GaLove part 0-24

Posted: Juli 22, 2014 in Uncategorized

Chapter 1: Buku aneh

“Suatu saat aku akan menemukan cinta sejatiku. Cinta yang melihatku adalah ciptaan Tuhan terindah yang pernah dilihatnya. Ya, suatu saat aku akan menemukannya, walaupun mungkin kali ini bukan dia.” seru seorang gadis dalam hatinya sembari melihat handphone dia dan mendapati bahwa pria yang dia sms tidak membalas smsnya secepat dulu.

Sudah satu jam lebih dia bolak-balik dan mendapati tidak ada balasan sms dari pria yang dicintainya itu. “Ya, mungkin ini hanya bagian yang sulit di kisah cinta kami, ya, bagian klimaks yang akan menentukan apakah cerita ini akan berakhir bahagia dengan dia sebagai tokoh utamanya atau tidak di dunia impianku kelak.” Seru gadis itu sembari menghela nafasnya dan menaruh kembali handphone kesayangan dia di laci mejanya dan melanjutkan rencananya untuk membersihkan gudang rumahnya. Dan sebelum beranjak keluar dari kamarnya, dia mengecek kembali handphone dia dan masih mendapati wallpaper manis yang dia pilih sebagai pengobat hatinya yang galau masih terpampang di sana. “Yah, mungkin ini benar-benar bagian yang sulit.” Seru gadis itu sembari merasakan perih dalam hati dan menaruh handphone itu kembali ke laci dia.

Sudah satu jam lebih gadis itu berkutat dengan sapu dan tong sampah untuk membereskan gudang rumahnya. Ya, gudang rumah yang sejatinya dulu ingin dia jadikan perpustakaan, tapi berubah menjadi gudang karena ada family yang menjual rumahnya dan butuh tempat penyimpanan sementara untuk barang-barang mereka. Akhirnya terpaksa dia merelakan bagian yang dia khususkan itu menjadi gudang untuk perabotan mereka. Dan ternyata peminjaman lokasi itu berlangsung cukup lama hingga kemarin mereka memberi kabar bahwa akhirnya mereka telah membeli rumah yang baru dan ingin cepat-cepat mengambil barangnya.

“Sesuatu juga ya setahun itu. Begitu banyak debu dan kotoran di sana-sini.” Kata gadis itu pelan sembari melihat-lihat perabotan family dia yang mengendap setahun di tempat yang seharusnya menjadi tempat favorit dia.

“Raka berubah sangat banyak ketika cewek itu mengatakan bahwa dia juga menyukai Raka. Yah, mungkin aku yang terlalu keras kepala dan seharusnya jadi pihak yang tau diri dan mengeliminasi sendiri diriku dari kisah ini. Biarpun Raka dan aku pernah menjadi seperti kekasih, tetapi tidak ada kata jadian di antara kami. Jadi kenapa aku jadi wanita yang bodoh dan tetap mengharapkan dia? Dea yang bodoh!” Seru gadis itu dalam hatinya ketika mengingat kisah cintanya setahun ini. Kisah cinta yang dia jalani tanpa status dan sebenarnya hanya sebagai pelampiasan saja pada mulanya. Namun entah kenapa perasaan dia jadi lebih rekat ke Raka daripada seseorang yang dulunya begitu mengacuhkan dia walaupun gadis itu sebenarnya akan jadi pasangan yang benar-benar luar biasa jika pria itu juga mencintai dia. Tapi cinta itu juga aneh, sekarang perasaan dia malah berubah 180 derajat. Memang tidak menggebu-gebu seperti yang dulu dia rasakan ke pria sebelum Raka, tapi kali ini perasaan ini lebih stabil dan mengijinkan dia menggunakan akal sehatnya untuk menimbang-nimbang apakah benar adalah Raka yang akan menjadi suami dia.

Tiba-tiba lamunan gadis itu terhenti karena suara hujan yang tiba-tiba turun. Cepat-cepat dia menuju pintu keluar dan berlari ke halaman untuk mengambil cucian dia yang seharusnya sudah kering. “Hmmm, hujan kali ini aneh. Kenapa terasa hangat ya?” Seru gadis itu sembari menadahkan tangannya dan merasakan aliran air hujan itu turun membasahi tangannya. “Iya, terasa hangat.” Setelah tertegun sebentar dia kembali berlari dan mengambil cucian dia yang seharusnya benar-benar sudah kering. “Hmmm…apakah buku itu benar-benar dari dunia lain ya? Bukankah disebutkan jika hujan di negeri itu adalah hujan yang hangat? Apakah ada seorang peri dunia itu yang sedang mencari bunga-bunga di duniaku untuk acara besar tahunan mereka? Benarkah peri-peri itu ada?” Kata gadis itu sembari bergegas membawa masuk cucian kering dia yang basah sedikit dan menuju kamar dia untuk melihat ulang buku aneh itu. Buku yang menceritakan sebuah dunia di mana setiap orang benar-benar bisa menemukan cinta sejati mereka jika mematuhi peraturan itu.

“Hmm..” Seru gadis itu mengguman pelan sembari merenungkan isi buku itu. Sebuah dunia tanpa benda bernama uang dan setiap orang bisa mendapatkan apa yang dia inginkan dengan hanya meminta kepada orang yang tepat. Begitu juga dengan cinta, jika dia memintanya kepada orang yang tepat, dia pasti akan mendapatkannya. Tetapi dunia seperti apa ya yang penuh dengan cinta sejati yang dikisahkan buku ini sehingga tidak ada seorangpun yang dibiarkan hidup sendiri di dunia itu. “Setiap orang benar-benar bisa mendapatkan cinta sejatinya.” Kata gadis itu sambil berjalan kembali ke gudang rumahnya untuk membersihkan debu dari perabotan familinya sekali lagi sambil membawa buku itu. “Cinta, mungkinkah aku bisa mendapatkannya?” Kata gadis itu pelan dalam hatinya. Cinta,” seru gadis itu pelan sambil melihat sampul buku aneh itu.

Tiba-tiba gadis itu merasakan tubuhnya menjadi ringan dan kakinya seakan melayang dan tidak menyentuh lantai. Gadis itu terhenyak dan mendapati dirinya melayang di atas lantai gudangnya. Dan tiba-tiba sebuah kekuatan seperti menghempas dia ke lantai dan dia mendapati bahwa dia bukan terjatuh di atas keramik pilihan yang dia pilih dulu, dia terjatuh di atas sesuatu yang lembut. Hamparan rerumputan berwarna biru laut terhampar luas di hadapan dia dan semilir angin dingin menyadarkan dia bahwa dia tidak sedang bermimpi.

“Peraturan…” Gadis itu mengatakan pelan dalam hatinya ketika dia tersadar dari kagetnya dan melihat sekelilingnya. Entahkah itu mimpi atau kenyataan yang seperti dibacanya di buku Harry Potter dan Twilight, gadis itu benar-benar berada di dunia yang sangat berbeda dengan dunia yang dia jalani sehari-harinya. Dunia yang penuh dengan warna-warna cerah dan peri-peri yang berterbangan ke sana ke mari dan berlalu lalang di hadapannya seakan mereka tidak menyadari kehadirannya. Sebuah papan besar bertuliskan huruf aneh menarik perhatian gadis itu. Sebuah papan yang dia pernah lihat di buku aneh itu. Papan yang berisi peraturan itu.

Gadis itu bukanlah gadis yang penakut, tetapi detik itu suatu ketakutan yang hebat menjalari pikirannya. Dia bukanlah siapa-siapa, tidak menguasai seni bela diri apapun dan tidak pernah berpetualang ke tempat-tempat asing sendirian tanpa seorang teman. Dan kali ini dia dihadapkan kepada suatu dunia yang benar-benar berbeda dengan dunianya. Sembari mengingat cuplikan-cuplikan buku aneh itu tentang dunia ini, dia menyadari bahwa peri-peri itu memang tidak menyadari kehadiran dia dan bahkan ada beberapa peri yang berlalu dari wajahnya dan tembus ke belakang kepalanya. Suatu keanehan yang benar-benar dia alami.

“Aku di dunia yang diimpikan banyak orang, dunia dongeng.” Pekik gadis itu sembari menepis pikiran-pikiran yang kurang baik dan kurang positif dari benaknya. “Setidaknya aku harus mencari cinta sejatiku di dunia ini supaya aku bisa pulang kembali dan bertemu dengan Raka aku.” Kata gadis itu pelan dalam hatinya.

Buku aneh itu mengisahkan bahwa untuk kembali ke dunia asal kita, kita perlu menemukan cinta sejati kita dengan mengetahui peraturan itu. Dan setelah bertemu cinta sejati kita di dunia itu, seberapa beratnya, kita harus cepat sadar dan memutuskan untuk kembali ke dunia asal kita karena peri tersebut akan mati jika dia akhirnya benar-benar. “Yah, aku tidak tahu jika benar-benar apa. Mungkin ada tikus yang memakan lembaran buku aneh ini hingga menyisakan sebuah pertanyaan untuk aku pecahkan sendiri.”

Gadis itu membayangkan bahwa buku itu pastilah karangan seorang manusia yang berhasil kembali ke dunia asalnya kembali dan menuliskan pengalamannya. “Pastilah desain buku ini sangat aneh dan tidak biasa karena pengaruh hal-hal yang dia lihat di dunia lain ini.” Guman gadis itu dalam hatinya dan melihat rumah dengan desain yang tidak biasa. Benar-benar dunia peri yang tidak tercapai imajinasi manusia.

 

 

Chapter 2: Pertemuan

“Raka.” Suara gadis itu seperti terhenti di jantungnya ketika dia melihat sesosok pria seukuran jempol tangannya sedang terduduk diam sambil memandangi dirinya dari tempat dia duduk.

“Dia bisa melihatku.” Gadis itu berkata pelan sambil berdoa semoga peri itu tidak melihat dia.

Dengan keberaniannya gadis itu mendekati peri jempol itu dan melihat ke dalam pancaran matanya. Peri pria yang mirip Raka itu tetap menatapnya seperti sedang mengamati dirinya juga dengan tatap mata heran. Dengan tiba-tiba peri itu terbang menembus sorotan matanya dan melayang menembus tubuh gadis itu dan terbang menjauh. “Semoga peri itu tidak melihatku.” Doa gadis itu dalam hatinya dan berlari mengejar peri pria itu.

Peri pria itu berhenti di depan sebuah bangunan yang mungkin bisa dikatakan sebuah rumah dan tiba-tiba berubah menjadi sesosok pria tinggi besar dan benar-benar mirip dengan Raka.

“Raka, apakah dia juga membaca buku itu dan sama seperti diriku terdampar di dunia ini?” Gadis itu berkata pelan kepada dirinya. Dengan hati-hati dia melihat dari jendela sosok peri itu. “Oh, ternyata dia sudah memiliki pasangan.” Kata gadis itu ketika melihat peri itu berlalu masuk dan memeluk seorang peri cantik dengan rambut berwarna-warni indah yang panjang. Tiba-tiba peri pria itu melihat ke arah gadis manusia itu dan menembus dinding dan mengejutkan gadis itu.

“Dea.” Kata peri pria itu pelan kepada gadis itu.

Gadis itu tertegun pelan dan bingung kenapa peri pria itu bisa mengetahui namanya.

“Akhirnya ramalan itu benar-benar terbukti. Aku harus merelakan cinta sejatiku untuk membantumu kembali ke duniamu,” tiba-tiba peri cowok itu berlalu pergi menembus dinding dan memeluk erat sekali lagi peri wanita berambut indah itu dan melayangkan tangannya menembus dada peri wanita itu. Berkas cahaya keluar dari dada wanita itu dan membuat wanita itu terhenyak dan menangis dengan tiba-tiba. Dengan hati-hati peri pria itu memasukkan benda bersinar itu ke sebuah kotak dan berlalu pergi menjauh dari peri wanita itu dan melayang mendekat ke arah gadis itu.

“Kenapa dia terdiam saja ketika kau berlalu pergi meninggalkan dia dalam kondisi menangis?” Tanya gadis itu kepada peri pria itu dengan heran dan berkata dalam hatinya seandainya Raka juga melakukan hal itu ketika cewek itu mengatakan bahwa dia suka kepada Raka dan mengambil cinta cewek itu ke dia tanpa ragu, meninggalkan dia, dan menjelaskan dengan dewasa bahwa dia hanya jenuh padaku ketika dia mendekati cewek itu.

“Iya, jika saja kisahku bisa seperti itu,” seru gadis itu dalam hatinya seraya merasakan kembali perih yang dirasanya sore tadi ketika melihat layar handphonenya menunggu sms balasan dari Raka.

“Tadi kamu mengatakan apa?” Gadis itu kembali bertanya kepada peri pria itu karena sebagai gadis pelupa, dia memang agak parah jika sedang patah hati.

Dengan lembut peri pria itu berkata kepada gadis itu sembari belajar memberikan tatapan yang hangat kepada gadis yang ditakdirkan ramalan untuk menjadi cinta sejatinya yang sesungguhnya. “Sudahlah, cinta itu kata kerja. Ketika perasaan cinta sudah tidak terasa, itulah tanda bahwa Tuhan mempercayakan kamu untuk melakukan pekerjaan paling mulia di dunia. Pekerjaan untuk mencintai ciptaan dia yang tidak sempurna dengan cinta yang sempurna. Aku pria yang beruntung. Dari sekian banyak peri, akulah yang ditunjuk untuk menjadi peri yang merasakan patah hati dan merasakan bagaimana cinta yang sesungguhnya itu seharusnya.” Seru peri pria itu dengan suara pelan. Tampak bahwa dia seakan tidak terima dengan kondisi yang dia hadapi barusan. Berpisah dengan wanita pilihannya untuk bersatu dengan wanita yang dipilihkan oleh ramalan untuknya.

Gadis itu merasa aneh dengan ucapan peri pria itu dan berangan-angan dalam hatinya jika saja Raka yang mengatakan hal itu, tapi apakah cinta seperti itu akan menjadi cinta yang indah? Bukankah gadis itu sendiri menentang pria yang hatinya mampu berpaling. Dan sekarang dia dihadapkan kepada seorang peri yang wajah dan perawakan dia sangat mirip dengan Raka, tetapi memiliki karakter yang jauh berbeda, tetapi dengan mudahnya bisa memutuskan mengakhiri cinta kepada peri wanita itu walaupun peri pria ini terlihat lebih lembut dan perasa daripada Raka.

Peri pria itu membawa gadis itu terbang dengan sayapnya tanpa menyentuh gadis itu. Tiba-tiba saja gadis itu terbang di sisi peri itu seakan dia bisa terbang sendiri dengan kekuatannya,  tapi gadis itu tidak bisa menentukan seenak dia sendiri arah terbang dia. Dengan suara lembut yang lebih lembut dari nada bicaranya tadi peri pria itu mengatakan kepada gadis itu untuk menyimpan namanya sebagai sebuah rahasia. Hanya cinta sejati yang diperbolehkan mengetahui nama seorang peri pasangan dia. Sebuah nama mengandung semua rahasia tentang masa depan, keberuntungan, dan semua kisah dan tempat yang akan dijalani peri tersebut. Dan dengan mendapatkan nama selain nama kelahiran dia, seorang peri diberi kesempatan untuk menciptakan nama lain di dunia itu dengan cara bersatu dengan peri itu dan memberikan nama baru kepada anak mereka.

“Pernikahan adalah sangat wajar dan mutlak di dunia ini. Aku tahu kamu pasti sudah membacanya di buku itu. Hal pertama yang perlu aku lakukan untukmu adalah membuatmu mencintaiku sehingga kita bisa menghasilkan sebuah nama baru.” Seru pria itu kepada gadis itu dan membuat gadis itu tercekat hatinya.

“Sebuah nama baru, cinta, penyatuan, kelahiran, hal-hal yang rasanya masih di awang-awang antara aku dan Raka tiba-tiba menjadi nyata hanya dalam waktu satu hari juga. Apakah mungkin ini mimpi dan imajinasi aku yang keterlaluan ya?” Seru gadis itu sembari mencubit tangannya seperti yang dia lihat di film-film ketika seseorang ingin mengetahui apakah dia sedang bermimpi.

“Sakit,” gadis itu merasakan cubitan itu sakit. Ini bukan mimpinya, ini kehidupannya yang dia jalani di dunia yang beberapa jam lalu masih dibaca olehnya dari sebuah buku aneh. Ya, dunia yang beberapa jam lalu masih di imajinasinya saja dan sekarang menjadi kenyataan.

“Hal pertama yang perlu kau lakukan adalah menuliskan semua yang kau alami di dunia ini. Kau akan bisa menulisnya setiap hari di buku ini.” Peri pria itu menunjukkan gadis itu sebuah buku yang memiliki kertas berwarna keemasan dan bersinar. Gadis itu tertegun dalam hatinya dan mereka-reka dalam hatinya apakah mungkin buku aneh yang dia baca itu adalah buku karangan dia yang diterbitkan di masa depan? Seperti sebuah rangkaian yang saling mempengaruhi dan tidak terjadi jika yang lainnya tidak terjadi.

“Aku tidak mempercayai semua ini,” seru gadis itu dalam hatinya ketika mendapati tiba-tiba dia memiliki seseorang yang mengatakan bahwa dia adalah cinta sejatinya dan semua hal bagus yang pernah dia impikan bersama Raka.

“Kita akan ke acara besar itu dan menikah,” seru peri pria itu kepada gadis itu.

Dengan jantung yang seakan berhenti gadis itu sekarang benar-benar tidak percaya bahwa dia akan menikah dengan seseorang yang mirip Raka. Tapi dikatakan bahwa manusia itu akhirnya meninggalkan cinta sejatinya di dunia peri dan bertemu dengan cinta sejatinya di dunia asalnya. “Bagaimana kita bisa menikah? Tidak mungkin.” Gadis itu berkata kepada peri pria itu. Dengan seulas senyum peri pria itu berkata dengan nada misterius kepada gadis itu, “Memang tidak semudah itu. Waktu tidak berlalu seperti waktu yang berlaku di dunia kamu. Waktu berkata bahwa kita akan tiba di waktu itu, tapi perputaran jam akan kembali ke waktu yang kita lewatkan jika kisah yang seharusnya sudah dijalani.”

Gadis itu akhirnya sangat menyesal karena dia membaca sambil lalu saja buku aneh itu karena memang dia sedang tidak mood membaca sebuah cerita. “Jika saja…” gerutu gadis itu pelan dalam hatinya menyesali karena dia tidak serius membaca buku itu dari awal sampai akhir.

“Jadi apakah aku akan mengalami suatu petualangan seperti yang aku lihat di film-film Disney… “seru gadis itu dalam hatinya.

Peri pria itu tiba-tiba berhenti melaju dan berada di depan gadis itu sambil melayang dan berkata, “Maafkan aku, mungkin kamu belum mengetahui bahwa aku mulai bisa membaca pikiran kamu. Ya, itulah kekuatan sebuah cinta di dunia kami. Kamu akan selalu bisa membaca pikiran pasangan kamu dengan sempurna hingga benar-benar tidak ada yang ditutupi kecuali cinta itu sudah mencapai tahapan yang lebih dewasa dan kita mulai membaca apa yang dipikirkan pasangan kita dengan membaca raut wajah dan segalanya, tetapi bukan pikiran dia.”

“Dunia kamu aneh.” Gadis itu berkata dengan nada kesal karena peri pria ini tiba-tiba bisa membaca pikiran dia dan sekarang dia harus juga berpikir dalam pikiran dia. “Benar-benar  menyusahkan.” Kata gadis itu pelan dalam hati.

“Iya, memang benar-benar menyusahkan, tapi ketika kau mulai bisa membaca pikiranku, di saat itulah kau mengetahui bahwa cinta yang bagus itu adalah ketika kau tidak berusaha membaca pikiran pasangan kamu, tapi hanya mempercayai dia saja dan bertanya langsung apa kemauan dia,” seru pria itu pelan kepada gadis itu sembari mengingat kisah yang lalu dengan peri wanitanya ketika peri wanita itulah yang pertama bisa membaca pikiran dia.

 

Chapter 3: Sehari-hari

“Kamu lapar ya?” Seru peri pria itu dengan senyum kecil karena dia mendengar suara-suara kerucuk yang berasal dari perut gadis itu.

Gadis itu hanya terdiam saja dan memandang ke arah lain. Iya, gadis itu memang lapar, tetapi dia baru saja tiba di dunia yang asing. Dan tidak seperti cerita-cerita yang dia tau di dunia nyata dan di film-film, kali ini dialah yang mengalami sendiri dunia yang selama ini hanya dilihatnya di TV. Jadi dia benar-benar bingung dan tidak tau apa yang akan dia lakukan, bahkan dalam kondisi laparpun dia belum berani memutuskan untuk mencicipi makanan asing yang dimakan peri-peri itu di dunia mereka.

Peri pria itu seakan mengetahui isi hati gadis itu dan dengan sepintas dia menarik gadis itu dengan auranya tanpa menyentuhnya dan membawa gadis itu ke suatu tempat yang penuh dengan berbagai macam pohon yang penuh dengan buah-buah yang bergelantungan.

“Kamu bisa memilih buah apa saja yang bisa kau makan, kecuali buah yang ada di tengah taman ini. Jangan kau sentuh, atau kau makan. Karena sekali kamu menyentuh atau bahkan memakannya, hari itu juga perasaanmu akan mati dan kamu tidak akan pernah merasakan keindahan sejati sebuah kehidupan.” Peri pria itu menuturkan peraturannya kepada gadis itu.

Gadis itu malah merasa penasaran dan langsung berlari ke tengah taman itu untuk mengetahui seperti apakah bentuk buah dari pohon itu. Belum juga beberapa langkah dia lari, peri pria itu menghentikan gadis itu dengan belitan lasonya di sekeliling kaki gadis itu. Gadis itu terjerembab dengan keras di atas rerumputan biru tebal yang lembut itu. Menyadari kesalahannya, gadis itu beranjak berdiri dan meminta maaf kepada peri pria itu.

“Kamu tidak perlu meminta maaf kepadaku. Kamu harus meminta maaf kepada cinta sejatimu di dunia. Buah itu benar-benar akan membuatmu tidak menginginkan kemanisan sebuah cinta dan kau akan menghabiskan hidupmu hanya seorang diri di duniamu dan meninggalkan cinta sejatimu untuk orang lain yang sebenarnya lebih buruk dari kamu.” Peri pria itu berkata dengan seenaknya karena merasa tersinggung dengan tindakan gadis itu barusan.

Sembari menyodorkan sepenggal buah yang mirip apel, peri pria itu beranjak duduk di atas rumput dan memandang gadis itu lekat-lekat.

“Dia memang tidak cantik, benar-benar lebih cantik peri wanita pilihanku, tetapi kenapa harus aku yang harus menjalani kisah ini untuk menyelamatkan duniaku,” seru peri pria ini singkat dalam hatinya.

Peri pria itu mengetes apakah gadis itu bisa membaca pikiran dia dengan memanggil nama gadis itu di pikiran dia dan ternyata gadis itu tidak menoleh dan tetap asik memilih dan mencium setiap aroma buah yang berhasil dipetiknya. “Aku menyerah. Aku percaya cinta tidak akan semenyakitkan ini,” seru peri pria ini seraya membayangkan bahwa benar dia tidak akan pernah bisa bersatu dengan peri wanita pilihannya dulu karena kedatangan gadis ini.

“Hei,” gadis itu berseru dengan kaget ketika tiba-tiba suatu tangan tak terlihat seperti melilit pinggang dia dan membawa dirinya naik ke atas dan membuat kakinya melayang beberapa sentimeter dari atas tanah.

“Kamu harusnya bilang dulu ke aku,” seru gadis itu dengan nada keras dan tiba-tiba melembut karena dia sendiri belum tau apakah peri pria ini adalah peri yang baik atau mungkin peri yang jahat yang sengaja bermain-main sebentar dengan dia dan kemudian melakukan hal yang tidak baik kepada dia.

“Hidup ini lebih dari sekadar makan dan minum,” kata peri pria itu pendek seraya terbang di samping gadis itu. “Suatu saat kamu akan menyadarinya di duniamu,” kata peri pria itu bijak dan mendekatkan tangannya seperti ingin membelai rambut kepada gadis itu, tetapi ditangguhkannya.

“Kamu tau? Tidak diperbolehkan adanya sentuhan dalam bentuk apapun sebelum acara pernikahan. Aku tau kamu adalah gadis yang suka bertanya dan aku akan menjadikanmu gadis yang agak sedikit bijak di duniaku, pasanganku,” kata peri pria itu sembari memandang ke arah lain.

Gadis itu begitu terkesima dengan kata itu. Pasanganku. Seperti suatu sihir yang menyihir perasaan dia secara langsung. Belum pernah dia mendapat kata itu diucapkan sedemikian serius kepadanya. “Jadi sebijak apa aku seharusnya,” kata gadis itu kepada peri pria itu. “Pasangan?” Seru gadis itu pelan melanjutkan kata-kata dia dalam hati.

Peri pria itu hanya terdiam dalam hatinya mendengar gadis itu menyebut dia pasangan dengan sebuah tanda tanya besar. “Cukuplah dimulai dengan sebuah kata cinta untuk menumbuhkan sebuah cinta,” kata peri pria itu dalam hatinya sembari pikirannya menerawang kepada peri wanita yang dipilihnya sebelum gadis ini datang.

“Duniamu begitu mengagumkan.” Gadis itu mengomentari kekaguman dia kepada dunia peri. Dunia di mana tidak ada kebutuhan untuk makanan, minuman, kehangatan, dan pakaian, semua hal yang diperlukan supaya mendapatkan sebuah kehidupan. Dunia di mana setiap peri bebas melakukan apapun dan bekerja setiap hari untuk panggilan hidupnya.

“Duniamu ini indah.” Gadis itu menambahkan sekali lagi komentar dia.

“Kamu belum mengetahui seujung kuku duniaku, pasanganku,” seru pria itu dengan sebuah senyuman tipis di bibirnya. Yah, sebuah senyuman yang terlihat dipaksakan, tetapi dimaksudkan ingin diberikan untuk menyenangkan hati.

Gadis itu hanya terdiam dan menyadari dalam hatinya bahwa peri pria ini berusaha untuk mencintai dia karena memang hal itulah yang seharusnya dia lakukan untuk gadis ini. Sebuah cinta untuk menyembuhkan hatinya yang kosong karena sebuah nama yang tidak menyambut balik cintanya dengan sikapnya. Raka.

“Sudahlah. Toh kamu adalah cinta sejatiku. Biarlah aku juga berlaku bahwa kamu adalah milikku dan bebas aku melakukan dan meminta apa saja kepadamu. Pelampiasanku?” Seru gadis ini dalam hatinya.

“Iya, pelampiasanmu. Jika kata itu adalah kata yang populer di duniamu.” Kata peri pria itu kepada gadis itu.

Gadis itu terhenyak kaget dan baru menyadari bahwa peri pria ini bisa membaca isi hatinya. Dengan jengkel dia menggerutu dalam hatinya, tetapi tanpa daya dia harus menerima bahwa tidak akan ada rahasia selagi dia berkata-kata juga dalam hati. “Ahhhh,” seru gadis itu dalam hatinya jengkel.

Chapter 4: Petualangan

“Raka?” Kata Dea dalam hatinya dengan nada canda.

“Iya?” jawab peri pria itu karena dia merasa dipanggil, tidak ada siapapun di sana selain mereka berdua.

“Hmmmm..kamu benar-benar bisa membaca pikiranku…..” kata Dea dalam hatinya lagi.

Peri pria itu hanya bisa tersenyum dalam hatinya, dia juga pernah mengalaminya ketika peri wanita yang dia pilih dulu juga tiba-tiba begitu saja bisa membaca pikiran dia dan membuat dia mati kutu ketika mereka menghabiskan waktu bersama.

“Yah, ahahahaahahah,” pekik peri pria itu tiba-tiba dalam hatinya karena menyadari bahwa bisa membaca pikiran pasangan kita itu sangat asik. Bisa menyelami apa yang ada di pikiran dia, tidak ada batas dan alasan bahwa kita akan dibohongi.

“Raka…” kata Dea pelan dengan bibirnya sembari menatap peri pria itu dan memegang wajahnya. Terlanjur basah pikirnya karena peri pria ini mengatakan bahwa mereka sedang dalam perjalanan menuju perkawinan mereka.

“Raka, kenapa kamu bisa tau bahwa aku ini bukan bangsa kamu?” Kata Dea dengan bibirnya dan tiba-tiba menyadari kebodohannya. Pastilah peri pria ini tau bahwa dia bukan bangsa mereka, tidak ada sayap di punggungnya, tetapi kenapa hanya peri pria ini yang bisa melihat dia adalah suatu tanda tanya besar di benak Dea.

“Duniaku ini penuh dengan cerita. Dan ada suatu cerita tentang suatu pertemuan dua dunia yang akan mengubah dua dunia itu selamanya jika akhir ceritanya beda dari yang digariskan oleh para pencerita.” Kata peri pria ini kepada Dea sembari menatap jauh ke hamparan langit biru dan rerumputan biru yang membentang di hadapan mereka.

“Jika kamu membaca buku itu sampai habis, kamu pasti mengetahui bahwa tidak ada kebutuhan akan pakaian, makanan, minuman, dan tempat berlindung di dunia kami. Kami hidup sehari ke sehari mencari sesuatu yang kami senangi sehingga perasaan itu seperti perasaan kaum kalian yang ingin cepat-cepat bangun di pagi hari untuk memulai hari luar biasanya. Aku rasa dunia kami adalah dunia yang kamu sering impikan itu Dea.” Kata peri pria itu dengan lembut. Suatu perkataan lembut yang benar-benar mengingatkan Dea kepada Raka, lelaki yang membuat dia jatuh cinta, patah hati, dan jatuh cinta lagi, benar-benar suatu masa yang bisa menjadi cerita.

“Kamu tau Raka? Aku merindukan lagu-laguku. Bisakah kamu membantuku dengan kekuatan peri kamu atau apapun itu? Aku tiba-tiba ingin mendengarkan lagu Rama-Bertahan. Aku ingin tau apakah lagu itu masih bisa mengingatkan aku kepada cintaku kepada Raka. Cintaku ketika dia tidak pernah menghubungi aku lagi. Cintaku ketika dia mengatakan bahwa dia hanya menganggap aku hanya sebagai saudara saja.” Kata Dea dengan goresan perih dalam hatinya. Menyisakan pertanyaan besar kenapa Raka tidak menyambut cintanya ketika cinta itu serasa ada dalam hati mereka berdua.

“Pernahkah kau tiba-tiba menangis ketika orang yang kau cintai mengatakan bahwa dia ternyata hanya perhatian kepadamu sebagai seorang saudara?” Kata Dea dengan cepat dan dengan nafas memburu. Mengingat kisahnya dulu dengan Raka, bagaimana perjuangan dia untuk mengatakan kepada Raka bahwa dia menyesal atas perlakukan jahat dan kecuekannya dulu. Penyesalan dan cinta yang baru disadari ketika kata bertemu itu adalah mustahil.

Peri pria itu hanya memandang heran akan kegalauan Dea. Belum pernah dia menjumpai seorang peri wanita bisa begitu galau karena cinta. Di dunia peri, percintaan hanya akan dimulai ketika peri pria sadar bahwa ada perasaan berbeda yang dia rasakan setelah proses persahabatan yang panjang dengan seorang peri wanita. Tidak ada kegalauan karena cinta hanya dirasakan pihak pria dan kemudian cinta barulah ditumbuhkan di pihak wanita jika peraturan itu membuktikan kepada peri pria bahwa peri wanita itu adalah pasangan dia. Tidak ada patah hati karena kisah cinta itu sudah digariskan dan sudah pasti kisah cinta itu akan bersatu kecuali peraturan itu dilanggar.

“Halo cantik, aku tau kamu sedang gundah kan? Tapi setidaknya cinta itu tidak seperti itu. Cinta yang sejati akan membuatmu bersatu dengan orang yang kamu cintai. Tuhan tidak tidur. Serahkankah cerita cintamu kepadaNya, dan seperti penulis yang handal, Dia akan membuat ceritamu itu menjadi keajaibanmu ketika kau bangun tidur setiap hari di samping orang yang kau cintai.” Kata peri pria itu kepada Dea dengan lembut dan sedih karena dia belum bisa terima jika dia harus menerima Dea sebagai cinta sejatinya, bukan peri wanita yang dipilihnya dulu.

“Kenapa kamu tidak berjuang untuk peri wanita kamu? Aku sendiri juga tidak ingin merebut cinta yang bukan milik aku karena aku pernah tau rasanya bagaimana mencintai dan benar-benar berharap bisa menghabiskan waktu sekali lagi dengan yang dicintai.” Dea mengatakan pendapatnya tentang cinta kepada peri pria itu. Seperti halnya dia yang tidak percaya akan cinta bertepuk sebelah tangan sehingga dia tetap menghubungi Raka walau Raka cuek kepadanya. Dea tau dia cinta kepada Raka, pasti Raka juga cinta ke dia.

“Apakah cinta bertepuk sebelah tangan itu ada jika kita ini benar-benar cinta?” tanya Dea kepada peri pria itu.

“Itulah inti kisah kita. Ada bagian cerita yang hilang dari dunia kami, dan bagian itu ada padamu Dea. Kamulah jawaban dari pertanyaan itu. Perkawinan kita akan menjawab hal itu.” Kata peri pria itu dengan bijak. Dia tau bahwa seberat apapun, dia harus menjadi lelaki yang bijak dan mengemban tanggung jawab yang memang seharusnya dia emban. Dari kecil dia selalu kagum dengan manusia yang akan datang ke dunianya untuk melengkapi cerita yang hilang, tetapi dia sendiri benar-benar tidak menyangka bahwa dialah peri pria terpilih yang harus mengorbankan cintanya untuk akhirnya bersatu dengan manusia itu sehingga cerita penting itu lengkap.

“Tetapi ada kisah yang lebih keren lagi selain cinta. Uang. Kamu tau tidak? Dengan 30 hari kerja, tantangan yang sebenarnya adalah bagaimana bisa mendapatkan 100 rb/hari bahkan lebih, jadi sebulan bisa mendapat berapapun yang kamu targetkan setiap harinya. Iya, itu sebenarnya pertanyaan besarku juga selain cinta. Apakah kau bisa membantuku Raka?” Kata Dea dalam hatinya sembari menuliskan cerita hari itu di buku yang diberikan peri pria itu kepadanya.

Dea tiba-tiba terkesiap karena peri pria itu tiba-tiba mendekap Dea di bawah pelukannya seperti ingin melindungi dia dari sesuatu dan menempelkan telunjuknya di bibirnya seakan meminta Dea untuk diam. Mata Dea tiba-tiba terbelalak tidak percaya ketika melihat sepasukan tentara tengkorak yang berjalan dengan langkah berderap-derap dari balik rengkuhan peri pria itu.

“Tahan nafasmu sebentar hingga aku memindahkanmu ke tempat yang aman.” Peri pria itu berkata pelan dan menempelkan tangannya di sekitar mulut Dea untuk memastikan nafas gadis itu benar-benar tertahan. Dalam sekejab mereka berpindah tempat ke suatu daerah lain yang benar-benar berbeda dengan daerah yang dilihatnya tadi. Langit berwarna hitam kelam dengan ribuan bintang-bintang yang membentuk tulisan-tulisan aneh terpampang di sekitarnya. Tetapi anehnya kelamnya langit itu seperti siang hari.

“Benar-benar dunia yang aneh.” Kata Dea dalam hati. “Sudahlah, kamu juga akan terbiasa dengan semua ini. Sebentar lagi kita akan bersatu selama-lamanya.” Seru peri pria itu kepada Dea dengan nada sedih yang menyelimutinya di akhir.

Dea merasa benar-benar keki. Di satu sisi dia sangat senang karena ada sosok serupa dengan Raka yang sangat dekat dengan dia dan dia bisa bertingkah seakan adalah benar jika mereka adalah pasangan. Tetapi di sisi lain, Dea mengetahui bahwa peri pria itu tidak mencintai dia, hanyalah sebuah tugas agung yang sedang dia jalankan untuk menemani Dea dan menerima Dea sebagai pasangan dia untuk menggenapi cerita itu.

Di tengah kebisuan dan keheningan yang terjadi di antara mereka berdua, tiba-tiba seuntai bunga mawar merah menyala tergeletak manis di depan Dea, membuat dia bertanya-tanya apakah yang sedang dipikirkan peri pria itu ketika melakukannya. Jujur, semenjak berada di dunia peri ini, Dea benar-benar merasa sangat tergantung kepada peri pria ini, tidak tau apa yang akan bisa dia lakukan jika tiba-tiba peri pria ini tiba-tiba meninggalkan dia. Tidak seperti cerita-cerita film yang terdapat teman baru yang bisa dia kenal jika berada di dunia lain, di dunia peri ini, Dea hanya mengenal peri ini.

“Duniaku ini beda dengan duniamu. Seaneh apa kamu memandangnya, dunia ini adalah dunia sempurna yang aku yakin setiap manusia di duniamu menginginkan berada di tempatmu jika kau tau hal apa saja yang bisa kau dapatkan jika akhirnya kita menikah.” Peri pria itu mengatakan sesuatu hal yang memang menjadi pemikiran Dea dari tadi, hal asik apa yang membuat setiap manusia sepertinya tidak puas dan mengimpikan suatu petualangan dunia lain yang membuat mereka jadi tokoh utamanya.

“Sebenarnya jika boleh memilih, duniamu adalah dunia terbaik. Kalian bisa menangis, tertawa, membenci, memaafkan, melukai, melupakan, berbohong, dan segalanya yang bisa kalian lakukan dan selalu akan ada pengampunan dari yang maha agung jika kalian mau menerima Dia sebagai penanggung kesalahan kalian. Dunia kami adalah dunia yang keras. Hukuman berlangsung detik itu juga jika kita berbuat salah.” Peri pria itu menuturkan langsung kepada Dea tentang kebenaran dunia peri pria itu.

“Jika kau memperhatikan, ada beberapa peri yang tidak memiliki tangan, kadang hanya memiliki sebelah kaki, atau kadang memiliki wajah yang buruk dan tidak bersinar, semua hal jelek yang bisa kau bayangkan tentang kekejaman neraka. Iya, neraka yang disediakan oleh yang maha pengampun bagi kaum kalian yang suka untuk melakukan dosa dan tidak bertobat dan berbalik arah ke jalan yang benar.” Seru peri pria itu sembari menyadarkan Dea bahwa benar ada beberapa peri yang tidak sesempurna gambaran yang dia tahu dari film-film.

“Dan tahukah kamu hukuman apa yang paling kejam di dunia kami?” Peri pria itu bertanya kepada Dea dan memberikan waktu yang cukup panjang untuknya berpikir. Dengan ketenangan yang menyelimuti mereka berdua waktu itu, Dea sadar bahwa peri pria itu serius dengan pertanyaannya dan membuat Dea berpikir keras kira-kira jawaban terbaik apa yang bisa dia berikan.

Setelah perenungan yang panjang Dea menjawab bahwa hukuman terkejam adalah diperbolehkan hidup dari hari ke hari, tetapi merasa bahwa hidup itu sendiri tidak bermakna karena tidak ada mimpi yang ingin diwujudkan. Dengan tertawa keras peri pria itu membenarkan jawaban yang diberikan Dea. Keyakinan peri pria ini bahwa pasti bukan manusia yang biasa yang akan menjadi tokoh utama dalam ceritanya adalah suatu kebenaran.

“Kamu memang wanita yang berbeda. Sayang sekali Raka, atau siapakah nama manusia yang kau cintai itu tidak menyadari kecerdasanmu.” Imbuh peri pria itu dengan nada serius setengah bercanda.

“Aku tidak tau. Mungkin saja aku terlalu cerdas sehingga membuat Raka takut kepadaku, tetapi setelah aku pikirkan matang-matang, sebenarnya aku juga belum siap untuk mengatakan iya jika seandainya dia melamar aku.” Jawab Dea yakin. Akhirnya dia menyadari bahwa mungkin selama ini pandangannya sangat sempit akan arti pernikahan. Beruntung hari ini dia diberikan waktu untuk berpikir ulang akan keputusan dia dalam memperhatikan satu pria saja di antara berjuta-juta pria yang ada di dunia ini.

“Bunga itu bunga mawar kan? Kenapa kau menaruhnya di hadapan aku?” Dea tiba-tiba bertanya akan kejadian yang mengusiknya barusan.

“Bunga terakhir. Itu adalah bunga pertama dan bunga terakhir yang akan aku berikan kepadamu. Kematian pertama dan kematian terakhir dari setangkai bunga untuk menunjukkan kepadamu bahwa cinta itu seharusnya membawa kehidupan, bukan kematian. Cinta kadang tidak seromantis yang kamu baca di buku-buku atau kamu lihat di film. Pernikahan yang sederhana adalah lebih baik daripada kisah cinta yang hebat, tetapi tidak bisa bersatu.” Peri pria itu sekali lagi mengeluarkan kata-kata bijaknya.

“Seringkali kamu menangisi orang yang salah dan membiarkan orang yang tepat terluka hatinya karena hatimu tidak belajar merelakan orang yang salah itu. Itulah kesalahanmu Dea.” Peri pria itu mengatakan ucapan itu dengan biasa saja seakan dia seorang dosen yang sudah meneliti suatu persoalan dengan mendalam.

“Aku pernah berkata kepadamu bahwa sebuah nama itu penting. Dea, aku mengetahui semua ceritamu di detik kau melihatku dengan mata hatimu. Sayang sekali kau belum mencintaiku seperti komitmen yang sudah aku ambil untuk mencintaimu.” Peri pria itu menambahkan lagi perkataannya dengan ringan dan renyah seakan mengejek Dea karena sampai detik itu dia masih menganggap peri pria itu hanya seorang peri aneh yang bisa menemani dia menikmati sedikit petualangan di dunia peri.

“Aku ini pasanganmu. Kamu harus belajar untuk hanya melihat aku di antara banyak peri pria yang sebentar lagi akan menggoda kamu untuk menarik perhatianmu.” Kata peri pria itu dan beranjak pergi dan menghilang.

Dea benar-benar tercekat. Dia merasa takut dalam hatinya karena tiba-tiba ditinggalkan sendirian. Dengan menahan nafas Dea menyakinkan hatinya bahwa mungkin peri pria itu hanya bercanda dan menggoda dia. Tetapi setelah sekian lama dan semakin sunyinya keadaan, peri pria itu juga tidak kembali.

Kira-kira apakah yang bisa dilakukan seorang wanita seperti Dea di dunia asing yang baru saja dia kunjungi ini?

 

Chapter 5: Sesungguhnya

Belum sempat Dea menarik nafasnya untuk yang kesekian kali, dia dikejutkan dengan seorang peri pria tampan yang tiba-tiba muncul di hadapan dia. Seorang peri dengan jubah keemasan dan mahkota benderang di kepalanya. Benar-benar tampan dan benar-benar sangat tampan.

Peri pria tampan itu hanya memandangi Dea dan tiba-tiba menyeringai kejam dan menunjukkan taringnya. Dea yang terkejut dengan refleks memukulkan batu yang dia raih dari dekat kakinya. Tampak kucuran aliran cairan berwarna biru dari pelipis peri pria tampan itu.

Tidak tau apa yang harus dilakukan, Dea memutuskan untuk lari secepat mungkin dan berharap adrenalin bisa membuat dia mengeluarkan energi tersembunyi dia dan membuat dia bisa berlari secepat mungkin. “Raka!” Teriak Dea dengan keras berharap peri pria yang mirip Raka itu datang dan membantu dia.

Dea sebenarnya tau, sedikit banyak tidak mungkin peri pria itu tiba-tiba meninggalkan dia, tetapi apakah benar peri tampan ini adalah peri pria itu? Apakah benar yang diceritakan peri pria itu ataukah mungkin Dea benar-benar bersikap kaku dan mengharapkan seseorang yang benar-benar tulus menemukan dia dan membawa dia kembali ke dunia manusia saja.

Kali ini Dea berhenti berguman karena tiba-tiba dia merasakan bahwa dia berada di pelukan erat seseorang yang semestinya bertubuh lebih besar dari dirinya karena dia merasakan seluruh tubuhnya merasa berat.

“Jadi kamukah wanita terpilih dari dunia manusia untuk menjadi pelengkap cerita kami?” Suara pria yang berat dan keras yang berasal dari sosok yang memeluk dia erat.

“Jadi kamukah wanita keras kepala yang sampai sekarang selalu percaya bahwa tidak ada namanya cinta bertepuk sebelah tangan itu?” Suara itu menambahkan dan melepaskan pelukannya. Meninggalkan rasa dingin yang aneh di sekujur tubuh Dea.

Memantapkan hatinya, Dea mencoba membuka matanya dan mendapati bahwa sosok besar pria seperti raksasa ada di depan dia. Berwarna hijau seperti hulk dan benar-benar bertubuh kekar, tidak ada sayap di punggung dia.

“Kamu akan mendapati jawabanmu ketika kamu menyelesaikan cerita ini dengan peri pria terpilih dari dunia kami. Sebelum kamu menyelesaikan cerita itu, kamu tidak akan pernah bisa kembali ke duniamu.” Seru suara itu yang entah berasal darimana karena mulut raksasa hijau itu tidak bergerak, hanya terlihat sesosok mata merah yang melihat dia dari sosok hijau itu.

Seperti adegan-adegan di film, asap putih tiba-tiba muncul dan mengiringi kepergian sosok hijau besar itu.

Dea benar-benar tidak suka dengan kondisi itu. Tiba-tiba dia teringat akan buku yang diberikan peri pria yang mirip Raka itu dan mencoba bereksperimen dengan buku itu. Dia menuliskan sebuah adegan yang ingin dia jalani di dunia ini.

Dengan kecerdasan akal dan sedikit imajinasi Dea menggoreskan cerita bahwa tiba-tiba peri pria mirip Raka itu muncul dan menjelaskan kepada dia semua hal yang seharusnya Dea benar-benar harus tau dan petualangan apalagi yang harus dia jalani untuk menuntaskan cerita ini secepatnya.

Jujur, kehidupan monoton dan penuh rutinitas yang dia rasakan di dunia manusia serasa lebih menyenangkan daripada dunia asing yang menawarkan seribu satu misteri di hadapan dia. Memang pertama kelihatannya petualangan di dunia yang asing itu seru, tetapi setelah dia memikirkan ulang, terasa lebih berharga keseharian yang dia jalani di dunia manusia dengan Raka dan semua kecuekan dia. Terbersit rasa takut bahwa dia tidak bisa kembali ke dunia manusia lagi dan bertemu dengan Raka membuat dia hampir menangis.

“Kamu mengulangi hal itu lagi. Bukankah aku sudah mengatakan bahwa seringkali kamu meneteskan air mata kamu untuk orang yang salah? Pernahkah kamu dengan sengaja ingin membuat orang yang kamu cintai sedih karena kamu? Coba pikirkan pertanyaan aku.” Peri pria yang mirip Raka itu tiba-tiba muncul dan menyadarkan Dea akan kesalahan dia.

Benar adanya, mungkin Dea pernah dengan sengaja ingin membuat Raka cemburu, tetapi hal itu jikapun sudah terjadi, dia dengan cepat akan kembali kepada Raka dan mengatakan supaya dia jangan cemburu dan mengatakan bahwa dia sayang kepada Raka. Iya, seseorang yang mencintai kamu tidak akan dengan sengaja membuat kamu sedih dan menangis.

“Tetapi aku mencintai Raka.” Jawab Dea pelan.

“Cinta yang dangkal.” Imbuh peri pria itu dengan nada emosi.

“Cinta itu sederhana. Aku dan kamu menjadi satu. Titik. Tidak ada definisi terbaik selain definisi yang aku sebutkan barusan. Sebuah pernikahan yang sederhana dan kelihatan biasa-biasa adalah jauh lebih baik 1000 persen dari kisah cinta berliku penuh air mata dan kenangan tetapi tidak bersatu.” Peri pria itu mengingatkan sekali lagi kepada Dea tentang definisi cinta yang benar.

“Kamu dari mana?” Tanya Dea dengan marah. “Aku tidak percaya dengan dunia ini, aku rasa aku hanya bermimpi. Aku harap mimpi ini cepat usai.” Seru Dea dengan kejengkelan 1000 persen.

“Begitulah yang diserukan tiap manusia yang menjadi tokoh utama terpilih. Tetapi duniamu akan menjadi dunia yang datar tanpa kisah cinta fantastis jika tidak ada manusia terpilih yang menjalani kisahnya di dunia kami. Romeo Juliet, Hamlet, Siti Nurbaya, Harry Potter, Twilight, dan sebutkan apalagi cerita yang kalian sukai. Menurut kamu darimana semua imajinasi itu berasal? Bahkan Doraemon pun diciptakan oleh seorang manusia yang tersasar ke negeri dongeng sehingga dia bisa menceritakannya. Cinderela, Putri Tidur, Putri Duyung, dan semua kisah dongeng.”

Belum sempat peri pria itu melanjutkan kata-katanya, Dea memotong dengan menegaskan apakah semua penulis cerita itu pernah menjadi tokoh utama di negeri peri itu. Dan peri pria itu menjawab iya dengan yakinnya. Dan dia mengingatkan Dea untuk berlaku menjadi dirinya sendiri supaya kisah mereka juga menjadi sebuah kisah yang bisa diceritakan turun menurun di kemudian hari kelak. Tidak perlu berlaku menjadi seseorang yang lain karena jika dia berlaku seperti itu, hal itu hanya akan menimbulkan akhir cerita yang beda dan kemungkinan dia tidak akan bisa kembali ke dunianya.

“Banyak kisah orang hilang di duniamu. Aku rasa sebagian besar mereka sedang berada di negeri kami dan akhirnya harus benar-benar berusaha mengenali diri mereka yang semula dan mengulang cerita dari awal. Tetapi seringkali walaupun diulang, cerita itu sudah berubah karena tokoh utamanya sudah memiliki sifat yang berubah. Jadi aku peringatkan kamu di awal. Ada satu orang yang akhirnya berhasil kembali ke duniamu, tetapi kebanyakan hanya berulang-ulang kembali ke cerita yang lama karena mereka tidak percaya bahwa diri mereka cukup berharga untuk menjadi tokoh utama. Hanya penerimaan diri yang bisa membuat kamu menjadi tokoh utama yang terbaik Dea.” Kata peri pria itu dengan bijak, sebijak kelembutan pancaran matanya yang merasuk di hati. Mengingatkan Dea akan Raka dan kelucuannya dulu ketika mereka belum mengetahui bahwa sebuah kisah panjang akan mewarnai hari-hari mereka setelah suatu peristiwa terjadi.

“Hal terbaik tentang cinta adalah sebelum cinta itu bersatu.” Kata peri pria itu pelan.

“Cinta terbaik adalah cinta yang muncul dari persahabatan. Sahabatmu, kekasihmu, belahan jiwamu. Itulah cinta terbaik.” Peri pria itu menambahkan kata-kata bijaknya pelan seraya mengelus lembut kepada Dea. Dan Dea benar-benar merasa dilindungi dengan elusan di kepala itu, suatu perasaan yang dulu dia juga pernah rasakan ketika dia meminta Raka mengelus kepalanya sambil memandang foto seseorang di masa lalunya dengan pacarnya yang terpampang di Facebook orang itu. Elusan di kepala untuk menentramkan rasa sedih dan perih yang menghujam hatinya melihat foto seseorang di masa lalunya itu. Perasaan pedih untuk menyadari kenyataan bahwa mungkin benar cintanya hanya bertepuk sebelah tangan saja.

“Nafsu diijinkan ada untuk menjadi sesuatu yang membuat mereka saling membutuhkan dan bersatu dalam suatu keromantisan seksual yang seharusnya hanya terjadi dengan pasangan kalian. Cinta yang datang sebelum persahabatan terjadi mungkin bisa menjadi cinta yang abadi, tetapi cinta yang datang setelah persahabatan yang manis adalah yang terindah.” Peri pria itu mengakhiri kata-kata bijaknya.

“Di duniaku, cinta terindah adalah cinta yang hadir dengan tiba-tiba. Cinta yang datang dengan tiba-tiba kepada salah seorang sahabat dekatmu, bukan cinta yang datang dengan tiba-tiba dengan seorang asing yang baru kau kenal.” Kata peri pria itu pelan.

“Romeo Juliet?” Tanya Dea kepada peri pria itu untuk menunjukkan ada juga cinta pada pandangan pertama.

“Itu seribu satu di antara banyak cerita. Tetapi tadi kan aku sudah mengatakan bahwa cinta yang datang tanpa persahabatan mungkin bisa abadi, tetapi itu seribu satu.” Jawab peri pria itu sembari membawa Dea ke dekapan pelukannya.

Suatu perasaan hangat menyelimuti hati Dea dengan tiba-tiba. Perasaan aman karena sepertinya dia bisa melimpahkan segala beban yang dia pikul selama ini di pelukan pria itu. Entah kenapa suatu pelukan selalu membuat dia merasa tenang. Dan pria ini bisa memeluk dia karena dia mirip dengan Raka.

“Sudah, lepaskan. Aku tidak suka.” Seru Dea dengan tiba-tiba melepaskan pelukan peri pria itu.

“Tidak setiap orang bisa memeluk aku. Tadi aku ijinkan kamu memeluk aku karena aku terbawa suasana saja, tetapi tidak ada kesempatan kedua.” Kata Dea tegas. Ada rasa penyesalan karena dia menjadi wanita yang bodoh lagi. Cukup sudah drama air mata karena sentuhan yang belum waktunya. Dan Dea memutuskan seberapa pun sayang dia kepada seseorang, dia akan menjaga dirinya hingga hari pernikahan mereka.

“Sangat menyakitkan jika kau menyadari bahwa ada tangan lain yang memegang dirimu selain tangan cintamu, seberapa sayang kita kepada kekasih kita. Hal terbaik yang bisa kita lakukan adalah saling berjauhan dan menjaga diri dari segala sentuhan, walaupun hal itu berat.” Kata Dea menyatakan prinsip barunya kepada peri pria itu.

“Wanita bodoh mungkin merasa bahwa pelukan kecil atau dekapan, atau apapun itu adalah tanda sayang kepada pria yang dia sayangi, tetapi wanita pintar tahu bahwa menjauhkan kekasihnya dari nafsu adalah hal terbaik untuk membuat mereka langgeng hingga ke pernikahan.” Seru Dea sambil beranjak berdiri. Dengan satu seruan dia mengatakan bahwa dia ingin peri pria itu juga berdiri dan cepat-cepat mengantarkan dia ke pesta pernikahan atau apapun itu.

Dea sudah tahu apa yang harus dia lakukan, membatalkan pernikahan itu dan dia akan pulang dengan selamat di dunia manusia lagi. Sangat simpel. Dan Dea benar-benar ingin mengakhiri kisah konyol ini. Cinta bertepuk sebelah tangan itu ada. Suatu bukti yang seharusnya sudah dia tahu dari dulu.

“Cintamu tidak bertepuk sebelah tangan Dea.” Peri pria itu tiba-tiba mengeluarkan suaranya. Dea terkesiap karena dia sadar bahwa peri pria ini bisa membaca pikiran dia.

Tapi entahlah bertepuk sebelah tangan atau tidak, cinta itu sekarang sudah musnah dari kamus dia. Cinta yang baru benar-benar bisa membuat dia lupa. Raka membuat dia lupa bahwa dia pernah mencintai seseorang dengan begitu mendalam hingga menangis sedih ketika mendapati pria yang dia cintai berpasangan dengan wanita lain.

“Aku sudah tidak ambil urusan lagi. Seperti kata kamu, cinta itu aku dan kamu menjadi satu. Tidak ada definisi yang terbaik lagi. Jika cinta yang aku perjuangkan tidak memperjuangkan aku balik, itu berarti itu bukan cinta. Habis urusan.” Seru Dea ketus.

“Hal itu juga salah. Kadang ada seseorang yang begitu mencintai kamu dan ingin bersatu dengan kamu, tetapi karena suatu hal dia sangat takut dia tidak bisa membahagiakan kamu.” Kata peri pria itu pelan.

“Aku pernah mencintai dengan setulus hati dan aku benar-benar tahu bahwa aku bisa menerima dan mentolerir kelemahan dia 100% dan bahkan akan dengan bangga mengatakan kepada semua orang bahwa dia cintaku. Dan sekarang malah aku yang merasa menjadi itik buruk rupa karena mencintai Raka, aku rasa sesakit apa, aku harus menerima bahwa kisahku dengan Raka itu sudah berakhir.” Dea berseru dengan menggebu-gebu seakan kata-kata itu adalah apa yang dia inginkan. Tetapi jauh dalam lubuk hati terdalam, dia mengetahui bahwa dialah yang merasa tidak pantas menjadi pasangan yang sempurna untuk Raka. Terasa ada beban yang menghujam batinnya jika Raka benar-benar akan menjadi pasangan hidupnya.

“Untuk itulah kau menjadi tokoh utama terpilih Dea. Kau akan mengetahui jawaban kamu di pesta pernikahan kita. Siapakah cinta sejatimu.” Kata peri pria itu dengan dingin. Memang benar tidak ada cinta yang dia rasakan kepada Dea, tetapi suatu panggilan agung untuk menjadi pasangan Dea membuat dia harus mengesampingkan cintanya yang mendalam kepada peri wanita pilihan dia.

“Kamu tau tidak apa nasihat terbaik jika menyangkut cinta?” Seru Dea ketus tapi dengan nada egois ingin pertanyaan dia dijawab.

Peri pria itu hanya memasang tampang jutek juga menanggapi pertanyaan Dea. Dia tidak menyangka Dea bukan seorang perempuan manis lembut seperti peri wanita pilihan dia.

“Nasihat terbaik mengenai cinta adalah tutup mulutmu, hentikan drama dan sensasi, dan mulailah bertanggung jawab akan hidupmu dengan memiliki sendiri mimpimu dan keberanian mewujudkannya. Cinta terbaik adalah cinta yang bisa menjadi seorang penolong luar biasa untuk bersama mewujudkan mimpimu. Nasihat terbaik kedua mengenai cinta adalah dengan mencintai dirimu sendiri sehingga hatimu mengetahui siapakah yang pantas kamu cintai itu.” Ya, itu jawaban Dea kepada pertanyaan dia sendiri. Berada beberapa saat di dunia asing dengan sesosok makhluk yang mirip dengan cintanya membuat dia sadar bahwa bukan fisik yang membuat dia cinta, karena peri pria ini hanya memiliki wajah Raka, bukan Raka, seperti cerita Inuyasa dan Kagome saja.

Chapter 6: Karma

“Mengapa hatimu bersedih Dea?” tanya peri pria itu saat merasakan perasaan perih di hatinya sendiri. Keajaiban pasangan adalah terbaginya perasaan yang dirasakan pasangannya di hatinya sendiri. Luka yang terasa lebih sakit ketika pasangannya terluka.

“Cinta…” Dea menyahut dengan lemah. “Tidak tau sampai kapan aku harus membayar karmaku karena seseorang….” seru Dea pelan sembari mengingat seseorang di masa lalunya. Seseorang yang baik hati dan lucu, tetapi karena kesalahan Dea seseorang itu menjadi pria yang kejam terhadapnya.

“Apakah kamu tahu apa kesalahan terbesar yang bisa dilakukan seorang wanita?” tanya Dea pelan sembari merasakan perih di hatinya sendiri.

Peri pria itu menyahut dengan mengerutkan alisnya pertanda dia tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan oleh Dea.

“Aku bermain api dengan temannya untuk mengetahui apakah dia merasa cemburu atau tidak. Dan masalah terbesar terjadi ketika permainanku membawa diriku malah lebih menyukai temannya daripada dirinya. Dari situ kisah cintaku menjadi suatu kisah pahit yang belum pernah terjadi di hidupku. Kisah kepahitan beruntun, bahkan Raka sendiri juga mungkin adalah karmaku karena dia juga dekat dengan teman aku. Membawa luka di hati. Aku baru tau bagaimana rasanya sakit hati karena orang yang kau cintai lebih dekat kepada temanmu daripada dirimu…” ujar Dea pelan. Menyadari bahwa memang dialah yang bersalah dan sampai sekarang permintaan maaf yang dia ulurkan kepada pria itu masih belum diterima. Seorang pria yang pernah menceriakan harinya, dan mungkin akan menjadi pria yang sangat mencintai dia jika saja dia mau memberikan waktu kepada pria itu untuk memahami bahwa dia juga mencintai Dea.

“Aku ingin mengetahui bagaimana perasaan dia kepadaku. Aku merasa aneh ketika temannya berkata bahwa dia tidak pernah bertanya mengapa aku lebih dekat kepada temannya daripada kepada dirinya. Hal itu saja membuat aku merasa lemah dan mengambil kesimpulan bahwa mungkin cintaku hanya bertepuk sebelah tangan saja.” Dea melanjutkan perkataannya sembari mengingat cerita lamanya.

“Wanita kecilku, aku rasa episode melo cukup di sini dulu. Aku ingin memperlihatkan sesuatu kepadamu.” peri pria itu berkata dengan nada riang sembari menarik tangan Dea pelan. Peri pria itu membawa Dea terbang ke suatu tempat yang penuh dengan berbagai peri yang sedang sibuk membuat pakaian.

“Duniaku tidak mengenal uang. Duniaku hanya mengenal cinta. Dan untuk urusan cinta. Sekali hubungan itu putus atau retak, hal terbaik yang bisa kau lakukan adalah meninggalkan hubungan itu. Berusaha menyatukan atau menambal retakannya hanya usaha sia-sia. Penghianatan yang pernah dilakukan akan selalu menjadi duri di hubungan kalian selanjutnya.” Peri pria itu berkata bijak seraya memperlihatkan sebuah gaun panjang yang sangat cantik berwarna hijau.

Dunia peri tidak mengenal uang. Setiap hari para peri melakukan pekerjaan yang mereka sukai dan menjadi bahagia ketika peri lain memuji hasil pekerjaannya. Para peri tidak membutuhkan makanan, minuman, tidur, dan hal-hal yang dibutuhkan manusia untuk bertahan hidup. Ukuran kekayaan mereka adalah seberapa banyak peri lain yang menjadi bahagia karena keberadaan mereka.

“Gaun itu cantik.” Kata Dea kepada peri pria itu. “Tapi apa aku pantas memakainya?” Kata Dea dalam hati.

“Kamu pantas kok memakainya.” Kata peri pria itu sembari menyodorkan gaun itu kepada Dea. “Aku memberikannya dengan cinta kepadamu. Segenap cinta yang aku ingin hadirkan di hatiku hanya untukmu.” Kata peri pria itu sambil mencoba tersenyum.

Beberapa saat bersama Dea sangat membuka mata peri pria itu bahwa perempuan ini ternyata cukup menarik. Sangat berbeda dengan peri-peri wanita yang pernah dikenalnya, bahkan walaupun Dea adalah wanita yang keras kepala, suka menangnya sendiri, dan tidak dewasa, ada daya tarik aneh yang dia miliki yang membuat peri pria ini sedikit merasa ingin mengenalnya lebih dekat.

“Manusia yang kau cintai pasti adalah manusia paling bahagia di dunia. Mendapatkan seorang wanita yang sangat berbeda dari biasanya. Apa adanya.” Kata peri pria itu dalam hatinya sembari mengingat saat-saat yang dia lalui bersama Dea.

“Halo!” Seru Dea mengejutkan peri pria itu dari lamunannya. Peri pria itu tersentak dan ternganga sedikit mulutnya ketika melihat Dea dengan gaun yang dia pilihkan untuk dipakainya. Dea terlihat sangat berbeda. Cantik.

“Benar-benar wanita yang tertutup lumpur. Apakah karena inilah mereka memilihku? Supaya aku menampilkan keindahan hati dan pesona alami yang selama ini tertutup oleh sifat dan temperamen jeleknya?” Kata peri pria itu dalam hatinya.

“Gaun itu bagus.” Kata peri pria itu kepada Dea. Lidahnya tercekat, bahkan hanya untuk mengatakan kata cantik saja tidak bisa. Apakah yang sedang terjadi di hatinya. Ada perasaan berbeda yang baru saja dia rasakan, perasaan yang sungguh berbeda, tidak seperti yang dia rasakan kepada peri wanita pilihan dia.

“Ya sudah. Aku suka gaun ini, dan sebenarnya aku juga ingin basah sekalian. Aku ingin benar-benar seperti peri. Aku ingin seperti peri wanita yang kau pilih itu. Aku ingin juga mempunyai rambut panjang menjuntai yang cantik dan lentik dengan berbagai warna dunia yang dimilikinya. Bisakah aku juga memiliki rambut seperti rambutnya?” Dea bertanya kepada peri pria itu dengan ragu-ragu.

Setidaknya peri pria itu bisa mengelus rambutnya ketika dia merindukan peri wanita itu. Dia sendiri tidak boleh egois. Wajah peri pria itu saja sudah membuatnya senang karena seperti bersama Raka setiap waktu. Barter yang tidak mengecewakan juga walaupun sebenarnya dia ingin memiliki rambut panjang hitam yang berombak layaknya para putri Jepang.

“Aku bisa mewujudkannya.” Peri pria itu menjawab pelan dan tiba-tiba saja mereka berada di suatu tempat yang penuh dengan potongan rambut berwarna-warni di mana-mana. Berbagai juluran ranting-ranting daun anggur menjadi hiasan tempat itu.

“Angela adalah peri tercantik yang sangat suka dengan rambut. Dari kecil hingga sekarang dia tidak pernah merubah kesenangannya sehingga bakatnya adalah yang tertajam. Ibarat sebuah besi, dia sudah berhasil mengasah besi tumpul itu menjadi sebilah pisau yang sangat tajam. Pisau yang bisa memutuskan helaian benang yang dijatuhkan di atasnya.” Peri pria itu berkata kepada Dea sembari mengajaknya menemui salah satu peri wanita yang benar-benar memiliki rambut yang sangat bagus. Berkilau sehat dan sangat terlihat lembut seperti sutra. Benar-benar mengingatkan dia akan iklan sebuah produk sampo dari suatu perusahaan.

Peri wanita itu memandang heran kepada Dea dan kemudian memandang heran kepada peri pria itu. Dea yang merasa keki menyimpulkan apakah mungkin peri wanita ini adalah teman peri wanita pilihan peri pria itu sehingga peri wanita ini tidak henti-hentinya memandang Dea dari bawah ke atas dan ke bawah dan ke atas lagi. Membuat dia menjadi salah tingkah.

Ada tatapan sedih yang terpancar dari mata peri wanita itu, juga tatapan sedih yang sama di pancaran peri pria itu. Dea tidak berani mengatakan apapun, jika ternyata dugaan dia benar. Dialah yang seharusnya menjadi pihak yang tau diri dan seharusnya tidak berusaha melakukan apapun untuk merajuk atau berusaha berlaku baik kepada peri pria ini. Kadang cinta bisa datang karena terbiasa. Dan cinta seperti itu kadang bisa berakhir buruk jika pihak yang datang menjadi pihak ketiga di antara sebuah cerita cinta yang sedang berlangsung.

 

 

Chapter 7: Masa lalu

“Aku tidak ingin menikah!” Kata Dea keras-keras setelah Angela selesai menata rambutnya. Gelombang lembut rambutnya sekarang seperti milik si Ariel putri duyung, ikal, tebal, dan berkilau.

Angela hanya tersentak mendapati Dea tiba-tiba melontarkan isi hatinya di tengah keheningan mereka bertiga ketika Angela sibuk menata rambut Dea.

Peri pria itu hanya terdiam mendengarkan calon pasangannya mengatakan hal itu. Dalam hatinya dia juga tidak tau apakah saat ini adalah saat yang tepat untuk sebuah kata sakral itu. Dia sendiri masih ingin menjadi peri yang bebas, walaupun terkadang dia pernah merindukan jika bisa bangun di pagi hari dan memeluk peri wanita pilihannya dulu itu dengan refleks untuk mengungkapkan sayangnya.

“Mengapa harus menikah jika kita bisa bersahabat selamanya dan hanya bertemu kadang-kadang saja untuk melepas rindu dan berkasih-kasihan ketika ingin disayang?” Tanya Dea serius kepada peri pria itu.

Peri pria itu hanya terdiam sembari mengucapkan sampai jumpa kepada Angela yang hanya terbengong-bengong mendapati Dea mengucapkan bahwa dia tidak ingin menikah.

“Kamu hanya takut saja Dea. Kamu takut bahwa suatu saat perasaan cintamu kepada pasanganmu akan lenyap dan kamu menyesal kenapa kamu dulu menikahi dia.” Peri pria itu berkata bijak sembari membawa Dea terbang menjauhi tempat Angela.

“Seperti membeli suatu barang. Engkau menyukainya, membayar harganya, dan kemudian mendapati ada kecacatan yang tidak kau sadari ketika memilihnya. Seperti itulah pernikahan.” Peri pria itu menambahkan perkataannya.

“Yang sempurna itu adalah yang tidak sempurna. Hanya orang gila yang tinggal di dunia yang sempurna. Terisolasi dengan imajinasi dia. Tapi kamu tidak gila kan?” Kata peri pria itu sembari tersenyum manis menghangatkan hati Dea.

Dea memikirkan tentang hubungan dua orang yang terjalin seperti di film-film. Bisa tidur bersama tanpa ikatan, bahkan memiliki anak tanpa hubungan pernikahan. Kadang dia juga ingin mengetahui bagaimana rasanya jika dia bisa menikahi lebih dari satu pria. Menyayangi lebih dari satu pria dan bisa memiliki mereka semua. “Tetapi apakah bisa?” Kata Dea dalam hatinya.

“Cinta itu egois. Dia tidak mau berbagi. Jadi tidak mungkin kamu bisa mencintai 2 orang dengan adil. Kamu pasti akan lebih mencintai salah seorang di antaranya. Barang kesayangan saja jika kau memiliki barang yang sama, kau pasti akan memperlakukan salah satunya dengan lebih berbeda jika kau menganggap yang satunya lebih istimewa.” Peri pria itu berkata ketus mendapati bahwa pasangan yang dipilihkan pencerita untuknya memiliki pikiran untuk menduakannya. Bahkan berencana untuk berpasangan dengan orang lain selagi menjadi pasangan dia.

“Mungkin pernikahan bukanlah kata yang cocok untuk aku. Entahlah. Tapi benar katamu. Selama ini aku takut memikirkan untuk menikah karena aku sendiri bingung ini perasaan yang bisa bertahan selamanya ataukah hanya sementara karena nafsu atau apalah itu.” Dea mengakhiri perdebatan dalam hatinya.

Setidaknya sekarang Dea berada di suatu dunia di mana cinta adalah segala-galanya. Tidak kebetulan jika Dea menjadi manusia terpilih untuk mengetahui jawaban pertanyaan yang mungkin dipertanyakan oleh seluruh manusia yang pernah hidup di dunia. “Apakah cinta itu dan benarkah orang yang dia cintai itu adalah belahan jiwanya?”

“Aduh,” seru Dea dengan tiba-tiba sembari memegang sebelah matanya. Setelah mengusapnya, Dea hanya tersenyum mendapati sehelai bulu mata yang terselip di matanya. Ada seseorang yang rindu kepadanya. Dan hanya satu nama yang dia harapkan untuk merindukan dia, Raka.

Peri pria itu hanya mengatupkan bibirnya semakin erat. Berkomitmen mencintai dia memberikan dia kekuatan untuk merasakan apa yang Dea rasakan. Dan perasaan yang Dea rasakan untuk manusia yang dia cintai menimbulkan sedikit rasa tidak suka karena walaupun Dea tau mereka akan menikah, dia masih bisa berpikir tentang orang lain.

“Bulu mata yang jatuh itu pertanda ada suatu ketidakberdayaan yang dirasakan seseorang ketika mengingat kamu. Kekuatan ketidakberdayaan yang membuat semesta mencabut sehelai bulu matamu untuk membuatmu sadar bahwa kamu berharga karena dirindukan.” Peri pria itu tiba-tiba mengutarakan isi hatinya kepada Dea dengan suara yang beda. Penuh nada kecemburuan karena bulu mata tidak akan tercabut jika orang yang merindukan Dea tidak berada di hatinya.

“Pasanganku sedang dirindukan oleh seseorang yang juga ada di hatinya.” Peri pria itu berkata di hatinya sembari mengatupkan bibirnya erat-erat menahan amarah.

Sentuhan lembut dengan jari telunjuk di bibir peri pria yang terkatup itu menyadarkan peri pria itu bahwa Dea memperhatikan dia dari tadi. “Aku hanya bercanda.” Dea berkata pelan.

Mata Dea menewarang ketika dia mengingat seorang artis cantik yang seharusnya bisa mendapatkan pria yang lebih baik daripada seorang pria yang ternyata tidur dengan artis cantik lain yang sudah menikah. Cinta buta yang membuat seorang wanita cantik itu menjadi bodoh dan menurutkan nafsunya untuk tidur dengan seseorang yang bahkan belum berjanji setia menjadikan dia pasangan sehidup sematinya.

“Seks itu mulia. Jika seks itu dilakukan oleh sepasang insan yang sudah mengikarkan janji setianya di hadapan Tuhan. Manusia bukan binatang yang bisa berkelamin seenak hatinya dengan manusia mana saja yang ada di dekat dia ketika dia sedang bernafsu.” Dea berkata bijak kepada peri pria itu.

Pernikahan itu sebenarnya hal yang indah. Sepasang manusia, lelaki dan perempuan yang akhirnya menyatu menjadi satu daging dan menjadi dewasa bersama. Menjalani hari berdua, saling tolong menolong satu sama lain. Pernikahan adalah sekolah cinta terbaik, hadiah Tuhan untuk mengingatkan manusia bahwa surga itu ada jika dia berhasil mendapatkan pasangan yang setia. Dan mengingatkan kengerian neraka jika dia berpasangan dengan manusia yang keji yang hanya menikahinya karena nafsu.

“Sudahlah. Aku suka kamu mau berkomitmen denganku walaupun hatimu masih memanggil peri wanita itu. Itu saja sudah cukup. Aku suka hati pria yang setia. Beruntung aku menjadi pasanganmu. Aku yakin cerita ini akan berakhir bahagia.” Dea berkata dengan nada gembira kepada peri pria itu. Dari buku yang dibacanya, dia memang akan menikah, tetapi dia harus membatalkan pernikahan itu supaya dia bisa pulang ke dunia manusia, atau dia akan tinggal di dunia peri dan benar-benar berpasangan dengan peri pria yang menikahi dia.

“Hafizah-Sembilan Band.” Kata Dea pelan kepada peri pria itu.

Pernah ada suatu masa di dalam hidup Dea ketika dia menempuh jarak begitu jauhnya, hanya untuk bisa berjumpa dengan seseorang yang ternyata di waktu Dea begitu merindukan dia setengah mati, orang ini asik sms dan telpon dengan teman wanitanya. Bahkan menanyakan tentang teman wanitanya itu kepada salah seorang temannya. Iya, lagu Hafizah yang dulu dia dengarkan berulang-ulang di bus yang membawa dia ke tempat itu untuk bertemu dengan seseorang yang menawan hatinya. Orang yang bernama Raka, dan sekarang mungkin dia harus relakan karena cinta mungkin sudah pergi karena telalu lama menunggu.

“Sudahlah. Kamu benar. Mungkin aku hanya takut saja jika ternyata ini nafsu, bukan cinta. Ketakutan bahwa jika ini bukan cinta, maka akan ada saat hanya komitmen saja yang mempertahankan pernikahan itu, ketika cinta telah pergi. Seperti dua manusia yang hidup bersama, tidur bersama, tetapi tidak seperti saat mereka menikah dulu.” Dea berkata pelan sambil menatap langit. Hal yang dia tau biasa dilakukan tokoh-tokoh film ketika memikirkan masa lalu. Masa lalu. Raka adalah masa lalunya. Masa lalu yang seharusnya menjadi pelajaran bahwa cinta itu memang seperti itu, dan betapa dia juga rindu dicintai seperti dia mencintai Raka. Perhatian yang terus menerus walaupun orang yang dicintai tidak membalasnya.

Peri pria itu hanya terdiam dengan perasaan wanita yang berada di sampingnya. Dia mengetahui bahwa cinta mungkin tidak akan hilang, tetapi perasaan tersakiti yang besar yang membuat cinta itu sendiri takut untuk lebih disakiti jika dia terus berjuang untuk cinta yang mengacuhkan dia.

 

Chapter 8: Impian setiap orang

“Hari ini full dengan Kahitna ya?” Kata peri pria itu pelan sembari memandang Dea yang tersenyum-senyum sendiri dalam hatinya.

Perasaan cinta mulai tumbuh di hati peri pria itu melihat keseharian Dea yang apa adanya. Wanita yang begitu berbeda, mengetahui apa yang dia mau. Dan entah kenapa dia juga mulai menyukai lagu-lagu yang Dea minta kepadanya untuk diperdengarkan dengan selentingan jarinya.

Dea hanya memandang dengan heran kepada peri pria itu sembari menopangkan dagunya. Suatu kebiasaan yang dia peroleh dari seseorang yang bekerja di perusahaan yang membuat dia cinta setengah mati. Suatu topangan dagu yang amat keren menurutnya, seperti melihat orang yang dicintai dengan sepenuh hati ketika kita memandang seseorang dengan bertopang dagu. Topangan dagu yang juga sengaja dia lakukan ketika sedang berpikir berat akan sesuatu, atau sekedar kangen saja akan masa-masa lalu di perusahaan itu.

Hari ini adalah hari santai dia, dia rasa. Jauh dari kesibukan untuk mengetik suatu cerita yang sebenarnya akan menjadi kisah yang luar biasa untuk dunianya. Hari yang jauh dari riset membaca berbagai macam buku, bertemu dengan berbagai macam orang, bebas dari kegiatan yang sebenarnya dia rindukan juga, membereskan rumah kecilnya, dan bebas dari kepusingan untuk memikirkan bagaimana mengembangkan usaha pemasaran jaringan asli negaranya.

“Hmmmm….” Dea berguman dalam hatinya sembari menulis di buku aneh yang diberikan peri pria itu. Sudah lama dia tidak menulis. Sebagian besar waktunya digunakan untuk mengetik dan membaca, “Ternyata menulis dengan tangan itu membutuhkan tenaga juga.” Kata Dea dalam hati seraya mengayun-ayunkan tangannya karena terasa pegal.

“Halo…” seru peri pria itu karena Dea hanya diam saja ketika dia menanyakan pertanyaan tadi. Suatu perasaan tidak diperhatikan serasa menusuk hatinya. Manusia yang baru ditemuinya ternyata bisa membuat dia benar-benar cinta. Ternyata mungkin dia hanya suka kepada peri wanita yang dipilihnya. Perasaan yang dia rasakan kepada Dea lebih kuat, ingin Dea selalu merasa aman dan jangan sampai dia menyakiti atau membuat hati Dea sedih. “Yah, apakah ini yang dinamakan cinta?” Kata peri pria itu pelan dalam hatinya.

“Halo!” peri pria itu semakin gusar dan meninggikan suaranya. “Kamu berkata bahwa kamu tidak ingin menikah. Aku rasa karena kamu belum pernah merasakan bagaimana ketika kamu bisa mencintai orang yang juga mencintai kamu. Belum pernah serius dengan seseorang ya?” peri pria itu memberondong Dea dengan pertanyaannya karena dia juga ngeri kalau ternyata cintanya hanya sepihak saja. Dea terlihat sangat cuek dan selalu mengingat lelaki lain ketika bersama dia.

Tatapan aneh dan kosong diberikan Dea kepada peri pria itu. Memang dia tidak merasakan perasaan apa-apa kepada peri pria ini. Dia hanya merasa nyaman dengan perhatian dan perlindungan, serta kepatuhan dia dalam menuruti segala macam kemauan Dea. Tetapi cinta? Mungkin belum tumbuh cinta di hatinya.

“Kamu berkata bahwa duniamu ini tidak mengenal rasa lapar, haus, bahkan tidurpun aku rasa juga tidak. Aku merasa sangat aneh karena siang terasa begitu panjang di sini.” tukas Dea dengan biasa-biasa. Kisah cinta yang selalu berakhir dengan cinta saja di hatinya membuat dia agak menjaga diri dan melindungi hatinya. “Tidak lagi kisah cinta karena terbiasa. Aku akan menjaga hatiku baik-baik,” serunya dalam hati, “walaupun mungkin benar bahwa kemampuan terindah dari cinta adalah memaafkan, tetapi aku belum siap untuk jatuh cinta lagi. Aku belum menjadi Dea yang berbeda, jadi mungkin aku masih suka kepada tipe pria yang begitu-begitu juga.” Kata Dea pendek dalam hatinya.

Peri pria itu hanya bisa menghembuskan nafas mendengar isi hati Dea. Yah, mungkin Dea lupa kalau dia bisa membaca isi hati dia. “Sudahlah.” Ujar peri pria itu pendek dalam hatinya.

“Impian setiap manusia pastilah untuk bisa selalu berbahagia di sepanjang waktu di sepanjang hidupnya. Ya, aku akan menujukkannya kepadamu apa itu kebahagiaan.” peri pria itu menarik sebelah tangan Dea dan berharap ada sedikit kelembutan yang bisa dia rasakan dengan kebaikan yang dia berikan dalam kata-katanya dan usahanya untuk memenuhi setiap permintaan Dea. Mereka terbang menuju suatu tempat yang mirip dengan suatu kota kecil.

Kota itu dipenuhi berbagai peri yang berbahagia, tampak dari senyuman yang ada di wajah mereka. Bahkan peri yang sedang membersihkan jalan-jalan utama kota itupun terlihat bergembira dan menyapu jalan itu dengan gembira.

Mencermati hal itu, Dea bertanya-tanya dalam hatinya apa yang membuat mereka berbahagia? Bahkan seorang tukang sapu pun juga berbahagia? Apakah mungkin ketidakhadiran rasa lapar, haus, dan tidak adanya kebutuhan untuk tidur membuat mereka bisa begitu berbahagia?

“Bukan itu. Ketidakhadiran uang yang membuat setiap peri-peri itu merasa bahagia. Ukuran kekayaan mereka bukanlah dari berapakah banyak uang, benda, popularitas, atau kecantikan dan ketampanan, tetapi seberapa mereka berbahagia dengan apa yang mereka lakukan. Peri terkaya adalah peri yang sudah tau mengapa dia ada di dunia peri.” Peri pria itu berkata dengan bijak menanggapi kebingungan Dea di pikirannya.

Setiap peri dibebaskan melakukan apa saja yang dia suka hingga dia menemukan hal apa yang membuat dia merasa hidup ketika melakukannya. Bahkan jikapun dia merasa hidup karena bisa menyapu lantai dengan bersih, maka dia akan menjadi peri yang akan menyapu dengan suka hati tanpa merasa itu pekerjaan yang remeh. Tidak ada satu peripun yang menghina pekerjaan peri yang lain karena memang ukuran yang ditetapkan di dunia peri adalah seberapa bahagia ketika kamu melakukannya.

“Aku suka menulis. Aku rasa jika aku diijinkan hidup di duniamu, aku akan menulis dari pagi hingga pagi hingga pagi lagi. Tidak ada waktu yang terbuang untuk makan, minum, atau bahkan tidur. Rasanya sangat senang jika ada orang lain yang membaca tulisanku dan memuji tulisan aku bagus, apalagi jika tulisan aku membuat mereka menjadi pribadi yang berbeda ketika membacanya.” Kata Dea dengan nada riang.

“Kamu bisa melakukannya jika kau menikah denganku. Kamu tidak akan merasa lapar, haus, ataupun berkeinginan untuk tidur. Kamu bisa menghabiskan berjam-jam yang kamu suka untuk menulis dan menulis dan aku tidak akan mengganggu kamu sampai kamu sendiri yang jenuh dan ingin bermanja denganku.” peri pria itu agak tersipu ketika mengatakan hal itu. Tidak mengira dia mengatakan isi hatinya kepada manusia yang baru dikenalnya. Serasa mengenal dia dari dulu, terasa nyaman sekali.

“Tapi sebenarnya hal yang ingin aku lakukan adalah tertidur di pelukan seseorang yang mencintai aku. Ya, aku juga suka memeluk seorang pria dalam tidurku, terasa sangat nyaman. Terasa seperti dunia ini berhenti berputar.” Kata Dea sembari membayangkan impian dia. Beruntung bahwa dia tidak pernah melakukan hal itu dengan Raka. Raka hanya mencium dan memeluk dia sebentar karena suasana. Tetapi apakah mungkin Tuhan memang tidak menggariskan Raka bersama dengan dia? Karena peri pria ini walaupun sekilas, lebih terasa dekat daripada Raka. Lagipula Raka juga selalu mengatakan bahwa dia hanya mengganggap Dea sebagai saudara. Berulang kali kata itu diucapkan ketika Dea menanyakan apakah Raka sayang kepada dia.

Chapter 9: Saat yang tepat

Tuhan tidak akan memberikan kepadamu apa yang kamu minta jika Dia tidak yakin kamu bisa menjaga sesuatu itu dengan baik.” Peri pria itu menjelaskan kepada Dea salah satu isi peraturan yang selalu membuat Dea merasa penasaran.

Sebuah papan peraturan besar yang tertulis dengan bahasa para peri terpampang di hadapan Dea. Sebuah puzzle besar yang menyelimuti hatinya sedikit demi sedikit tersingkap. Pertanyaan besar kenapa pernikahan itu wajib dan mengapa para peri bisa yakin itu adalah cinta dan peri lain yang mereka pilih adalah benar belahan hatinya.

Dea hanya diam saja mendengar penjelasan peri pria itu. Berada beberapa saat bersama peri pria ini membuat pikiran dia sedikit terbuka. Banyak hal yang selama ini tidak dia sadari diungkapkan secara sengaja atau tidak sengaja oleh peri pria ini. Kepolosan dia, sifatnya yang suka menang sendiri, sampai kelebihan dia dalam memikirkan sesuatu. “Yah, tidak begitu buruk untuk seorang teman sejati yang baru dikenal.” Kata Dea dalam hati.

“Teman?” Kata peri pria ini dalam hatinya. Yah, tetapi apalah yang ingin dia harapkan? Bukankah di dunia peri adalah tugas si peri pria untuk membuat peri wanita yang dia pilih jatuh cinta kepadanya. Mereka memang baru saling mengenal, tetapi seakan sudah begitu lama mengenal. “Aneh, aku tidak mengetahui bahwa cinta itu mungkin tidak seperti yang aku tau. Perasaan ini belum pernah aku rasakan sebelumnya.” Kata peri pria ini dalam hatinya.

Dea hanya memainkan kepalanya dengan memutar-mutarnya dengan manja. Pernikahan, nama baru, petualangan, impian, peraturan, dan semua hal yang dia temui hingga saat ini membuat dia tidak habis pikir kenapa Tuhan menciptakan bumi dengan seperti itu. “Apakah kalau begitu surga dan neraka itu benar-benar nyata senyata dunia peri ini ya?” Seru Dea dalam hatinya.

Peri pria ini hanya tersenyum mendapati pemikiran Dea. Sebagai peri yang memiliki kekuatan untuk berpindah tempat ke manapun dia inginkan, ada perasaan geli dalam dirinya jika mendengarkan impian beberapa manusia yang pernah ditemuinya secara tidak sengaja. Ingin keliling dunia, menjadi terkenal, kaya raya, punya barang-barang impian, menikah, punya rumah besar, punya anak, dan ya begitulah impian-impian manusia.

“Aku terkadang merasa heran dengan kalian.” Kata peri pria ini mengutarakan keheranan dia kepada Dea. “Berapa sih masa hidup kalian itu?” Tanya peri pria ini menyelidik.

“Ya, mungkin 70 tahun jika sehat, dan 58 atau 59 tahun saja jika tidak sehat,” jawab Dea sembari merasakan kengerian dalam hatinya. Ternyata jika memang umur manusia sedemikian pendek, berarti umur dia tinggal beberapa puluh tahun saja. Tidak sampai setengah abad menjelang mati.

“Ah! Kamu ini kok membuat aku takut saja to. Aku tidak suka!” Kata Dea dengan marah kepada peri pria ini.

“Ya jelas aku ingin bertanya to.” Kata peri pria ini menirukan perbendaharaan kata Dea yang lucu. “Jika kalian sudah mengetahui bahwa surga dan neraka itu ada, mengapa seringkali aku melihat kalian lebih suka berlomba menuju ke neraka daripada ke surga?” Ujar peri pria ini bijak.

Peri pria ini berkata dengan bijak dan menuturkan kepada Dea bahwa umur peri adalah tidak terbatas, tetapi mereka diperbolehkan untuk menghentikan penuaan yang terjadi kepada mereka jika mereka merasa bentuk fisik pada usia tertentu adalah yang terbaik.

“Kamu tau? Memiliki usia yang tidak terbatas itu kadang bisa menjadi anugerah ataupun kutukan. Menjadi anugerah jika setiap hari kamu bisa menyenangkan hatimu dengan kegiatan sehari-hari yang kamu lakukan. Dan menjadi kutukan jika kau tidak mengetahui bahkan alasan kenapa kamu dibiarkan memiliki umur sepanjang itu karena hari-hari yang kau jalani tidak menyenangkan dan terasa membosankan.” Peri pria itu berkata dengan pelan sembari memandang Dea dengan lembut. Ada perasaan iba yang dia rasakan kepada wanita itu.

“Para peri tidak begitu saja mengetahui kegiatan apa yang mereka sukai sehingga mereka bisa memandang umur panjang adalah suatu anugerah. Ambil contoh saja aku. Aku mencoba segala macam aktivitas yang aku rasa bisa aku lakukan dengan mudah, hingga aku menyadari bahwa aku diberikan anugerah kepercayaan bisa melakukan segala hal yang ingin aku lakukan.” Kata peri pria ini dengan nada sedih.

“La, kok kamu sedih? Anugerah bisa melakukan segala macam hal kan seharusnya asik?” Tanya Dea menimpali penjelasan peri pria itu.

“Aku sedih karena aku tidak dikenal sebagai siapa-siapa karena aku bisa melakukan semua hal. Angela dikenal sebagai peri yang ahli menguasai potongan rambut. Dan aku? Bahkan jika kamu menyadari, tidak semua peri bisa berpindah tempat seenak mereka sendiri.” Peri pria ini semakin bersedih dengan kesadaran dia bahwa dia tidak dikenal sebagai siapa-siapa.

“Halo! Sudah seperti Tuhan saja kamu ini kalau begitu. Udah ah, jika aku jadi kamu, ya, mungkin aku akan merasa sedikit bosan karena kurang tantangan, tetapi diambil positifnya saja. Dengan aku di samping kamu, kamu bisa merasa sedikit senang karena aku bisa memaksimalkan kekuatan kamu kan dengan segala macam permintaan aku yang bisa kau penuhi?” Seru Dea dengan riang.

Tuhan tidak akan memberikan sesuatu kepadamu sebelum Dia yakin bahwa kamu bisa menjaga sesuatu itu dengan baik. Begitu juga pasangan hidupmu. Sebelum kamu bisa memperlakukan dirimu dan lawan jenismu dengan baik, kira-kira apakah Tuhan berani mengantarkan seseorang yang baik kepadamu?” “Peraturan yang aneh.” Kata Dea dalam hatinya sembari membaca terjemahan peraturan di papan itu dengan kaca ajaib yang diberikan peri pria itu.

Iya, hari ini peri pria ini membuka topik pembicaraan yang agak berat. Usia hidup seseorang, kepantasan seseorang sebelum Tuhan memberikan dia seseorang. “Wah..aku tidak mengerti” teriak Dea sembari memegang kepala dia dengan kedua tangan.

Jika Tuhan memberikan kalian manusia umur hidup hingga katakanlah 70 tahun dan juga pengetahuan bahwa surga dan neraka adalah diberikan untuk selama-lamanya. Kenapa kalian seringkali begitu bodoh dalam menggunakan masa hidup itu dengan mengejar impian yang sia-sia?” Tanya peri pria ini mencoba mengurai satu per satu kebijakan kecil yang dia ingin Dea mengerti. Kebijakan kecil yang peri pria itu harapkan bisa membantu Dea menemukan aktivitas apa yang dia sukai hingga dia akhirnya bisa menikmati anugerah umur panjang yang akan dia miliki jika dia menikah dengan peri pria itu.

“Ah, aku tau maksud kamu. Jadi kamu ingin berkata bahwa impian bisa keliling dunia, menjadi terkenal, kaya raya, bisa membeli barang-barang impian, menikah, dan punya anak itu adalah impian yang sia-sia. Begitu?” Tanya Dea dengan marah.

“Iya.” Kata peri pria itu mantap.

“Saat yang tepat dan ajaib itu akan datang ketika kamu sudah tau alasan kenapa Tuhan menciptakan kamu di duniamu. Pertanyaan tentang siapa dia dan aktivitas apa yang akan menjadi kesukaan kamu; dan adalah benar bahwa -impian bisa keliling dunia, menjadi terkenal, kaya raya, bisa membeli barang-barang impian, menikah, dan punya anak- adalah impian yang sia-sia karena berarti kamu meremehkan kekuatan Tuhan untuk mewujudkan impian itu ketika kamu sudah berada di surgaNya. Bukankah ada tertulis jika jalanan di surga itu terbuat dari emas?” Kata peri pria itu kepada Dea.

“Jadi apa yang harus aku lakukan?” Tanya Dea menyelidik. Pikirannya sedikit terbuka tentang sesuatu.

“Berdoalah dan tanya kepada Tuhan. Mengapa Dia mengijinkan kamu dilahirkan di dunia ini dengan segala yang ada padamu. Hal terbaik yang bisa kau lakukan selagi masi hidup di dunia fana adalah menyenangkan hati Tuhan, karena adalah suatu jaminan kau akan mendapatkan kesenangan sejati jika kau sudah berada di surga nanti.” Seru peri pria ini bijak.

“Lalu soal belahan jiwa? Kapan saat yang tepat itu datang? Kapan aku bisa bertemu belahan jiwaku?” Tanya Dea. Tidak menyangka jika dia bisa begitu dekat dengan jawaban pertanyaan yang ditanyakan hampir seluruh manusia di bumi ini.

“Hanya Tuhan yang tau jawaban pertanyaan kamu. Yang pasti, kamu akan tau ketika kamu sudah bisa mengetahui siapa sebenarnya dirimu sehingga kamu akan tau itu dia ketika kamu bertemu dengan dia.” Jawab peri pria ini bijak sembari memandang Dea lekat-lekat.

“Hari ini adalah saat yang tepat dan ajaibku. Aku tidak menyangka peri wanita pilihanku dulu itu memang bukan untuk aku. Cinta yang aku kira cinta ternyata hanya ikatan semu saja. Pencerita memang tidak pernah salah.” Kata peri pria itu dalam hatinya.

 

Chapter 10: Diri kita yang sesungguhnya

“Kuenyang!” Kata Dea dalam hatinya setelah jamuan besar yang diadakan peri pria itu untuk dia.

“Bagaimana kau melakukannya? Aku suka dengan kejutanmu hari ini. Tidak menyangka kamu tahu kalau aku sedang lapar.” Kata Dea dengan riang dan senyum yang lebar dalam hatinya.

Peri pria itu hanya tersenyum dalam hati menimpali komentar Dea akan perbuatan dia hari ini. Sesuatu juga melihat senyum Dea yang kekanak-kanakan dan polos, sesuatu yang langka. “Belum pernah aku temui senyum setulus dan sepolos itu di duniaku. Dia memang berbeda.” Kata peri pria itu dalam hatinya.

Dea tersenyum-senyum seharian itu dalam hatinya. Dia sangat senang peri pria ini memperhatikan dia bahkan untuk hal-hal kecil tentang makanan kesukaan dia. Tidak menyangka berbagai macam masakan Indonesia yang berbumbu mantap dihadirkan di dunia peri hanya untuk dia hari ini.

“Benar-benar pengalaman luar biasa. Aku merasa sedikit betah di dunia ini jadinya.” Kata Dea dalam hatinya. Yah, dia merasa bahwa sekarang dia tidak perlu terlalu cerewet untuk mengatakan apa yang dia mau karena peri pria ini bisa mengetahui apa yang dia mau. Hatinya seakan berpadu dengan peri pria ini.

“Apakah pernikahan itu akan seperti itu ya? Aku suka.” Kata Dea dengan tiba-tiba kepada peri pria ini. Jika pernikahan memang seperti itu, bukankah itu hal yang asik. Ada seseorang yang mengerti apa kemauan kita dan merasa senang ketika kemauan kita itu bisa dia wujudkan.

“Tidak juga. Pernikahan tidak seideal itu. Kamu tidak sempurna, menikahi orang yang tidak sempurna. Terkadang kamu jangan menunggu pasangan kamu mengerti keinginan kamu, seringkali kamu sendiri yang harus berani mengatakan apa yang kamu mau.” Kata peri pria itu bijak.

“Dunia peri ini asik. Aku tidak perlu bingung akan apa yang akan aku makan, apa yang akan aku minum, bahkan aku tidak perlu bingung untuk menentukan apakah ini saat yang tepat untuk beristirahat. Aku tidak pernah merasa lelah karena kita selalu bisa berpindah tempat tanpa berjalan jauh. Aku selalu merasa full energy. Keren!” Ujar Dea dalam hatinya.

Peri pria itu hanya tersenyum mendengar suara hati Dea barusan. “Lega juga rasanya mengetahui ada seseorang yang merasa suka jika kita berada di dekat dia.” Kata peri pria itu dalam hatinya.

“Tapi kondisi ini juga tidak akan berlangsung seperti ini terus, aku juga punya tugasku sendiri di dunia ini. Apakah kamu ingin tahu dan menemani aku melakukan tugasku?” Tanya peri pria itu dengan nada serius kepada Dea.

Dea menjawab pertanyaan itu dengan anggukan dan suatu senyum yang mengembang di hati dan bibirnya.

“Tugasku adalah menyenangkan hatimu.” Kata peri pria itu dengan senyum manisnya sembari memandang Dea lekat-lekat. “Bercanda.” Seru peri pria ini menambahkan kalimatnya barusan.

Dea merasa tersipu dan tersenyum lagi dalam hatinya. Bisa saja peri pria itu bercanda dan membuat dia merasa nyaman.

Peri pria itu menggerakkan tangan kanannya dan membuat setengah lingkaran sembari melihat lagi ke arah Dea dan berkata “Yah, setidaknya kau tidak merasa sedih jika di dekatku. Tugasku adalah menjaga keseimbangan cuaca di dunia peri. Tugas yang aku pilih dari sekian banyak aktivitas karena ternyata hanya sedikit orang yang bisa menguasai cuaca, dan aku salah satunya yang bisa.” Kata peri pria itu sembari membuat lingkaran-lingkaran yang lebih kecil.

“Iya, karena kau bisa melakukan segalanya.” Teriak Dea sambil membuat lingkaran besar dengan kedua tangannya. Tidak mau kalah dengan gerakan peri pria itu.

Peri pria itu tersenyum lagi melihat kelakuan Dea. Benar-benar wanita yang berbeda, bisa menemukan kesenangannya sendiri dalam segala kondisi. Seakan-akan hidup ini bisa dibuat seperti sebuah permainan jika berada di dekat dia. “Banyak hal yang terasa lebih seru jika berada di dekatnya.” Ujar peri pria itu dalam hatinya.

“Dirimulah yang bertanggung jawab atas kebahagiaan kamu.” Tiba-tiba Dea mengatakan hal itu kepada peri pria itu karena dia merasa mungkin peri pria ini merasa aneh dengan dirinya yang selalu bisa bangkit dan menjadi ceria kembali dengan cepat. Bahkan dia bisa kembali ceria dan menjadi wanita yang memiliki pemikiran yang lebih bijak setelah kejadian buruk yang membuat dia merasa sangat sedih dan putus asa.

“Kamu merasa bahagia karena kamu memilih untuk berbahagia dan sudah seharusnya kamu merasa bahagia. Karena bahagia itu sebenarnya pilihan. Kamu bisa menciptakan surga di neraka, atau merasakan neraka ketika di surga. Semua itu pilihanmu.” Kata Dea sambil melihat peri pria itu dengan sambil lalu. Getaran kecil yang dia rasakan di hatinya membuat dia berjaga-jaga karena dia belum siap untuk merasakan jatuh cinta lagi. Dia belum mengenal siapa peri pria ini dan tidak ingin lagi jatuh cinta kepada orang yang tidak akan bisa menyambut cintanya.

“Kamu tahu gak kenapa sampai sekarang aku belum pernah pacaran?” Kata Dea dengan serius kepada peri pria itu.

“Aku tahu. Semua tentang kamu aku sudah tahu ketika namamu terpampang besar di atas kepalamu ketika aku melihatmu. Tapi apakah itu bukan permintaan yang cukup besar ya? Mendapatkan seorang pria yang belum pernah pacaran juga untuk menjadi pendamping kamu?” Kata peri pria itu serius.

“Entahlah. Aku selalu merasa bahwa cinta itu egois. Tidak mau berbagi. Aku merasa bahwa tidak ada cinta yang akan musnah. Seberat apapun, aku lebih suka menjadi pihak yang mundur jika pria yang aku suka terlihat menyukai wanita lain.” Kata Dea pelan.

“Mungkin kamu belum bertemu dengan belahan jiwamu. Jika kau sudah bertemu dengannya, kamu pasti tidak akan merasa seperti itu.” Seru peri pria itu menimpali ucapan Dea.

“Entahlah. Belahan jiwa, cinta, semua itu masih terasa jauh dari aku. Tetapi mungkin perkataan temanku itu ada benarnya, lebih baik menunggu daripada bersama dengan apa yang ada.” Seru Dea sambil menulis kejadian seru hari itu di buku yang diberikan peri pria itu.

Peri pria itu terdiam beberapa saat berusaha mencerna perkataan Dea barusan. Menjadi wanita yang mampu menjaga hati hingga sebegitu lama itu mungkin berat juga. “Hati yang masih belum terjamah manisnya sambutan cinta memang terasa beda. Apalagi jika dia juga bisa menjaga kesucian tubuhnya.” Kata peri pria itu dalam hatinya.

“Sini, ada hal asik yang bisa kau lihat hari ini.” Seru peri pria itu seraya membawa Dea terbang ke suatu tempat.

Banyak kisah yang tersusun rapi di dunia peri, menunggu seorang manusia terpilih untuk menjadi tokoh utama cerita itu dan menjadi pribadi manusia yang berbeda setelah kisah itu berakhir. Dan sekarang peri pria itu membawa Dea menuju tempat yang akan menjadi saksi berakhirnya suatu cerita.

“Lihat Dea. Kedua sosok itu mewakili sebuah cerita yang mungkin bisa menjawab beberapa pertanyaan kamu tentang seseorang.” Seru peri pria itu sembari memperlihatkan dua sosok, pria wanita yang sedang berpandangan satu sama lain.

Dea terdiam membisu melihat dua sosok itu yang mirip dengan Raka dan dirinya. Akhir cerita bagaimana yang diperankan dua tokoh itu menjadi suatu tanda tanya besar di hatinya.

“Seseorang dihadirkan dalam hidupmu untuk 2 alasan. Dan aku rasa kau sudah tahu alasan yang mana yang menjadi alasan diriku dihadirkan di duniamu?” Kata sosok pria yang mirip dengan Raka itu kepada sosok yang mirip dengan Dea.

Sosok wanita yang mirip Dea itu hanya terdiam memandang sosok pria mirip Raka menanyakan pertanyaan itu kepadanya.

Dea juga merasa tercekat dengan jawaban apa yang diberikan sosok wanita yang mirip dirinya itu menanggapi jawaban sosok pria yang mirip Raka itu. Apakah jawaban itu sama dengan jawaban yang akhirnya bisa dia terima dengan lega untuk saat ini.

“Seseorang hadir dalam hidup kita karena 2 alasan, sebagai pelajaran atau sebagai seseorang yang akan mendampingi kita selamanya. Aku tidak tahu jawabannya, tetapi hatiku tahu mungkin dulu hatiku ini benar-benar tidak mau kehilangan kamu dan selalu bisa memaafkan kamu.” Kata sosok wanita yang mirip Dea itu.

“Akan selalu ada orang lain yang akan hadir untuk menguji apakah cinta itu ada. Jika kau merasa mencintai seseorang dan ketika seseorang yang baru hadir dan membuatmu malah menjadi bingung untuk memilih yang mana. Maka pilihlah orang kedua, karena jika kau mencintai orang yang pertama, tidak akan pernah kau merasa bingung untuk memilih karena cinta itu bukan pilihan.” Seru sosok wanita yang mirip Dea itu.

Dea menelan ludahnya mendengar jawaban sosok wanita yang mirip dengan dirinya itu. Betapa beraninya dia menelan kenyataan bahwa mungkin benar sosok mirip Raka itu tidak mencintai dia dengan mengatakan perkataan itu.

Muncul berbagai pertanyaan yang mengusik hatinya melihat percakapan dua sosok itu. Dan mungkin perkataan sosok mirip Dea itu benar, “Iya, jika kau mencintai seseorang, tidak akan ada kebingungan harus memilih yang mana. Hal itu sungguh-sungguh benar.” Seru Dea dalam hatinya menyadari kondisinya sendiri. Belum pernah hatinya berpaling dari Raka walaupun ada pria lain yang menggoda dia, dan bahkan ketika Raka berhasil menghancurkan hatinya dengan pacaran dengan teman baiknya padahal mereka hanya sehari bertemu, Dea masih bisa memaafkan hal itu dan tetap percaya Raka mencintai dia.

Dea masih merasa penasaran dengan akhir cerita mereka berdua ketika peri pria itu memegang tangannya dan mereka sudah berpindah tempat ke tempat mereka pertama kali bertemu.

“Akhir dari cerita mereka adalah hak mereka. Dan akhir dari ceritamu dan Raka adalah hak kalian juga. Kamu jangan kaget kalau melihat Raka dan dirimu di dua sosok itu. Memang begitulah adanya dunia kami. Aku percaya sampai saat inipun kau masih belum bisa melihat wajah asliku karena masih wajah Raka yang kau lihat di wajahku. Benar kan?” Seru peri pria itu datar.

“Kadang jika kau melihat atau membaca suatu cerita, kau merasa cerita itu mirip dengan kisah cinta atau hidupmu. Tetapi percayalah, kau bisa mengubahnya seindah bayangannya. Kamu punya kekuatan untuk merubah akhir ceritanya jika kau benar-benar ingin.” Seru peri pria itu bijak sambil matanya menerawang jauh, entah sedang memikirkan apa.

Dea hanya terdiam tidak bisa berbicara apa-apa. Manusia memang bisa berbeda dalam banyak hal, tetapi hanya satu yang membuat kita semua sama, cinta.

“Untuk saat ini aku mau menjauhkan diriku dari gejolak emosi karena cinta. Aku ingin bisa berpikir dengan jernih dan tidak dikontrol oleh perasaan.” Seru Dea datar juga.

“Bukankah kamu pernah berkata kepadaku kalau aku perlu menemukan diriku dulu supaya aku bisa tahu siapa dia ketika bertemu dengannya? Yah, aku rasa cinta, jodoh, rejeki, mati, lahir, memang sudah ada yang mengatur. Ajari aku menjadi Dea yang baik dulu, ok?” Seru Dea memandang lekat-lekat peri pria itu.

 

Chapter 11: Memulai kembali

“Halo!” Seru Dea keras kepada peri pria itu. “Kamu melamun apa? Serius sekali?” Cerocos Dea kepada peri pria itu seraya memberikan satu cone ice cream rasa vanilla kepada peri pria itu.

“Dunia kamu keren.” Ujar peri pria itu sembari menikmati ice cream dingin yang baru saja dibelikan Dea untuknya. “Aku tidak menyangka bahwa berjalan-jalan denganmu seharian bisa sedemikan asik!“ Kata peri pria itu menambahkan.

“Keren bagaimana? Seharian ini kita tidak ngapa-ngapain, mana bisa dikatakan keren?” Kata Dea menanggapi seruan peri pria itu.

“Yah….” Jawab peri pria itu. “Tapi dunia manusia itu memang asik. Dunia di mana terdapat banyak batasan sehingga mereka harus berjuang dengan caranya sendiri untuk mendapatkan kebahagiaan.” Seru peri pria itu sambil melihat pengemis yang sedang duduk dengan menadahkan sebuah mangkuk dan kemudian menoleh kepada seseorang yang sedang terlihat asik menikmati makan siangnya di dalam sebuah restoran yang kelihatannya tertata sangat mewah.

~to be continued

Dea memandang peri pria itu dengan sepintas saja, tidak menyadari bahwa peri pria itu sedang membandingkan betapa menyedihkannya kehidupan manusia yang ada di bumi ini karena kebahagiaan mereka mau tidak mau masih bergantung dengan kemampuan mereka dalam mendapatkan apa yang mereka mau.

“Siapa nama kamu?” Kata Dea kepada peri pria itu setelah sebelumnya bertekad dalam hati bahwa sekarang adalah waktu yang tepat menjadi seorang Dea yang lebih pintar. Seorang Dea yang berani menutup kisah cinta yang seharusnya sudah harus ditutup ketika tanda ketidakrespekan pertama dimunculkan oleh Raka.

Peri pria itu hanya memandang Dea dengan pandangan sedih. Hatinya juga tiba-tiba tercekat karena dia merasakan sesuatu yang tidak pernah dia rasakan. Dia merasa bahwa dia perlu minum air. Peri pria itu merasa haus. Dengan pandangan sedih, peri pria itu berkata dalam hatinya, “Ini hanya keputusan bodoh. Mengapa aku memberikan dia kesempatan untuk kembali ke dunianya? Aku menyalahi cerita yang seharusnya digariskan.” Kata peri pria itu dalam hatinya sedih. Dia baru menyadari bahwa kini tubuhnya juga sama seperti tubuh manusia, bisa merasakan rasa lapar dan haus. Dan mungkin perasaan lain yang tidak akan pernah ada di dunianya.

“Kamu tau? Apakah benar uang adalah sebuah kekuatan?” Tanya peri pria itu kepada Dea dengan nada serius.

Dea merasa bingung dengan pertanyaan itu, maka dengan pemikiran seadanya, Dea menjawab pertanyaan peri pria itu dengan bahasa yang sederhana. “Semuanya tergantung dari kamu. Seberapa besar keinginan kamu untuk memiliki sesuatu yang hanya bisa ditukar dengan uang sebagai alat penukarnya. Jika engkau memiliki keinginan yang sederhana, pokok merasa kenyang dengan makanan murah, tetapi cukup gizinya. Sudah merasa cukup dengan pakaian sederhana yang nyaman dipakai, dan sudah merasa puas dengan tempat tinggal sederhana yang bisa membuatmu tidur dengan pulas. Aku rasa kamu akan hidup dengan sangat bahagia di duniaku. Tapi jika kamu memiliki keinginan yang sangat tinggi dan memerlukan uang yang sangat banyak untuk memilikinya, ya kehidupan kamu akan lebih..” Jawab Dea tanpa berusaha melanjutkan perkataannya. Pertanyaan yang diajukan peri cowok ini membuka kembali luka lama dia tentang kekuatan uang dalam menyetir kebahagiaan dia. Betapa dulu dia menjadi gadis yang sangat minder karena tidak memiliki banyak uang. Dan keminderan itu membuat dia menutup pikiran dan tidak berusaha lebih jauh dengan cara yang kreatif untuk memperjuangkan impian dia itu.

“Sudahlah. Uang memang memiliki kekuatan, tetapi tanpa kehadiran uang di sisimu, kamu akan mengetahui siapakah dia yang benar-benar sayang kepadamu dengan tulus, dan siapakah yang hanya mau berteman denganmu karena uangmu dan keuntungan-keuntungan yang akan dia dapatkan karena dekat denganmu.” Jawab Dea sambil menarik erat tangan peri pria itu. Seperti halnya peri lain yang tidak bisa melihat Dea, manusia juga tidak bisa melihat peri pria ini sehingga orang-orang yang berlalu lalang di jalan melihat Dea dengan aneh karena dia terlihat seperti berbicara sendiri.

“Kamu tau? Uang akan membuatmu bahagia, uang juga bisa membuat kamu sedih. Semuanya tergantung dari siapakah yang ingin kamu bahagiakan dengan uang yang kamu miliki itu. Jika kau ingin membahagiakan orang lain dengan uang yang kamu miliki dan dengan niat yang tulus, maka tidak akan ada rasa kecewa yang melanda hatimu ketika orang lain itu bahkan tidak mengucapkan terima kasih atas perhatianmu. Uang yang banyak itu pilihan. Pada akhirnya, bukan apa yang kau miliki yang akan diingat orang, tetapi apa yang telah kau berikan kepada orang lain yang akan selalu mereka ingat.” Dea berkata itu dalam hatinya sembari memandang mata peri pria itu. Dea tidak ingin orang memandang dirinya lagi dengan aneh, maka terbersit cara untuk bercakap-cakap dengan peri pria itu lewat pikirannya. Bukankah peri pria itu bisa membaca pikirannya?

Peri pria itu hanya mengangguk-angguk sambil tersenyum manis. Dia menyadari bahwa Dea benar-benar wanita yang sangat cerdas. Peri pria itu juga baru menyadari bahwa orang yang berlalu-lalang dari tadi memandang ke arahnya dengan aneh. Dia baru menyadari bahwa mereka tidak memandang dia, mereka memandang Dea yang terlihat aneh karena berbicara sendiri. Angelapun baru bisa melihat sosok Dea ketika peri pria itu menaburkan serbuk emas ke arah mata Dea. Serbuk yang terbuat dari cinta yang dia ambil dari peri wanita yang dipilihnya dulu. Serbuk emas yang sedikit demi sedikit akan habis jika lebih banyak peri yang diharapkan bisa melihat Dea untuk bisa membantu dia.

Peri pria itu melihat kantung serbuknya dan baru menyadari bahwa hanya tertinggal sangat sedikit serbuk emas. Genggaman terakhir yang harus hati-hati digunakan supaya kisah mereka berdua benar-benar bisa berakhir seperti yang diharapkan. “Tidak lagi ada penggunaan serbuk emas karena keinginan sesaat memperlihatkan Dea kepada teman-teman yang merasa aneh karena aku berbicara sendiri. Aku akan lebih bijak dan lebih berpikir ketika menggunakanmu.” Seru peri pria itu kepada serbuk emas yang ada di kantong kulit yang tersemat di celananya.

Dea melepaskan genggaman tangannya dan melihat ke arah peri pria itu. “Kamu pasti bisa membaca pikiranku, bukannya aku tidak ingin menjadi pemandu arahmu. Atau kau saja yang mengawasiku, tetaplah dekat denganku hingga kita sampai di rumahku ya.” Kata Dea ketika menyadari bahwa orang masih melihat ke arahnya karena dia terlihat sedang menggenggam sesuatu yang tidak kelihatan.

Akhirnya Dea dan peri pria itu sampai di rumah Dea. Terlihat perasaan yang sangat lega di wajah Dea. Dia tidak menyangka bahwa dia akan bisa merindukan rumahnya seperti ini. Ingat akan rasa rindu, Dea cepat-cepat berlari ke arah kamarnya dan melihat laci meja riasnya. Rasa sedih menyelimuti hatinya, tidak ada satupun pesan dari Raka padahal sudah beberapa hari Dea berada di dunia peri.

Dengan lunglai Dea membuka pintu kulkas dan mengambil dua botol Cimori rasa anggur yang menjadi kesukaan dia. Dengan langkah gontai Dea berjalan ke arah peri pria itu. Rasa sedih melanda di hatinya karena keputusan dia untuk melupakan Raka ternyata masih tidak disetujui oleh hatinya. Dea masih belum berani menghapus semua sms yang pernah dia kirimkan kepada Raka walaupun Dea sudah berulang kali menghapus nomor Raka, tetapi kembali Dea mencari nomor Raka dari teman-temannya hingga akhirnya Dea ingat dan hapal di luar kepala nomor itu. “Dea. Kamu tahu bahwa dia 99% tidak menyukai kamu, kenapa kamu masih ingin menunggu untuk kemungkinan 1% bahwa mungkin Raka juga memiliki perasaan yang sama denganmu? Bodoh!”

“Kamu tidak perlu berusaha begitu keras.” Kata peri pria itu ketika menerima Cimori dari tangan Dea. Dea merasa kaget dan tiba-tiba menyadari bahwa peri pria ini bisa membaca pikiran dia. “Ya Tuhan..” seru Dea dalam hatinya karena sekarang dia merasa sangat serba salah. Tapi kemudian Dea menyadari bahwa sebuah cinta bisa dipaksa keluar dari hati jika sudah menemukan penggantinya, maka Dea bertekad akan melupakan Raka dengan berusaha melimpahkan apapun yang ingin dia katakan atau perbuat kepada Raka kepada peri pria ini. Dea merasa ini adalah cara terbaik supaya dia tidak berlarut-larut menyakiti hatinya sendiri dengan mengharapkan seseorang yang sudah jelas-jelas mengatakan bahwa dia tidak memiliki perasaan yang sama kepadanya.

Dea menyalakan televisi dan menyimak sekilas acara infotainment yang sekarang ini sedang memperlihatkan perceraian dua artis terkenal yang sudah menikah hampir 25 tahun lamanya. “Sudahlah.” Seru Dea sambil mematikan televisinya. “Mereka pasti tidak saling cinta. Cinta adalah ketika kamu menemukan 1000 alasan untuk meninggalkan dia, tetapi tetap mencari satu alasan lagi supaya tetap bersama dia. Kapankah aku menemukan cinta seperti itu?” Kata Dea dalam hatinya.

Peri pria itu hanya memandang Dea dengan tatapan kosong. Tidak menyangka dia hari ini bersama dengan wanita yang berani menunggu cinta yang semu saja. Berani menunjukkan dan memperjuangkan perasaan dia kepada seorang pria bernama Raka. “Aku sangat penasaran seperti apakah Raka hingga dia bisa membuat Dea begitu cinta kepadanya. Hal apakah yang membuat Dea begitu mencintai Raka?”

Dea beranjak mengambil sapu dan langsung membersihkan rumahnya. Terdapat debu dimana-mana. Dipersilahkannya dengan lembut dan sopan supaya peri pria itu menunggu di beranda depan terlebih dahulu supaya Dea bisa membersihkan rumah dengan tuntas. Dea membersihkan rumahnya sambil mengingat sebuah film dimana suatu permainan membuat sebuah rumah menjadi sangat kacau, hingga permainan itu selesai dimainkan. Permainan itu mengingatkan dia kepada seorang peri yang sangat suka menciptakan berbagai permainan. “Pastilah cerita film itu terinspirasi dari permainan yang diciptakan peri itu. Yah, setidaknya aku nanti juga bisa memiliki cerita yang bisa aku ceritakan jika cerita ini sudah selesai. Tidak menyangka aja aku dipilih sebagai manusia terpilih itu. Sesuatu.” Kata Dea dalam hatinya.

“Raka mengatakan bahwa aku adalah perempuan yang kuat.” Kata Dea dalam hatinya sembari merasakan kesedihan dalam hatinya yang membuat matanya meneteskan air mata. “Aku menjadi kuat karena hanya itulah pilihanku setelah puas menangis.” Kata Dea dalam hatinya sembari mengingatkan dirinya bahwa dia pasti juga bisa menguatkan hati bahwa ceritanya dengan Raka sudah berakhir. Tidak akan ada cerita indah yang selama ini dia bayangkan. Tidak akan ada pernikahan yang akan terjadi antara dia dan Raka. Dea memilih untuk menyimpan rasa cinta yang masih tersisa dalam hatinya yang terdalam, berharap bahwa waktu akan membuat rasa cinta perlahan-lahan akan menghilang karena tidak pernah dia pupuk dengan mencoba tidak menghubungi Raka sama sekali.

“Peri.” Kata Dea keras dari dalam rumahnya. “Apakah kamu tidak merasa lapar?” Tanya Dea sambil membuka pintu kulkasnya untuk melihat sayuran apakah yang masih layak untuk dia masak hari itu. Sebongkah sawi putih dan beberapa telur segar menjadi pilihan Dea untuk membuat orak-arik sawi putih dengan telur. Masakan sederhana yang menjadi favoritnya karena masakan itu mudah dimasak dan rasanya pun enak.

“Makanan apa saja. Ini pertama kalinya aku harus makan karena aku merasa lapar..” Jawab peri pria itu kepada Dea, membuat Dea merasa kaget karena peri pria itu tiba-tiba berada di sampingnya. “Okelah.” Jawab Dea singkat sembari menuju ke dapur dan membawa bahan masakannya.

Sembari memotong dan menyiapkan sayurannya, Dea memutar lagu Yuna Ito-Endless Story. Sebuah lagu yang mengingatkan dia akan seseorang yang dulu sekali pernah singgah begitu lama di hatinya sebelum kehadiran Raka. Seseorang yang membuat dia akhirnya tenggelam dalam kesedihan terus menerus karena pasangan cowok itu tidak mengijinkan cowok itu berhubungan dengan Dea. Tindakan yang cukup drastis bahkan dilakukan oleh cewek itu dengan menyuruh cowok itu menghapus pertemanan antara dia dan cowok itu di Facebook. Bahkan pesan yang Dea berikan untuk menjernihkan keadaan bahwa dia hanya ingin berteman saja berbuah tindakan yang lebih sadis lagi. Dea diblock sehingga tampak gambar bayangan hitam saja di profil Facebook pria itu. “Sudahlah. Aku wanita yang kuat. Aku percaya semua kisah cinta yang berakhir sedih ini adalah rencana Tuhan yang terbaik untuk aku. Amin.” Seru Dea dalam hatinya sembari menumis bawang putih dan cabai rawit sehingga membuat ruangan dapur dipenuhi aroma wangi masakan yang sangat mengundang selera. Tidak sampai setengah jam kemudian Dea mengajak peri pria itu ikut makan bersama dia. Mereka berdua makan dalam keheningan. Rupanya peri pria itu bisa merasakan bahwa suasana hati Dea sedang mendung dan diliputi awan kesedihan.

“Aku tidak menyangka sebuah lagu masih bisa membuat hatiku berdetak-detak ketika mendengarnya. Sudah cukup rasanya. Lain kali akan aku tutup telingaku, aku akan eliminasi lagu dari hubunganku yang akan datang. Tidak akan aku ijinkan sebuah lagu membuat aku teringat kepada seseorang lagi.” Kata Dea dalam hati sembari berusaha menelan makanannya. Perasaan sedih yang mendalam membuat dia kehilangan selera makannya.

 

Chapter 12: Sesuatu bernama CINTA

Dea mengamati cara peri pria itu makan. Dea sangat menyukai cara peri pria itu menikmati setiap asupan, seakan-akan makanan yang dia makan itu adalah makanan yang sangat enak. “Hei, gak perlu begitu la.” Kata Dea sambil tersipu malu karena merasa sangat tersanjung karena peri pria itu kelihatan sangat menyukai dan menikmati makanannya.

“Tidak perlu apa?” Tanya peri pria itu sambil menunjukkan mimik wajah seakan-akan dia belum pernah merasakan masakan seenak itu.

“Ya itu. Memang sangat enak sekali ya?” Tanya Dea penasaran sambil merasakan masakan yang dibuatnya. Terasa biasa saja, yah sama seperti masakan-masakan dia sebelumnya.

“Aku tidak pernah merasakan menikmati masakan seenak ini. Terima kasih ya.” Kata peri pria itu sambil tersenyum puas ketika piring di depannya sudah habis licin, tidak tersisa satu butir nasipun. “Aku suka masakan kamu. Rasanya sangat enak.” Kata peri pria itu sembari menambahkan kembali nasi dan mengambil lagi orak-arik sawi putih dengan telur itu.

Dea hanya terdiam dalam hati. Dia merasakan hantaman keras dalam hatinya karena raut muka peri pria itu yang menyadarkan dia bahwa seharusnya dia harus bersyukur dengan makanan yang dia bisa makan hari ini. Bahkan Dea memiliki banyak pilihan makanan di kulkas dia. Dia juga memiliki simpanan uang yang cukup banyak di bank sehingga dia tidak perlu mengkuatirkan harga ketika melihat ke menu makanan di restoran yang sedang dia kunjungi. “Iya, memang terasa enak.” Kata Dea kepada peri pria itu sembari mencoba menghabiskan porsi makanan yang telah diambilnya. “Kita boleh sedih. Tetapi kalau waktunya makan ya harus makan. Tidak boleh menyiksa diri sendiri. Harus bisa selalu berbahagia setelah sedih. Semangat Dea!”

Setelah selesai membereskan dapurnya, Dea menuju ke kamarnya dan mengambil handphone dia. Sebuah nama yang dia tunggu-tunggu tidak kunjung datang. Dea sudah tidak merasa sedih lagi, dia tiba-tiba teringat lagu Adera-Melewatkanmu. Di lagu itu, pihak cowoklah yang merasa menyesal. Aku tahu mungkin akan ada skenario itu dalam kisah cintaku, tetapi dalam hal ini, bukan aku yang berhenti berjuang. “Aku sudah cukup berjuang, dan jika aku yang berjuang sendirian, itu berarti sama saja aku berjuang untuk seseorang yang tidak mengetahui betapa berharganya perasaan aku. Suatu saat, bukan aku yang akan menangis. Akulah yang akan merasa iba jika kau baru menyadari cintamu kepadaku di hari perkawinanku.” Seru Dea dalam hati sembari menghapus semua sms Raka dan juga menghapus nomornya dari handphone dia.

“Dea.” Seru peri pria itu dari luar kamar Dea dengan nada kuatir karena peri pria itu merasakan kesedihan Dea juga. “Kamu tidak apa-apa?” Tanya peri pria itu dari balik pintu kamar Dea.

“Gak papa kok. Aku ok.” Jawab Dea sambil membuka pintu kamarnya. Dea merasakan bahwa menghapus semua sms yang sudah setahun lamanya dia simpan di HP adalah sebuah keputusan besar, tetapi Dea tidak mau menjadi cewek yang hanya menjadi permainan saja. Dihampiri ketika tidak ada orang lain yang ada di sampingnya. “Sudah cukup.” Kata Dea dalam hati sembari menarik nafas panjang dan berjanji bahwa perpisahan adalah sebuah awal yang baru.

If you brave enough to say goodbye, life will reward you with another hello.” Seru Dea sembari mencoba tersenyum kepada peri pria itu. Senyum yang dipaksakan karena sebenarnya dia merasa tidak rela bahwa penantian yang begitu lama ternyata harus diakhiri hari ini juga karena Dea sudah tidak bisa mentoleransi kelakuan Raka yang benar-benar tidak menghormati dia dengan tidak membalas smsnya. Kelakuan yang dilakukan berulang-ulang tanpa menyadari bahwa Dea selalu berusaha membalas semua sms dia, baik sms yang penting maupun tidak penting. Dea juga membesarkan hatinya bahwa ini adalah cara Tuhan untuk membuat Dea bisa mengambil keputusan untuk melupakan Raka.

“Aku percaya. Jika jodoh, Tuhan akan mempertemukan kembali dengan caranya yang ajaib walaupun terjadi sebuah perpisahan di antara kita.” Dea mengguman dalam hatinya sembari merasakan bahwa mungkinkah akan terjadi pertemuan yang dia harapkan itu? Dea pernah menunggu seseorang begitu lama dan akhirnya rasa cinta itu hilang tak berbekas ketika Raka datang di kehidupan dia.

“Apakah cinta itu?” Tanya Dea dalam hatinya. Dia menyadari bahwa mungkin perasaan cinta itu akan tetap ada dalam hatinya jika dia tetap menunggu walaupun disakiti. Tetapi mau disakiti sampai kapan? Dea juga mengingat bahwa dia pernah berjuang sendirian dalam sebuah hubungan dan akhirnya cowok yang dia perjuangkan tetap saja tidak menunjukkan perasaan yang sama, tetap mempermainkan dia dengan cewek-cewek lain yang dia ceritakan kepada Dea. Dea menanggapi cerita-cerita itu dengan santai, walaupun tersimpan perasaan sedih karena cowok itu ternyata masih ingin berpetualang. “Sudahlah. Aku harus dewasa.” Dea berkata dalam hatinya sembari mengambil dua buah coklat batangan dari kulkasnya dan memberikannya satu kepada peri pria itu. Coklat adalah makanan terbaik untuk membuat kita merasa bahagia. Saat ini bahkan Dea merasakan bahwa sebatang coklat saja masih kurang, mungkin tiga atau empat batang coklat yang bisa membuat dia melupakan kesedihannya karena cinta yang selalu bertepuk sebelah tangan.

“Cinta. Mengapa kamu begitu aneh? Kapankah aku bisa mencintai orang yang juga mencintai aku?” Tanya Dea dalam hatinya, tanpa menyadari bahwa sebenarnya peri pria itu sudah mulai mencintai dia.

Cinta itu memang aneh. Kita mencintai orang yang tidak mencintai kita, dan kita membiarkan orang yang mencintai kita menunggu begitu lama. Dan kadang ketika kita sudah mulai mencintai orang yang mencintai kita, orang itu ternyata sudah berhenti menunggu dan sudah tidak mencintai kita lagi.

Peri pria itu hanya memandang Dea dari jauh sambil mencari jalan supaya sebuah cinta juga bisa tumbuh di hati Dea untuk dia. Peri pria itu benar-benar tidak bisa terima bahwa seorang manusia bernama Raka bisa mempermainkan Dea. Seharusnya jika manusia itu benar-benar tidak memiliki perasaan yang sama, manusia itu harus memutuskan hubungan sama sekali dengan Dea. Jangan sebentar-sebentar muncul, walaupun hanya menanyakan kabar. Tidak tahukah manusia itu bahwa hal itu membuat Dea kembali berharap bahwa perasaan dia bisa tersambut? “Raka. Kamu kehilangan sesuatu yang benar-benar berharga. Suatu saat kamu akan menyadari bahwa tidak ada satu wanitapun yang bisa mencintai kamu dengan begitu tulus. Suatu hari kelak, kamulah yang akan tenggelam dalam kesedihanmu karena Dea akhirnya benar-benar berhenti menunggu dan tidak mencintai kamu lagi. Ingatlah Raka, karma itu ada. Hanya tinggal menunggu waktu hingga kau merasakan kesedihan karena permainan cintamu.” Peri pria itu berguman dalam hatinya sembari memandang Dea. Tidak tega hatinya melihat Dea merasa begitu sedih karena seorang manusia yang jelas-jelas tidak mencintai dia. Pastilah manusia itu tidak mencintai dia karena dia bisa mengatakan bahwa dia sedang berpacaran dengan manusia lain ketika Dea jelas-jelas masih memperhatikan dan menyayangi dia.

“Tuhan pasti akan memberikan cinta sejatimu Dea. Kamu wanita yang tulus dan setia.” Seru peri pria itu untuk memecah keheningan karena dari tadi Dea hanya terdiam saja sambil matanya menerawang jauh. Sangat jauh sambil mengingat semua perlakukan yang pernah dia terima dari seorang pria bernama Raka.

 

Chapter 13: Penyesalan

“Aku selalu menyesal.” Dea mengatakan hal itu sembari menikmati coklat keduanya. Lumeran coklat yang lembut meleleh dalam rongga mulutnya. “Banyak waktu di hidupku dimana aku menutup hati dan setia menunggu seseorang yang akhirnya tidak menjadi milikku. Bodoh ya?” Tanya Dea kepada peri pria itu. Pertanyaan yang tidak mengharapkan sebuah jawaban karena Dea sendiri sudah mengetahui jawabannya. Kadang cinta memang membuat logika menjadi tidak berfungsi, tetapi kali ini Dea berjanji untuk mendengarkan pikirannya. Tidak dengan bodoh menurutkan saja perasaan dan membuat orang lain bisa mengendalikan reaksi dan perasaan dia. Tidak lagi menangis berlarut-larut, cukuplah menangis sebentar dan kemudian cepat-cepat sadar dan berusaha menjadi wanita yang lebih kuat.

“Seorang ibu harus mempunyai perasaan yang kuat dan diimbangi logika yang jalan sehingga jika perasaan mulai membuat dia sedih karena ulah suaminya, logika dia bisa membimbing dia untuk tetap mengatur rumah tangga dengan baik dan memperhatikan anak-anak yang membutuhkan perhatian dan asuhan dia.”

Peri pria itu hanya terdiam mendengar ocehan Dea, dia mengetahui bahwa saat ini yang dibutuhkan Dea adalah seseorang yang mau menjadi pendengar yang baik. Dea tidak membutuhkan jalan keluar untuk keluhannya, dia membutuhkan seseorang yang mau mengerti bahwa kondisinya saat ini tidak baik-baik saja.

“Di dunia manusia ini, apa yang kau lakukan untuk mendapatkan uang?” Tanya peri pria itu sambil mengamati bahwa rumah Dea terasa sangat nyaman dan bersih. Peri pria itu juga merasa sangat aman di situ, benar-benar sebuah rumah.

“Pertanyaan bagus. Aku mendapatkan uang dari tulisan-tulisanku. Akhirnya setelah banyak kali penolakan terhadap tulisan yang aku kirimkan, sebuah tulisan yang akhirnya dimuat membuat aku kembali yakin bahwa menulis adalah jalan hidupku. Aku bersyukur dulu ada seorang pelatih bisnis yang menasehati aku untuk segera menjadi penulis saja. Mengapa harus menunggu aku memiliki sebuah bisnis sendiri yang bisa menghasilkan uang sehingga aku bisa memiliki banyak waktu untuk menulis jika ternyata uang yang aku butuhkan sebenarnya sangat sedikit sekali jika aku mau hidup dengan sederhana dan fokus mengasah keahlian menulis aku. Thank coach.” Jawab Dea kepada peri pria itu sambil menunjukkan salah satu novel karangannya yang akhirnya mendapat kehormatan untuk dibuat sebuah film dan mengejutkan Dea karena penonton Indonesia begitu menyukai alur ceritanya. Pendatang baru dengan talenta yang luar biasa, itu kata sebuah artikel di koran yang membahas tentang cerita yang dia buat.

“Ternyata hidup ini memang seperti itu. Dia selalu menyediakan rintangan sehingga hanya orang yang benar-benar menginginkan sesuatu dengan gigih dan tidak pernah menyerah saja yang bisa mendapatkan sesuatu itu. Tidak menyangka kehidupan yang sangat sederhana yang aku jalani dulu membuat aku bisa menikmati kehidupan yang seperti sekarang. Bisa membeli apapun yang aku mau karena uang hasil menulis cerita aku putarkan di bisnis yang aku pilih. Sesuatu.” Kata Dea dalam hatinya sembari mengingat hari dimana dia memutuskan untuk membeli hak usaha sebuah franchise dan kemudian menyewa jasa pelatih bisnis untuk membuat dia bisa mengetahui dan merealisasikan usaha impiannya itu sehingga membuat dia mendapatkan aliran uang secara teratur karena usaha yang dia geluti bisa berjalan sendiri tanpa pengawasan dia.

Hari sudah mulai gelap ketika Dea menghidupkan lampu ruang tamunya. Hari itu terasa aneh bagi Dea karena saat ini ada seorang pria yang hampir seharian ini ada di rumahnya, berdua saja di dengan dia di rumah. Daripada disibukkan dengan pikiran yang macam-macam, Dea bergegas membuka pintu kulkasnya dan melihat-lihat masakan apakah yang bisa dia nikmati bersama peri pria itu malam ini. Mata Dea tertumbuk kepada tofu yang kelihatannya akan sangat enak sekali jika digoreng tipis-tipis dan kemudian membuat sambal ulek yang sangat pedas.

“Hmm…membayangkannya saja uda lapar. Okay. Ini waktumu sayang.” Kata Dea sembari mengambil tofu itu dari kulkasnya. Malam ini tofu penyet yang akan menjadi makan malam Dea. Masakan sederhana yang Dea yakin akan memuaskan selera makan mereka berdua. Cepat, praktis, dan tidak ribet.

Dea mencuci bersih tofu itu dan kemudian mengirisnya tipis-tipis. Diambilnya minyak goreng dari lemari makan dan kemudian menggoreng tofu itu tipis-tipis seraya membayangkan dalam hati bahwa seharusnya ini dia dan peri pria itu merayakan hari pernikahan mereka berdua. “Terima kasih ya kamu tidak masuk ke kamar aku.” Kata Dea dengan sopan kepada peri pria itu yang duduk manis sambil melihat kelincahan tangan Dea ketika memotong tofu itu.

“Biasa saja. Di dunia peri, kamar perempuan itu adalah ruangan yang sakral dan suci. Kaum pria di negeri kami tahu bahwa kami harus menghormati mereka dengan tidak pernah memasuki ruangan itu. Kami lebih memilih menunggu saat ketika akhirnya kami bisa mengajak peri wanita pilihan kami masuk ke dalam kamar pengantin saja. Kesucian sebelum pernikahan adalah sesuatu yang patut diperjuangkan karena dengan begitu keturunan kami pasti setidaknya dikaruniai satu kemampuan khusus. Yah, aku rasa aku dikaruniai banyak kemampuan karena kedua orangtuaku menjalani masa persahabatan mereka dengan cara yang sangat suci, bebas dari segala sentuhan. Aku bersyukur saja karena punya orangtua seperti itu. Yah, mungkin anakku tidak akan seperti aku.” Seru peri pria itu dengan senyum tipis. Peri pria itu tahu bahwa terkadang dia memeluk peri wanita pilihan dia karena dia sendiri tidak bisa menahan diri untuk bisa merasakan sensasi itu.

“Aku sangat setuju dengan peraturan itu. Kamar wanita itu memang area pribadi. Area yang seharusnya memang lelaki tidak boleh masuk.” Kata Dea sembari mematikan kompor dan melihat dengan puas tofu yang digorengnya. Mereka semua berwarna keemasan dan memberikan aroma tofu goreng yang sangat menggoda selera.

“Kamu tahu gak?” Tanya Dea sembari mengambilkan beberapa tofu goreng untuk peri pria itu.

“Apa?” Jawab peri pria itu sambil menyuapkan nasi dan tofu goreng yang ternyata benar-benar lezat itu. Apalagi peri pria itu benar-benar merasa sangat lapar. Ternyata porsi makan siang dia tadi kurang banyak. Peri pria itu baru menyadari bahwa porsi makan dia dan Dea berbeda. Dia memerlukan porsi yang lebih banyak.

“Aku percaya bahwa cerita cintaku akan berakhir sangat indah. Aku percaya bahwa doa yang aku lantunkan mulai hari ini akan membuat Tuhan sendiri akan campur tangan untuk membuat kisahku bahkan lebih indah dari yang aku bayangkan. Aku percaya itu.” Kata Dea kepada peri pria itu sambil mengingat sebuah lagu tentang seorang pria yang mengatakan bahwa dia selalu berdoa untuk seorang wanita dan berharap bahwa dia bisa dipertemukan kembali dengan wanita yang dia cintai jika wanita itu memang jodohnya itu.

“Aku selalu suka dengan cerita cinta. Semua seperti sebuah petualangan. Bahkan aku percaya bahwa petualangan dua orang akan lebih menarik lagi daripada petualangan yang aku lakukan seorang diri saja.” Kata Dea kepada peri pria itu sambil merasakan kegurihan tofu gorengnya. Dea bukanlah wanita yang lemah, dia adalah wanita yang sangat kuat. Tapi terkadang sifat keras kepala dia membuat dia berani untuk menunggu seorang pria yang jelas-jelas sudah mengatakan bahwa pria itu tidak merasakan sesuatu yang sama kepada dia. “Yah, kali ini aku akan lebih pintar. Aku akan mengejar impianku. Aku percaya, jika jodoh, suatu saat aku akan bertemu kembali dengannya.”

“Dulu aku begitu suka share perasaan yang aku rasakan di Facebook, berharap orang itu akan selalu tersenyum karena aku dan status-statusku. Tapi aku rasa semuanya itu hanya debu, yang terkibas begitu saja ketika seorang wanita membuat dia lebih bisa tersenyum daripada aku. Aku pernah sangat mencintai Raka. Aku berikan sebuah lagu untuk dia di Facebook aku. Sebuah lagu dari Christian Bautista, berharap dia akan memperlakukan hatiku dengan lebih baik. Sebuah lagu yang kini kita dengarkan.” Kata Dea sembari melihat ke arah peri pria itu.

Sebuah lagu Christian Bautista yang berjudul Please Be Carefull With My Heart mengalun lembut di ruang tamu Dea. “Dulu aku pernah begitu mencintai dia. Aku bersyukur seseorang datang dan membuat aku bisa pelan-pelan melupakan Raka. Aku percaya kali ini aku bisa lebih pintar.” Kata Dea sambil mengucapkan selamat tidur kepada peri pria itu.

Hari ini Dea percaya bahwa tidak akan ada kata menyesal di hatinya ketika suatu hari melihat Raka menikah dengan wanita lain karena cinta benar-benar sudah pergi, meninggalkan perasaan menyesal karena dulu air mata pernah menetes untuk lelaki semacam itu.

Hari ini Dea juga menyadari bahwa adalah suatu keberuntungan Raka memperlakukan dia dengan begitu kejam. “Aku sudah pernah mencintai orang yang salah dengan cara yang benar. Lelaki selanjutnya adalah lelaki yang harus bisa menerima bahwa aku bukanlah wanita yang begitu perhatian. Lelaki selanjutnya harus bisa mengerti bahwa aku adalah wanita yang akan selalu membebaskan dia dengan waktu-waktunya. Karena akhirnya aku sadar. Lelaki memang membutuhkan wanita yang bisa membuat dia jatuh cinta, bukan wanita yang mencintai dia. Sudah ya. Selamat tidur. Besok adalah hari kita. Besok adalah hari dimana cerita kita di dunia peri dilanjutkan kembali. Thanks kamu mengijinkan aku kembali ke duniaku sejenak sebelum peristiwa itu.” Seru Dea dengan suara pelan kepada peri pria itu.

Dea merasa beruntung karena dia akhirnya menyadari bahwa sebagai wanita, ternyata dia juga memiliki keberuntungan untuk bisa menghapus sebuah cinta yang telah menyia-nyiakan perjuangan dia. Sebuah cinta yang mengajarkan dia bahwa pria yang mencintai kamu tidak akan mungkin membuat kamu menjadi wanita yang bisa merasa bahwa kamu tidak dicintai.

Hari itu Dea tidur dengan wajah dan hati yang cerah. Lagu Christina Perri – A Thousand Years membuat dia sadar bahwa pasti akan ada sebuah cerita cinta yang bisa dia buat dengan seorang pria hingga akhirnya dia benar-benar mengetahui apa itu cinta dan bagaimana rasanya mencintai dan dicintai.

Chapter 14: Kisah yang Tertunda

“Kita kembali ya?” Dea bertanya kepada peri pria itu sembari mengemasi pakaian dia. Dengan hati yang berat Dea menerima uluran tangan peri pria itu yang akan membawa dia kembali ke dunia peri. Dunia di mana seharusnya Dea bisa menjadi dirinya sendiri. Ada seorang peri pria yang mau menerima dia apa adanya. Peri pria yang tidak mengomentari gaya rambutnya, cara dia berpakaian, bentuk giginya, kelakuan jeleknya.

“Mengapa cinta itu begitu aneh..” Seru Dea dalam hatinya pelan. “Aku menantimu menyambut cintaku setahun lamanya..mengapa sekarang cinta itu bisa sebegitu mudahnya bergeser ketika aku memutuskan untuk berhenti menunggumu..” Dea tidak meneruskan kata-kata itu karena sekali lagi dia menyadari bahwa mungkin Raka bukanlah orang terpilih itu. Seseorang yang sebenarnya Dea membayangkan bahwa akan ada sebuah pernikahan yang indah walaupun Dea sangat memahami bahwa dia akan menjadi wanita yang terlalu mencintai prianya. “Sudahlah. Mungkin teori itu benar. Untuk bisa berbahagia dengan seorang pria, cintai dia sedikit saja dan belajarlah untuk memberikan pengertian yang lebih akan segala sikapnya.” Dea menghembuskan nafas yang berat ketika dia melihat hamparan biru rerumputan yang dulu dia lihat pertama kalinya di dunia peri.

Tiba-tiba turun hujan yang begitu deras. Peri pria itu sontak membawa Dea berlindung di bawah pohon dan kemudian mereka sudah berpindah tempat di dalam sebuah ruangan yang terasa hangat.

Dea merasakan suatu keanehan dalam hatinya. Mengapa hujan yang baru saja turun itu terasa dingin, sama seperti hujan yang dia rasakan di bumi. Bukankah buku itu bercerita bahwa hujan di negeri peri terasa hangat? Diam-diam Dea melihat ke arah peri pria itu dan melihat bahwa peri pria itu terlihat sangat sedih. Dea tiba-tiba teringat bahwa peri pria itu memiliki kemampuan untuk mengendalikan cuaca, apakah hujan ini terjadi karena kesedihan peri pria itu? Dea hanya diam saja. Toh peri pria itu bisa membaca pikiran dia. Sekarang terserah peri pria itu mau menjelaskan hujan lebat yang tiba-tiba datang ini atau tidak.

Peri pria itu memandang Dea sekilas. Terlihat aura sedih dan mata yang merah seperti habis menangis menghiasi wajah peri pria yang wajahnya seperti Raka itu. Peri pria itu hanya termenung sebentar dan kemudian mengatakan kepada Dea untuk segera mengganti pakaian dia yang basah. Ternyata Dea berada di rumah peri pria itu. Rumah peri yang dihiasi berbagai ornamen-ornamen yang indah.

Dea cepat-cepat mengambil peralatan mandinya untuk bisa cepat-cepat mandi dan kemudian berganti pakaian. Peri pria itu hanya tersenyum dengan permintaan Dea. Dengan ramah akhirnya Dea dibawa peri pria itu ke sebuah pintu dan menunjukkan bahwa itu adalah kamar mandi untuk Dea. Dea melihat kamar mandi itu sekilas dan terpana karena kamar mandi itu begitu bersih. Ada bathtub, wastafel, dan bilik kecil transparan dengan sebuah shower. “Wow.” Seru Dea dalam hati karena kamar mandi ini persis dengan kamar mandi di rumahnya. Dea memandang peri pria itu dengan heran. Peri pria itu hanya tersenyum kecil dan dengan gerakan tangannya menyilahkan Dea memakai kamar mandi itu. Dengan senang hati Dea akhirnya masuk ke kamar mandi itu dan membersihkan dirinya seperti kebiasaan dia. Dea keluar dari kamar mandi itu dengan perasaan sangat senang. Sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk dia bertanya apakah peri pria itu tidak mandi juga. Peri pria itu berkata bahwa dunia peri tidak mengenal mandi. Tidak ada yang namanya kotor di sini. Dea hanya mengangguk-angguk mendengar penjelasan itu.

Dea menjatuhkan dirinya di sofa kecil yang ada di depan peri pria itu. Hari ini semua terasa aneh. Apalagi setelah Dea menyadari bahwa penantian dia setahun lamanya ternyata sia-sia ketika akhirnya dia memutuskan untuk melupakan Raka dan belajar menerima bahwa cintanya memang bertepuk sebelah tangan. Dan andaipun cintanya tidak bertepuk sebelah tangan, Dea sudah mulai bisa berpikir jernih bahwa dia membutuhkan pria yang bisa membuat dia merasa aman. Bukan pria yang bisa seenak hati pergi meninggalkan dia dan hanya datang ketika dia ingin diperhatikan saja. Dea bingung antara harus bersyukur atau sedih. Bersyukur karena Tuhan akhirnya bisa membuat dia melupakan Raka atau merasa sedih karena air mata yang sudah keluar dan masa-masa sedih yang dulu itu ternyata sia-sia belaka. “Cinta..lalu bagaimana aku bisa bertemu dengan orang yang  benar-benar bisa mencintai aku dan aku mencintai dia…” Tanya Dea dalam hatinya pelan karena dia sudah merasa capek dengan semua kisah cinta yang sepertinya hanya cinta di dirinya saja, bukan cinta yang saling berbalas-balasan.

“Cinta itu tidak rumit. Yang membuat rumit adalah ketika cinta itu mulai menuntut balas karena perhatian yang diberikan tidak dibalas dengan perhatian yang sama besarnya.” Peri pria itu akhirnya mengeluarkan kata-kata juga. Dea hanya memandang kosong peri pria itu. Dea benar-benar merasa capek dengan cinta yang disia-siakan. Sudah cukup rasanya mencintai. Sekarang giliran dia yang ingin merasakan dicintai oleh seseorang dengan cinta yang benar-benar besar. “Tapi apakah bisa?” Tanya Dea dalam hatinya. “Kenapa sekarang semua terasa hambar….” Kata Dea dalam hatinya sembari merasakan rasa lelah yang luar biasa di hatinya karena harus menghadapi kenyataan bahwa dia harus bisa menahan diri untuk tidak menghubungi Raka sama sekali untuk bisa menghapus bersih perasaan cinta yang mungkin masih tertinggal di hatinya.

“Dulu begitu banyak sahabat yang menasehati aku untuk segera melupakan Raka. Aku iyakan saja, tetapi malam harinya aku masih sms Raka, menanyakan kabar dia. Keras kepala ya..” Kata Dea kepada peri pria itu sembari mengingat masa lalu ketika dia selalu meluangkan waktu untuk menghubungi Raka walaupun Raka kadang tidak mengangkat telfon dia. “Aku rasa karena ada kamu akhirnya aku bisa berani untuk melupakan Raka. Ada kamu di sampingku jika aku kangen ama Raka. Ada kamu di sampingku ketika aku ingin ada seseorang yang bisa menyayangi aku. Kaya film My Sassy Girl ya kita. Tapi bedanya aku jadi sassy girl yang lagi galau dan gila karena cintanya bertepuk sebelah tangan.”

Peri pria itu hanya menutup mulutnya erat-erat. Sebenarnya dia sudah tau apakah cinta Dea bertepuk sebelah tangan atau tidak dari cerita yang Dea sampaikan, tetapi hatinya tidak tega untuk menyampaikan kebenarannya. “Nanti sajalah, yang aku tahu. Raka dihadirkan di kehidupan Dea supaya Dea bisa menjadi wanita yang lebih tegar lagi. Raka toh tidak digariskan menjadi pasangan kamu De..jadi apapun jawaban dari pertanyaan kamu apakah cinta kamu bertepuk sebelah tangan atau tidak juga percuma. Andaipun Raka memang mencintai kamu pada akhirnya, kamunya yang sudah tidak mencintai dia.” Peri pria itu berguman dalam hatinya sembari memandang Dea yang sedang sibuk menjemur pakaian dia yang basah tadi. Salut juga peri pria itu karena Dea langsung mencuci pakaian dia saat itu juga. Benar-benar wanita yang sangat mandiri.

“Kamu tahu? Aku sebenarnya rindu dengan sebuah pernikahan. Kerinduan yang sangat terlambat aku rasa karena aku menyia-nyiakan waktuku menunggu orang yang menyia-nyiakan penantian aku. Sekarang aku memberanikan diri untuk membuktikan teori itu. Teori yang mengatakan bahwa kamu harus mencintai Tuhan dan mempercayakan hatimu ke dalam tangan-Nya. Kali ini aku percaya, jika Tuhan memang merencanakan sebuah pernikahan dalam kehidupan aku, kali ini Tuhan akan memberikan hatiku kepada orang yang tepat itu.” Seru Dea sambil memandang peri pria itu dengan sebuah senyum yang dipaksakan. Terlihat bahwa Dea sebenarnya belum percaya 100% bahwa dia harus berani mempercayakan kisah hidupnya kepada Tuhan. “Tapi sudahlah. Seberapapun aku ngotot, akhirnya berpisah juga kan. Seperti aku dan Raka. Membuang waktu saja.” Kata Dea sambil mencoba kembali tersenyum dengan lebih lepas. “Tuhan, ajari aku mempercayaiMu untuk kisah cintaku. Amin.” Doa Dea dalam hatinya.

 

Chapter 15: Pekerjaan

“Kita bisa berhenti sebentar gak..aku mau tanya sesuatu sama kamu…” Kata Dea dengan mimik sedih.

“Kamu mau tanya apa?” Jawab peri pria itu sambil menghentikan langkah kakinya.

“Duniamu. Bagaimana seseorang bisa begitu gembiranya tanpa merasakan lelah. Bagaimana mereka bisa tahu pekerjaan apa yang sesuai untuk mereka?” Tanya Dea dengan nada yang pelan karena dia sendiri harus melewati banyak penderitaan karena kekurangan uang karena tulisan-tulisan dia belum dimuat juga padahal dia yakin bahwa dia suatu saat bisa hidup hanya dari menulis. Tetapi kadang pekerjaan yang dia ambil bergaji pas-pasan saja, bahkan seringkali membuat dia sangat lelah sehingga tidak ada waktu untuk menulis. Dea sangat merasa dunia peri ini adalah dunia ideal sehingga setiap orang akhirnya bisa mendapatkan aktivitas yang bisa membuat mereka bisa merasa berbahagia ketika melakukannya karena perut mereka tidak akan merasa lapar, kerongkongan mereka tidak akan merasa haus, dan mereka juga tidak merasa kedinginan sehingga memerlukan tempat tinggal. Setiap orang memakai baju yang sama setiap hari sehingga tidak ada pandangan meremehkan karena baju yang dipakai lebih jelek daripada baju yang dipakai orang lain. Bukankah dunia seperti itu adalah dunia yang indah?

Peri pria itu mengacak-acak rambut kepala Dea sambil mengadahkan kepala Dea untuk memandangnya dengan kedua belah tangannya di samping pipi Dea. “Kamu juga bisa mendapatkan hal itu. Kamu memiliki otak, tenaga, pikiran. Jika kamu memang ingin bisa hidup dari menulis dan melihat karyamu bisa dibaca banyak orang, yang kamu perlu lakukan memang harus mendapatkan sebuah pekerjaan yang setidaknya bisa membiayai kebutuhan kamu untuk hidup sampai tulisan-tulisanmu itu lebih dihargai. Bukankah begitu?” Tanya peri pria itu.

“Iya. Tetapi dulu aku juga punya keinginan untuk cepat membahagiakan orangtuaku. Aku jadi bingung mana yang harus aku pilih terlebih dahulu. Hingga suatu saat aku merasa sangat putus asa karena aku akhirnya hampir kehabisan uang karena menunggu balasan lamaran dari satu perusahaan saja. Aku mengira bahwa pekerjaan itu sama seperti orang menikah, mana bisa kita melamar ke banyak orang dan menerima saja pekerjaan yang menerima kita pertama. Aku pernah merasa terjebak dengan pola semacam itu, tetapi aku juga tidak tahu cara apalagi supaya aku bisa mendapatkan pekerjaan yang benar-benar aku mau..” Kata Dea dengan nada sedih.

“Kamu ingin pekerjaan yang seperti apa?” Tanya peri pria itu sambil mengajak Dea duduk sejenak di atas sebuah batu besar yang ada di samping jalan di dekat mereka berdiri sejak tadi.

“Aku ingin pekerjaan di mana aku merasa aku dibutuhkan di sana. Aku dihargai sesuai dengan kerja kerasku. Aku memiliki atasan yang memperlakukan aku dengan baik. Teman kerja yang bisa aku percayai. Lingkungan kerja yang kondusif. Perusahaan yang menjual produk yang sesuai dengan nilai hidupku. Dan yang terpenting, aku mendapatkan gaya hidup yang lebih baik lagi sehingga aku bisa mengirimkan jumlah uang yang lebih banyak untuk orangtuaku. Aku sudah mengetahui bahwa pekerjaan yang menjanjikan gaji tertentu setiap bulan dan harapan kenaikan gaji hanya 10% pertahun adalah bukan keinginan aku. Aku ingin pekerjaan yang membayar aku dengan gaji tertinggi yang sesuai dengan kerja kerasku, makanya aku memilih untuk melamar pekerjaan marketing sejak itu.” Jawab Dea sembari memakan kue yang dilapisi selai apel yang dia siapkan dari rumah tadi.

“Memang kamu pernah mendapatkan pengalaman buruk ketika bekerja?” Selidik peri pria itu.

“Mungkin. Di pekerjaan pertamaku sebagai lulusan baru. Aku bekerja di sebuah perusahaan yang aku sendiri bingung pekerjaan apa yang harus aku lakukan. Aku merasa tidak berguna di sana, hingga suatu saat aku diberitahu bahwa hasil pekerjaanku tidak sesuai dengan harapan atasan aku sehingga aku diminta menaikkan lagi hasil pekerjaan aku. Aku lemah dalam berhitung. Dan aku juga tidak tahu bahwa seharusnya aku mengenal dulu karakter setiap orang di sana hingga aku bisa mengetahui bagaimana aku harus bertindak. Aku diberhentikan di pekerjaan pertamaku dengan alasan mereka tidak cocok denganku. Tapi seseorang yang ada di departemen lain yang menjabat sebagai kepala bagian memberitahukan bahwa aku diberhentikan karena perusahaan sedang kesulitan keuangan, target penjualan yang ditargetkan tidak terpenuhi dan banyak klaim dari customer. Bahkan ada perintah kepada setiap kepala bagian untuk melakukan pengurangan pegawai. Andai saja saat itu perusahaan tidak kesulitan keuangan, mungkin aku akan dipertahankan dan dilatih lagi. Jadi aku tidak perlu terlalu bersedih dengan alasan yang diungkapkan atasan langsungku. Mungkin dia malu mengakui bahwa dia memutuskan kontrak kerja karena perusahaan sedang goncang. Tetapi itu juga suatu keberuntungan buatku, bulan depannya aku sudah bekerja lagi di perusahaan yang jauh lebih besar. Nah, di pekerjaan keduaku ini aku baru menyadari bahwa aku tidak merasa dihargai karena gaji yang dibayarkan kepadaku selalu tetap. Akhirnya aku memutuskan untuk tidak melanjutkan kontrak kerja selama 6 bulan dan memutuskan untuk membuka usaha sendiri saja di rumah.” Dea menuturkan kisah perjalanan pekerjaannya kepada peri pria itu sembari mencoba mengingat kembali bahwa sebenarnya dia memang tidak cocok dengan pekerjaan yang memberikan gaji yang dirasanya kurang banyak dan selalu sama sebaik apapun kinerja yang dia hasilkan.

“Lalu?” Peri pria itu menanyakan pertanyaan ini sambil berusaha tetap mendengarkan dengan baik penjelasan Dea.

“Ketika di rumah, aku sudah memutuskan untuk berusaha sendiri saja. Mencoba mandiri, dan mencoba untuk lepas dari orangtua dengan cara menerima pekerjaan yang aku kira bisa membuat aku lebih berkembang. Tetapi pihak saudara dari orangtuaku tidak mengijinkan sehingga aku dikirim ke luar kota untuk membantu saudara yang membuka sebuah toko di sana. Kehidupan kerja yang mengharuskan aku bangun dari jam 7 pagi, mencuci sendiri pakaianku, dan bekerja hingga pukul 9 malam. Setiap hari, yang mana Minggu juga harus menemani berbelanja membuat aku strees. Tidak ada hiburan. Aku juga menyayangkan ijasah S1 aku jika aku terus bekerja di sini. Hingga akhirnya ada sebuah kabar yang memberitahukan bahwa aku mendapatkan wawancara kerja. Kesempatan ini tidak aku sia-siakan. Aku secepatnya mengikuti wawancara kerja itu dan akhirnya aku diterima. Tetapi lagi-lagi ada perasaan tidak masuk akal yang aku rasakan setelah bekerja di sana.” Kata Dea pelan.

“Perasaan apa?”

“Aku merasakan suatu perasaan kosong ketika aku berhasil mendapatkan seorang customer di hari pertama aku mendapatkan sebuah telepon dari customer. Aku tidak mengetahui kenapa aku mendapatkan perasaan kosong itu. Tapi aku kira perasaan kosong ini aku dapatkan karena aku tidak mempercayai perusahaan tempat aku bekerja. Aku meragukan apakah customer yang aku dapatkan ini akan mereka perlakukan dengan baik. Apalagi ternyata kemudian customer ini membatalkan pembelian mereka dan atasan aku mengatakan bahwa uang yang sudah dibayarkan tidak bisa dikembalikan. Dari sana aku memutuskan bahwa mungkin aku bekerja di perusahaan yang kurang benar. Jadi aku memutuskan untuk keluar dan lagi-lagi berharap bisa menjalankan usahaku sendiri dengan cara yang lebih bijak sehingga pegawaiku bisa mendapatkan lingkungan kerja dan gaji yang lebih baik dari lingkungan kerja dan gaji yang pernah aku dapatkan selama bekerja untuk orang lain.”

“Lalu, apakah kali ini kamu berhasil menjalankan usahamu sendiri?” Tanya peri pria itu.

“Tidak. Ketika aku sudah ada di rumah. Aku mendapatkan lingkungan yang kurang mendukung aku, belum lagi konflik dengan adik-adikku yang sempat membuat aku down. Dan banyak hal. Intinya aku merasa rumah bukanlah tempatku sehingga aku memutuskan untuk mencari kerja lagi dan mencoba membuka usaha di luar kota saja.”

“Kamu mendapatkan pekerjaan lagi?” Tanya peri pria itu.

“Begitulah. Tapi kali ini aku yang merasa tertipu. Pekerjaan yang dijanjikan kepadaku ternyata tidak sesuai dengan visi awalku ketika bekerja. Bahkan aku sampai jatuh sakit dan tidak bisa bangun dari tempat tidur karena terlalu tertekan akibat konflik batin. Akhirnya aku mengajukan pengunduran diri dan aku keluar. Lagi-lagi aku pulang. Aku merasa gagal…” Dea berkata hal itu sambil meneteskan air mata.

“Sebagai manusia, aku merasa gagal karena kenapa aku bisa menjadi seseorang yang tidak bisa bekerja. Tetapi sebuah buku mengatakan bahwa kegagalan menjadi pegawai mungkin adalah suatu bukti bahwa kita mungkin tidak diciptakan sebagai seorang pegawai. Mungkin jalur entrepreneur adalah jalan kita. Aku memang seorang yang berani membantah atasan aku dan keras kepala. Berani menciptakan aturan main aku sendiri. Tapi sudahlah. Masa-masa itu telah berlalu hingga akhirnya aku bertemu dengan seseorang yang membantu aku menjadi seorang pengusaha yang berhasil. Aku berterima kasih kepada orang itu.”

“Siapa dia?” Tanya peri pria itu.

“Seseorang..” Jawab Dea pelan. Seseorang yang seperti seorang malaikat. Seseorang yang tiba-tiba datang ketika Dea benar-benar kehabisan uang dan menawarkan Dea sebuah kesempatan untuk menjadi seorang pengusaha yang berhasil jika Dea mau mengikuti bimbingan dia. Seseorang yang memperlakukan Dea dengan baik hingga akhirnya Dea benar-benar merasa berhutang budi kepada seseorang itu. Seseorang yang benar-benar tulus ingin membantu Dea memiliki usaha sendiri dan mengajari Dea hingga usahanya bisa berjalan sendiri tanpa kehadiran Dea di sana. “Seseorang yang membuat aku juga ingin menjadi seperti dia. Tapi entahlah, aku banyak memiliki keinginan untuk menjadi seseorang, dan kemudian aku menyadari bahwa keinginan itu akhirnya tercapai, tetapi aku sendiri tidak merasakan suatu kesenangan ketika mencapainya.”

Dea kemudian menceritakan pengalaman dia ketika dia berhasil menjadi seorang pengawas ujian, seorang ketua kelas, seorang yang berhasil mendapatkan nilai A untuk skripsi, seseorang yang berhasil satu kelompok dengan orang-orang populer. “Semua keinginan itu bisa aku capai, tetapi mengapa aku merasa tidak bahagia ketika sudah mendapatkannya. Aneh ya. Malah aku menganggap bahwa hal-hal itu malah membuat aku kecewa karena kenyataan yang aku hadapi jauh berbeda dari apa yang aku bayangkan.”

“O ya? Jadi apa yang kamu lakukan selanjutnya setelah mengetahui bahwa cita-cita yang berhasil kamu capai ternyata tidak membuat kamu bahagia?” Tanya peri pria itu.

“Aku merasa menjadi orang yang gagal. Ketika menjadi pengawas ujian, aku malah merasa diberikan hanya kelas-kelas yang kecil, padahal kan aku juga mau merasakan bagaimana rasanya mengawasi ruang ujian dengan jumlah peserta yang banyak. Mengawasi ujian juga membutuhkan aku untuk mengorbankan waktu belajar. Bayangkan, ketika teman-teman lain sibuk belajar lebih lagi, aku mengawasi ujian dengan upah yang sebenarnya cukup besar juga si jika dihitung perjamnya. Yah, aku menyukai saja sensasi andrenalin karena resiko membagi waktu dan merasakan uang dari hasil kerja sendiri.” Dea mengutarakan ceritanya.

Dea juga menceritakan perasaan dia ketika mendapatkan nilai A untuk skripsinya. Dan bagaimana kenyataan ketika bergabung satu kelompok dengan orang-orang poluler. “Kamu tahu gak? Aku juga tidak tahu mengapa. Mungkin yang aku rindukan adalah sebuah pujian bahwa aku adalah orang yang hebat. Itu saja. Tetapi aku tidak mendapatkan pujian itu. Mungkin itulah kenapa aku merasa kecewa ketika berhasil mendapatkan apa yang aku inginkan. Aku berpikir bahwa jika aku bisa mendapatkan sesuatu yang setiap orang belum tentu mendapatkannya, aku akan berbahagia. Yah, ego ya?” Tanya Dea kepada peri pria itu.

“Mungkin. Sekarang apakah kamu sudah menemukan apa yang benar-benar kamu inginkan?” Tanya peri pria itu.

“Pertanyaan yang bagus. Aku menginginkan sebuah penghargaan bahwa aku juga adalah seorang Dea yang layak untuk dihargai. Aku sudah lama merindukan sensasi hal itu. Aku merasakan sensasi itu terakhir kali ketika aku kerja praktek di sebuah perusahaan multinasional. Aku merasa tersanjung ketika aku ditempatkan di sebuah departemen yang aku mendapatkan seorang manajer sebagai pembimbing aku. Serasa menjadi orang penting saja ketika mahasiswa lain yang sedang kerja praktek dengan aku sepertinya mendapat tugas remeh saja. Tetapi itu mungkin pemikiran yang salah ya. Yah, aku ingin jadi orang yang berguna saja kali ini. Aku berdoa semoga tulisan-tulisan aku menyadarkan seseorang akan sesuatu. Membuat mereka menjadi manusia yang lebih baik lagi.”

“Kamu pasti bisa kok melakukannya. Kamu bisa membuat suatu cerita tentang kesalahan-kesalahan kamu dan membuatnya menjadi sebuah artikel yang menarik.”

“Iya. Aku sudah membuatnya. Dulu aku adalah seorang yang naïf. Aku selalu merasa sebagai seorang yang gagal jika aku tidak berhasil menjadi pegawai perusahaan tempat aku kerja praktek aku dulu. Aku selalu dibayang-bayangi bahwa aku tidak akan pernah menjadi pegawai perusahaan itu jika aku sukses dan kontrak aku diperpanjang hingga 2 tahun lamanya. Aku tidak mau. Yah, sekarang aku sadar bahwa aku tidak mau menjadi pegawainya lagi. Aku menyadari bahwa gaji yang konstan akan membuat aku kecewa lagi, kecuali gaji itu sangat tinggi hingga melebihi ekspektasi aku. Sekarang aku lebih realistis, aku ingin bekerja dengan baik hingga aku bisa membuat sebuah usaha sendiri. Menggaji karyawanku dengan baik, dan hal-hal baik yang aku impikan ketika aku masih menjadi seorang karyawan.” Kata Dea dengan nada yang kembali bersemangat.

“Usaha seperti apa yang kamu impikan? Apakah kamu sudah tahu kamu akan membuka usaha apa?” Tanya peri pria itu.

“Yah, aku belum tahu mau mendirikan usaha apa. Tetapi setidaknya aku sudah tahu bagaimana memperlakukan karyawan aku dengan baik. Aku akan memilih mereka dengan baik, terutama karakter dan kemauan mereka untuk sukses bersama aku. Aku akan menggaji mereka dengan baik, aku akan membuat mereka bisa mengelola gaji mereka dengan baik, dan aku akan mengajari mereka bagaimana untuk mendapatkan penghasilan tambahan dengan jalan menjadi marketing aku walaupun mereka aku pekerjakan di bagian administrasi atau keuangan. Aku percaya bahwa setiap orang pasti menginginkan gaji dan perlakuan yang lebih baik. Aku akan menjadi atasan yang baik untuk mereka. Setidaknya aku memberikan gaji di atas UMR dan juga membuat mereka bisa merasakan kesenangan hidup yang aku rasakan. Aku akan berbagi keuntungan usahaku secara adil kepada mereka sehingga mereka juga bisa hidup layak.” Kata Dea dengan mata yang berbinar-binar.

“Jika seandainya saat ini kamu bisa mendapatkan sebuah pekerjaan. Hal apakah yang akan kamu lakukan untuk perusahaan itu?” Tanya peri pria itu.

“Saat ini aku sudah melemparkan keinginan konyolku untuk bisa bekerja di perusahaan impian aku. Saat ini aku akan bekerja sebaik mungkin sehingga mereka merasakan bahwa adalah sebuah keberuntungan mendapatkan karyawan sebaik aku hingga mereka melihat almamaterku dan berani merekrut lulusan almamaterku. Yah, aku akan mengelola seberapapun gaji yang aku dapatkan hingga aku memiliki cukup modal dan keberanian untuk membuka usaha sendiri.” Jawab Dea.

“Sebenarnya jika dilihat dari cerita kamu, yang kamu perlukan adalah sebuah jawaban tentang usaha apa yang ingin kamu buka. Modal bisa dipinjam jika kamu yakin usaha itu bisa berhasil. Bukankah begitu?” Tanya peri pria itu.

“Iya juga si. Tapi aku bingung mau membuka usaha apa?” Jawab Dea lemah. Dea merasakan bahwa dia hanya ingin menjadi pengusaha yang bisa menggaji dan memberikan suasana kerja yang baik untuk para pegawainya sehingga mereka bisa merasakan kehidupan yang lebih baik. Dea juga ingin membuat pegawainya memiliki keberanian untuk membuka usaha mereka sendiri sehingga mereka bisa merasakan gaya hidup dan masa depan yang lebih baik.

Peri pria itu memberikan Dea sebuah wafer. Dea mengucapkan terima kasih karena peri pria itu memberikan sesuatu yang dia suka. Yah, Dea merasa sangat nyaman jika berada di samping seseorang yang bisa mengerti perasaan dan pola pikir dia.

“Kamu adalah wanita yang baik, hanya saja kamu mungkin kurang bisa menghadapi kondisi yang membuat kamu merasa kurang nyaman. Lalu sekarang ini kamu sudah cukup puas dengan pekerjaan menulis cerita?” Tanya peri pria itu kepada Dea sambil berdiri.

“Setiap orang pernah merasa terjebak dalam suatu pekerjaan yang tidak mereka sukai. Setiap orang juga mungkin juga pernah merasa mereka sudah bekerja di perusahaan yang salah dan bertolak belakang dengan nilai hidup yang mereka anut. Yah, setidaknya jadilah karyawan yang baik sembari berdoa bahwa akan terjadi perubahan dengan adanya kamu di sana. Tuhan tidak akan memberikan kamu cobaan yang melebihi kekuatan kamu, ingat kan?” Tanya peri pria itu sembari mengajak Dea kembali melanjutkan perjalanan.

“Mungkin selama ini aku terlalu banyak bermimpi dan bercita-cita kosong. Cita-cita yang aku rasakan akan membuat aku bahagia. Yah, mulai sekarang aku akan belajar bercita-cita yang bisa membuat orang di sekeliling aku dan diriku sendiri berbahagia jika aku berhasil mencapainya. Aku rasa cita-cita itu akan menjadi cita-cita yang pasti akan membuat aku berbahagia jika aku menggeser fokusnya dengan melibatkan kebahagiaan orang lain juga.” Jawab Dea sembari menebar seulas senyum kepada peri pria itu. Setidaknya moment yang dia pakai barusan untuk menceritakan pengalaman pahitnya dengan pekerjaan-pekerjaannya yang dulu bisa membawa sedikit pencerahan dan secercah sinar hangat di hatinya.

“Thanks ya kamu mau mendengarkan aku.” Kata Dea riang kepada peri itu sambil berjalan mendahului peri pria itu. “Aku rasa akhirnya aku menemukan impian aku juga. Bagaimana membuat setiap orang bisa merasa gembira walaupun mereka sedang merasa tertekan. Aku beruntung bisa menulis. Aku rasa aku bisa mulai menulis sesuatu yang beda hari ini. Bagaimana membuat hidup menjadi kelihatan lebih menarik.”

“Ide yang bagus. Cepat dibuat saja. Kamu membawa benda itu kan?” Tanya peri pria itu.

“Oh, laktop ya? Aku membawanya kok. Aku bisa mulai mengetik ide-ide aku hari ini. Yah, mungkin dimulai dengan suatu pemikiran bahwa kita bekerja untuk Tuhan. Jika hari ini kita tidak puas dengan gaji yang kita dapatkan, atasan yang membuat kita sakit hati, rekan kerja yang membuat kita habis kesabaran, beban kerja yang sepertinya overload. Kita bisa tetap mengucapkan syukur karena kita masih memiliki pekerjaan dan bisa menghidupi diri kita secara mandiri. Pokok, harus mengingatkan diri sendiri bahwa Tuhan adalah atasan kita. Soal gaji dan segala keluhan kita, kita pasti bisa mengatasi dengan baik dengan paradigma baru ini. Pekerjaanku, ibadahku.  Bagus kan?” Kata Dea sambil tersenyum kecil. Binar kekecewaan dan kesedihan yang tadinya membayangi wajahnya seakan berlalu. Dea hari ini bertekad untuk menulis satu artikel setiap hari untuk seseorang yang mungkin sedang merasakan yang dulu pernah dia rasakan ketika bekerja. “Yah, setidaknya kali ini artikel yang akan aku tulis bisa membuat mereka kembali bersemangat. Semangat.” Seru Dea sambil mengacungkan tangan kanannya ke atas.

Peri pria itu tersenyum kecil melihat semangat Dea. Peri pria itu sangat senang karena di tengah kesedihannya Dea masih bisa memberikan senyuman terbaiknya. Benar-benar wanita yang luar biasa.

Kembali mereka berdua melangkahkan kaki ke tempat itu. Tempat yang akan menjadi saksi bahwa ternyata cinta itu memang sesungguhnya indah.

“Terima kasih Tuhan. Aku tidak menyangka aku bisa menjadi wanita setegar ini.” Kata Dea dalam hatinya sembari memandang ke langit. Dulu Dea pernah mengalami stress dan frustasi di pekerjaannya. Jika saja waktu itu dia memiliki seorang sahabat seperti peri pria ini, mungkin dia tidak akan sedemikian tertekan. “Iya, jika saja waktu itu aku memiliki seorang sahabat yang bisa aku ajak berbincang tentang masalahku. Dan juga rasa syukur bahwa aku masih diberi kesempatan untuk bisa membiayai hidupku sendiri dari gaji yang memang aku rasa masih sangat kecil dibandingkan dengan potensi yang aku miliki dalam diriku.”

Dea berjalan dengan langkah teratur sembari mengingat masa lalunya di pekerjaan-pekerjaannya. Mungkin saat itu dia gagal karena memang dia tidak bisa fokus dalam bekerja. Selalu saja ada kekecewaan dalam dirinya karena dia tidak bekerja di perusahaan impiannya atau kekecewaan karena diberikan lingkungan kerja dengan rekan kerja yang membuat dia merasa tidak nyaman. Dea kembali tersenyum kembali ketika mengingat bahwa pekerjaan apapun kini seharusnya dipandang sebagai anugerah. Pekerjaan dia sebagai penulis juga sebuah anugerah. Tulisan-tulisan dia bisa membuat orang yang merasa lelah menjadi segar. Orang yang sedang patah hati kembali bersemangat. Dan orang yang sedang mengejar cinta yang semu akhirnya berani untuk menghentikan pengejarannya karena cerita yang akan dia buat setelah Dea menyadari bahwa dia sendiri sedang mengejar cinta yang semu. Andai saja Dea bijak, pengejaran cinta ini bisa dihentikan sejak lama tanpa perlu air mata yang selalu tercurah karena Raka. “Sudahlah. Namanya juga cinta. Bukan cinta namanya kalau sedemikian cepat hilang.” Kata Dea dalam hatinya sembari tersenyum dalam hati. Kali ini Dea memutuskan bahwa menunggu waktu Tuhan selagi berusaha menjadi wanita yang baik adalah pilihan yang bisa dia ambil. “Aku percaya Tuhan akan membuat cerita cintaku indah pada waktu-Nya. Amin.”

“Eh, aku mau dengarkan sebuah lagu. Bisa kan?” Tanya Dea kepada peri pria itu.

“Bisa.” Jawab peri pria itu ramah. Suatu perasaan lega menghampiri hati peri pria itu karena wanita yang ada di depannya kini sudah menjadi ceria lagi. “Lagu apa?”

“Lagu T-Max-Wish Ur My Love.” Jawab Dea riang sambil memberikan senyum terbaiknya kepada peri pria itu. Senyum terbaik yang muncul setelah rasa sedih yang berhasil hilang dan digantikan pemikiran baru yang lebih baik.

 

Chapter 16: Jodoh

Dea tiba-tiba menghentikan langkah kakinya dan membuat peri pria itu kaget dan seketika membuat mereka bertabrakan. Ternyata pada saat itu peri pria itu juga sedang melamun dan berjalan pelan-pelan di belakang Dea, maka ketika Dea tiba-tiba berhenti, sontak tubuhnya menabrak tubuh Dea dan mereka berdua jatuh.

Dea hanya terdiam sambil mencoba berdiri lagi. Entah mengapa tiba-tiba dia merasa bahwa cinta itu memang aneh. Datang tanpa kita minta, tidak mau pergi walau kita mohon, tetapi tiba-tiba dia bisa seperti menghilang. “Kapan aku bisa jatuh cinta kepada dia yang bisa mencintai aku balik?” Kata Dea dalam hatinya. Dea merasa sangat capek dengan kisah cinta yang memang selama ini hanya seperti bertepuk sebelah tangan saja.

Peri pria itu hanya terdiam membaca isi hati Dea. Peri pria itu sendiri juga merasakan bahwa cinta itu seperti hujan deras yang tiba-tiba muncul setelah kemarau yang panjang. Jika cinta sudah datang, semua penantian panjang seakan hilang. Diri yang berkata bahwa tidak mungkin jatuh cinta, tiba-tiba terheran-heran karena cinta bisa tiba-tiba muncul di hatinya. Entah karena tiba-tiba merasa cemburu, merasa kangen, merasa kehilangan. “Iya juga. Apakah cinta?” Tanya peri pria itu kemudian di hatinya sembari merenung kembali. Menanyakan kepada dirinya sendiri apakah mungkin seseorang bisa mempertahankan cintanya hanya kepada satu orang saja seumur hidup. Apakah benar cinta yang seperti itu ada?

“Aku belum pernah pacaran. Mungkin karena itulah aku belum pernah merasakan suatu hubungan yang benar-benar nyata. Aku salut kepada mereka yang sudah pernah pacaran dan bahkan kembali bisa berpacaran dengan orang lain setelah putus dari pacarnya.” Kata Dea sambil memandang peri pria itu dalam-dalam. Dea bertanya dalam hatinya apakah dia benar-benar bisa menemukan orang itu tanpa melalui proses pacaran, langsung menikah saja.

“Kamu unik. Jarang ada wanita seumur kamu yang belum pernah pacaran. Tapi itu pilihanmu. Aku doakan kamu cepat menemukan dia ya.” Jawab peri pria itu sambil tersenyum. Setidaknya peri pria itu pernah mendengar dari seseorang bahwa hubungan yang baik adalah hubungan yang serius. Apalagi jika pacar pertamanya adalah juga pasangannya. Hubungan itu akan sangat indah. Semua kenangan dibangun hanya dengan pasangan saja. “Iya, hubungan seperti itu adalah hubungan yang indah. Pasangannya adalah orang pertama yang akan merasakan ketulusan cintanya. Semua kenangan cinta hanya dengan pasangan saja.” Kata peri pria itu dalam hatinya sembari mengagumi karena itulah yang terjadi di dunia peri. Hubungan cinta akan mulai jika peri pria sudah yakin akan pilihannya. Sebelum peri pria mulai menyatakan cintanya, maka dia harus berlaku sebagai teman biasa saja, tidak memberikan perhatian yang lebih dari sekadar teman. Hal itu akan menjaga perasaan peri wanita dan tidak akan menimbulkan cinta sebelum waktunya.

“Aku selalu mengingat seseorang dengan lagu. Kadang jika aku kangen dengan seseorang, aku mendengar lagu apa yang mengingatkan aku akan dia supaya aku bisa mengingat dia. Membuat hatiku tetap berdetak dan tetap tersenyum ketika mendengar lagu itu. Yah, aku berdoa semoga kali ini Tuhan akan menghadirkan seseorang yang lagunya memang untuk aku.” Kata Dea kepada peri pria itu sembari kembali berjalan. “Aku ingin menjadi wanita yang dinyanyikan sebuah lagu hanya untuk aku.” Kata Dea sembari melihat peri pria itu. Hati Dea kembali tersipu kali ini, menyadari bahwa sebuah lagu yang dia temukan sendiri sebenarnya adalah lagu yang sebenarnya dia cari. Nicky Tirta – Indah cintaku.

“Tapi tak mengapa. Dengan menyimpan hatiku, maka dia yang memang seharusnya menjadi milikku, akan benar-benar menjadi yang pertama dari setiap ungkapan cintaku. Ayoooo, aku sudah gak sabar ke pesta itu.” Kata Dea riang sambil menarik tangan peri pria itu keras-keras. Patah hati yang sekian kali ini menyadarkan dia bahwa dia yang mencintaimu tidak akan melakukan hal itu. Betrayal adalah cara Tuhan mengungkapkan bahwa dia bukan yang terbaik untukmu. Ujian cinta yang gagal dijalani oleh dia yang kita cinta ketika dia berubah hati saat seseorang yang lebih baik dihadirkan ke dunianya. “Akan selalu ada yang lebih baik dari aku. Dan akan selalu ada yang lebih baik dari kamu. Tapi yang terbaik dari semua, adalah ketika cinta itu tetap setia, ketika yang lebih baik dihadirkan sebagai penguji. ” Kata Dea dalam hati sambil membuat seulas senyum di hatinya. “Ujian kelima, ujian penentuan cinta peri..”

Chapter 17: Setiap hari

“Manusia diberi waktu 24 jam sehari. Delapan jam sudah diplot untuk tidur, jadi tersisa 16 jam per hari. Iya kan?” Tanya peri pria itu kepada Dea yang dari tadi hanya melamun saja. Memikirkan betapa bodohnya dia selama ini. Memberikan hati dan banyak perhatian khusus kepada seorang pria yang belum mengatakan bahwa pria ini mau mengikatkan diri kepadanya dalam suatu hubungan khusus yang eksklusif. “Bodoh.” Seru Dea dalam hati.

“Hai, benar apa endak?” Tanya peri pria itu sekali lagi karena merasa pertanyaannya tidak dijawab. “Apa? Maaf. Kamu barusan bilang apa?” Seru Dea dengan sopan. Dea merasa serba salah setelah menyadari kebodohannya selama ini. Iya, mungkin semua cerita cinta patah hati dan bertepuk sebelah tangan itu tidak akan terjadi jika dia bisa menanggapi perhatian mereka dengan netral. Tidak membayangkan sebuah kisah yang terlalu jauh sebelum mereka mengatakan bahwa mereka ingin suatu hubungan yang lebih dengan Dea. “Iya, aku yang bodoh. Harusnya aku menanggapi dengan santai aja dan tetap bersikap netral. Bukankah semua cowok itu memang dasarnya suka jika diperhatikan..Dea..Dea..” seru Dea dalam hati. Melupakan bahwa peri cowo itu sebenarnya sedang membuka sebuah diskusi singkat yang amat penting.

“Hai, sudah bisa diajak bicara?” Tanya peri pria itu sembari memandang Dea yang masih terlihat melamun. Akhirnya peri pria itu memutuskan untuk diam dan memberikan Dea waktu. “Yah..cinta itu mungkin lebih sederhana dari yang aku pikirkan. Aku suka ama kamu, kamu suka ama aku, ayo kita saling setia. Iya, sebenarnya sederhana.” Guman peri pria itu sembari mengingat peri wanita yang dipilihnya dulu. Membayangkan jika pernikahan ini hanya sebuah jalan. Membayangkan bahwa di tengah kerelaan hati dia untuk menikahi perempuan asing dari dunia yang berbeda ini hanyalah sebuah skenario saja. Membayangkan bahwa akhirnya dia bisa bersatu kembali dengan peri wanita pilihannya jika dia tunduk kepada jalan cerita yang memang harus ada untuk membuat peraturan itu menjadi peraturan mutlak yang tidak bisa diganggu gugat. Peraturan bahwa setiap peri pria harus bersikap sebagai teman dan tidak memberikan tanda apapun sebelum dia yakin bahwa peri wanita yang dia dekati memang adalah peri wanita yang dia impikan menjadi ibu dari anak-anaknya, pasangan yang dia pilih untuk dia lindungi dan tempat pertama dan terakhir untuk berbagi segala suka dan duka. “Iya, semoga harapanku terkabul.” Seru peri pria itu dalam hati tanpa menyadari bahwa sepasang mata sedang memandangi dia dari kejauhan. Sepasang mata yang dihiasi harapan bahwa peri pria itu akan kembali kepadanya. Sepasang mata cantik yang dulunya memenangkan perhatian peri pria itu.

“Oiya, tadi sekilas aku dengar pertanyaan kamu. Kamu tanya sesuatu tentang 24 jam. Apa ya?” Tanya Dea kepada peri pria itu.

Peri pria itu mengarahkan wajahnya kepada Dea. “Iya, 24 jam. Dari 24 jam itu, 8 jam sudah diplot untuk fase istirahat, tersisa 16 jam, dan dari 16 jam itu, 8 jam untuk bekerja, dan 8 jam sisanya melakukan kegiatan selain bekerja. Apakah memang seperti itu plotnya?” Tanya peri pria itu.

“Aku rasa seperti itu. Delapan jam untuk bekerja, 8 jam untuk tidur, dan 8 jam untuk aktivitas di luar aktivitas itu. Yah, aku rasa hampir 90% orang di duniaku memiliki pembagian waktu seperti itu. Kenapa?” Tanya Dea.

“Enggak, terasa aneh saja. Terasa aneh karena ada perbedaan besar antara dunia kamu dan dunia aku. Di duniaku, tidak ada istilah tidur. Yang kami lakukan adalah membuat suatu cerita.” Seru peri pria itu.

“Cerita?” Tanya Dea heran.

“Iya, sebuah cerita. Yah, kamu akan mengerti hal itu mulai hari ini. Hari-hari yang lalu, aku yang mengikuti ceritamu. Sekarang aku ijinkan kau masuk dalam ceritaku. Kamu perhatikan saja ya ceritaku hari ini. Di dunia peri, sebuah cerita itu tidak memiliki batasan waktu. Tidak ada siang, tidak ada malam. Setiap orang berhak membuat cerita apa yang ingin dia lakukan hari ini. Hari ini, aku ingin membuat cerita tentang waktu karena aku rasa cerita itu akan menarik karena duniamu terasa dibatasi dengan adanya waktu itu.” Seru peri pria itu sembari membuat gerakan seolah dia sedang memegang sebuah bola yang besar.

“Lihat ini. Aku ingin membuat suatu udara yang hangat. Setiap peri di duniaku selalu suka ketika aku membuat udara yang hangat. Udara hangat itu membuat mereka merasa nyaman daripada udara dingin yang aku buat ketika aku sedang bertengkar dengan dia..” Kata peri pria itu pelan dan melayangkan pandangannya ke tanah.

“Iya, aku rasa sama. Di duniaku, manusia juga seperti itu. Hati terasa hangat jika bisa berada dengan orang yang kita sayang. Hati juga terasa dingin dan kosong jika orang yang kita sayangi terasa jauh dan hilang. Tapi sudahlah. Aku lebih mempercayai komitmen dan tanggung jawab. Aku lebih mempercayai seorang pria yang dengan berani mengatakan bahwa dia ingin mencintaiku, daripada aku dengan bodohnya memberikan perhatian lebih kepada pria yang bahkan belum mengatakan bahwa dia memilihku.” Jawab Dea.

Udara memang seakan hangat. Merasuk sampai ke hati. Dea merasakan suatu perasaan yang nyaman. Kenangan-kenangan bersama Raka muncul di ingatan dia. Kenangan-kenangan manis yang seharusnya sudah harus dilupakan. Kenangan yang seharusnya tidak pernah ada jika dia adalah wanita yang pintar. Wanita pintar yang bisa memberikan perhatian sebatas teman saja, bukan wanita bodoh yang memberikan perhatian khusus sebelum waktunya.

“Setiap hari di dunia peri itu indah. Jika tiba-tiba ada hal buruk yang terjadi, setiap orang diberikan hak untuk bisa mengubah hari buruk itu menjadi hari baik dengan usahanya.” Kata peri pria itu sembari menurunkan tangannya.

“Maksud kamu?” Tanya Dea.

“Ego. Setiap cerita yang terlihat akan memiliki akhir yang buruk bisa diubah menjadi kisah yang berakhir dengan akhir yang baik jika ego disingkirkan. Kadang cerita itu menjadi buruk karena salah paham saja. Yah, aku rasa dunia peri itu tidak ribet. Kami cepat meminta maaf kepada orang yang kami rasa kami berbuat salah kepadanya. Bahkan, kami adalah pihak yang cepat meminta maaf walaupun kami tidak salah karena kami menyayangi orang itu dan karena kami ingin tetap menjadi bagian cerita orang itu. Yah, terkadang ada peri-peri yang egois. Mereka membuat peri lain tidak memiliki tempat dalam cerita mereka dengan cara memutuskan hubungan sama sekali.” Kata peri pria itu.

“Iya, memutuskan hubungan. Aku rasa memang memutuskan hubungan adalah hal yang ada di dunia manusia. Bagaimana cinta terkadang adalah pihak yang menjadi kambing hitam. Sebagai pihak yang disalahkan karena cinta yang baru tidak ingin cintanya berhubungan dengan semua hal yang berkaitan dengan cinta lama dia. Yah, aku rasa peraturan di negeri peri adalah peraturan yang baik. Tidak membangkitkan cinta sebelum waktunya. Menjaga hubungan tetap netral hingga peri pria yakin bahwa peri wanita ini adalah pasangannya.” Seru Dea dalam hati sembari menyadari bahwa dia harus melewati patah hati yang parah hingga sampai di kesimpulan tersebut. Kesimpulan bahwa sebagai wanita tidak boleh membayangkan sesuatu yang lebih jika pihak pria sendiri belum mengatakan sesuatu itu.

“Jadi, hari ini kamu mau membuat cerita apa?” Tanya Dea kepada peri pria itu.

“Hari ini aku ingin membuat cerita tentang peraturan itu. Peraturan yang akan segera disahkan sebagai peraturan mutlak jika kita menikah.” Kata peri pria itu kepada Dea.

“Apa?” Kata Dea dengan heran.

“Kamu ada di dunia peri untuk membuat peraturan itu menjadi peraturan yang sah. Maafkan aku jika mungkin ada perbuatan atau perkataan aku yang membuat kamu merasa aku menyukai kamu. Tapi apakah kamu merasa aku mengatakan atau melakukan sesuatu yang membuat kamu merasa aku menyukai kamu?” Tanya peri pria itu.

“Mungkin.” Jawab Dea pendek. Yah, cara peri pria itu memakan masakannya, cara peri pria itu tertawa dalam menanggapi leluconnya, cara peri pria itu menanggapi permintaannya. “Yah, mungkin. Tapi andaipun aku merasa kamu menyukai aku, kamu tidak akan bisa membuat aku menyukai kamu karena di hatiku sekarang ini sudah ada seseorang..tapi jika di hatiku tidak ada siapapun, mungkin hari ini aku juga akan menyukai kamu..” Jawab Dea pendek.

“Iya, itulah dusta. Makanya peraturan itu memang harus ditegakkan. Aku tidak menyukai kamu. Semua perkataan dan perbuatan aku itu hanya sebatas sopan santun saja. Aku memang merasa nyaman berada di dekatmu, mengagumi pemikiran kamu, tetapi di hatiku juga masih tersimpan seseorang.” Kata peri pria itu kepada Dea.

“Baguslah. Kita sama-sama saling tidak menyukai.” Kata Dea sambil memandang peri pria itu dengan senang.

“Tapi ada namanya cinta karena terbiasa. Maka jika seorang peri pria hanya menganggap seorang peri wanita itu hanya sebatas teman, peri pria itu dilarang keras menanggapi perhatian peri wanita yang seolah memiliki rasa suka kepada peri pria itu. Peri pria itu harus bersikap cuek hingga peri wanita itu menyadari bahwa peri pria itu tidak menaruh rasa yang sama kepadanya. Bahkan dalam kondisi ekstrem, ungkapan bahwa peri pria itu hanya ingin berhubungan sebatas teman adalah ungkapan final untuk menghentikan bayangan aneh-aneh seorang peri wanita.” Kata peri pria itu.

“Bayangan aneh seperti apa?” Tanya Dea.

“Yah, kadang peri pria ada yang keterlaluan. Mereka memperlakukan setiap peri wanita dengan spesial sehingga untuk peri wanita yang lemah dan belum memiliki prinsip, maka peri wanita itu menyalahartikan bahwa peri pria itu sedang mempertimbangkan dia sebagai pasangannya dan mulai memberikan perhatian yang lebih kepada peri pria itu. Yah, untuk peri pria yang baik dan tidak brengsek, peri pria itu akan langsung bersikap cuek dan mengatakan bahwa dia hanya menganggap peri wanita itu sekadar teman saja jika si peri wanita sudah bersikap aneh-aneh. Untuk peri pria yang brengsek, dia akan menikmati perhatian khusus peri wanita itu tanpa sedikitpun ada di pikiran dia untuk menjadikan dia pasangannya.” Kata peri pria itu.

Chapter 18: Kemurnian sejati

“Peri?” seru Dea pelan kepada peri pria itu. “Apakah benar kesucian hati dan kesucian tubuh bisa membuahkan seorang peri pria yang luar biasa seperti kamu?” Tanya Dea dengan hati-hati kepada peri pria yang sedang sibuk bermain dengan tangannya yang membentuk gerakan-gerakan aneh.

Peri pria itu hanya tersenyum menanggapi pertanyaan gadis yang sudah beberapa waktu ini menghabiskan waktu bersama dia. Peri pria itu juga merasa bingung dan tidak menyangka bahwa keputusan kedua orangtuanya untuk saling menjaga diri hingga hati mereka berkata iya ternyata menghasilkan suatu keajaiban di dunia peri.

“Yah, itu mungkin juga keberuntungan aku. Orangtuaku sama-sama pernah mengalami patah hati yang parah. Ibuku patah hati kepada seorang peri pria yang tiba-tiba menghilang karena peri wanita yang dipilih peri pria itu melarang peri pria itu berkomunikasi dengan ibuku. Sedangkan ayahku adalah peri pria yang patah hati karena peri wanita yang dia pilih ternyata menduakan cintanya. Yah, begitulah.” Kata peri pria itu.

“Cerita ini bakal panjang, kamu beneran mau mendengarkannya?” Tanya peri pria itu serius.

“Mau.” Jawab Dea tegas karena dia merasa cerita cinta ibu peri pria itu mirip dengan kisah cintanya.

Lalu peri pria itu menceritakan bahwa kedua orangtuanya kemudian memutuskan untuk melanjutkan hidup walaupun dengan kondisi hati yang sangat berantakan. Dunia peri pada waktu itu masih kacau, belum ada peraturan itu sehingga setiap peri bebas memulai dan mengakhiri cerita cinta semau mereka.

Peri pria itu menceritakan bahwa akhirnya ibunya memutuskan untuk berkomitmen menjaga hati dia hingga ada seorang peri pria yang dengan serius mengatakan bahwa peri pria itu memilih dia. Sebuah keputusan yang sangat berat karena ibu peri pria itu biasanya menghabiskan waktu bergalau ria memikirkan kenapa cintanya tidak berbalas. Tapi keputusan ibu peri pria itu untuk melanjutkan hidup berbuahkan sesuatu yang baik, akhirnya dunia peri bisa mengenal seorang penulis cerita cinta yang sangat berbakat. Ibu peri pria itu menjadi seorang penulis cerita yang ceritanya menjadi suatu cerita yang hidup. Banyak peri pria dan peri wanita yang datang kepada ibu peri pria ini untuk meminta suatu kisah cinta yang indah. Dan ajaibnya, cerita cinta yang dikarang oleh ibu peri pria ini selalu menjadi kenyataan. Hanya saja cerita itu akan menjadi kenyataan jika peri yang meminta cerita cinta itu benar-benar menjaga hati dan tubuh dia tetap suci hingga dia merasa siap untuk memulai suatu kisah cinta.

“Oh iya? Maksudnya apa? Menjaga hati dan tubuh tetap suci?” Tanya Dea.

“Yah, sebelumnya para peri tidak mengetahui persyaratan ini, hanya ibuku yang mengetahui persyaratan kesucian ini. Tapi karena rasa penasaran di hati para peri karena ada kisah cinta yang terwujud dan kisah cinta yang tidak terwujud, maka peri peneliti memutuskan untuk meneliti fenomena ini. Dari penelitian dia, ditemukan bahwa kisah cinta yang terwujud terjadi karena peri yang meminta cerita cinta benar-benar menjaga kesucian hati dan tubuhnya dengan cara tetap fokus meraih impian dia dan tidak mengijinkan hatinya untuk memfokuskan diri kepada seorang peri lawan jenis hingga dia merasa siap untuk memulai suatu kisah cinta.” Jawab peri pria ini panjang.

“Wah….coba aku ketemu kamu di saat aku masih polos dan lugu ya, pasti aku tidak akan mengalami deretan patah hati. Aku bisa mengggunakan waktuku untuk menjadi Dea yang lebih baik selagi menjaga hati dan tubuhku hanya untuk pria yang serius untuk menjadikan aku pasangan dia.” Kata Dea dengan hati yang kesal. Dea membayangkan waktu-waktu dan air mata yang telah tercurah untuk menangisi pria-pria yang disukainya. Dea merasa sangat menyesal, andai saja dia bisa mengulang waktu, dia akan menjaga hatinya tidak lari kepada pria itu dan tetap menganggap perhatian pria itu hanya sebatas teman baik. “Yah..bodohnya aku dulu..”Seru Dea dalam hati.

“Kamu tidak bodoh kok.” Kata peri pria itu tiba-tiba.

Dea merasa kaget, dia baru ingat bahwa peri pria ini bisa membaca pikirannya.

“Iya, banyak teman yang mengatakan aku wanita yang sangat pintar. Tapi entah kenapa, IQ aku jadi sangat jongkok kalau sudah dikontaminasi cinta, hehehhe” seru Dea pelan sambil tertawa untuk menyembunyikan rasa malunya.

Lalu peri pria itu kembali melanjutkan ceritanya. Sejak saat persyaratan itu diketahui, para peri yang memang mendambakan suatu kisah cinta yang indah dan abadi akhirnya menjaga hati dan tubuh mereka dan berfokus untuk mencari dan mengasah keahlian mereka hingga hati mereka siap untuk suatu kisah cinta. Tidak aneh akhirnya kisah cinta di dunia peri diadaptasi oleh manusia dalam cerita dongeng mereka, Cinderela, Putri tidur, Rapunzel, dan masih banyak lagi. “Ibuku memang berbakat. Setiap hari kerjanya adalah menulis dan menulis. Dan anehnya, ayahku tidak pernah merasa kesal karena tabiat ibuku itu. Dia sudah mengerti bahwa kebahagiaan ibuku adalah dengan menulis. Maka sudah tidak aneh jika berhari-hari ayahku membiarkan ibuku tenggelam dalam kesibukan menulis dan mencari kesenangan sendiri dengan kegiatannya.” Kata peri pria itu.

“Kegiatan apa? Mungkin gak ayahmu selingkuh karena ibumu asyik dengan menulis?” Tanya Dea.

“Tidak mungkin ayahku selingkuh. Tidak ada kata orang ketiga kalau kau benar-benar mencintai seseorang. Kamu tahu tidak? Di sela-sela kesibukannya, ada saja cara ibuku menunjukkan kepada ayahku bahwa dia mencintainya. Kata ibuku, yang namanya cinta sejati itu indah. Nantilah, ketika aku merasakannya, aku akan tau, itu kata ibuku kepadaku.” Kata peri pria itu.

“Masa di dunia peri tidak ada perselingkuhan?” Tanya Dea.

“Dulu ada. Tapi semenjak para peri berlomba menjaga hati dan tubuhnya dan fokus kepada meraih impian sebelum mereka siap untuk setia kepada seseorang, maka perselingkuhan sudah tidak ada. Kamu tau kenapa perselingkuhan tidak ada di duniaku?” Tanya peri pria itu kepada Dea.

“Kenapa?” Tanya Dea.

“Itu semua karena ibuku. Entah kenapa, ibu selalu menyelipkan cerita patah hati di setiap ceritanya. Dan anehnya, walaupun setiap peri sudah tahu bahwa mereka pasti akan patah hati kepada orang yang salah sebelum ditemukan dengan orang yang tepat, para peri tetap selalu ingin mendapatkan cerita cinta dari ibuku.” Kata peri pria itu.

“Patah hati kepada orang yang salah?” Tanya Dea. “Tapi tadi kamu bilang bahwa setiap peri yang ingin cerita cinta yang indah harus menjaga hati dan tubuhnya. Lalu kenapa ibumu tetap dengan kejam menghadirkan patah hati di cerita cinta yang dia buat untuk peri-peri itu?”

“Karena ibuku tahu. Patah hati memang harus ada. Ibuku dulu merasakan patah hati yang sangat berat hingga dia sampai di kesimpulan bahwa sudah saatnya dia bangkit dan memulai mengejar impiannya. Ibuku yakin, jika cinta sejati itu benar-benar ada. Pastilah cinta sejati itu akan datang di saat yang tepat, yaitu di saat ketika ibuku sudah bisa berbahagia sendiri dan sudah mengetahui apakah impiannya dan setiap hari bangun untuk mengerjakan apa yang dia sukai. Ayahku mengetahui bahwa itu ibuku di detik dia melihat ibuku sedang menulis cerita cinta untuk seorang peri, yah, kisah cinta yang indah kan? Kisah dimana pasanganmu mengetahui itu kamu di detik ketika kamu sedang asyik melakukan kegiatan yang kamu suka?” Tanya peri pria itu kepada Dea.

“Hmm….aku bingung..lalu, kesimpulannya. Apakah kelahiranmu juga suatu pertanda bahwa menjaga kesucian hati dan tubuh hanya untuk cinta sejati itu sangat penting?” Tanya Dea.

“Iya. Kelahiranku saja ajaib. Suara tangis pertamaku memekakkan seluruh dunia peri. Dan keajaiban tidak berhenti di situ saja. Kulitku selalu sehat, tidak ada pernah ada luka apapun di kulitku, bahkan ketika seharusnya ada bekas luka karena goresan duri atau apapun. Keajaiban demi keajaiban ini membuat para peri heran. Akhirnya peri peneliti melakukan penelitian lagi. Dari situ dia mendapatkan kesimpulan bahwa peri-peri yang benar-benar serius menjaga kesucian hati dan tubuhnya adalah peri yang bisa melahirkan keturunan dengan kemampuan yang lebih baik. Cinta yang sejati dan setia membuat alam ini memberikan karunia keturunan yang baik. Air saja menjadi kristal yang baik jika didengungkan kata cinta, apalagi sel telur dan sel sperma yang disatukan oleh sebuah cinta yang tulus, sejati, suci, dan murni. Karena itulah maka peraturan dan efek dari peraturan itu menaikkan harapan para peri. Hanya peri yang berpikiran pendek dan meremehkan peraturan dan efek dari peraturan itu yang akan menyesal.” Seru peri pria itu.

“Ya. Aku rasa penyesalan itu ketika keturunan mereka menjadi peri tingkat biasa dan bahkan rendah. Begitu ya?” Tanya Dea.

“Iya. Keturunan peri yang tidak bisa menjaga kesucian hati dan pikiran mereka akan bernasib sangat buruk. Hingga akhirnya mereka sendiri bertekad untuk mengembalikan nama baik mereka dengan jalan menjaga kesucian hati dan tubuh mereka dan meminta kisah cinta yang bisa mengembalikan keturunan mereka menjadi keturunan yang lebih baik. Dan pastinya ibuku juga bijaksana. Ibu mengaturkan bahwa hanya keturunan ketujuh dari peri yang mau kembali kepada peraturan yang akan merasakan kemuliaan keturunan yang diberkahi banyak kemampuan.” Jawab peri pria itu pendek.

Chapter 19: Double Happiness

“Ibuku selalu berkata bahwa aku tidak akan menemukan cinta sejatiku sebelum aku bisa berbahagia sendiri. Yah, aku belum mengerti kata-kata itu hingga aku memutuskan untuk mencari kelebihan apalagi yang aku punya dan tenggelam dalam keasikan menemukan diriku dan kehebatannya. Dan perkataan ibuku sangat tepat. Sebelum aku merasa utuh dan bisa berbahagia dengan kesendirian, aku tidak mungkin bisa menemukan dia yang membuat aku merasa tidak utuh lagi setelah aku berhasil menjadi utuh. Kondisi utuh harus dijalani dulu sebelum akhirnya kita merasa benar-benar tidak utuh tanpa dia.” Kata Peri pria itu.

“Kamu juga harus memperjuangkan kondisi utuh itu. Kamu harus mengetahui kegiatan apa yang kamu senangi. Pekerjaan apa yang membuatmu seperti tidak bekerja dan membuatmu berbahagia karena bisa mengerjakan pekerjaan itu setiap hari. Kamu harus merasa bahwa dirimu benar-benar utuh dan merasa menjadi manusia yang berguna.” Kata peri pria itu sambil beranjak berdiri.

Dea hanya terdiam dan mulai menulis di buku yang diberikan peri pria itu. “Menjadi seseorang yang utuh.” Tulis Dea sebagai judul tulisan dia hari ini.

“Menjadi bahagia seutuhnya hingga diri ini tertarik kepada orang bahagia lainnya yang juga merasakan bahwa dunia ini sangat indah. Keren!” Kata Dea sambil mengingat sebuah lagu yang membuat dia merasa bahwa lagu itu sangat keren. Hentaman lagu itu di benaknya membuat dia melupakan kesedihannya sebentar karena bayangan seorang pria yang membuat dia patah hati.

Peri pria itu hanya tersenyum melihat perubahan drastis itu, betapa anehnya melihat Dea. Dari seorang gadis yang kelihatan tidak bisa bangkit lagi karena patah hati, menjadi gadis yang sekarang ini berusaha berbahagia dengan caranya sendiri. “Aku suka dengan caramu.” Seru pria itu pelan dalam hatinya sembari memandangi Dea yang kelihatan terpukau dengan lagu yang dia pilih saat ini untuk menghibur hatinya.

“Apa? Kenapa kamu menatap aku aneh? Aneh ya? Aku rasa tidak aneh. Ini saatnya berbahagia penuh. Aku merasa melewatkan banyak hal ketika aku bersedih karena dia. Aku tidak menyangka hanya dengan mendengar dan melihat video klip musik-musik keren dan sibuk mempersiapkan diri untuk menjadi pribadi yang pantas akan sangat keren. Ahahahah.” Seru Dea dengan girang.

“Iya, mungkin aku benar-benar melewatkan keasikan dunia dengan kegalauan aku. Saatnya meraih kebahagiaan aku sendiri dan jatuh cinta kepada orang yang juga sedang meraih kebahagiaannya. Double happiness periku.” Kata Dea riang. “Bukankah dunia akan menjadi lebih indah jika kita yang sudah tau apa itu bahagia akhirnya ditemukan juga dengan seseorang yang sudah tau apa itu bahagia? Bukankah saling membagikan kebahagiaan itu lebih asik daripada meminta orang lain membuat kita bahagia?” Seru Dea sambil memasang raut muka riang yang dipaksakan, tapi itulah pilihan terbaik baginya saat ini. Tenggelam dalam kenangan indah masa lalu, dan harapan sebuah masa depan, seharusnya tidak boleh membuat dia kehilangan kebahagiaan masa kini. Hari-hari sebelum Tuhan mempertemukan dia dengan belahan jiwa sejatinya akan dia gunakan sepenuh hati untuk menjadi wanita yang bisa berbahagia dan mencoba mencari apa itu yang benar-benar dikatakan kondisi bahagia sehingga dia tidak perlu merasa sedih karena tindakan orang lain.

“Kamu tau Dea? Kenapa orang yang kuat itu bahagia? Karena apapun yang terjadi di luar dirinya tidak akan mempengaruhi apa yang ada di dalam dirinya.” Seru peri pria itu bijak.

“Iya. Aku akan menjadi wanita yang kuat. Aku bersyukur ada banyak artis di luar sana yang mau berjuang menciptakan lagu yang bagus dan keren-keren. Terberkatilah mereka.” Seru Dea sambil mencoba menikmati video klip lagu berikutnya yang terlihat sangat jelas di hadapannya. Peri pria itu membuat sebuah layar besar yang membuat Dea bisa menikmati video klip lagu dengan lega karena layarnya sangat besar.

“Obat bagi hati yang patah adalah lagu yang gembira dan kegiatan asik untuk menyibukkan diri.” Seru Dea kepada peri pria itu sambil kembali melanjutkan tulisannya di buku itu. “Cinta yang sejati itu setia. Jika seorang pria belum bisa setia kepadamu, lepaskan dia, biarkan dia menemukan cinta sejatinya yang akhirnya bisa membuat pria itu setia kepadanya.” Tulis Dea dalam cerita yang dia tulis di buku yang diberikan peri pria itu.

“Aku akan berbahagia. Aku akan berusaha bahagia. Aku percaya bahwa sudah seharusnya aku bertanggung jawab untuk berbahagia dan tidak menyalahkan orang lain atas kesedihan hatiku.” Seru Dea sambil memandang langit yang hari ini tampak benar-benar cerah sehabis hujan deras tadi siang.

 

“Masih banyak lagu keren yang belum aku dengarkan. Masih banyak dunia yang belum aku rasakan. Hei Dea hidupmu baru dimulai ladies. Be happy De.” Seru Dea riang sambil berdoa semoga pria yang telah mematahkan hatinya bisa berbahagia juga saat ini. “Sebuah doa selalu berbalik arah. Aku akan berdoa yang terbaik untuk kamu. Semoga kamu bisa berbahagia juga ya.” Seru Dea sambil menutup buku yang diberikan peri pria itu. Saatnya kembali melanjutkan perjalanan mereka ke pesta besar itu.

 

Chapter 20: Misteri Percintaan Peri

“Akhirnya. Aku sudah siap mendengar ceritamu tentang rahasia percintaan peri. Ayo, tolong jelaskan. Please.” Kata Dea sambil memohon dan menyilahkan peri pria itu duduk di samping dia.

“Hmm..yah, sebenarnya semuanya sangat sederhana. Pada prinsipnya, setiap peri akhirnya mengetahui bahwa perasaan mereka adalah area yang suci. Jadi mereka sangat sadar untuk menjaga perasaan mereka sebelum mereka siap. Dan karena mereka percaya adanya makhluk bernama karma, maka mereka juga menjaga diri mereka untuk tidak bermain dengan perasaan peri lain supaya makhluk bernama karma itu tidak menciptakan suatu peri ilusi untuk membuat peri itu merasakan apa yang dirasakan oleh peri yang dia mainkan perasaannya.” Kata Peri pria itu menjelaskan.

“Hmmm..Bisa tolong dijelaskan dengan lebih sederhana?” Tanya Dea dengan bingung.

“Yah, sebenarnya tidak ada misteri dalam percintaan di dunia kami. Semenjak ibuku menuliskan cerita cinta untuk para peri yang benar-benar ingin bisa bercinta dengan cinta sejatinya dan menghasilkan keturunan yang minimal seperti aku yang diberi banyak kemampuan khusus, dunia peri ini memang agak kacau, mungkin seperti dunia kamu ya.” Jawab peri pria itu.

“……….” Dea hanya terdiam sembari merasakan kekosongan di hatinya karena penjelasan peri itu.

“Hmmm..begini. Ibuku mengatakan bahwa kita bisa tiba-tiba tanpa sadar mencontoh dan meniru orang yang sering bergaul dengan kita, baik kata-kata yang dia gunakan, cara dia berpikir, hingga cara dia memimikkan wajahnya. Oleh karena itu, ibuku selalu mengingatkan aku untuk berhati-hati jika menghabiskan waktu dengan seseorang atau kumpulan aktivitas. Yah, aku rasa nasehat ibuku benar. Para peri yang lama berpasangan memang akhirnya seperti mirip, baik cara mereka tertawa, cara mereka tersenyum, bahkan sampai cara mereka mengungkapkan ekspresi lain. Yah, dari situ aku berpikiran logis. Aku harus menjadi peri yang baik dulu sehingga aku bisa menyortir peri-peri yang kurang dari kualitasku. Aku gak mau dikontaminasi oleh peri yang karakter dan cara berpikirnya gak sesuai dengan kualitas yang aku harapkan. Percintaan di duniamu kelihatanya sangat kacau ya. Aku lihat bahwa di duniamu, seseorang bisa memulai kisah cinta dan bahkan menjalin hubungan dengan seseorang walaupun dia tidak berminat menikahi orang itu. Itulah yang membedakan duniamu dengan duniaku.” Kata peri pria itu dengan bijak.

“Tapi untunglah. Aku sudah memilih peri wanita yang baik. Tapi yah, aku harus taat kepada jalan cerita. Aku tidak main-main dengan peri wanita itu. Aku serius untuk berpasangan dengan dia. Berat hatiku untuk tiba-tiba mengatakan kepada dia bahwa aku akhirnya harus menikah denganmu. Berat..” Kata peri pria itu jujur.

“Tapi kan aku tidak memintanya. Kamu sendiri yang bilang bahwa kamu harus membawa aku ke pesta besar itu dan menikah supaya aku bisa kembali ke duniaku.” Kata Dea dengan sedih.

“Coba kemarilah. Aku ingin menunjukkan kepadamu apa itu namanya penantian cinta sejati.” Seru peri pria itu kepada Dea.

Peri pria itu membuat sebuah gerakan dengan tangannya dan munculah sebuah layar yang sangat besar. Di layar itu diperlihatkan peri pria yang terbang lalu lalang dan memeriksa setiap peri wanita yang dia sukai untuk mengetahui karakter dan kecocokan mereka. Tapi anehnya, para peri wanita seakan tidak mengetahui keberadaan peri pria itu.

“Apakah peri wanita tidak mengetahui keberadaan para peri pria?” Tanya Dea.

“Begitulah. Ada yang namanya ujian cinta sejati. Dan hanya peri pria yang sudah dewasa, matang, dan benar-benar siap untuk berpasangan yang bisa lolos ujian itu dan bisa memilih peri wanitanya. Di dunia kami, sebenarnya ada dunia dimana hanya hidup peri wanita, dunia hanya hidup peri pria, dan dunia dimana hidup sebuah keluarga peri. Di dalam dunia peri wanita, setiap peri wanita akan fokus menemukan kelebihan dan kecantikan alaminya dan berbahagia tanpa dipusingkan dengan naik turunya perasaan karena cinta. Di dalam dunia peri pria, setiap peri pria akan fokus menemukan kegiatan yang membuat mereka merasa hidup dan bahagia ketika melakukannya hingga mereka merasakan kebutuhan untuk berpasangan. Dan di dunia keluarga peri, barulah hidup peri wanita dan peri pria dengan anak-anak mereka. Kamu tahu keunikan dunia peri? Setiap peri hanya memiliki satu anak. Jika anaknya laki-laki, maka keluarga peri ini akan hidup di potongan dunia keluarga peri dan peri pria. Itulah sebabnya para peri pria hanya mengenal ibu mereka sebagai peri wanita satu-satunya sehingga banyak peri pria yang akhirnya memilih pasangan yang mirip dengan ibu mereka.” Kata peri pria itu.

“Sebentar. Maksud kamu, para peri itu sebenarnya tidak mengetahui bahwa ada peri lawan jenis sampai mereka merasakan kebutuhan untuk memiliki seseorang?” Tanya Dea.

“Begitulah. Kebutuhan untuk memiliki seseorang. Yah, kebutuhan itu pasti datang. Dan ketika kebutuhan itu datang, di saat itulah dunia peri memperlihatkan dunia peri wanita kepadanya, yang akan membuat dia sangat heran karena tersedia begitu banyak pilihan peri wanita selain ibunya.” Kata peri pria itu sambil merentangkan tangannya untuk merilekskan tubuhnya.

“Hmm..aku bingung. Yah, apakah intinya, setiap peri bisa mendapatkan cinta sejatinya karena mereka bisa menjaga perasaannya dan tidak bermain dengan perasaan peri lawan jenis sebelum mereka siap untuk berpasangan. Apakah makhluk bernama karma itu ada?” Tanya Dea.

“Setiap orang di dunia peri mengatakan bahwa dia ada. Ibuku seringkali memperingatkan aku. Dunia peri tidak mungkin memberikan seorang peri yang sering mempermainkan perasaan peri lain seorang pasangan yang baik. Tidak ada namanya sebuah permohonan bahwa peri yang suka mempermainkan perasaan itu akhirnya ingin setia, meminta pasangan yang baik, dan permohonan dia dikabulkan. Untuk saat ini. Karma selalu ada karena doa para peri wanita yang menangis itu kuat dan seringkali dikabulkan. Beruntunglah jika peri pria itu didoakan yang baik oleh peri wanita yang sudah dilukai perasaannya olehnya sehingga karma tidak bisa menjalankan aksinya, tapi sungguh sial bagi peri pria itu jika peri wanita yang dia permainkan perasaannya adalah peri wanita yang juga tidak baik hatinya sehingga mendoakan semoga peri pria itu juga mendapatkan peri wanita yang akan selalu mempermainkan perasaannya.” Seru peri pria itu.

“Hmmm..dunia kamu asik. Yah, aku beruntung bisa mengenal kamu. Kamu tahu sesuatu gak? Seorang teman mengatakan kepadaku bahwa wanita jatuh cinta dahulu kepada seorang pria dan barulah dia mencari tahu tentang pria itu. Dan pria jatuh cinta kepada seorang wanita ketika pria itu mengenal wanita itu. Yah, makanya kadang ada rasa cemburu di dunia aku jika seorang pria dekat dengan seorang wanita. Hanya saja, kadang pria meremehkan peringatan itu dan tetap menjalin hubungan dengan seorang wanita yang lain dengan akrab. Maka tidaklah aneh terjadi skandal hubungan seorang bos dengan sekretaris, ataupun hubungan semacam itu karena kedekatan setiap hari.” Kata Dea dengan hati-hati.

“Aku rasa kamu benar. Rasa cinta di hatiku tumbuh ketika aku tahu bahwa peri wanita pilihanku masuk dalam kriteria aku. Kamu juga harus seperti itu. Fokuslah menjadi seorang wanita yang baik. Ingat, pria baik itu tertarik kepada wanita yang baik. Pria yang kurang baik biasanya tertarik kepada wanita yang bungkusnya terlihat baik padahal dalamnya kurang baik. Di sanalah karma itu membuktikan dirinya di dunia kamu. Aku berdoa kamu akan menjadi wanita baik yang utuh sehingga seorang pria yang baik bisa jatuh cinta kepada kamu ya.” Kata peri pria itu bijak.

“Terima kasih.” Kata Dea. Dalam hatinya Dea akhirnya yakin. Dia memang harus menjadi pelaku cerita yang baik dan kembali ke dunianya dengan baik-baik. Walaupun Dea sudah mengetahui bahwa akhir cerita ini adalah dengan menikah dengan peri pria itu dan kemudian berganti tempat dengan peri wanita pilihan peri pria ini dan kembali ke dunianya.

“Hmmm..mungkin ini memang rahasia. Berulang kali aku ingin mengatakan bahwa akhirnya aku bisa kembali jika aku menikah dengan dia dan berulang kali mulutku ini langsung terkunci. Mungkin cinta sejati itu memang merelakan yang dicintai pergi dengan orang lain jika memang bukan kita pilihan hatinya. Peri wanita itu baik sekali. Dia tidak berusaha untuk mengganggu aku dan peri pria ini sedetikpun. Aku kagum dengan cinta sejatimu hai peri pria.” Kata Dea dalam hati.

Chapter 21: Pernikahan

“Seseorang mengatakan kepadaku..” Kata peri pria itu sembari mereka memandang langit yang memperlihatkan tulisan yang melayang-layang.

Peri pria itu mengatakan bahwa sebuah pernikahan akan menjadi pernikahan yang indah jika pihak pria dan pihak wanita sudah mengerti kelemahan dan kelebihan masing-masing pasangan sehingga kehidupan pernikahan akan menjadi kehidupan yang menarik. Sebelum seseorang menikah, dia menjalani kehidupan dengan dunianya sendiri, dan setelah menikah, dia perlu memberikan toleransi supaya kehidupan yang pernah dia jalani bisa tetap mengasikkan dengan adanya pasangan yang sekarang menemani dia setiap waktu.

Peri pria itu mengatakan bahwa kehidupan pernikahan tidak ada bedanya dengan kehidupan setelah menikah, bedanya, sekarang dia tidur tidak seorang diri, dia akhirnya bisa mempercayai seseorang di dunia dengan sungguh-sungguh dan membagikan ketakutan, impian, dan harapan dia kepada seseorang. “Yah, kehidupan pernikahan akan menarik jika dua orang bisa saling mendukung, dalam hal apapun. Dan saling percaya.” Kata peri pria itu sambil melamun.

Dea mengerti, pandangan jauh peri pria itu pasti karena peri wanita itu. Deapun mengerti, peri pria itu hanya taat kepada cerita yang telah dituliskan. Ketaatan yang mengagumkan, walaupun harus mengorbankan pilihan hatinya.

“Apakah pernikahan itu? Apakah aku siap untuk hidup berdua dengan seseorang? Menjalani hari dan berbagi tempat tidur dengan seseorang? Siapakah dia?” Berbagai pertanyaan mengusik hati Dea.

Dea mengatakan kepada peri pria itu bahwa seseorang mengatakan bahwa setiap orang itu sebenarnya tidak ada yang benar-benar siap untuk sebuah pernikahan. Hanya saja seperti lomba lari, ketika kata siap diucapkan, setiap pemain harus segera berlari, entah mereka siap atau tidak. “Aku selalu kagum kepada setiap teman yang berani untuk menikah. Aku kagum karena mereka berani mengambil keputusan besar dan akhirnya memilih seseorang di antara jutaan manusia untuk menjadi pasangan dia. Aku kagum pada mereka.” Seru Dea kepada peri pria itu.

Pernikahan akan keren jika yang menikah adalah dua orang yang tidak membutuhkan yang lainnya untuk berbahagia. “Iya, pernikahan itu adalah pernikahan yang keren karena pasangannya tidak dibebani ketakutan bahwa dia akan membuat pasangannya bersedih karena pasangannya keren, bisa berbahagia dalam kondisi apapun.” Kata Dea sembari mengingat kejadian lalu dimana dia akhirnya memutuskan bahwa orang lain tidak boleh membuat dia bersedih. Bahagia adalah tanggung jawab pribadinya, bukan tanggung jawab orang lain untuk memastikan dia merasa bahagia.

 

Chapter 22: Rahasia yang terkuak

“Setiap orang memiliki rahasianya sendiri. Setiap orang memiliki ketakutan dalam hatinya. Setiap orang memiliki impian tergilanya sendiri. Iya, setiap orang dengan dunianya sendiri.” Kata Dea sambil berdiri dan menutup buku itu. Sebuah cerita sudah ditambahkan di buku itu hari ini.

“Mengapa harus ada rasa cemburu? Mengapa tidak langsung menanyakan kepada orang lain apakah mereka mencintai dia? Mengapa berpura-pura tertarik kepada orang lain untuk mengetahui apakah dia dicintai? Mengapa? Apakah harus ada namanya ujian cinta?” Tanya Dea kepada peri pria itu.

“Apakah kita perlu menguji ketulusan seseorang untuk mengetahui apakah dia cinta sejati kita?” Tanya Dea dengan serius kepada peri pria itu.

Peri pria itu hanya terdiam dan memberikan kepada Dea sebuah buku. “Buku ini adalah buku yang diberikan ibuku kepadaku ketika aku menanyakan pertanyaan yang mirip dengan pertanyaan kamu itu. Hanya saja, aku bertanya kepada ibuku, apakah waktu itu adalah saat yang tepat untuk mulai mencari cinta sejatiku. Karena pada saat itu, tiba-tiba aku tertarik kepada seorang peri wanita yang membuat aku tidak bisa tidur karena memikirkan apakah peri wanita ini juga tertarik kepadaku. Aku waktu itu benar-benar takut untuk bertemu dengan peri wanita ini lagi. Aku ingin menjaga kesucian hati dan tubuh aku untuk yang benar-benar pasangan aku. Maka ibuku menyarankan supaya aku memperhatikan peri wanita itu dari jauh saja setiap hari sambil merenungkan apakah benar aku akan memilih dia atau aku hanya kagum karena kecantikan peri wanita itu saja.” Seru peri pria ini.

“Buku yang menarik. Apakah aku boleh membuka dan membacanya?” Tanya Dea kepada peri pria itu.

“Boleh. Bacalah. Semoga kamu bisa mengerti dan mendapatkan jawaban dari pertanyaan kamu.” Jawab peri pria ini bijak.

 

 

 

 

 

Buku cinta sejati

Best Seller In Fairy World

 

-my LOVE story-

Dedicated to all woman who search her TRUE LOVE like I did

 

“If there is an ending in your LOVE STORY, be thankful because it means you have another chance to find your TRUE love which can last FOREVER”

 

ceIga

Be Unique, Be Yourself,

‘cause True LOVE accept your weakness also

I read this book and find a blessing in it. Hope this book could also do the same thing to you.

 

 

 

For my Lovely:

 

 

________________________________________________

 

“May you could find your TRUE LOVE like I did…”

 

Daftar Isi

Pendahuluan

 

Bagian Satu      : CINTA?

Bagian Dua      : DUA HATI?

Bagian Tiga      : CINTA SEJATI?

Bagian Empat  : LOVE you FOREVER?

Bagian Lima     : EMPAT UJIAN CINTA SEJATI?

 

Kesimpulan

Terima kasih

 

__________________________________________________________________________________

Pandahuluan

 

Cinta Sejati hanya memiliki awal dan berlangsung selamanya

________________________________________________________

Cinta…

Apakah CINTA itu?

Makhluk seperti apakah dia sehingga bisa membuat hati menjadi gembira sekaligus sakit?

Apakah CINTA itu?

Sehingga bisa membuat seseorang yang paling kaku dan bengis sekalipun bisa berubah menjadi lembut dan terlihat sangat  rapuh?

 

 

Apakah CINTA itu?

Sehingga banyak penyair, pelukis, penari, dan banyak artis besar dan hebat bisa menciptakan berbagai mahakarya dari hatinya untuk sebuah cinta?

 

Apakah CINTA itu?

 

Mari kita belajar bersama-sama apakah cinta itu.

Sebuah cinta yang sejati dan sungguh-sungguh yang hanya bisa tumbuh selamanya di dua hati setia yang kejatuhan cinta itu.

 

Selamat menikmati

ceIga

__________________________________________________________________________________

Cinta?

 

Cinta Sejati MAMPU membuatmu memaafkan dia berulang kali, bahkan setelah dia

berhasil menghancurkan hatimu berkeping-keping

________________________________________________________

CINTA?

 

Apakah cinta itu…

Sayang…..

Ya?

Sayangku….

Gerai korden jendela rumah sakit kembali terkibar ke kanan dan ke kiri, hangatnya udara musim panas di kota ini masih saja tak mampu mengalahkan kegalauan hatiku ketika melihat kekasihku terbaring tak berdaya di ranjang rumah sakit ini…

Oh kekasihku…

Sayang…

Ya….

Sayang…maafkan aku…untuk semua kesalahanku, untuk semua hari-hari buruk yang mungkin pernah kau jalani karena tingkah lakuku, untuk ketidaksetiaanku selama pernikahan kita..sayang….

Iya….

Debar jantung ini seakan menjadi pertanda bahwa inilah saatnya, sebuah perpisahan yang menjanjikan kata perjumpaan kembali di dunia yang berbeda….Oh Tuhan..

Sayang…

Ya..

Sayang…engkau selalu mengatakan kata iya semenjak aku terbaring di sini….engkau selalu menuruti apa permintaanku…sayang….andai aku tahu betapa besarnya cintamu…sayang..maafkan aku…

Hmmmm….(aku hanya bisa menghela nafas mendengar komentar dari orang yang paling aku kasihi di dunia ini..belahan jiwa…belahan hatiku…)

Iya…..(iya…tidak ada kata terlambat untuk mengetahui besarnya cintaku kepadamu sayangku…belahan hatiku..)

Sayang….

(ya Tuhan…hatiku sangat treyuh…hancur rasanya hanya bisa berdiam diri untuk kekasihku..oh Tuhan…oh Tuhan…)

Sayang….maafkan aku atas hari-hari yang pernah aku habiskan dengan wanita selain dirimu…sayang…sayangku….

Suamiku….(oh Tuhan….aku mencintaiNya, Tuhan..berikanlah kami sedikit waktu lagi oh Tuhanku…)

Sayang…kemarilah, mendekatlah kepadaku..jangan jauh-jauh..rasanya sangat dingin di sini..sayang…

(Oh Tuhan…betapa hancur hati ini….betapa hancur hatiku melihat kekasih hatiku menangis menghadapi sakratul mautnya..oh Tuhan)

Sayang…

(Oh Tuhan…aku mencintainya…oh sayangku…)

Pak Dokter, bagaimana ini pak, apakah sebaiknya kita tinggalkan mereka berdua?

Iya suster, sebaiknya kita tinggalkan suami istri ini berdua. Mereka membutuhkan hal ini untuk terakhir kalinya sebagai suami istri. Kita sudah tidak bisa melakukan apa-apa untuk membantu mereka. Kita sudah melakukan usaha terbaik kita…

Oh sayang….aku merindukanmu, betapa aku baru menyadari bahwa engkau yang bisa menenangkan aku dengan pelukanmu yang hangat…sayang…sayangku…maafkan aku..

(Oh Tuhan…hancur hati ini merasakan hangatnya tetesan air mata dari orang yang paling aku cintai..Tuhan..tidak bisakah waktu kami Engkau perpanjang…Oh Bapa..)

Sayang…sayangku….

(Oh Tuhan…aku juga merindukan dia…suamiku sayang..betapa aku juga mencintaimu..)

Hangatnya udara seakan tidak mampu menggoyahkan kecemasan yang melingkupi wanita yang kelihatan sangat kurus kering itu. Bahkan pelukan dan ciuman mesra yang diberikan oleh kekasih hatinya juga tidak bisa menenangkan hatinya…kegalauan akan perpisahan selamanya sungguh-sungguh meremukkan hatinya..

Sayang….sayang…..andai waktu bisa aku putar, aku ingin kau benar-benar menampar aku dan menyadarkan aku bahwa tindakanku untuk bermain dengan wanita lain itu sungguh-sungguh keterlaluan..sayang..andai kau menampar aku dan tidak hanya bersikap pasrah..andai kau benar-benar di waktu itu menghilang dan berubah menjadi kejam dengan tidak memperdulikan aku..mungkin aku akan tahu betapa berharganya engkau..oh sayang..

Suami, belahan hati, belahan jiwa…aku tidak meninggalkan kamu karena aku sendiri tidak bisa jauh darimu…memang hatiku sangat sakit, sakit seakan ingin mati saja, oh sayangku…aku tetap di sisimu dan tidak merubah perlakukanku kepadamu walaupun aku tahu dengan mataku permainan cintamu karena aku menakutkan apa yang akan kita alami hari ini, oh sayangku…belahan hati..belahan jiwaku…

(Oh Tuhan…hanya karena cintaku ini,maka aku bisa menerima kembali cintaku setelah semua kelakuan dia kepadaku..oh Tuhan..betapa Kau luaskan hati ini untuk berulang kali menerima saja perlakukan buruk suamiku dengan wanita lain..oh Tuhan..inikah cinta..)

Sayang, belahan hatiku, belahan jiwaku…Aku takut bahwa ketika aku berubah…aku takut tidak akan ada kesempatan lagi untuk menyayangmu…kekasih…aku takut sedetik kemudian engkau bisa menghilang selamanya seperti yang akan kita alami hari ini..oh sayang…(Oh Tuhan, betapa aku ingin memeluk dan menciumi kekasih yang telah menjadi belahan hati dan jiwaku ini..oh Tuhan..berikanlah mujizatmu Bapa..)

Ibu, mujizat. Kami mendapatkan donor organnya, didapat dari seorang pasien yang meninggal hari ini dan setelah dicek, semuanya cocok dengan donor yang dibutuhkan suami ibu. Kami sedang menyiapkan ruang operasi, apakah ibu akan mengambil kesempatan ini?

Demi Tuhan, lakukan pak…

Sayang…(Oh Tuhan, terima kasih Kau menjawab doaku…Oh Tuhanku..sayang…)

Terharu sekali saya melihatnya pak dokter..ibu itu benar-benar kelihatan mencintai suaminya…apakah benar cinta sejati itu ada?

Aku bersyukur kepada Tuhan, pada akhirnya kami bisa menjalani jalinan hubungan ini kembali hingga akhirnya ajal memisahkan kita…sayangku……sayangku…dan aku bersyukur karena perpisahan itu bukan hari ini dan bersyukur karena kesempatan kedua yang Kau berikan untuk cinta kami..terima kasih Tuhan…

“Tahukah kamu cara mencintai?”

Ejalah cinta dengan 5 huruf: W A K T U

Cintailah sesuatu seakan tidak akan ada hari esok bagi cinta kalian….dan lihatlah ketika tiba-tiba kamu bisa menemukan sebuah wajah cinta di hadapanmu..setiap hari…setiap detik dalam hidupmu.

________________________________________________________

Dua Hati?

 

Cinta Sejati hanya bisa tumbuh subur jika dia diundang hadir HANYA di dua hati yang mau berkomitmen SETIA satu sama lain

 

________________________________________________________

 

 

DUA HATI?

Tahukah kamu seperti apa rasanya sakit yang terjadi di hatimu ketika mendapati cintamu tidak terbalas?

Tahukah kamu seperti apa rasanya cemburu?

Tahukah kamu seperti apa rasanya jika cintamu mengatakan bahwa dia tidak lagi bisa bersama denganmu?

Tahukah kamu penyebab semua ini?

Cinta dua hati itu seperti gambaran simbol tanda hati yang disatukan atau dikaitkan satu sama lain.

Akan terasa sakit jika ada suatu gerakan yang terjadi di antara kaitan itu, apalagi jika cinta yang satu lagi mencoba untuk melepaskan diri, ibarat mengkoyakkan sepotong roti atau mengiris kulit dengan pisau untuk mengambil kulit itu.

Itulah cinta, akan terasa indah jika kedua pihak merasa nyaman satu sama lain dan menjalani cinta itu dengan tenang dan puas satu sama lain.

Akan terasa sakit jika salah satu cinta merasa tidak puas dan pada akhirnya memutuskan untuk berpisah…ya kan?

Cinta hanya akan tumbuh di dua hati, jika ada hati lain yang mencoba masuk dan mencari celah, hati itu tidak akan mendapati celah jika kedua cinta benar-benar berdiri diam tanpa gerakan apapun, inilah kesetiaan.

 

Sayang….

Hal ini akan menyebabkan luka, tetapi luka itu bisa sembuh. Tetaplah tenang..

Iya..

Cinta sejati mengetahui bahwa melukai cinta yang lain hanya akan menyebabkan luka yang lebih dalam kepada dirinya sendiri.

Cinta sejati mengetahui bahwa dirinya bisa saja melukai cintanya dengan sengaja dengan bermain api, tetapi dia tidak akan melakukannya karena dia tahu bahwa sakit hati yang diderita cintanya akan terasa dua kali lipat lebih sakit terasa olehnya.

Cinta sejatimu tidak akan dengan sengaja bermain api untuk mengujimu, tidak akan dengan sengaja bersembunyi untuk mengetahui apa arti dirinya, tidak akan dengan sengaja mengatakan akan berpisah untuk membuatmu sadar arti kehilangan dirinya.

Cinta yang sejati akan duduk diam saja, membiarkan engkau memilih yang terbaik untuk dirimu, karena dia tahu, bahwa dia lebih suka melihatmu berbahagia.

Cinta sejati melepaskan kamu walau dia merasa sakit karena dia lebih mementingkan kebahagiaanmu, tetapi yakinlah, pada akhirnya, hanya cinta sejati yang tumbuh di dua hati sajalah yang akan menjadi cinta yang terindah.

__________________________________________________________________________________

Cinta Sejati?

 

Cinta Sejati itu senyata kekuatan dua hati untuk selalu tetap bersama apapun yang terjadi

________________________________________________________

CINTA SEJATI?

Tahukah kamu bahwa cinta sejati itu ada?

Apakah kamu tahu bahwa ada atau tidak adanya cinta sejati itu sekuat keyakinanmu akan keberadaan dia?

Cinta sejati sekuat keyakinanmu untuk mempertahankan dia tetap tumbuh di hatimu walaupun rasanya semua kenyataan mengarahkan kamu bahwa mungkin cintamu tidak bersambut.

Cinta yang diberi kata sejati di belakangnya senyata hangatnya genggaman tanganmu ketika engkau mengepalkannya. Cinta yang memiliki kata sejati dibelakangnya senyata kedipan matamu yang kau kedipkan ketika membaca tulisan ini.

Cinta sejati senyata kesanggupanmu untuk menunggu dia dan tidak bergeming ketika cinta yang lain datang.

Cinta yang sejati senyata cemoohan orang akan betapa bodohnya dirimu yang menunggu cinta yang mungkin tidak akan kunjung datang menyambut cintamu.

Cinta yang sejati senyata penantianmu akan datangnya sebuah kereta walaupun kereta itu belum menunjukkan tanda-tanda kedatangan padahal jam telah menunjukkan detik-detik keberangkatan.

Cinta sejati tumbuh di hati yang mau bersikap setia walaupun cinta yang lain seakan belum hadir untuk menyambut cintamu.

Cinta sejati kuat untuk menunggu karena cinta sejati itu akan melekat kuat dan tidak akan pudar seiring berjalannya waktu.

________________________________________________________

LOVE you FOREVER?

 

Ejalah kata cinta selamanya dengan tetap berada disampingnya

walaupun cinta itu seakan menghilang

________________________________________________________

Ejalah kata cinta dengan 5 huruf yang sepadan dengan dia

W A K T U

Cintailah aku dengan seluruh waktumu, seluruh detik-detik yang kau miliki yang Tuhan anugerahkan kepadamu. Cintailah aku dengan segalanya yang kau miliki. Cintaku egois, karena cinta itu sendiri akan melindungimu dari aniaya, jika dia adalah cinta sejati.

Cintailah aku dengan kesetiaan dan janjimu. Cintailah aku dengan segala relung hatimu. Cintailah aku dengan segenap akal pikiran dan jiwamu. Cintailah aku dengan segala keberadaanmu. Cintailah aku sehingga hatiku terasa sesak karena gelora cintamu yang memenuhi setiap relung hati ini. Cintailah aku dengan segala kedalaman emosimu, cintailah aku sehingga sakitnya hatimu hanya bisa disebabkan olehku. Suatu sakit hati yang menandakan bahwa hanya aku yang berada paling dekat di sanubari hatimu dengan pisau cintaku, pisau cinta yang siap menghujam sanubari hatimu untuk menorehkan namaku di segenap darah yang mengalir di setiap jengkal nafasmu.

Cinta sejatiku, cintailah aku dengan segenap waktu yang kau punyai, cintailah aku dengan segenap detik-detik dan helaan nafasmu. Cintailah aku selamanya, walaupun akhirnya kau merasa muak, tetapi tetaplah cintailah aku, karena aku tidak bisa hidup tanpamu, seperti dalam kemuakanmu, kamu mengetahui kamu juga tidak bisa hidup tanpa diriku. Cintaku, cintailah aku dengan WAKTU hidupmu.

________________________________________________________

 

 

EMPAT UJIAN CINTA SEJATI

 

Sebuah ujian ada

untuk memastikan sesuatu benar-benar telah memiliki SEMUA kualitas yang diperlukan

untuk bisa bertahan

________________________________________________________

Ujian pertama: Harga sebuah cinta

 

Engkau akan mengetahui harga sebuah cinta ketika takdir membuatmu mengetahui bahwa kesempatan untuk bersama dengan dia seakan telah musnah dan mustahil terjadi.

Engkau akan mengetahui bahwa itu sebuah cinta ketika sebuah perpisahan mengatakan kepadamu dengan kejam bahwa ternyata selama ini engkau telah menyia-nyiakan kesempatan untuk mencintai cintamu.

Engkau akan mengetahui itu sebuah cinta jika engkau baru menyadari bahwa engkau telah kehilangan sesuatu yang amat berharga ketika kesempatan tidak mengijinkanmu untuk bisa kembali bersamanya selama-lamanya.

Engkau akan mengetahui harga sebuah cinta ketika ternyata perpisahan sepertinya akan berlangsung selamanya, tetapi engkau tetap yakin untuk menunggu dia.

Engkau akan tahu harga sebuah cinta ketika pada akhirnya hanya penyesalan saja yang engkau temui karena baru menyadari engkau mencintai dia ketika cintamu akhirnya benar-benar meninggalkanmu untuk cinta yang lain. Tetapi yakinlah, jika dia memang sebuah cinta sejati, dia tidak akan melakukan semua hal itu.

Karena cinta sejati akan tetap setia menunggumu.

Berbahagialah mereka yang tidak perlu mengalami ujian pertama ini untuk mengetahui harga sebuah cinta. Ujian perpisahan.

Ujian kedua: Harga sebuah ego dan harga diri

Cinta itu sejati jika kau mau meletakkan egomu dan mengatakan kepada cintamu bahwa iya, kau memang sedang jatuh cinta….kepadanya…sekarang dan sampai selamanya

Ujian ketiga: Harga sebuah kelebihan dan kekurangan

Cinta sejatimu akan mengetahui segala kekuranganmu, tetapi tetap memutuskan untuk memilih dan mau menerima kekuranganmu, seperti cara dia mengajarimu untuk melihat setiap kelebihan yang kamu miliki.

Cinta sejati membuat kamu kelihatan semakin bersinar terang ketika berada di dekatnya karena dia menghargaimu dan mengetahui betapa berharganya dirimu.

Cinta sejati akan membuat kamu mencapai potensi maksimal yang kamu miliki yang mana di sisi lain, dia memberikan kekuatannya di saat kelemahanmu muncul.

Cinta sejati membuat kalian menjadi lebih kuat dan lebih bisa menghadapi kehidupan ini betapa keras dan menghancurkannya cobaan yang menimpa kalian secara bertubi-tubi.

Cinta itu sejati jika dia menyadari bahwa kamu adalah sebuah cinta yang akan selalu memiliki kelebihan bahkan ketika orang lain mengatakan kamu tidak berguna.

Sebuah cinta menyadari bahwa si pencipta menyisakan sebuah kelemahan supaya cinta sejatinya bisa memiliki kesempatan untuk membuktikan bahwa mereka berdua harus saling mengisi. Bersyukurlah, kelemahanmu memberikan ijin kekuatan cinta yang lain untuk melindunginya.

Selalu ada alasan di balik semua kelemahan dan kelebihanmu, sebuah alasan untuk mengetahui siapa cinta sejatimu.

 

Ujian ketiga: Harga sebuah kerelaan hati

Kamu akan tahu itu cinta ketika kamu dengan rela bisa melepas dia pergi jika hal itu akan membawa kebahagiaan kepadanya.

Kamu akan tahu itu cinta jika kamu lebih memilih menderita dalam diam daripada menggenggam sebuah cinta yang tidak mencintaimu dan malah lebih memilih pergi bersama dengan cinta yang lain.

Kamu akan tahu itu cinta jika kamu lebih mementingkan kebahagiaan cintamu daripada kebahagiaan dirimu sendiri.

Kamu akan tahu itu cinta jika pada suatu titik kamu menyerah pasrah akan kelanjutan cinta ini dan menyerahkan hasil akhirnya kepada Tuhan.

Cinta bukanlah sebuah permainan yang biasanya berusaha kamu menangkan dengan berbagai cara. Terkadang cara terbaik menguji sebuah cinta adalah dengan mengijinkan cinta itu memilih sendiri yang terbaik untuknya, walaupun ada kemungkinan dia tidak akan memilihmu.

 

Tetapi tenanglah, kamu akan tahu itu sebuah cinta sejati ketika di saat kamu melepas dia pergi dengan rela, dia bukannya menghilang, tetapi malah kembali kepadamu dengan sebuah hati yang lebih setia dan mengetahui harga kerelaan hatimu.

Jika kamu mencintai sesuatu, lepaskan dia pergi, jika dia kembali, dia milikmu, namun jika dia tidak kembali, relakanlah, karena Tuhan mungkin sedang menyediakan yang lebih baik dari dia untukmu.

________________________________________________________

Kesimpulan

 

Sebuah Cinta Sejati hanya bisa hadir

jika si Pencipta sendiri yang menghadirkannya

di kehidupanmu

 

________________________________________________________

Cinta sejati dianugerahkan si pencipta:

kepada pribadi yang percaya adanya cinta sejati,

kepada pribadi yang mau menanti,

kepada pribadi yang mau menjalani proses, dan

kepada pribadi yang mempercayakan si pencipta untuk menuliskan cerita cintanya

When you let GOD writes your love story, it guaranteed a happy ending

 

-True love wait-

Kiranya buku ini bisa menjadi sebuah oase yang bisa dikunjungi berkali-kali ketika hati terasa seakan tidak mempercayai cinta sejati itu ada

 

Cinta sejati bukanlah sebuah kemewahan, tetapi dia merupakan sebuah kebutuhan untuk menyadarkan kita bahwa Tuhan itu memang benar-benar ada

 

Cinta sejatimu akan membuatmu mengetahui bahwa Tuhan itu ada karena Engkau akan selalu mengingat keagungan karya Tuhanmu setiap kali engkau melihat cinta sejatimu. Be Happy and Be your self

 

Kuberikan harga sangat mahal untuk suatu alasan dan pertanda bahwa cinta sejati patut diperjuangkan dan dibeli dengan harga yang mahal. Hanya mereka yang mau memperjuangkannya yang bisa mengetahui indahnya kehidupan yang dijalani dengan si cinta sejati

Salam Cinta- ceIga

______________________________________________________________________________________________________

“CeIga? Apakah ini nama ibumu?” Tanya Dea kepada peri pria itu.

“Iya. Nama yang bagus ya. Iga, ada kata iga, nama yang lucu. Untung bukan ceRusuk.” Jawab peri pria itu sambil bercanda.

“Ada seorang jenius di duniaku yang mengatakan bahwa adalah suatu kegilaan bila seseorang melakukan suatu hal yang sama dan menginginkan hal yang berbeda. Yah, aku rasa hal itu tidak berlaku dalam cinta. Tuhan sudah meletakkan ujiannya di dalam diri kita. Jika seseorang tidak menerima cinta kita setelah apapun yang kita lakukan kepadanya, itu tandanya dia bukan pasangan kita. Puzzle yang kita berikan kepadanya tidak cocok dengan puzzle yang ada di dirinya. Akhirnya aku mengerti.” Kata Dea pelan sambil mengingat seseorang yang kini sudah terhapus dari dunianya. Dea pernah memberikan segala perhatian dan cinta secara tulus, dan hingga akhirnya pria itu tidak kunjung memilihnya. “Tuhan mengambil dia dan memberikan aku yang jauh lebih baik.” Kata Dea sambil tersenyum jika melihat semua kisah cintanya. Pengganti cinta lama selalu orang yang selevel lebih baik.

Chapter 23: Happy Ending

“I miss you.” Sebuah kalimat yang membuat Dea tertegun. Masa setahun tidak pernah berkomunikasi dengan Raka membuat dia kaget karena bunyi sms itu. Sebuah sms dari pria yang pernah mengacaukan hatinya. Seorang pria yang pernah membuat dia jatuh hati, patah hati, dan jatuh cinta lagi kepadanya. Dea hanya memandangi sms itu dan bingung ingin menjawab apa. Seminggu telah berlalu, dan Dea belum juga menjawab sms itu. Banyak pikiran yang berkelebat di pikirannya. Bayangan Raka yang pernah mengucapkan kata itu kepada wanita lain, bayangan Raka yang pernah mengatakan kata kasar kepadanya, bayangan Raka yang mengatakan bahwa dia tidak mencintai dan menyukai Dea, dan bayangan-bayangan lain yang datang yang menghampiri seakan mengatakan bahwa mungkin Raka hanya main-main saja. Mungkin Raka hanya kangen, tetapi bukan untuk kembali. “Sudahlah.” Kata Dea sembari mulai mengetik kisah yang dia alami di dunia peri.

“Hari ini adalah saatnya praktik. Jika Raka memang mencintai aku, dia akan melakukan perjuangan yang lebih hanya dengan sebuah sms I miss you saja.” Seru Dea dalam hati sembari membulatkan hati untuk menyelesaikan kisah itu secepatnya supaya dunia mengetahui apa sesungguhnya cinta itu. “Yah..walaupun aku sendiri sepertinya belum mendapatkan cinta sejatiku.” Kata Dea perih sambil melihat ke arah teleponnya.

“Kamu tidak akan pernah merasa iklas ketika kehilangan sesuatu karena kamu tidak percaya bahwa kamu akan mendapatkan yang lebih baik dari sesuatu itu. Tapi lihatlah jika kamu belajar ikhlas. Ikhlas berarti percaya bahwa akan digantikan dengan yang jauh lebih baik. Move on Dea.” Kata Dea kepada dirinya sendiri sembari menghapus nomor Raka dan semua hal yang dia simpan di hp dia tentang Raka.

Chapter 24: Kebahagiaan sejati

“Setiap penulis cerita sudah mengetahui bagaimana ending suatu cerita. Adalah tugas setiap tokoh di kisah tersebut untuk mengikuti jalan cerita yang sudah dibuat oleh si penulis. Bukankah begitu? Bahkan aku percaya bahwa setiap pemain film mengetahui bahwa mereka harus berakting sebaik mungkin supaya cerita itu menarik. Yah, aku percaya bahwa jika sesuatu belum berakhir indah, berarti itu bukan sebuah akhir. Sebuah episode selanjutnya menunggu dimainkan hingga semua berakhir indah.” Kata Dea dalam hati.

“Cinta membuat kita bodoh. Tetapi tanpa cinta, apalah arti sebuah dunia? Setidaknya jika cinta sejati seakan belum datang, kita bisa belajar mencintai diri kita sendiri dulu.” Kata Dea sambil tersenyum dan menutup buku yang diberikan oleh peri pria itu di awal dia berada di dunia peri. Dea mengingat kembali semua petualangan yang pernah dia alami dengan peri pria itu. Seulas senyum terbayang di wajah Dea ketika mengingat bahwa akhirnya peri pria itu bisa bersatu dengan peri wanita yang dipilihnya dulu karena dia memilih taat untuk mengikuti jalan cerita yang digariskan olehnya oleh pencerita. Seorang pencerita yang ternyata adalah ibunya sendiri.

“Raka. Aku mencintai kamu.” Seru Dea sambil memandang wajah seorang pria yang tersenyum bahagia di sampingnya dalam tidurnya. Hari ini adalah pagi pertama Dea menjadi istri Raka. Ada suatu kegembiraan karena kisah yang Dea alami di dunia peri membuat dia menjadi wanita dewasa yang bisa dicintai Raka. Wanita dewasa yang mau memikirkan kebaikan untuk orang di sekelilingnya. Wanita dewasa yang berani menjalani kesendirian tanpa mengganggu Raka dan mengejar impiannya. Wanita dewasa yang akhirnya bisa mengatakan kepada dirinya sendiri bahwa dia adalah wanita cantik yang pantas dicintai.

 

-Happy End-

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s