri aneh yang bisa menemani dia menikmati sedikit petualang di dunia peri.

“Aku ini pasanganmu. Kamu harus belajar untuk hanya melihat aku di antara banyak peri pria yang sebentar lagi akan menggoda kamu untuk menarik perhatianmu” kata peri pria itu dan beranjak pergi dan menghilang.

Dea benar-benar tercekat. Dia merasa takut dalam hatinya karena tiba-tiba ditinggalkan sendirian. Dengan menahan nafas Dea menyakinkan hatinya bahwa mungkin peri pria itu hanya bercanda dan menggoda dia. Tetapi setelah sekian lama dan semakin sunyinya keadaan, peri pria itu juga tidak kembali.

Kira-kira apakah yang bisa dilakukan seorang wanita seperti Dea di dunia asing yang baru saja dia kunjungi ini?

 

Chapter 5: Sesungguhnya

Belum sempat Dea menarik nafasnya untuk yang kesekian kali, dia dikejutkan dengan seorang peri pria tampan yang tiba-tiba muncul di hadapan dia. Seorang peri dengan jubah keemasan dan mahkota benderang di kepalanya. Benar-benar tampan dan benar-benar sangat tampan.

Peri pria tampan itu hanya memandangi Dea dan tiba-tiba menyeringai kejam dan menunjukkan taringnya. Dea yang terkejut dengan refleks memukulkan batu yang dia raih dari dekat kakinya. Tampak kucuran aliran cairan berwarna biru dari pelipis peri pria tampan itu.

Tidak tau apa yang harus dilakukan, Dea memutuskan untuk lari secepat mungkin dan berharap adrenalin bisa membuat dia mengeluarkan energi tersembunyi dia dan membuat dia bisa berlari secepat mungkin. “Raka!” teriak Dea dengan keras berharap peri pria yang mirip Raka itu datang dan membantu dia.

Dea sebenarnya tau, sedikit banyak tidak mungkin peri pria itu tiba-tiba meninggalkan dia, tetapi apakah benar peri tampan ini adalah peri pria itu? Apakah benar yang diceritakan peri pria itu ataukah mungkin Dea benar-benar bersikap kaku dan mengharapkan seseorang yang benar-benar tulus menemukan dia dan membawa dia kembali ke dunia manusia saja.

Kali ini Dea berhenti berguman karena tiba-tiba dia merasakan bahwa dia berada di pelukan erat seseorang yang semestinya bertubuh lebih besar dari dirinya karena dia merasakan seluruh tubuhnya merasa berat.

“Jadi kamukah wanita terpilih dari dunia manusia untuk menjadi pelengkap cerita kami?” suara pria yang berat dan keras yang berasal dari sosok yang memeluk dia erat.

“Jadi kamukah wanita keras kepala yang sampai sekarang selalu percaya bahwa tidak ada namanya cinta bertepuk sebelah tangan itu?” suara itu menambahkan dan melepaskan pelukannya. Meninggalkan rasa dingin yang aneh di sekujur tubuh Dea.

Memantapkan hatinya, Dea mencoba membuka matanya dan mendapati bahwa sosok besar pria seperti raksasa ada di depan dia. Berwarna hijau seperti hulk dan benar-benar bertubuh kekar, tidak ada sayap di punggung dia.

“Kamu akan mendapati jawabanmu ketika kamu menyelesaikan cerita ini dengan peri pria terpilih dari dunia kami. Sebelum kamu menyelesaikan cerita itu, kamu tidak akan pernah bisa kembali ke duniamu.” seru suara itu yang entah berasal darimana karena mulut raksasa hijau itu tidak bergerak, hanya terlihat sesosok mata merah yang melihat dia dari sosok hijau itu.

Seperti adegan-adegan di film, asap putih tiba-tiba muncul dan mengiringi kepergian sosok hijau besar itu.

Dea benar-benar tidak suka dengan kondisi itu. Tiba-tiba dia teringat akan buku yang diberikan peri pria yang mirip Raka itu dan mencoba bereksperimen dengan buku itu. Dia menuliskan sebuah adegan yang ingin dia jalani di dunia ini.

Dengan kecerdasan akal dan sedikit imajinasi Dea menggoreskan cerita bahwa tiba-tiba peri pria mirip Raka itu muncul dan menjelaskan kepada dia semua hal yang seharusnya Dea benar-benar harus tau dan petualangan apalagi yang harus dia jalani untuk menuntaskan cerita ini secepatnya.

Jujur, kehidupan monoton dan penuh rutinitas yang dia rasakan di dunia manusia serasa lebih menyenangkan daripada dunia asing yang menawarkan seribu satu misteri di hadapan dia. Memang pertama kelihatannya petualangan di dunia yang asing itu seru, tetapi setelah dia memikirkan ulang, terasa lebih berharga keseharian yang dia jalani di dunia manusia dengan Raka dan semua kecuekan dia. Terbersit rasa takut bahwa dia tidak bisa kembali ke dunia manusia lagi dan bertemu dengan Raka membuat dia hampir menangis.

“Kamu mengulangi hal itu lagi. Bukankah aku sudah mengatakan bahwa seringkali kamu meneteskan air mata kamu untuk orang yang salah? Pernahkah kamu dengan sengaja ingin membuat orang yang kamu cintai sedih karena kamu? Coba pikirkan pertanyaan aku.” peri pria yang mirip Raka itu tiba-tiba muncul dan menyadarkan Dea akan kesalahan dia.

Benar adanya, mungkin Dea pernah dengan sengaja ingin membuat Raka cemburu, tetapi hal itu jikapun sudah terjadi, dia dengan cepat akan kembali kepada Raka dan mengatakan supaya dia jangan cemburu dan mengatakan bahwa dia sayang kepada Raka. Iya, seseorang yang mencintai kamu tidak akan dengan sengaja membuat kamu sedih dan menangis.

“Tetapi aku mencintai Raka.” jawab Dea pelan.

“Cinta yang dangkal.” imbuh peri pria itu dengan nada emosi.

“Cinta itu sederhana. Aku dan kamu menjadi satu. Titik. Tidak ada definisi terbaik selain definisi yang aku sebutkan barusan. Sebuah pernikahan yang sederhana dan kelihatan biasa-biasa adalah jauh lebih baik 1000 persen dari kisah cinta berliku penuh air mata dan kenangan tetapi tidak bersatu.” peri pria itu mengingatkan sekali lagi kepada Dea tentang definisi cinta yang benar.

“Kamu dari mana?” tanya Dea dengan marah. “Aku tidak percaya dengan dunia ini, aku rasa aku hanya bermimpi. Aku harap mimpi ini cepat usai.” seru Dea dengan kejengkelan 1000 persen.

“Begitulah yang diserukan tiap manusia yang menjadi tokoh utama terpilih. Tetapi duniamu akan menjadi dunia yang datar tanpa kisah cinta fantastis jika tidak ada manusia terpilih yang menjalani kisahnya di dunia kami. Romeo Juliet, Hamlet, Siti Nurbaya, Harry Potter, Twilight, dan sebutkan apalagi cerita yang kalian sukai. Menurut kamu darimana semua imajinasi itu berasal? Bahkan Doraemon pun diciptakan oleh seorang manusia yang tersasar ke negeri dongeng sehingga dia bisa menceritakannya. Cinderela, Putri Tidur, Putri Duyung, dan semua kisah dongeng.”

Belum sempat peri pria itu melanjutkan kata-katanya, Dea memotong dengan menegaskan apakah semua penulis cerita itu pernah menjadi tokoh utama di negeri peri itu. Dan peri pria itu menjawab iya dengan yakinnya. Dan dia mengingatkan Dea untuk berlaku menjadi dirinya sendiri supaya kisah mereka juga menjadi sebuah kisah yang bisa diceritakan turun menurun di kemudian hari kelak. Tidak perlu berlaku menjadi seseorang yang lain karena jika dia berlaku seperti itu, hal itu hanya akan menimbulkan akhir cerita yang beda dan kemungkinan dia tidak akan bisa kembali ke dunianya.

“Banyak kisah orang hilang di duniamu. Aku rasa sebagian besar mereka sedang berada di negeri kami dan akhirnya harus benar-benar berusaha mengenali diri mereka yang semula dan mengulang cerita dari awal. Tetapi seringkali walaupun diulang, cerita itu sudah berubah karena tokoh utamanya sudah memiliki sifat yang berubah. Jadi aku peringatkan kamu di awal. Ada satu orang yang akhirnya berhasil kembali ke duniamu, tetapi kebanyakan hanya berulang-ulang kembali ke cerita yang lama karena mereka tidak percaya bahwa diri mereka cukup berharga untuk menjadi tokoh utama. Hanya penerimaan diri yang bisa membuat kamu menjadi tokoh utama yang terbaik Dea.” kata peri pria itu dengan bijak, sebijak kelembutan pancaran matanya yang merasuk di hati. Mengingatkan Dea akan Raka dan kelucuannya dulu ketika mereka belum mengetahui bahwa sebuah kisah panjang akan mewarnai hari-hari mereka setelah suatu peristiwa terjadi.

“Hal terbaik tentang cinta adalah sebelum cinta itu bersatu.” kata peri pria itu pelan.

“Cinta terbaik adalah cinta yang muncul dari persahabatan. Sahabatmu, kekasihmu, belahan jiwamu. Itulah cinta terbaik.” peri pria itu menambahkan kata-kata bijaknya pelan seraya mengelus lembut kepada Dea. Dan Dea benar-benar merasa dilindungi dengan elusan di kepala itu, suatu perasaan yang dulu dia juga pernah rasakan ketika dia meminta Raka mengelus kepalanya sambil memandang foto seseorang di masa lalunya dengan pacarnya yang terpampang di facebook orang itu. Elusan di kepala untuk menentramkan rasa sedih dan perih yang menghujam hatinya melihat foto seseorang di masa lalunya itu. Perasaan pedih untuk menyadari kenyataan bahwa mungkin benar cintanya hanya bertepuk sebelah tangan saja.

“Nafsu diijinkan ada untuk menjadi sesuatu yang membuat mereka saling membutuhkan dan bersatu dalam suatu keromantisan seksual yang seharusnya hanya terjadi dengan pasangan kalian. Cinta yang datang sebelum persahabatan terjadi mungkin bisa menjadi cinta yang abadi, tetapi cinta yang datang setelah persahabatan yang manis adalah yang terindah.” peri pria itu mengakhiri kata-kata bijaknya.

“Di duniaku, cinta terindah adalah cinta yang hadir dengan tiba-tiba. Cinta yang datang dengan tiba-tiba kepada salah seorang sahabat dekatmu, bukan cinta yang datang dengan tiba-tiba dengan seorang asing yang baru kau kenal.” kata peri pria itu pelan.

“Romeo Juliet?” tanya Dea kepada peri pria itu untuk menunjukkan ada juga cinta pada pandangan pertama.

“Itu seribu satu di antara banyak cerita. Tetapi tadi kan aku sudah mengatakan bahwa cinta yang datang tanpa persahabatan mungkin bisa abadi, tetapi itu seribu satu.” jawab peri pria itu sembari membawa Dea ke dekapan pelukannya.

Suatu perasaan hangat menyelimuti hati Dea dengan tiba-tiba. Perasaan aman karena sepertinya dia bisa melimpahkan segala beban yang dia pikul selama ini di pelukan pria itu. Entah kenapa suatu pelukan selalu membuat dia merasa tenang. Dan pria ini bisa memeluk dia karena dia mirip dengan Raka.

“Sudah, lepaskan. Aku tidak suka.” seru Dea dengan tiba-tiba melepaskan pelukan peri pria itu.

“Tidak setiap orang bisa memeluk aku. Tadi aku ijinkan kamu memeluk aku karena aku terbawa suasana saja, tetapi tidak ada kesempatan kedua.” kata Dea tegas. Ada rasa penyesalan karena dia menjadi wanita yang bodoh lagi. Cukup sudah drama air mata karena sentuhan yang belum waktunya. Dan Dea memutuskan seberapa pun sayang dia kepada seseorang, dia akan menjaga dirinya hingga hari pernikahan mereka.

“Sangat menyakitkan jika kau menyadari bahwa ada tangan lain yang memegang dirimu selain tangan cintamu, seberapa sayang kita kepada kekasih kita. Hal terbaik yang bisa kita lakukan adalah saling berjauhan dan menjaga diri dari segala sentuhan, walaupun hal itu berat.” kata Dea menyatakan prinsip barunya kepada peri pria itu.

“Wanita bodoh mungkin merasa bahwa pelukan kecil atau dekapan, atau apapun itu adalah tanda sayang kepada pria yang dia sayangi, tetapi wanita pintar tahu bahwa menjauhkan kekasihnya dari nafsu adalah hal terbaik untuk membuat mereka langgeng hingga ke pernikahan.” seru Dea sambil beranjak berdiri. Dengan satu seruan dia mengatakan bahwa dia ingin peri pria itu juga berdiri dan cepat-cepat mengantarkan dia ke pesta pernikahan atau apapun itu.

Dea sudah tahu apa yang harus dia lakukan, membatalkan pernikahan itu dan dia akan pulang dengan selamat di dunia manusia lagi. Sangat simpel. Dan Dea benar-benar ingin mengakhiri kisah konyol ini. Cinta bertepuk sebelah tangan itu ada. Suatu bukti yang seharusnya sudah dia tahu dari dulu.

“Cintamu tidak bertepuk sebelah tangan Dea.” peri pria itu tiba-tiba mengeluarkan suaranya. Dea terkesiap karena dia sadar bahwa peri pria ini bisa membaca pikiran dia.

Tapi entahlah bertepuk sebelah tangan atau tidak, cinta itu sekarang sudah musnah dari kamus dia. Cinta yang baru benar-benar bisa membuat dia lupa. Raka membuat dia lupa bahwa dia pernah mencintai seseorang dengan begitu mendalam hingga menangis sedih ketika mendapati pria yang dia cintai berpasangan dengan wanita lain.

“Aku sudah tidak ambil urusan lagi. Seperti kata kamu, cinta itu aku dan kamu menjadi satu. Tidak ada definisi yang terbaik lagi. Jika cinta yang aku perjuangkan tidak memperjuangkan aku balik, itu berarti itu bukan cinta. Habis urusan.” seru Dea ketus.

“Hal itu juga salah. Kadang ada seseorang yang begitu mencintai kamu dan ingin bersatu dengan kamu, tetapi karena suatu hal dia sangat takut dia tidak bisa membahagiakan kamu.” kata peri pria itu pelan.

“Aku pernah mencintai dengan setulus hati dan aku benar-benar tahu bahwa aku bisa menerima dan mentolerir kelemahan dia 100 % dan bahkan akan dengan bangga mengatakan kepada semua orang bahwa dia cintaku. Dan sekarang malah aku yang merasa menjadi itik buruk rupa karena mencintai Raka, aku rasa sesakit apa, aku harus menerima bahwa kisahku dengan Raka itu sudah berakhir.” Dea berseru dengan menggebu-gebu seakan kata-kata itu adalah apa yang dia inginkan. Tetapi jauh dalam lubuk hati terdalam, dia mengetahui bahwa dialah yang merasa tidak pantas menjadi pasangan yang sempurna untuk Raka. Terasa ada beban yang menghujam batinnya jika Raka benar-benar akan menjadi pasangan hidupnya.

“Untuk itulah kau menjadi tokoh utama terpilih Dea. Kau akan mengetahui jawaban kamu di pesta pernikahan kita. Siapakah cinta sejatimu.” kata peri pria itu dengan dingin. Memang benar tidak ada cinta yang dia rasakan kepada Dea, tetapi suatu panggilan agung untuk menjadi pasangan Dea membuat dia harus mengesampingkan cintanya yang mendalam kepada peri wanita pilihan dia.

“Kamu tau tidak apa nasihat terbaik jika menyangkut cinta?” seru Dea ketus tapi dengan nada egois ingin pertanyaan dia dijawab.

Peri pria itu hanya memasang tampang jutek juga menanggapi pertanyaan Dea. Dia tidak menyangka Dea bukan seorang perempuan manis lembut seperti peri wanita pilihan dia.

“Nasihat terbaik mengenai cinta adalah tutup mulutmu, hentikan drama dan sensasi, dan mulailah bertanggung jawab akan hidupmu dengan memiliki sendiri mimpimu dan keberanian mewujudkannya. Cinta terbaik adalah cinta yang bisa menjadi seorang penolong luar biasa untuk bersama mewujudkan mimpimu. Nasihat terbaik kedua mengenai cinta adalah dengan mencintai dirimu sendiri sehingga hatimu mengetahui siapakah yang pantas kamu cintai itu.” Ya, itu jawaban Dea kepada pertanyaan dia sendiri. Berada beberapa saat di dunia asing dengan sesosok makhluk yang mirip dengan cintanya membuat dia sadar bahwa bukan fisik yang membuat dia cinta, karena peri pria ini hanya memiliki wajah Raka, bukan Raka, seperti cerita Inuyasa dan Kagome saja.

Chapter 6: Karma

“Mengapa hatimu bersedih Dea?” tanya peri pria itu saat merasakan perasaan perih di hatinya sendiri. Keajaiban pasangan adalah terbaginya perasaan yang dirasakan pasangannya di hatinya sendiri. Luka yang terasa lebih sakit ketika pasangannya terluka.

“Cinta…” Dea menyahut dengan lemah. “Tidak tau sampai kapan aku harus membayar karmaku karena seseorang….” seru Dea pelan sembari mengingat seseorang di masa lalunya. Seseorang yang baik hati dan lucu, tetapi karena kesalahan Dea seseorang itu menjadi pria yang kejam terhadapnya.

“Apakah kamu tahu apa kesalahan terbesar yang bisa dilakukan seorang wanita?” tanya Dea pelan sembari merasakan perih di hatinya sendiri.

Peri pria itu menyahut dengan mengerutkan alisnya pertanda dia tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan oleh Dea.

“Aku bermain api dengan temannya untuk mengetahui apakah dia merasa cemburu atau tidak. Dan masalah terbesar terjadi ketika permainanku membawa diriku malah lebih menyukai temannya daripada dirinya. Dari situ kisah cintaku menjadi suatu kisah pahit yang belum pernah terjadi di hidupku. Kisah kepahitan beruntun, bahkan Raka sendiri juga mungkin adalah karmaku karena dia juga dekat dengan teman aku. Membawa luka di hati. Aku baru tau bagaimana rasanya sakit hati karena orang yang kau cintai lebih dekat kepada temanmu daripada dirimu…” ujar Dea pelan. Menyadari bahwa memang dialah yang bersalah. dan sampai sekarang permintaan maaf yang dia ulurkan kepada pria itu masih belum diterima. Seorang pria yang pernah menceriakan harinya, dan mungkin akan menjadi pria yang sangat mencintai dia jika saja dia mau memberikan waktu kepada pria itu untuk memahami bahwa dia juga mencintai Dea.

“Aku ingin mengetahui bagaimana perasaan dia kepadaku. Aku merasa aneh ketika temannya berkata bahwa dia tidak pernah bertanya mengapa aku lebih dekat kepada temannya daripada kepada dirinya. Hal itu saja membuat aku merasa lemah dan mengambil kesimpulan bahwa mungkin cintaku hanya bertepuk sebelah tangan saja.” Dea melanjutkan perkataannya sembari mengingat cerita lamanya.

“Wanita kecilku, aku rasa episode melo cukup di sini dulu. Aku ingin memperlihatkan sesuatu kepadamu.” peri pria itu berkata dengan nada riang sembari menarik tangan Dea pelan. Peri pria itu membawa Dea terbang ke suatu tempat yang penuh dengan berbagai peri yang sedang sibuk membuat pakaian.

“Duniaku tidak mengenal uang. Duniaku hanya mengenal cinta. Dan untuk urusan cinta. Sekali hubungan itu putus atau retak, hal terbaik yang bisa kau lakukan adalah meninggalkan hubungan itu. Berusaha menyatukan atau menambal retakannya hanya usaha sia-sia. Penghianatan yang pernah dilakukan akan selalu menjadi duri di hubungan kalian selanjutnya.” peri pria itu berkata bijak seraya memperlihatkan sebuah gaun panjang yang sangat cantik berwarna hijau.

Dunia peri tidak mengenal uang. Setiap hari para peri melakukukan pekerjaan yang mereka sukai dan menjadi bahagia ketika peri lain memuji hasil pekerjaannya. Para peri tidak membutuhkan makanan, minuman, tidur, dan hal-hal yang dibutuhkan manusia untuk bertahan hidup. Ukuran kekayaan mereka adalah seberapa banyak peri lain yang menjadi bahagia karena keberadaan mereka.

“Gaun itu cantik” kata Dea kepada peri pria itu. “Tapi apa aku pantas memakainya?” kata Dea dalam hati.

“Kamu pantas kok memakainya” kata peri pria itu sembari menyodorkan gaun itu kepada Dea. “Aku memberikannya dengan cinta kepadamu. Segenap cinta yang aku ingin hadirkan di hatiku hanya untukmu” kata peri pria itu sambil mencoba tersenyum.

Beberapa saat bersama Dea sangat membuka mata peri pria itu bahwa perempuan ini ternyata cukup menarik. Sangat berbeda dengan peri-peri wanita yang pernah dikenalnya, bahkan walaupun Dea adalah wanita yang keras kepala, suka menangnya sendiri, dan tidak dewasa, ada daya tarik aneh yang dia miliki yang membuat peri pria ini sedikit merasa ingin mengenalnya lebih dekat.

“Manusia yang kau cintai pasti adalah manusia paling bahagia di dunia. Mendapatkan seorang wanita yang sangat berbeda dari biasanya. Apa adanya.” kata peri pria itu dalam hatinya sembari mengingat saat-saat yang dia lalui bersama Dea.

“Halo” seru Dea mengejutkan peri pria itu dari lamunannya. Peri pria itu tersentak dan ternganga sedikit mulutnya ketika melihat Dea dengan gaun yang dia pilihkan untuk dipakainya. Dea terlihat sangat berbeda. Cantik.

“Benar-benar wanita yang tertutup lumpur. Apakah karena inilah mereka memilihku? Supaya aku menampilkan keindahan hati dan pesona alami yang selama ini tertutup oleh sifat dan temperamen jeleknya?” kata peri pria itu dalam hatinya.

“Gaun itu bagus.” kata peri pria itu kepada Dea. Lidahnya tercekat, bahkan hanya untuk mengatakan kata cantik saja tidak bisa. Apakah yang sedang terjadi di hatinya. Ada perasaan berbeda yang baru saja dia rasakan, perasaan yang sungguh berbeda, tidak seperti yang dia rasakan kepada peri wanita pilihan dia.

“Ya sudah. Aku suka gaun ini, dan sebenarnya aku juga ingin basah sekalian. Aku ingin benar-benar seperti peri. Aku ingin seperti peri wanita yang kau pilih itu. Aku ingin juga mempunyai rambut panjang menjuntai yang cantik dan lentik dengan berbagai warna dunia yang dimilikinya. Bisakah aku juga memiliki rambut seperti rambutnya?” Dea bertanya kepada peri pria itu dengan ragu-ragu.

Setidaknya peri pria itu bisa mengelus rambutnya ketika dia merindukan peri wanita itu. Dia sendiri tidak boleh egois. Wajah peri pria itu saja sudah membuatnya senang karena seperti bersama Raka setiap waktu. Barter yang tidak mengecewakan juga walaupun sebenarnya dia ingin memiliki rambut panjang hitam yang berombak layaknya para putri Jepang.

“Aku bisa mewujudkannya.” peri pria itu menjawab pelan dan tiba-tiba saja mereka berada di suatu tempat yang penuh dengan potongan rambut berwarna-warni di mana-mana. Berbagai juluran ranting-ranting daun anggur yang menjadi hiasan tempat itu.

“Angela adalah peri tercantik yang sangat suka dengan rambut. Dari kecil hingga sekarang dia tidak pernah merubah kesenangannya sehingga bakatnya adalah yang tertajam. Ibarat sebuah besi, dia sudah berhasil mengasah besi tumpul itu menjadi sebilah pisau yang sangat tajam. Pisau yang bisa memutuskan helaian benang yang dijatuhkan di atasnya.” peri pria itu berkata kepada Dea sembari mengajaknya menemui salah satu peri wanita yang benar-benar memiliki rambut yang sangat bagus. Berkilau sehat dan sangat terlihat lembut seperti sutra. Benar-benar mengingatkan dia akan iklan sebuah produk sampo dari suatu perusahaan.

Peri wanita itu memandang heran kepada Dea dan kemudian memandang heran kepada peri pria itu. Dea yang merasa keki menyimpulkan apakah mungkin peri wanita ini adalah teman peri wanita pilihan peri pria itu sehingga peri wanita ini tidak henti-hentinya memandang Dea dari bawah ke atas dan ke bawah dan ke atas lagi. Membuat dia menjadi salah tingkah.

Ada tatapan sedih yang terpancar dari mata peri wanita itu, juga tatapan sedih yang sama di pancaran peri pria itu. Dea tidak berani mengatakan apapun, jika ternyata dugaan dia benar. Dialah yang seharusnya menjadi pihak yang tau diri dan seharusnya tidak berusaha melakukan apapun untuk merajuk atau berusaha berlaku baik kepada peri pria ini. Kadang cinta bisa datang karena terbiasa. Dan cinta seperti itu kadang bisa berakhir buruk jika pihak yang datang menjadi pihak ketiga di antara sebuah cerita cinta yang sedang berlangsung.

 

 

Chapter 7: Masa lalu

“Aku tidak ingin menikah!” kata Dea keras-keras setelah Angela selesai menata rambutnya. Gelombang lembut rambutnya sekarang seperti milik si Ariel putri duyung, ikal, tebal, dan berkilau.

Angela hanya tersentak mendapati Dea tiba-tiba melontarkan isi hatinya di tengah keheningan mereka bertiga ketika Angela sibuk menata rambut Dea.

Peri pria itu hanya terdiam mendengarkan calon pasangannya mengatakan hal itu. Dalam hatinya dia juga tidak tau apakah saat ini adalah saat yang tepat untuk sebuah kata sakral itu. Dia sendiri masih ingin menjadi peri yang bebas, walaupun terkadang dia pernah merindukan jika bisa bangun di pagi hari dan memeluk peri wanita pilihannya dulu itu dengan refleks untuk mengungkapkan sayangnya.

“Mengapa harus menikah jika kita bisa bersahabat selamanya dan hanya bertemu kadang-kadang saja untuk melepas rindu dan berkasih-kasihan ketika ingin disayang?” tanya Dea serius kepada peri pria itu.

Peri pria itu hanya terdiam sembari mengucapkan sampai jumpa kepada Angela yang hanya terbengong-bengong mendapati Dea mengucapkan bahwa dia tidak ingin menikah.

“Kamu hanya takut saja Dea. Kamu takut bahwa suatu saat perasaan cintamu kepada pasanganmu akan lenyap dan kamu menyesal kenapa kamu dulu menikahi dia.” peri pria itu berkata bijak sembari membawa Dea terbang menjauhi tempat Angela.

“Seperti membeli suatu barang. Engkau menyukainya, membayar harganya, dan kemudian mendapati ada kecacatan yang tidak kau sadari ketika memilihnya. Seperti itulah pernikahan.” peri pria itu menambahkan perkataannya.

“Yang sempurna itu adalah yang tidak sempurna. Hanya orang gila yang tinggal di dunia yang sempurna. Terisolasi dengan imajinasi dia. Tapi kamu tidak gila kan?” kata peri pria itu sembari tersenyum manis menghangatkan hati Dea.

Dea memikirkan tentang hubungan dua orang yang terjalin seperti di film-film. Bisa tidur bersama tanpa ikatan, bahkan memiliki anak tanpa hubungan pernikahan. Kadang dia juga ingin mengetahui bagaimana rasanya jika dia bisa menikahi lebih dari satu pria. Menyayangi lebih dari satu pria dan bisa memiliki mereka semua. “Tetapi apakah bisa?” kata Dea dalam hatinya.

“Cinta itu egois. Dia tidak mau berbagi. Jadi tidak mungkin kamu bisa mencintai 2 orang dengan adil. Kamu pasti akan lebih mencintai salah seorang di antaranya. Barang kesayangan saja jika kau memiliki barang yang sama, kau pasti akan memperlakukan salah satunya dengan lebih berbeda jika kau menganggap yang satunya lebih istimewa.” peri pria itu berkata ketus mendapati bahwa pasangan yang dipilihkan pencerita untuknya memiliki pikiran untuk menduakannya. Bahkan berencana untuk berpasangan dengan orang lain selagi menjadi pasangan dia.

“Mungkin pernikahan bukanlah kata yang cocok untuk aku. Entahlah. Tapi benar katamu. Selama ini aku takut memikirkan untuk menikah karena aku sendiri bingung ini perasaan yang bisa bertahan selamanya ataukah hanya sementara karena nafsu atau apalah itu.” Dea mengakhiri perdebatan dalam hatinya.

Setidaknya sekarang Dea berada di suatu dunia di mana cinta adalah segala-galanya. Tidak kebetulan jika Dea menjadi manusia terpilih untuk mengetahui jawaban pertanyaan yang mungkin dipertanyakan oleh seluruh manusia yang pernah hidup di dunia. “Apakah cinta itu dan benarkah orang yang dia cintai itu adalah belahan jiwanya?”

“Aduh” seru Dea dengan tiba-tiba sembari memegang sebelah matanya. Setelah mengusapnya, Dea hanya tersenyum mendapati sehelai bulu mata yang terselip di matanya. Ada seseorang yang rindu kepadanya. Dan hanya satu nama yang dia harapkan untuk merindukan dia, Raka.

Peri pria itu hanya mengatupkan bibirnya semakin erat. Berkomitmen mencintai dia memberikan dia kekuatan untuk merasakan apa yang Dea rasakan. Dan perasaan yang Dea rasakan untuk manusia yang dia cintai menimbulkan sedikit rasa tidak suka karena walaupun Dea tau mereka akan menikah, dia masih bisa berpikir tentang orang lain.

“Bulu mata yang jatuh itu pertanda ada suatu ketidakberdayaan yang dirasakan seseorang ketika mengingat kamu. Kekuatan ketidakberdayaan yang membuat semesta mencabut sehelai bulu matamu untuk membuatmu sadar bahwa kamu berharga karena dirindukan.” peri pria itu tiba-tiba mengutarakan isi hatinya kepada Dea dengan suara yang beda. Penuh nada kecemburuan karena bulu mata tidak akan tercabut jika orang yang merindukan Dea tidak berada di hatinya.

“Pasanganku sedang dirindukan oleh seseorang yang juga ada di hatinya.” peri pria itu berkata di hatinya sembari mengatupkan bibirnya erat-erat menahan amarah.

Sentuhan lembut dengan jari telunjuk di bibir peri pria yang terkatup itu menyadarkan peri pria itu bahwa Dea memperhatikan dia dari tadi. “Aku hanya bercanda.” Dea berkata pelan.

Mata Dea menewarang ketika dia mengingat seorang artis cantik yang seharusnya bisa mendapatkan pria yang lebih baik daripada seorang pria yang ternyata tidur dengan artis cantik lain yang sudah menikah. Cinta buta yang membuat seorang wanita cantik itu menjadi bodoh dan menurutkan nafsunya untuk tidur dengan seseorang yang bahkan belum berjanji setia menjadikan dia pasangan sehidup sematinya.

“Seks itu mulia. Jika seks itu dilakukan oleh sepasang insan yang sudah mengikarkan janji setianya di hadapan Tuhan. Manusia bukan binatang yang bisa berkelamin seenak hatinya dengan manusia mana saja yang ada di dekat dia ketika dia sedang bernafsu.” Dea berkata bijak kepada peri pria itu.

Pernikahan itu sebenarnya hal yang indah. Sepasang manusia, lelaki dan perempuan yang akhirnya menyatu menjadi satu daging dan menjadi dewasa bersama. Menjalani hari berdua, saling tolong menolong satu sama lain. Pernikahan adalah sekolah cinta terbaik, hadiah Tuhan untuk mengingatkan manusia bahwa surga itu ada jika dia berhasil mendapatkan pasangan yang setia. Dan mengingatkan kengerian neraka jika dia berpasangan dengan manusia yang keji yang hanya menikahinya karena nafsu.

“Sudahlah. Aku suka kamu mau berkomitmen denganku walaupun hatimu masih memanggil peri wanita itu. Itu saja sudah cukup. Aku suka hati pria yang setia. Beruntung aku menjadi pasanganmu. Aku yakin cerita ini akan berakhir bahagia.” Dea berkata dengan nada gembira kepada peri pria itu. Dari buku yang dibacanya, dia memang akan menikah, tetapi dia harus membatalkan pernikahan itu supaya dia bisa pulang ke dunia manusia, atau dia akan tinggal di dunia peri dan benar-benar berpasangan dengan peri pria yang menikahi dia.

“Hafizah-Sembilan Band.”kata Dea pelan kepada peri pria itu.

Pernah ada suatu masa di dalam hidup Dea ketika dia menempuh jarak begitu jauhnya, hanya untuk bisa berjumpa dengan seseorang yang ternyata di waktu Dea begitu merindukan dia setengah mati, orang ini asik sms dan telpon dengan teman wanitanya. Bahkan menanyakan tentang teman wanitanya itu kepada salah seorang temannya. Iya, lagu Hafizah yang dulu dia dengarkan berulang-ulang di bus yang membawa dia ke tempat itu untuk bertemu dengan seseorang yang menawan hatinya. Orang yang bernama Raka, dan sekarang mungkin dia harus relakan karena cinta mungkin sudah pergi karena telalu lama menunggu.

“Sudahlah. Kamu benar. Mungkin aku hanya takut saja jika ternyata ini nafsu, bukan cinta. Ketakutan bahwa jika ini bukan cinta, maka akan ada saat hanya komitmen saja yang mempertahankan pernikahan itu, ketika cinta telah pergi. Seperti dua manusia yang hidup bersama, tidur bersama, tetapi tidak seperti saat mereka menikah dulu.” Dea berkata pelan sambil menatap langit. Hal yang dia tau biasa dilakukan tokoh-tokoh film ketika memikirkan masa lalu. Masa lalu. Raka adalah masa lalunya. Masa lalu yang seharusnya menjadi pelajaran bahwa cinta itu memang seperti itu, dan betapa dia juga rindu dicintai seperti dia mencintai Raka. Perhatian yang terus menerus walaupun orang yang dicintai tidak membalasnya.

Peri pria itu hanya terdiam dengan perasaan wanita yang berada di sampingnya. Dia mengetahui bahwa cinta mungkin tidak akan hilang, tetapi perasaan tersakiti yang besar yang membuat cinta itu sendiri takut untuk lebih disakiti jika dia terus berjuang untuk cinta yang mengacuhkan dia.

 

Chapter 8: Impian setiap orang

“Hari ini full dengan Kahitna ya?” kata peri pria itu pelan sembari memandang Dea yang tersenyum-senyum sendiri dalam hatinya.

Perasaan cinta mulai tumbuh di hati peri pria itu melihat keseharian Dea yang apa adanya. Wanita yang begitu berbeda, mengetahui apa yang dia mau. Dan entah kenapa dia juga mulai menyukai lagu-lagu yang Dea minta kepadanya untuk diperdengarkan dengan selentingan jarinya.

Dea hanya memandang dengan heran kepada peri pria itu sembari menopangkan dagunya. Suatu kebiasaan yang dia peroleh dari seseorang yang bekerja di perusahaan yang membuat dia cinta setengah mati. Suatu topangan dagu yang amat keren menurutnya, seperti melihat orang yang dicintai dengan sepenuh hati ketika kita memandang seseorang dengan bertopang dagu. Topangan dagu yang juga sengaja dia lakukan ketika sedang berpikir berat akan sesuatu, atau sekedar kangen saja akan masa-masa lalu di perusahaan itu.

Hari ini adalah hari santai dia, dia rasa. Jauh dari kesibukan untuk mengetik suatu cerita yang sebenarnya akan menjadi kisah yang luar biasa untuk dunianya. Hari yang jauh dari riset membaca berbagai macam buku, bertemu dengan berbagai macam orang, bebas dari kegiatan yang sebenarnya dia rindukan juga, membereskan rumah kecilnya, dan bebas dari kepusingan untuk memikirkan bagaimana mengembangkan usaha pemasaran jaringan asli negaranya.

“Hmmmm….” Dea berguman dalam hatinya sembari menulis di buku aneh yang diberikan peri pria itu. Sudah lama dia tidak menulis. Sebagian besar waktunya digunakan untuk mengetik dan membaca, “Ternyata menulis dengan tangan itu membutuhkan tenaga juga.” Kata Dea dalam hati seraya mengayun-ayunkan tangannya karena terasa pegal.

“Halo…” seru peri pria itu karena Dea hanya diam saja ketika dia menanyakan pertanyaan tadi. Suatu perasaan tidak diperhatikan serasa menusuk hatinya. Manusia yang baru ditemuinya ternyata bisa membuat dia benar-benar cinta. Ternyata mungkin dia hanya suka kepada peri wanita yang dipilihnya. Perasaan yang dia rasakan kepada Dea lebih kuat, ingin Dea selalu merasa aman dan jangan sampai dia menyakiti atau membuat hati Dea sedih. “Yah, apakah ini yang dinamakan cinta?” kata peri pria itu pelan dalam hatinya.

“Halo!” peri pria itu semakin gusar dan meninggikan suaranya. “Kamu berkata bahwa kamu tidak ingin menikah. Aku rasa karena kamu belum pernah merasakan bagaimana ketika kamu bisa mencintai orang yang juga mencintai kamu. Belum pernah serius dengan seseorang ya?” peri pria itu memberondong Dea dengan pertanyaannya karena dia juga ngeri kalau ternyata cintanya hanya sepihak saja. Dea terlihat sangat cuek dan selalu mengingat lelaki lain ketika bersama dia.

Tatapan aneh dan kosong diberikan Dea kepada peri pria itu. Memang dia tidak merasakan perasaan apa-apa kepada peri pria ini. Dia hanya merasa nyaman dengan perhatian dan perlindungan, serta kepatuhan dia dalam menuruti segala macam kemauan Dea. Tetapi cinta? Mungkin belum tumbuh cinta di hatinya.

“Kamu berkata bahwa duniamu ini tidak mengenal rasa lapar, haus, bahkan tidurpun aku rasa juga tidak. Aku merasa sangat aneh karena siang terasa begitu panjang di sini.” tukas Dea dengan biasa-biasa. Kisah cinta yang selalu berakhir dengan cinta saja di hatinya membuat dia agak menjaga diri dan melindungi hatinya. “Tidak lagi kisah cinta karena terbiasa. Aku akan menjaga hatiku baik-baik,” serunya dalam hati, “walaupun mungkin benar bahwa kemampuan terindah dari cinta adalah memaafkan, tetapi aku belum siap untuk jatuh cinta lagi. Aku belum menjadi Dea yang berbeda, jadi mungkin aku masih suka kepada tipe pria yang begitu-begitu juga.” kata Dea pendek dalam hatinya.

Peri pria itu hanya bisa menghembuskan nafas mendengar isi hati Dea. Yah, mungkin Dea lupa kalau dia bisa membaca isi hati dia. “Sudahlah.” ujar peri pria itu pendek dalam hatinya.

“Impian setiap manusia pastilah untuk bisa selalu berbahagia di sepanjang waktu di sepanjang hidupnya. Ya, aku akan menujukkannya kepadamu apa itu kebahagiaan.” peri pria itu menarik sebelah tangan Dea dan berharap ada sedikit kelembutan yang bisa dia rasakan dengan kebaikan yang dia berikan dalam kata-katanya dan usahanya untuk memenuhi setiap permintaan Dea. Mereka terbang menuju suatu tempat yang mirip dengan suatu kota kecil.

Kota itu dipenuhi berbagai peri yang berbahagia, tampak dari senyuman yang ada di wajah mereka. Bahkan peri yang sedang membersihkan jalan-jalan utama kota itupun terlihat bergembira dan menyapu jalan itu dengan gembira.

Mencermati hal itu, Dea bertanya-tanya dalam hatinya apa yang membuat mereka berbahagia? Bahkan seorang tukang sapu pun juga berbahagia? Apakah mungkin ketidakhadiran rasa lapar, haus, dan tidak adanya kebutuhan untuk tidur membuat mereka bisa begitu berbahagia?

“Bukan itu. Ketidakhadiran uang yang membuat setiap peri-peri itu merasa bahagia. Ukuran kekayaan mereka bukanlah dari berapakah banyak uang, benda, popularitas, atau kecantikan dan ketampanan, tetapi seberapa mereka berbahagia dengan apa yang mereka lakukan. Peri terkaya adalah peri yang sudah tau mengapa dia ada di dunia peri.” peri pria itu berkata dengan bijak menanggapi kebingungan Dea di pikirannya.

Setiap peri dibebaskan melakukan apa saja yang dia suka hingga dia menemukan hal apa yang membuat dia merasa hidup ketika melakukannya. Bahkan jikapun dia merasa hidup karena bisa menyapu lantai dengan bersih, maka dia akan menjadi peri yang akan menyapu dengan suka hati tanpa merasa itu pekerjaan yang remeh. Tidak ada satu peripun yang menghina pekerjaan peri yang lain karena memang ukuran yang ditetapkan di dunia peri adalah seberapa bahagia ketika kamu melakukannya.

“Aku suka menulis. Aku rasa jika aku diijinkan hidup di duniamu, aku akan menulis dari pagi hingga pagi hingga pagi lagi. Tidak ada waktu yang terbuang untuk makan, minum, atau bahkan tidur. Rasanya sangat senang jika ada orang lain yang membaca tulisanku dan memuji tulisan aku bagus, apalagi jika tulisan aku membuat mereka menjadi pribadi yang berbeda ketika membacanya.” kata Dea dengan nada riang.

“Kamu bisa melakukannya jika kau menikah denganku. Kamu tidak akan merasa lapar, haus, ataupun berkeinginan untuk tidur. Kamu bisa menghabiskan berjam-jam yang kamu suka untuk menulis dan menulis dan aku tidak akan mengganggu kamu sampai kamu sendiri yang jenuh dan ingin bermanja denganku.” peri pria itu agak tersipu ketika mengatakan hal itu. Tidak mengira dia mengatakan isi hatinya kepada manusia yang baru dikenalnya. Serasa mengenal dia dari dulu, terasa nyaman sekali.

“Tapi sebenarnya hal yang ingin aku lakukan adalah tertidur di pelukan seseorang yang mencintai aku. Ya, aku juga suka memeluk seorang pria dalam tidurku, terasa sangat nyaman. Terasa seperti dunia ini berhenti berputar.” kata Dea sembari membayangkan impian dia. Beruntung bahwa dia tidak pernah melakukan hal itu dengan Raka. Raka hanya mencium dan memeluk dia sebentar karena suasana. Tetapi apakah mungkin Tuhan memang tidak menggariskan Raka bersama dengan dia? Karena peri pria ini walaupun sekilas, lebih terasa dekat daripada Raka. Lagipula Raka juga selalu mengatakan bahwa dia hanya mengganggap Dea sebagai saudara. Berulang kali kata itu diucapkan ketika Dea menanyakan apakah Raka sayang kepada dia.

Chapter 9: Saat yang tepat

Tuhan tidak akan memberikan kepadamu apa yang kamu minta jika Dia tidak yakin kamu bisa menjaga sesuatu itu dengan baik.” Peri pria itu menjelaskan kepada Dea salah satu isi peraturan yang selalu membuat Dea merasa penasaran.

Sebuah papan peraturan besar yang tertulis dengan bahasa para peri terpampang di hadapan Dea. Sebuah puzzle besar yang menyelimuti hatinya sedikit demi sedikit tersingkap. Pertanyaan besar kenapa pernikahan itu wajib dan mengapa para peri bisa yakin itu adalah cinta dan peri lain yang mereka pilih adalah benar belahan hatinya.

Dea hanya diam saja mendengar penjelasan peri pria itu. Berada beberapa saat bersama peri pria ini membuat pikiran dia sedikit terbuka. Banyak hal yang selama ini tidak dia sadari diungkapkan secara sengaja atau tidak sengaja oleh peri pria ini. Kepolosan dia, sifatnya yang suka menang sendiri, sampai kelebihan dia dalam memikirkan sesuatu. “Yah, tidak begitu buruk untuk seorang teman sejati yang baru dikenal.” Kata Dea dalam hati.

“Teman?” kata peri pria ini dalam hatinya. Yah, tetapi apalah yang ingin dia harapkan? Bukankah di dunia peri adalah tugas si peri pria untuk membuat peri wanita yang dia pilih jatuh cinta kepadanya. Mereka memang baru saling mengenal, tetapi seakan sudah begitu lama mengenal. “Aneh, aku tidak mengetahui bahwa cinta itu mungkin tidak seperti yang aku tau. Perasaan ini belum pernah aku rasakan sebelumnya.” Kata peri pria ini dalam hatinya.

Dea hanya memainkan kepalanya dengan memutar-mutarnya dengan manja. Pernikahan, nama baru, petualangan, impian, peraturan, dan semua hal yang dia temui hingga saat ini membuat dia tidak habis pikir kenapa Tuhan menciptakan bumi dengan seperti itu. “Apakah kalau begitu surga dan neraka itu benar-benar nyata senyata dunia peri ini ya?” seru Dea dalam hatinya.

Peri pria ini hanya tersenyum mendapati pemikiran Dea. Sebagai peri yang memiliki kekuatan untuk berpindah tempat ke manapun dia inginkan, ada perasaan geli dalam dirinya jika mendengarkan impian beberapa manusia yang pernah ditemuinya secara tidak sengaja. Ingin keliling dunia, menjadi terkenal, kaya raya, punya barang-barang impian, menikah, punya rumah besar, punya anak, dan ya begitulah impian-impian manusia.

“Aku terkadang merasa heran dengan kalian.” Kata peri pria ini mengutarakan keheranan dia kepada Dea. “Berapa sih masa hidup kalian itu?” Tanya peri pria ini menyelidik.

“Ya, mungkin 70 tahun jika sehat, dan 58 atau 59 tahun saja jika tidak sehat,” jawab Dea sembari merasakan kengerian dalam hatinya. Ternyata jika memang umur manusia sedemikian pendek, berarti umur dia tinggal beberapa puluh tahun saja. Tidak sampai setengah abad menjelang mati.

“Ah! Kamu ini kok membuat aku takut saja to. Aku tidak suka!” kata Dea dengan marah kepada peri pria ini.

“Ya jelas aku ingin bertanya to.” Kata peri pria ini menirukan perbendaharaan kata Dea yang lucu. “Jika kalian sudah mengetahui bahwa surga dan neraka itu ada, mengapa seringkali aku melihat kalian lebih suka berlomba menuju ke neraka daripada ke surga?” Ujar peri pria ini bijak.

Peri pria ini berkata dengan bijak dan menuturkan kepada Dea bahwa umur peri adalah tidak terbatas, tetapi mereka diperbolehkan untuk menghentikan penuaan yang terjadi kepada mereka jika mereka merasa bentuk fisik pada usia tertentu adalah yang terbaik.

“Kamu tau? Memiliki usia yang tidak terbatas itu kadang bisa menjadi anugerah ataupun kutukan. Menjadi anugerah jika setiap hari kamu bisa menyenangkan hatimu dengan kegiatan sehari-hari yang kamu lakukan. Dan menjadi kutukan jika kau tidak mengetahui bahkan alasan kenapa kamu dibiarkan memiliki umur sepanjang itu karena hari-hari yang kau jalani tidak menyenangkan dan terasa membosankan.” Peri pria itu berkata dengan pelan sembari memandang Dea dengan lembut. Ada perasaan iba yang dia rasakan kepada wanita itu.

“Para peri tidak begitu saja mengetahui kegiatan apa yang mereka sukai sehingga mereka bisa memandang umur panjang adalah suatu anugerah. Ambil contoh saja aku. Aku mencoba segala macam aktivitas yang aku rasa bisa aku lakukan dengan mudah, hingga aku menyadari bahwa aku diberikan anugerah kepercayaan bisa melakukan segala hal yang ingin aku lakukan.” Kata peri pria ini dengan nada sedih.

“La, kok kamu sedih? Anugerah bisa melakukan segala macam hal kan seharusnya asik?” Tanya Dea menimpali penjelasan peri pria itu.

“Aku sedih karena aku tidak dikenal sebagai siapa-siapa karena aku bisa melakukan semua hal. Angela dikenal sebagai peri yang ahli menguasai potongan rambut. Dan aku? Bahkan jika kamu menyadari, tidak semua peri bisa berpindah tempat seenak mereka sendiri.” Peri pria ini semakin bersedih dengan kesadaran dia bahwa dia tidak dikenal sebagai siapa-siapa.

“Halo! Sudah seperti Tuhan saja kamu ini kalau begitu. Udah ah, jika aku jadi kamu, ya, mungkin aku akan merasa sedikit bosan karena kurang tantangan, tetapi diambil positifnya saja. Dengan aku di samping kamu, kamu bisa merasa sedikit senang karena aku bisa memaksimalkan kekuatan kamu kan dengan segala macam permintaan aku yang bisa kau penuhi?” seru Dea dengan riang.

Tuhan tidak akan memberikan sesuatu kepadamu sebelum Dia yakin bahwa kamu bisa menjaga sesuatu itu dengan baik. Begitu juga pasangan hidupmu. Sebelum kamu bisa memperlakukan dirimu dan lawan jenismu dengan baik, kira-kira apakah Tuhan berani mengantarkan seseorang yang baik kepadamu?” “Peraturan yang aneh.” Kata Dea dalam hatinya sembari membaca terjemahan peraturan di papan itu dengan kaca ajaib yang diberikan peri pria itu.

Iya, hari ini peri pria ini membuka topik pembicaraan yang agak berat. Usia hidup seseorang, kepantasan seseorang sebelum Tuhan memberikan dia seseorang. “Wah..aku tidak mengerti” teriak Dea sembari memegang kepala dia dengan kedua tangan.

Jika Tuhan memberikan kalian manusia umur hidup hingga katakanlah 70 tahun dan juga pengetahuan bahwa surga dan neraka adalah diberikan untuk selama-lamanya. Kenapa kalian seringkali begitu bodoh dalam menggunakan masa hidup itu dengan mengejar impian yang sia-sia?” Tanya peri pria ini mencoba mengurai satu per satu kebijakan kecil yang dia ingin Dea mengerti. Kebijakan kecil yang peri pria itu harapkan bisa membantu Dea menemukan aktivitas apa yang dia sukai hingga dia akhirnya bisa menikmati anugerah umur panjang yang akan dia miliki jika dia menikah dengan peri pria itu.

“Ah, aku tau maksud kamu. Jadi kamu ingin berkata bahwa impian bisa keliling dunia, menjadi terkenal, kaya raya, bisa membeli barang-barang impian, menikah, dan punya anak itu adalah impian yang sia-sia. Begitu?” Tanya Dea dengan marah.

“Iya.” Kata peri pria itu mantap.

“Saat yang tepat dan ajaib itu akan datang ketika kamu sudah tau alasan kenapa Tuhan menciptakan kamu di duniamu. Pertanyaan tentang siapa dia dan aktivitas apa yang akan menjadi kesukaan kamu; dan adalah benar bahwa -impian bisa keliling dunia, menjadi terkenal, kaya raya, bisa membeli barang-barang impian, menikah, dan punya anak- adalah impian yang sia-sia karena berarti kamu meremehkan kekuatan Tuhan untuk mewujudkan impian itu ketika kamu sudah berada di surgaNya. Bukankah ada tertulis jika jalanan di surga itu terbuat dari emas?” kata peri pria itu kepada Dea.

“Jadi apa yang harus aku lakukan?” Tanya Dea menyelidik. Pikirannya sedikit terbuka tentang sesuatu.

“Berdoalah dan tanya kepada Tuhan. Mengapa Dia mengijinkan kamu dilahirkan di dunia ini dengan segala yang ada padamu. Hal terbaik yang bisa kau lakukan selagi masi hidup di dunia fana adalah menyenangkan hati Tuhan, karena adalah suatu jaminan kau akan mendapatkan kesenangan sejati jika kau sudah berada di surga nanti.” Seru peri pria ini bijak.

“Lalu soal belahan jiwa? Kapan saat yang tepat itu datang? Kapan aku bisa bertemu belahan jiwaku?” Tanya Dea. Tidak menyangka jika dia bisa begitu dekat dengan jawaban pertanyaan yang ditanyakan hampir seluruh manusia di bumi ini.

“Hanya Tuhan yang tau jawaban pertanyaan kamu. Yang pasti, kamu akan tau ketika kamu sudah bisa mengetahui siapa sebenarnya dirimu sehingga kamu akan tau itu dia ketika kamu bertemu dengan dia.” Jawab peri pria ini bijak sembari memandang Dea lekat-lekat.

“Hari ini adalah saat yang tepat dan ajaibku. Aku tidak menyangka peri wanita pilihanku dulu itu memang bukan untuk aku. Cinta yang aku kira cinta ternyata hanya ikatan semu saja. Pencerita memang tidak pernah salah.” Kata peri pria itu dalam hatinya.

 

Chapter 10: Diri kita yang sesungguhnya

“Kueyang!” kata Dea dalam hatinya setelah jamuan besar yang diadakan peri pria itu untuk dia.

“Bagaimana kau melakukannya? Aku suka dengan kejutanmu hari ini. Tidak menyangka kamu tahu kalau aku sedang lapar.” Kata Dea dengan riang dan senyum yang lebar dalam hatinya.

Peri pria itu hanya tersenyum dalam hati menimpali komentar Dea akan perbuatan dia hari ini. Sesuatu juga melihat senyum Dea yang kekanak-kanakan dan polos, sesuatu yang langka. “Belum pernah aku temui senyum setulus dan sepolos itu di duniaku. Dia memang berbeda.” Kata peri pria itu dalam hatinya.

Dea tersenyum-senyum seharian itu dalam hatinya. Dia sangat senang peri pria ini memperhatikan dia bahkan untuk hal-hal kecil tentang makanan kesukaan dia. Tidak menyangka berbagai macam masakan Indonesia yang berbumbu mantap dihadirkan di dunia peri hanya untuk dia hari ini.

“Benar-benar pengalaman luar biasa. Aku merasa sedikit betah di dunia ini jadinya.” Kata Dea dalam hatinya. Yah, dia merasa bahwa sekarang dia tidak perlu terlalu cerewet untuk mengatakan apa yang dia mau karena peri pria ini bisa mengetahui apa yang dia mau. Hatinya seakan berpadu dengan peri pria ini.

“Apakah pernikahan itu akan seperti itu ya? Aku suka.” Kata Dea dengan tiba-tiba kepada peri pria ini. Jika pernikahan memang seperti itu, bukankah itu hal yang asik. Ada seseorang yang mengerti apa kemauan kita dan merasa senang ketika kemauan kita itu bisa dia wujudkan.

“Tidak juga. Pernikahan tidak seideal itu. Kamu tidak sempurna, menikahi orang yang tidak sempurna. Terkadang kamu jangan menunggu pasangan kamu mengerti keinginan kamu, seringkali kamu sendiri yang harus berani mengatakan apa yang kamu mau.” Kata peri pria itu bijak.

“Dunia peri ini asik. Aku tidak perlu bingung akan apa yang akan aku makan, apa yang akan aku minum, bahkan aku tidak perlu bingung untuk menentukan apakah ini saat yang tepat untuk beristirahat. Aku tidak pernah merasa lelah karena kita selalu bisa berpindah tempat tanpa berjalan jauh. Aku selalu merasa full energy. Keren!.” Ujar Dea dalam hatinya.

Peri pria itu hanya tersenyum mendengar suara hati Dea barusan. “Lega juga rasanya mengetahui ada seseorang yang merasa suka jika kita berada di dekat dia.” Kata peri pria itu dalam hatinya.

“Tapi kondisi ini juga tidak akan berlangsung seperti ini terus, aku juga punya tugasku sendiri di dunia ini. Apakah kamu ingin tahu dan menemani aku melakukan tugasku?” Tanya peri pria itu dengan nada serius kepada Dea.

Dea menjawab pertanyaan itu dengan anggukan dan suatu senyum yang mengembang di hati dan bibirnya.

“Tugasku adalah menyenangkan hatimu” kata peri pria itu dengan senyum manisnya sembari memandang Dea lekat-lekat. “Bercanda.” Seru peri pria ini menambahkan kalimatnya barusan.

Dea merasa tersipu dan tersenyum lagi dalam hatinya. Bisa saja peri pria itu bercanda dan membuat dia merasa nyaman.

Peri pria itu menggerakkan tangan kanannya dan membuat setengah lingkaran sembari melihat lagi ke arah Dea dan berkata “Yah, setidaknya kau tidak merasa sedih jika di dekatku. Tugasku adalah menjaga keseimbangan cuaca di dunia peri. Tugas yang aku pilih dari sekian banyak aktivitas karena ternyata hanya sedikit orang yang bisa menguasai cuaca, dan aku salah satunya yang bisa.” Kata peri pria itu sembari membuat lingkaran-lingkaran yang lebih kecil.

“Iya, karena kau bisa melakukan segalanya.” Teriak Dea sambil membuat lingkaran besar dengan kedua tangannya. Tidak mau kalah dengan gerakan peri pria itu.

Peri pria itu tersenyum lagi melihat kelakuan Dea. Benar-benar wanita yang berbeda, bisa menemukan kesenangannya sendiri dalam segala kondisi. Seakan-akan hidup ini bisa dibuat seperti sebuah permainan jika berada di dekat dia. “Banyak hal yang terasa lebih seru jika berada di dekatnya.” Ujar peri pria itu dalam hatinya.

“Dirimulah yang bertanggung jawab atas kebahagiaan kamu.” Tiba-tiba Dea mengatakan hal itu kepada peri pria itu karena dia merasa mungkin peri pria ini merasa aneh dengan dirinya yang selalu bisa bangkit dan menjadi ceria kembali dengan cepat. Bahkan dia bisa kembali ceria dan menjadi wanita yang memiliki pemikiran yang lebih bijak setelah kejadian buruk yang membuat dia merasa sangat sedih dan putus asa.

“Kamu merasa bahagia karena kamu memilih untuk berbahagia dan sudah seharusnya kamu merasa bahagia. Karena bahagia itu sebenarnya pilihan. Kamu bisa menciptakan surga di neraka, atau merasakan neraka ketika di surga. Semua itu pilihanmu.” Kata Dea sambil melihat peri pria itu dengan sambil lalu. Getaran kecil yang dia rasakan di hatinya membuat dia berjaga-jaga karena dia belum siap untuk merasakan jatuh cinta lagi. Dia belum mengenal siapa peri pria ini dan tidak ingin lagi jatuh cinta kepada orang yang tidak akan bisa menyambut cintanya.

“Kamu tahu gak kenapa sampai sekarang aku belum pernah pacaran?” kata Dea dengan serius kepada peri pria itu.

“Aku tahu. Semua tentang kamu aku sudah tahu ketika namamu terpampang besar di atas kepalamu ketika aku melihatmu. Tapi apakah itu bukan permintaan yang cukup besar ya? Mendapatkan seorang pria yang belum pernah pacaran juga untuk menjadi pendamping kamu?” kata peri pria itu serius.

“Entahlah. Aku selalu merasa bahwa cinta itu egois. Tidak mau berbagi. Aku merasa bahwa tidak ada cinta yang akan musnah. Seberat apapun, aku lebih suka menjadi pihak yang mundur jika pria yang aku suka terlihat menyukai wanita lain.” Kata Dea pelan.

“Mungkin kamu belum bertemu dengan belahan jiwamu. Jika kau sudah bertemu dengannya, kamu pasti tidak akan merasa seperti itu.” Seru peri pria itu menimpali ucapan Dea.

“Entahlah. Belahan jiwa, cinta, semua itu masih terasa jauh dari aku. Tetapi mungkin perkataan temanku itu ada benarnya, lebih baik menunggu daripada bersama dengan apa yang ada.” Seru Dea sambil menulis kejadian seru hari itu di buku yang diberikan peri pria itu.

Peri pria itu terdiam beberapa saat berusaha mencerna perkataan Dea barusan. Menjadi wanita yang mampu menjaga hati hingga sebegitu lama itu mungkin berat juga. “Hati yang masih belum terjamah manisnya sambutan cinta memang terasa beda. Apalagi jika dia juga bisa menjaga kesucian tubuhnya.” Kata peri pria itu dalam hatinya.

“Sini, ada hal asik yang bisa kau lihat hari ini.”seru peri pria itu seraya membawa Dea terbang ke suatu tempat.

Banyak kisah yang tersusun rapi di dunia peri, menunggu seorang manusia terpilih untuk menjadi tokoh utama cerita itu dan menjadi pribadi manusia yang berbeda setelah kisah itu berakhir. Dan sekarang peri pria itu membawa Dea menuju tempat yang akan menjadi saksi berakhirnya suatu cerita.

“Lihat Dea. Kedua sosok itu mewakili sebuah cerita yang mungkin bisa menjawab beberapa pertanyaan kamu tentang seseorang.” Seru peri pria itu sembari memperlihatkan dua sosok, pria wanita yang sedang berpandangan satu sama lain.

Dea terdiam membisu melihat dua sosok itu yang mirip dengan Raka dan dirinya. Akhir cerita bagaimana yang diperankan dua tokoh itu menjadi suatu tanda tanya besar di hatinya.

“Seseorang dihadirkan dalam hidupmu untuk 2 alasan. Dan aku rasa kau sudah tahu alasan yang mana yang menjadi alasan diriku dihadirkan di duniamu?” kata sosok pria yang mirip dengan Raka itu kepada sosok yang mirip dengan Dea.

Sosok wanita yang mirip Dea itu hanya terdiam memandang sosok pria mirip Raka menanyakan pertanyaan itu kepadanya.

Dea juga merasa tercekat dengan jawaban apa yang diberikan sosok wanita yang mirip dirinya itu menanggapi jawaban sosok pria yang mirip Raka itu. Apakah jawaban itu sama dengan jawaban yang akhirnya bisa dia terima dengan lega untuk saat ini.

“Seseorang hadir dalam hidup kita karena 2 alasan, sebagai pelajaran atau sebagai seseorang yang akan mendampingi kita selamanya. Aku tidak tahu jawabannya, tetapi hatiku tahu mungkin dulu hatiku ini benar-benar tidak mau kehilangan kamu dan selalu bisa memaafkan kamu.” Kata sosok wanita yang mirip Dea itu.

“Akan selalu ada orang lain yang akan hadir untuk menguji apakah cinta itu ada. Jika kau merasa mencintai seseorang dan ketika seseorang yang baru hadir dan membuatmu malah menjadi bingung untuk memilih yang mana. Maka pilihlah orang kedua, karena jika kau mencintai orang yang pertama, tidak akan pernah kau merasa bingung untuk memilih karena cinta itu bukan pilihan.” Seru sosok wanita yang mirip Dea itu.

Dea menelan ludahnya mendengar jawaban sosok wanita yang mirip dengan dirinya itu. Betapa beraninya dia menelan kenyataan bahwa mungkin benar sosok mirip Raka itu tidak mencintai dia dengan mengatakan perkataan itu.

Muncul berbagai pertanyaan yang mengusik hatinya melihat percakapan dua sosok itu. Dan mungkin perkataan sosok mirip Dea itu benar, “Iya, jika kau mencintai seseorang, tidak akan ada kebingungan harus memilih yang mana. Hal itu sungguh-sungguh benar.” Seru Dea dalam hatinya menyadari kondisinya sendiri. Belum pernah hatinya berpaling dari Raka walaupun ada pria lain yang menggoda dia, dan bahkan ketika Raka berhasil menghancurkan hatinya dengan pacaran dengan teman baiknya padahal mereka hanya sehari bertemu, Dea masih bisa memaafkan hal itu dan tetap percaya Raka mencintai dia.

Dea masih merasa penasaran dengan akhir cerita mereka berdua ketika peri pria itu memegang tangannya dan mereka sudah berpindah tempat ke tempat mereka pertama kali bertemu.

“Akhir dari cerita mereka adalah hak mereka. Dan akhir dari ceritamu dan Raka adalah hak kalian juga. Kamu jangan kaget kalau melihat Raka dan dirimu di dua sosok itu. Memang begitulah adanya dunia kami. Aku percaya sampai saat inipun kau masih belum bisa melihat wajah asliku karena masih wajah Raka yang kau lihat di wajahku. Benar kan?” seru peri pria itu datar.

“Kadang jika kau melihat atau membaca suatu cerita, kau merasa cerita itu mirip dengan kisah cinta atau hidupmu. Tetapi percayalah, kau bisa mengubahnya seindah bayangannya. Kamu punya kekuatan untuk merubah akhir ceritanya jika kau benar-benar ingin.” Seru peri pria itu bijak sambil matanya menerawang jauh, entah sedang memikirkan apa.

Dea hanya terdiam tidak bisa berbicara apa-apa. Manusia memang bisa berbeda dalam banyak hal, tetapi hanya satu yang membuat kita semua sama, cinta.

“Untuk saat ini aku mau menjauhkan diriku dari gejolak emosi karena cinta. Aku ingin bisa berpikir dengan jernih dan tidak dikontrol oleh perasaan.” Seru Dea datar juga.

“Bukankah kamu pernah berkata kepadaku kalau aku perlu menemukan diriku dulu supaya aku bisa tahu siapa dia ketika bertemu dengannya? Yah, aku rasa cinta, jodoh, rejeki, mati, lahir, memang sudah ada yang mengatur. Ajari aku menjadi Dea yang baik dulu, ok?” seru Dea memandang lekat-lekat peri pria itu.

 

Chapter 11: Memulai kembali

“Halo!” seru Dea keras kepada peri pria itu. “Kamu melamun apa? Serius sekali?” cerocos Dea kepada peri pria itu seraya memberikan satu cone ice cream rasa vanilla kepada peri pria itu.

“Dunia kamu keren.” Ujar peri pria itu sembari menikmati ice cream dingin yang baru saja dibelikan Dea untuknya. “Aku tidak menyangka bahwa berjalan-jalan denganmu seharian bisa sedemikan asik!“ kata peri pria itu menambahkan.

“Keren bagaimana? Seharian ini kita tidak ngapa-ngapain, mana bisa dikatakan keren?” kata Dea menanggapi seruan peri pria itu.

“Yah….” Jawab peri pria itu. “Tapi dunia manusia itu memang asik. Dunia di mana terdapat banyak batasan sehingga mereka harus berjuang dengan caranya sendiri untuk mendapatkan kebahagiaan.” Seru peri pria itu sambil melihat pengemis yang sedang duduk dengan menadahkan sebuah mangkuk dan kemudian menoleh kepada seseorang yang sedang terlihat asik menikmati makan siangnya di dalam sebuah restoran yang kelihatanya tertata sangat mewah.

~to be continued

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s