GaLove (part 2)

Posted: Oktober 4, 2013 in Kisah cinta
Tag:, , ,

 

Dea memandang peri pria itu dengan sepintas saja, tidak menyadari bahwa peri pria itu sedang membandingkan betapa menyedihkannya kehidupan manusia yang ada di bumi ini karena kebahagiaan mereka mau tidak mau masih bergantung dengan kemampuan mereka dalam mendapatkan apa yang mereka mau.

“Siapa nama kamu?” kata Dea kepada peri pria itu setelah sebelumnya bertekad dalam hati bahwa sekarang adalah waktu yang tepat menjadi seorang Dea yang lebih pintar. Seorang Dea yang berani menutup kisah cinta yang seharusnya sudah harus ditutup ketika tanda ketidakrespekan pertama dimunculkan oleh Raka.

Peri pria itu hanya memandang Dea dengan pandangan sedih. Hatinya juga tiba-tiba tercekat karena dia merasakan sesuatu yang tidak pernah dia rasakan. Dia merasa bahwa dia perlu minum air. Peri pria itu merasa haus. Dengan pandangan sedih, peri pria itu berkata dalam hatinya, “Ini hanya keputusan bodoh. Mengapa aku memberikan dia kesempatan untuk kembali ke dunianya? Aku menyalahi cerita yang seharusnya digariskan.” Kata peri pria itu dalam hatinya sedih. Dia baru menyadari bahwa kini tubuhnya juga sama seperti tubuh manusia, bisa merasakan rasa lapar dan haus. Dan mungkin perasaan lain yang tidak akan pernah ada di dunianya.

“Kamu tau? Apakah benar uang adalah sebuah kekuatan?” Tanya peri pria itu kepada Dea dengan nada serius.

Dea merasa bingung dengan pertanyaan itu, maka dengan pemikiran seadanya, Dea menjawab pertanyaan peri pria itu dengan bahasa yang sederhana. “Semuanya tergantung dari kamu. Seberapa besar keinginan kamu untuk memiliki sesuatu yang hanya bisa ditukar dengan uang sebagai alat penukarnya. Jika engkau memiliki keinginan yang sederhana, pokok merasa kenyang dengan makanan murah, tetapi cukup gizinya. Sudah merasa cukup dengan pakaian sederhana yang nyaman dipakai, dan sudah merasa puas dengan tempat tinggal sederhana yang bisa membuatmu tidur dengan pulas. Aku rasa kamu akan hidup dengan sangat bahagia di duniaku. Tapi jika kamu memiliki keinginan yang sangat tinggi dan memerlukan uang yang sangat banyak untuk memilikinya, ya kehidupan kamu akan lebih..” Jawab Dea tanpa berusaha melanjutkan perkataannya. Pertanyaan yang diajukan peri cowok ini membuka kembali luka lama dia tentang kekuatan uang dalam menyetir kebahagiaan dia. Betapa dulu dia menjadi gadis yang sangat minder karena tidak memiliki banyak uang. Dan keminderan itu membuat dia menutup pikiran dan tidak berusaha lebih jauh dengan cara yang kreatif untuk memperjuangkan impian dia itu.

“Sudahlah. Uang memang memiliki kekuatan, tetapi tanpa kehadiran uang di sisimu, kamu akan mengetahui siapakah dia yang benar-benar sayang kepadamu dengan tulus, dan siapakah yang hanya mau berteman denganmu karena uangmu dan keuntungan-keuntungan yang akan dia dapatkan karena dekat denganmu.” Jawab Dea sambil menarik erat tangan peri pria itu. Seperti halnya peri lain yang tidak bisa melihat Dea, manusia juga tidak bisa melihat peri pria ini sehingga orang-orang yang berlalu lalang di jalan melihat Dea dengan aneh karena dia terlihat seperti berbicara sendiri.

“Kamu tau? Uang akan membuatmu bahagia, uang juga bisa membuat kamu sedih. Semuanya tergantung dari siapakah yang ingin kamu bahagiakan dengan uang yang kamu miliki itu. Jika kau ingin membahagiakan orang lain dengan uang yang kamu miliki dan dengan niat yang tulus, maka tidak akan ada rasa kecewa yang melanda hatimu ketika orang lain itu bahkan tidak mengucapkan terima kasih atas perhatianmu. Uang yang banyak itu pilihan. Pada akhirnya, bukan apa yang kau miliki yang akan diingat orang, tetapi apa yang telah kau berikan kepada orang lain yang akan selalu mereka ingat.” Dea berkata itu dalam hatinya sembari memandang mata peri pria itu. Dea tidak ingin orang memandang dirinya lagi dengan aneh, maka terbersit cara untuk bercakap-cakap dengan peri pria itu lewat pikirannya. Bukankah peri pria itu bisa membaca pikirannya?

Peri pria itu hanya mengangguk-angguk sambil tersenyum manis. Dia menyadari bahwa Dea benar-benar wanita yang sangat cerdas. Peri pria itu juga baru menyadari bahwa orang yang berlalu-lalang dari tadi memandang ke arahnya dengan aneh. Dia baru menyadari bahwa mereka tidak memandang dia, mereka memandang Dea yang terlihat aneh karena berbicara sendiri. Angelapun baru bisa melihat sosok Dea ketika peri pria itu menaburkan serbuk emas ke arah mata Dea. Serbuk yang terbuat dari cinta yang dia ambil dari peri wanita yang dipilihnya dulu. Serbuk emas yang sedikit demi sedikit akan habis jika lebih banyak peri yang diharapkan bisa melihat Dea untuk bisa membantu dia.

Peri pria itu melihat kantung serbuknya dan baru menyadari bahwa hanya tertinggal sangat sedikit serbuk emas. Genggaman terakhir yang harus hati-hati digunakan supaya kisah mereka berdua benar-benar bisa berakhir seperti yang diharapkan. “Tidak lagi ada penggunaan serbuk emas karena keinginan sesaat memperlihatkan Dea kepada teman-teman yang merasa aneh karena aku berbicara sendiri. Aku akan lebih bijak dan lebih berpikir ketika menggunakanmu.” Seru peri pria itu kepada serbuk emas yang ada di kantong kulit yang tersemat di celananya.

Dea melepaskan genggaman tangannya dan melihat ke arah peri pria itu. “Kamu pasti bisa membaca pikiranku, bukannya aku tidak ingin menjadi pemandu arahmu. Atau kau saja yang mengawasiku, tetaplah dekat denganku hingga kita sampai di rumahku ya.” Kata Dea ketika menyadari bahwa orang masih melihat ke arahnya karena dia terlihat sedang menggenggam sesuatu yang tidak kelihatan.

Akhirnya Dea dan peri pria itu sampai di rumah Dea. Terlihat perasaan yang sangat lega di wajah Dea. Dia tidak menyangka bahwa dia akan bisa merindukan rumahnya seperti ini. Ingat akan rasa rindu, Dea cepat-cepat berlari ke arah kamarnya dan melihat laci meja riasnya. Rasa sedih menyelimuti hatinya, tidak ada satupun pesan dari Raka padahal sudah beberapa hari Dea berada di dunia peri.

Dengan lunglai Dea membuka pintu kulkas dan mengambil dua botol Cimori rasa anggur yang menjadi kesukaan dia. Dengan langkah gontai Dea berjalan ke arah peri pria itu. Rasa sedih melanda di hatinya karena keputusan dia untuk melupakan Raka ternyata masih tidak disetujui oleh hatinya. Dea masih belum berani menghapus semua sms yang pernah dia kirimkan kepada Raka walaupun Dea sudah berulang kali menghapus nomor Raka, tetapi kembali Dea mencari nomor Raka dari teman-temannya hingga akhirnya Dea ingat dan hapal di luar kepala nomor itu. “Dea. Kamu tahu bahwa dia 99% tidak menyukai kamu, kenapa kamu masih ingin menunggu untuk kemungkinan 1% bahwa mungkin Raka juga memiliki perasaan yang sama denganmu? Bodoh!”

“Kamu tidak perlu berusaha begitu keras.” Kata peri pria itu ketika menerima Cimori dari tangan Dea. Dea merasa kaget dan tiba-tiba menyadari bahwa peri pria ini bisa membaca pikiran dia. “Ya Tuhan..” seru Dea dalam hatinya karena sekarang dia merasa sangat serba salah. Tapi kemudian Dea menyadari bahwa sebuah cinta bisa dipaksa keluar dari hati jika sudah menemukan penggantinya, maka Dea bertekad akan melupakan Raka dengan berusaha melimpahkan apapun yang ingin dia katakan atau perbuat kepada Raka kepada peri pria ini. Dea merasa ini adalah cara terbaik supaya dia tidak berlarut-larut menyakiti hatinya sendiri dengan mengharapkan seseorang yang sudah jelas-jelas mengatakan bahwa dia tidak memiliki perasaan yang sama kepadanya.

Dea menyalakan televisi dan menyimak sekilas acara infotainment yang sekarang ini sedang memperlihatkan perceraian dua artis terkenal yang sudah menikah hampir 25 tahun lamanya. “Sudahlah.” Seru Dea sambil mematikan televisinya. “Mereka pasti tidak saling cinta. Cinta adalah ketika kamu menemukan 1000 alasan untuk meninggalkan dia, tetapi tetap mencari satu alasan lagi supaya tetap bersama dia. Kapankah aku menemukan cinta seperti itu?” kata Dea dalam hatinya.

Peri pria itu hanya memandang Dea dengan tatapan kosong. Tidak menyangka dia hari ini bersama dengan wanita yang berani menunggu cinta yang semu saja. Berani menunjukkan dan memperjuangkan perasaan dia kepada seorang pria bernama Raka. “Aku sangat penasaran seperti apakah Raka hingga dia bisa membuat Dea begitu cinta kepadanya. Hal apakah yang membuat Dea begitu mencintai Raka?”

Dea beranjak mengambil sapu dan langsung membersihkan rumahnya. Terdapat debu dimana-mana. Dipersilahkannya dengan lembut dan sopan supaya peri pria itu menunggu di beranda depan terlebih dahulu supaya Dea bisa membersihkan rumah dengan tuntas. Dea membersihkan rumahnya sambil mengingat sebuah film dimana suatu permainan membuat sebuah rumah menjadi sangat kacau, hingga permainan itu selesai dimainkan. Permainan itu mengingatkan dia kepada seorang peri yang sangat suka menciptakan berbagai permainan. “Pastilah cerita film itu terinspirasi dari permainan yang diciptakan peri itu. Yah, setidaknya aku nanti juga bisa memiliki cerita yang bisa aku ceritakan jika cerita ini sudah selesai. Tidak menyangka aja aku dipilih sebagai manusia terpilih itu. Sesuatu.” Kata Dea dalam hatinya.

“Raka mengatakan bahwa aku adalah perempuan yang kuat.” Kata Dea dalam hatinya sembari merasakan kesedihan dalam hatinya yang membuat matanya meneteskan air mata. “Aku menjadi kuat karena hanya itulah pilihanku setelah puas menangis.” Kata Dea dalam hatinya sembari mengingatkan dirinya bahwa dia pasti juga bisa menguatkan hati bahwa ceritanya dengan Raka sudah berakhir. Tidak akan ada cerita indah yang selama ini dia bayangkan. Tidak akan ada pernikahan yang akan terjadi antara dia dan Raka. Dea memilih untuk menyimpan rasa cinta yang masih tersisa dalam hatinya yang terdalam, berharap bahwa waktu akan membuat rasa cinta perlahan-lahan akan menghilang karena tidak pernah dia pupuk dengan mencoba tidak menghubungi Raka sama sekali.

“Peri.” Kata Dea keras dari dalam rumahnya. “Apakah kamu tidak merasa lapar?” Tanya Dea sambil membuka pintu kulkasnya untuk melihat sayuran apakah yang masih layak untuk dia masak hari itu. Sebongkah sawi putih dan beberapa telur segar menjadi pilihan Dea untuk membuat orak-arik sawi putih dengan telur. Masakan sederhana yang menjadi favoritnya karena masakan itu mudah dimasak dan rasanya pun enak.

“Makanan apa saja. Ini pertama kalinya aku harus makan karena aku merasa lapar..” Jawab peri pria itu kepada Dea, membuat Dea merasa kaget karena peri pria itu tiba-tiba berada di sampingnya. “Okelah.” Jawab Dea singkat sembari menuju ke dapur dan membawa bahan masakannya.

Sembari memotong dan menyiapkan sayurannya, Dea memutar lagu Yuna Ito-Endless Story. Sebuah lagu yang mengingatkan dia akan seseorang yang dulu sekali pernah singgah begitu lama di hatinya sebelum kehadiran Raka. Seseorang yang membuat dia akhirnya tenggelam dalam kesedihan terus menerus karena pasangan cowok itu tidak mengijinkan cowok itu berhubungan dengan Dea. Tindakan yang cukup drastis bahkan dilakukan oleh cewek itu dengan menyuruh cowok itu menghapus pertemanan antara dia dan cowok itu di Facebook. Bahkan pesan yang Dea berikan untuk menjernihkan keadaan bahwa dia hanya ingin berteman saja berbuah tindakan yang lebih sadis lagi. Dea diblock sehingga tampak gambar bayangan hitam saja di profil Facebook pria itu. “Sudahlah. Aku wanita yang kuat. Aku percaya semua kisah cinta yang berakhir sedih ini adalah rencana Tuhan yang terbaik untuk aku. Amin.” Seru Dea dalam hatinya sembari menumis bawang putih dan cabai rawit sehingga membuat ruangan dapur dipenuhi aroma wangi masakan yang sangat mengundang selera. Tidak sampai setengah jam kemudian Dea mengajak peri pria itu ikut makan bersama dia. Mereka berdua makan dalam keheningan. Rupanya peri pria itu bisa merasakan bahwa suasana hati Dea sedang mendung dan diliputi awan kesedihan.

“Aku tidak menyangka sebuah lagu masih bisa membuat hatiku berdetak-detak ketika mendengarnya. Sudah cukup rasanya. Lain kali akan aku tutup telingaku, aku akan eliminasi lagu dari hubunganku yang akan datang. Tidak akan aku ijinkan sebuah lagu membuat aku teringat kepada seseorang lagi.” Kata Dea dalam hati sembari berusaha menelan makanannya. Perasaan sedih yang mendalam membuat dia kehilangan selera makannya.

Chapter 12: Sesuatu bernama CINTA

Dea mengamati cara peri pria itu makan. Dea sangat menyukai cara peri pria itu menikmati setiap asupan, seakan-akan makanan yang dia makan itu adalah makanan yang sangat enak. “Hei, gak perlu begitu la.” Kata Dea sambil tersipu malu karena merasa sangat tersanjung karena peri pria itu kelihatan sangat menyukai dan menikmati makanannya.

“Tidak perlu apa?” Tanya peri pria itu sambil menunjukkan mimik wajah seakan-akan dia belum pernah merasakan masakan seenak itu.

“Ya itu. Memang sangat enak sekali ya?” Tanya Dea penasaran sambil merasakan masakan yang dibuatnya. Terasa biasa saja, yah sama seperti masakan-masakan dia sebelumnya.

“Aku tidak pernah merasakan menikmati masakan seenak ini. Terima kasih ya.” Kata peri pria itu sambil tersenyum puas ketika piring di depannya sudah habis licin, tidak tersisa satu butir nasipun. “Aku suka masakan kamu. Rasanya sangat enak.” Kata peri pria itu sembari menambahkan kembali nasi dan mengambil lagi orak-arik sawi putih dengan telur itu.

Dea hanya terdiam dalam hati. Dia merasakan hantaman keras dalam hatinya karena raut muka peri pria itu yang menyadarkan dia bahwa seharusnya dia harus bersyukur dengan makanan yang dia bisa makan hari ini. Bahkan Dea memiliki banyak pilihan makanan di kulkas dia. Dia juga memiliki simpanan uang yang cukup banyak di bank sehingga dia tidak perlu mengkuatirkan harga ketika melihat ke menu makanan di restoran yang sedang dia kunjungi. “Iya, memang terasa enak.” Kata Dea kepada peri pria itu sembari mencoba menghabiskan porsi makanan yang telah diambilnya. “Kita boleh sedih. Tetapi kalau waktunya makan ya harus makan. Tidak boleh menyiksa diri sendiri. Harus bisa selalu berbahagia setelah sedih. Semangat Dea!”

Setelah selesai membereskan dapurnya, Dea menuju ke kamarnya dan mengambil handphone dia. Sebuah nama yang dia tunggu-tunggu tidak kunjung datang. Dea sudah tidak merasa sedih lagi, dia tiba-tiba teringat lagu Adera-Melewatkanmu. Di lagu itu, pihak cowoklah yang merasa menyesal. Aku tahu mungkin akan ada skenario itu dalam kisah cintaku, tetapi dalam hal ini, bukan aku yang berhenti berjuang. “Aku sudah cukup berjuang, dan jika aku yang berjuang sendirian, itu berarti sama saja aku berjuang untuk seseorang yang tidak mengetahui betapa berharganya perasaan aku. Suatu saat, bukan aku yang akan menangis. Akulah yang akan merasa iba jika kau baru menyadari cintamu kepadaku di hari perkawinanku.” Seru Dea dalam hati sembari menghapus semua sms Raka dan juga menghapus nomornya dari handphone dia.

“Dea.” Seru peri pria itu dari luar kamar Dea dengan nada kuatir karena peri pria itu merasakan kesedihan Dea juga. “Kamu tidak apa-apa?” Tanya peri pria itu dari balik pintu kamar Dea.

“Gak papa kok. Aku ok.” Jawab Dea sambil membuka pintu kamarnya. Dea merasakan bahwa menghapus semua sms yang sudah setahun lamanya dia simpan di HP adalah sebuah keputusan besar, tetapi Dea tidak mau menjadi cewek yang hanya menjadi permainan saja. Dihampiri ketika tidak ada orang lain yang ada di sampingnya. “Sudah cukup.” Kata Dea dalam hati sembari menarik nafas panjang dan berjanji bahwa perpisahan adalah sebuah awal yang baru.

If you brave enough to say goodbye, life will reward you with another hello.” Seru Dea sembari mencoba tersenyum kepada peri pria itu. Senyum yang dipaksakan karena sebenarnya dia merasa tidak rela bahwa penantian yang begitu lama ternyata harus diakhiri hari ini juga karena Dea sudah tidak bisa mentoleransi kelakuan Raka yang benar-benar tidak menghormati dia dengan tidak membalas smsnya. Kelakuan yang dilakukan berulang-ulang tanpa menyadari bahwa Dea selalu berusaha membalas semua sms dia, baik sms yang penting maupun tidak penting. Dea juga membesarkan hatinya bahwa ini adalah cara Tuhan untuk membuat Dea bisa mengambil keputusan untuk melupakan Raka.

“Aku percaya. Jika jodoh, Tuhan akan mempertemukan kembali dengan caranya yang ajaib walaupun terjadi sebuah perpisahan di antara kita.” Dea mengguman dalam hatinya sembari merasakan bahwa mungkinkah akan terjadi pertemuan yang dia harapkan itu? Dea pernah menunggu seseorang begitu lama dan akhirnya rasa cinta itu hilang tak berbekas ketika Raka datang di kehidupan dia.

“Apakah cinta itu?” Tanya Dea dalam hatinya. Dia menyadari bahwa mungkin perasaan cinta itu akan tetap ada dalam hatinya jika dia tetap menunggu walaupun disakiti. Tetapi mau disakiti sampai kapan? Dea juga mengingat bahwa dia pernah berjuang sendirian dalam sebuah hubungan dan akhirnya cowok yang dia perjuangkan tetap saja tidak menunjukkan perasaan yang sama, tetap mempermainkan dia dengan cewek-cewek lain yang dia ceritakan kepada Dea. Dea menanggapi cerita-cerita itu dengan santai, walaupun tersimpan perasaan sedih karena cowok itu ternyata masih ingin berpetualang. “Sudahlah. Aku harus dewasa.” Dea berkata dalam hatinya sembari mengambil dua buah coklat batangan dari kulkasnya dan memberikannya satu kepada peri pria itu. Coklat adalah makanan terbaik untuk membuat kita merasa bahagia. Saat ini bahkan Dea merasakan bahwa sebatang coklat saja masih kurang, mungkin tiga atau empat batang coklat yang bisa membuat dia melupakan kesedihannya karena cinta yang selalu bertepuk sebelah tangan.

“Cinta. Mengapa kamu begitu aneh? Kapankah aku bisa mencintai orang yang juga mencintai aku?” Tanya Dea dalam hatinya, tanpa menyadari bahwa sebenarnya peri pria itu sudah mulai mencintai dia.

Cinta itu memang aneh. Kita mencintai orang yang tidak mencintai kita, dan kita membiarkan orang yang mencintai kita menunggu begitu lama. Dan kadang ketika kita sudah mulai mencintai orang yang mencintai kita, orang itu ternyata sudah berhenti menunggu dan sudah tidak mencintai kita lagi.

Peri pria itu hanya memandang Dea dari jauh sambil mencari jalan supaya sebuah cinta juga bisa tumbuh di hati Dea untuk dia. Peri pria itu benar-benar tidak bisa terima bahwa seorang manusia bernama Raka bisa mempermainkan Dea. Seharusnya jika manusia itu benar-benar tidak memiliki perasaan yang sama, manusia itu harus memutuskan hubungan sama sekali dengan Dea. Jangan sebentar-sebentar muncul, walaupun hanya menanyakan kabar. Tidak tahukah manusia itu bahwa hal itu membuat Dea kembali berharap bahwa perasaan dia bisa tersambut? “Raka. Kamu kehilangan sesuatu yang benar-benar berharga. Suatu saat kamu akan menyadari bahwa tidak ada satu wanitapun yang bisa mencintai kamu dengan begitu tulus. Suatu hari kelak, kamulah yang akan tenggelam dalam kesedihanmu karena Dea akhirnya benar-benar berhenti menunggu dan tidak mencintai kamu lagi. Ingatlah Raka, karma itu ada. Hanya tinggal menunggu waktu hingga kau merasakan kesedihan karena permainan cintamu.” Peri pria itu berguman dalam hatinya sembari memandang Dea. Tidak tega hatinya melihat Dea merasa begitu sedih karena seorang manusia yang jelas-jelas tidak mencintai dia. Pastilah manusia itu tidak mencintai dia karena dia bisa mengatakan bahwa dia sedang berpacaran dengan manusia lain ketika Dea jelas-jelas masih memperhatikan dan menyayangi dia.

“Tuhan pasti akan memberikan cinta sejatimu Dea. Kamu wanita yang tulus dan setia.” Seru peri pria itu untuk memecah keheningan karena dari tadi Dea hanya terdiam saja sambil matanya menerawang jauh. Sangat jauh sambil mengingat semua perlakukan yang pernah dia terima dari seorang pria bernama Raka.

 

Chapter 13: Penyesalan

“Aku selalu menyesal.” Dea mengatakan hal itu sembari menikmati coklat keduanya. Lumeran coklat yang lembut meleleh dalam rongga mulutnya. “Banyak waktu di hidupku dimana aku menutup hati dan setia menunggu seseorang yang akhirnya tidak menjadi milikku. Bodoh ya?” Tanya Dea kepada peri pria itu. Pertanyaan yang tidak mengharapkan sebuah jawaban karena Dea sendiri sudah mengetahui jawabannya. Kadang cinta memang membuat logika menjadi tidak berfungsi, tetapi kali ini Dea berjanji untuk mendengarkan pikirannya. Tidak dengan bodoh menurutkan saja perasaan dan membuat orang lain bisa mengendalikan reaksi dan perasaan dia. Tidak lagi menangis berlarut-larut, cukuplah menangis sebentar dan kemudian cepat-cepat sadar dan berusaha menjadi wanita yang lebih kuat.

“Seorang ibu harus mempunyai perasaan yang kuat dan diimbangi logika yang jalan sehingga jika perasaan mulai membuat dia sedih karena ulah suaminya, logika dia bisa membimbing dia untuk tetap mengatur rumah tangga dengan baik dan memperhatikan anak-anak yang membutuhkan perhatian dan asuhan dia.”

Peri pria itu hanya terdiam mendengar ocehan Dea, dia mengetahui bahwa saat ini yang dibutuhkan Dea adalah seseorang yang mau menjadi pendengar yang baik. Dea tidak membutuhkan jalan keluar untuk keluhannya, dia membutuhkan seseorang yang mau mengerti bahwa kondisinya saat ini tidak baik-baik saja.

“Di dunia manusia ini, apa yang kau lakukan untuk mendapatkan uang?” Tanya peri pria itu sambil mengamati bahwa rumah Dea terasa sangat nyaman dan bersih. Peri pria itu juga merasa sangat aman di situ, benar-benar sebuah rumah.

“Pertanyaan bagus. Aku mendapatkan uang dari tulisan-tulisanku. Akhirnya setelah banyak kali penolakan terhadap tulisan yang aku kirimkan, sebuah tulisan yang akhirnya dimuat membuat aku kembali yakin bahwa menulis adalah jalan hidupku. Aku bersyukur dulu ada seorang pelatih bisnis yang menasehati aku untuk segera menjadi penulis saja. Mengapa harus menunggu aku memiliki sebuah bisnis sendiri yang bisa menghasilkan uang sehingga aku bisa memiliki banyak waktu untuk menulis jika ternyata uang yang aku butuhkan sebenarnya sangat sedikit sekali jika aku mau hidup dengan sederhana dan fokus mengasah keahlian menulis aku. Thank coach.” Jawab Dea kepada peri pria itu sambil menunjukkan salah satu novel karangannya yang akhirnya mendapat kehormatan untuk dibuat sebuah film dan mengejutkan Dea karena penonton Indonesia begitu menyukai alur ceritanya. Pendatang baru dengan talenta yang luar biasa, itu kata sebuah artikel di koran yang membahas tentang cerita yang dia buat.

“Ternyata hidup ini memang seperti itu. Dia selalu menyediakan rintangan sehingga hanya orang yang benar-benar menginginkan sesuatu dengan gigih dan tidak pernah menyerah saja yang bisa mendapatkan sesuatu itu. Tidak menyangka kehidupan yang sangat sederhana yang aku jalani dulu membuat aku bisa menikmati kehidupan yang seperti sekarang. Bisa membeli apapun yang aku mau karena uang hasil menulis cerita aku putarkan di bisnis yang aku pilih. Sesuatu.” Kata Dea dalam hatinya sembari mengingat hari dimana dia memutuskan untuk membeli hak usaha sebuah franchise dan kemudian menyewa jasa pelatih bisnis untuk membuat dia bisa mengetahui dan merealisasikan usaha impiannya itu sehingga membuat dia mendapatkan aliran uang secara teratur karena usaha yang dia geluti bisa berjalan sendiri tanpa pengawasan dia.

Hari sudah mulai gelap ketika Dea menghidupkan lampu ruang tamunya. Hari itu terasa aneh bagi Dea karena saat ini ada seorang pria yang hampir seharian ini ada di rumahnya, berdua saja di dengan dia di rumah. Daripada disibukkan dengan pikiran yang macam-macam, Dea bergegas membuka pintu kulkasnya dan melihat-lihat masakan apakah yang bisa dia nikmati bersama peri pria itu malam ini. Mata Dea tertumbuk kepada tofu yang kelihatannya akan sangat enak sekali jika digoreng tipis-tipis dan kemudian membuat sambal ulek yang sangat pedas.

“Hmm…membayangkannya saja uda lapar. Okay. Ini waktumu sayang.” Kata Dea sembari mengambil tofu itu dari kulkasnya. Malam ini tofu penyet yang akan menjadi makan malam Dea. Masakan sederhana yang Dea yakin akan memuaskan selera makan mereka berdua. Cepat, praktis, dan tidak ribet.

Dea mencuci bersih tofu itu dan kemudian mengirisnya tipis-tipis. Diambilnya minyak goreng dari lemari makan dan kemudian menggoreng tofu itu tipis-tipis seraya membayangkan dalam hati bahwa seharusnya ini dia dan peri pria itu merayakan hari pernikahan mereka berdua. “Terima kasih ya kamu tidak masuk ke kamar aku.” Kata Dea dengan sopan kepada peri pria itu yang duduk manis sambil melihat kelincahan tangan Dea ketika memotong tofu itu.

“Biasa saja. Di dunia peri, kamar perempuan itu adalah ruangan yang sakral dan suci. Kaum pria di negeri kami tahu bahwa kami harus menghormati mereka dengan tidak pernah memasuki ruangan itu. Kami lebih memilih menunggu saat ketika akhirnya kami bisa mengajak peri wanita pilihan kami masuk ke dalam kamar pengantin saja. Kesucian sebelum pernikahan adalah sesuatu yang patut diperjuangkan karena dengan begitu keturunan kami pasti setidaknya dikaruniai satu kemampuan khusus. Yah, aku rasa aku dikaruniai banyak kemampuan karena kedua orangtuaku menjalani masa persahabatan mereka dengan cara yang sangat suci, bebas dari segala sentuhan. Aku bersyukur saja karena punya orangtua seperti itu. Yah, mungkin anakku tidak akan seperti aku.” Seru peri pria itu dengan senyum tipis. Peri pria itu tahu bahwa terkadang dia memeluk peri wanita pilihan dia karena dia sendiri tidak bisa menahan diri untuk bisa merasakan sensasi itu.

“Aku sangat setuju dengan peraturan itu. Kamar wanita itu memang area pribadi. Area yang seharusnya memang lelaki tidak boleh masuk.” Kata Dea sembari mematikan kompor dan melihat dengan puas tofu yang digorengnya. Mereka semua berwarna keemasan dan memberikan aroma tofu goreng yang sangat menggoda selera.

“Kamu tahu gak?” Tanya Dea sembari mengambilkan beberapa tofu goreng untuk peri pria itu.

“Apa?” Jawab peri pria itu sambil menyuapkan nasi dan tofu goreng yang ternyata benar-benar lezat itu. Apalagi peri pria itu benar-benar merasa sangat lapar. Ternyata porsi makan siang dia tadi kurang banyak. Peri pria itu baru menyadari bahwa porsi makan dia dan Dea berbeda. Dia memerlukan porsi yang lebih banyak.

“Aku percaya bahwa cerita cintaku akan berakhir sangat indah. Aku percaya bahwa doa yang aku lantunkan mulai hari ini akan membuat Tuhan sendiri akan campur tangan untuk membuat kisahku bahkan lebih indah dari yang aku bayangkan. Aku percaya itu.” Kata Dea kepada peri pria itu sambil mengingat sebuah lagu tentang seorang pria yang mengatakan bahwa dia selalu berdoa untuk seorang wanita dan berharap bahwa dia bisa dipertemukan kembali dengan wanita yang dia cintai jika wanita itu memang jodohnya itu.

“Aku selalu suka dengan cerita cinta. Semua seperti sebuah petualangan. Bahkan aku percaya bahwa petualangan dua orang akan lebih menarik lagi daripada petualangan yang aku lakukan seorang diri saja.” Kata Dea kepada peri pria itu sambil merasakan kegurihan tofu gorengnya. Dea bukanlah wanita yang lemah, dia adalah wanita yang sangat kuat. Tapi terkadang sifat keras kepala dia membuat dia berani untuk menunggu seorang pria yang jelas-jelas sudah mengatakan bahwa pria itu tidak merasakan sesuatu yang sama kepada dia. “Yah, kali ini aku akan lebih pintar. Aku akan mengejar impianku. Aku percaya, jika jodoh, suatu saat aku akan bertemu kembali dengannya.”

“Dulu aku begitu suka share perasaan yang aku rasakan di Facebook, berharap orang itu akan selalu tersenyum karena aku dan status-statusku. Tapi aku rasa semuanya itu hanya debu, yang terkibas begitu saja ketika seorang wanita membuat dia lebih bisa tersenyum daripada aku. Aku pernah sangat mencintai Raka. Aku berikan sebuah lagu untuk dia di Facebook aku. Sebuah lagu dari Christian Bautista, berharap dia akan memperlakukan hatiku dengan lebih baik. Sebuah lagu yang kini kita dengarkan.” Kata Dea sembari melihat ke arah peri pria itu.

Sebuah lagu Christian Bautista yang berjudul Please Be Carefull With My Heart mengalun lembut di ruang tamu Dea. “Dulu aku pernah begitu mencintai dia. Aku bersyukur seseorang datang dan membuat aku bisa pelan-pelan melupakan Raka. Aku percaya kali ini aku bisa lebih pintar.” Kata Dea sambil mengucapkan selamat tidur kepada peri pria itu.

Hari ini Dea percaya bahwa tidak akan ada kata menyesal di hatinya ketika suatu hari melihat Raka menikah dengan wanita lain karena cinta benar-benar sudah pergi, meninggalkan perasaan menyesal karena dulu air mata pernah menetes untuk lelaki semacam itu.

Hari ini Dea juga menyadari bahwa adalah suatu keberuntungan Raka memperlakukan dia dengan begitu kejam. “Aku sudah pernah mencintai orang yang salah dengan cara yang benar. Lelaki selanjutnya adalah lelaki yang harus bisa menerima bahwa aku bukanlah wanita yang begitu perhatian. Lelaki selanjutnya harus bisa mengerti bahwa aku adalah wanita yang akan selalu membebaskan dia dengan waktu-waktunya. Karena akhirnya aku sadar. Lelaki memang membutuhkan wanita yang bisa membuat dia jatuh cinta, bukan wanita yang mencintai dia. Sudah ya. Selamat tidur. Besok adalah hari kita. Besok adalah hari dimana cerita kita di dunia peri dilanjutkan kembali. Thanks kamu mengijinkan aku kembali ke duniaku sejenak sebelum peristiwa itu.” Seru Dea dengan suara pelan kepada peri pria itu.

Dea merasa beruntung karena dia akhirnya menyadari bahwa sebagai wanita, ternyata dia juga memiliki keberuntungan untuk bisa menghapus sebuah cinta yang telah menyia-nyiakan perjuangan dia. Sebuah cinta yang mengajarkan dia bahwa pria yang mencintai kamu tidak akan mungkin membuat kamu menjadi wanita yang bisa merasa bahwa kamu tidak dicintai.

Hari itu Dea tidur dengan wajah dan hati yang cerah. Lagu Christina Perri – A Thousand Years membuat dia sadar bahwa pasti akan ada sebuah cerita cinta yang bisa dia buat dengan seorang pria hingga akhirnya dia benar-benar mengetahui apa itu cinta dan bagaimana rasanya mencintai dan dicintai.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s